Minggu, 30 Desember 2012

Langkah Terpasung

Engkau berlari, pada ketukan ketujuh
Bersama samar bayang menjauh
Bawa setangkup tangis yang masih meluap
Iringi luka yang enggan menguap

Bayang luka masih merajam
Tepis nalar terbayang suram
Takut menapak langkah tertahan
Seribu prasyarat untuk takdir yang tak ingin dinyatakan

Selasa, 25 Desember 2012

Resensi " Xixi, Diary Sang Rising Star"

Tanggal 18 Desember kemarin, untuk pertama kalinya kabar yang aku tunggu selama 1 bulan setengah datang menyapa. Naskah " Xixi Diary Sang Rising Star " yang aku kirimkan ke Leutika prio untuk diterbitkan secara Indie tanggal 30 Oktober kemarin akhirnya telah siap terbit. Buku ini merupakan versi lengkap dari cerita bersambung dengan judul sama yang aku tayangkan di blog ini mulai bulan Oktober 2011-Sekitar Mei 2012. Setelah melalui beberapa proses editing, akhirnya aku coba mengirimkannya ke penerbit major, tapi belum ada jawaban hingga akhirnya aku putuskan untuk publish secara indie.
 
"Xixi, Diary sang Rising Star" terinspirasi dari kisah seorang pramuria kelas kakap asal Surabaya. Beberapa waktu yang lalu saya mendengar kisah tentang dirinya yang berjuang ke sana ke mari untuk meraih kesembuhan. ( bukan untuk mencari alamat palsunya Ayu Thing-thing ya.)Virus HIV yang diakibatkan kesalahannya dalam bergaul sempat membuatnya terpukul, tapi saat kesadaraan berhasil diraihnya, dia berubah 180 derajat. Dia bernadzar, andai Allah masih memberinya kesembuhan, dia akan mengabdikan sisa hidupnya untuk agama. Allah mengabulkan nadzarnya. Melalui perantara seseorang, dia diperkenalkan dengan seorang tabib yang tinggal di lereng sebelah barat gunung Raung. Melalui perantaraan Tabib itu pulalah Allah mengirimkan kesembuhan padanya.
 
Dari kisah itu, ditambah dengan kisah salah seorang yang aku kenal sewaktu tinggal di Bogor, kisah ini mulai aku tuliskan. Seorang teman yang kenali di Bogor itu adalah seorang aktifis dan penyuluh di LSM penanggulangan HIV/AIDS yang Omku urus bersama salah seorang temannya yang juga merupakan HRD di PT Intrasari Raya Bogor. Temanku itu bernama Irfan dan berasal dari tegal. Dia terjangkit HIV karena keisengannya mengikuti kemauan temannya. Dia tak pernah terlibat seks bebas ataupun sejenisnya. Dia terserang HIV karena penyalahgunaan narkoba dengan menggunakan jarum suntik.

 

Jumat, 21 Desember 2012

Review " Gajah Mada, Sumpah Di Manguntur "


http://www.bookoopedia.com/id/book/id-32-65536/novel-fiksi-cerpen/gajah-mada-sumpah-di-manguntur.html

Gajah Mada, Sumpah Di Manguntur
            Seminggu yang lalu saat berada di Gramedia aku ingin membeli novel karya seorang teman di kompasiana, tapi setelah berputar-putar beberapa kali dan membongkar rak novel aku tak menemukannya. Karena butuh bacaan dan buku yang ada di tanganku hanya kumpulan puisi Chairil Anwar, akhirnya aku keliling lagi. Novel karya Sydney Sheldon, Sherlock Holmes, Agatha Cristie dan sejenisnya aku lewati. Hampir saja aku ambil The Vacancy karya JK Rowling. Begitu lihat label harga, aku urungkan niat untuk membelinya. Tak jauh dari The Vacancy aku melihat 5 novel Gajah Mada. Aku tertarik dan membelinya.
            “ Gajah Mada, Sumpah Di Manguntur “ adalah novel sejarah tentang kebesaran Majapahit. Novel yang berlatar pemerintahan dua putri Diah Sanggramawijaya ini sungguh menarik. Begitu membuka lembar demi lembarnya keinginan untuk terus membaca buku setebal 690 halaman itu begitu kuat. Untuk pertama kalinya sejak novel Stieg Larson yang setebal 900 halaman, aku estafet membaca buku non stop.
            Cerita dibuka dengan kisah seorang anak yang begitu berbakti kepada ayahnya. Ki Branjang Ratus, dengan senang hati mengikuti permintaan sang ayahanda yang bernama ki Buyut Padmaguna. Ki Buyut yang sidik paningal meminta anaknya untuk menemui sahabatnya di waktu muda dulu. Sahabatnya itu adalah Nyi Yendra, seorang wanita tua yang sudah sakit-sakitan. Dari pertemuan itulah kisah bergulir. Nyi Yendra meminta Ki Branjang Ratus untuk mencuri dua pusaka kerajaan Majapahit. Kedua pusaka itu adalah Cihna nagara (lambang Negara) gringsing lobheng lewih laka ( pola geringsing merah ) dan Songsong ( Payung ) udan riwis.

Rabu, 19 Desember 2012

Prasasti Kumal, Sejarah Terpintal


http://warisanindonesia.com/2011/05/sejuta-kisah-hunian-terakhir/

Hai Pak Tua yang setia di taman kota
menunggu sasadara menyapa mayapada
Terangi wadag-wadag serakah
Yang lupa sejarah

Hai pak tua, terduduk di bangku tua
Tanpa seorang teman jua
Yang dulu setia kala jaya
Kini melupa saat dirimu dilibas masa

Hai pak tua kesepian
Setia menanti sasadara manjer kawuryan
Sempurna terangi wujud dan bayangan
Berbagi terang hingga lipatan

Selasa, 18 Desember 2012

Terlahir Takdir

Kau hadir
Pada sebuah takdir
Seperti arus air
Buat tersihir

Kau hadir
Rasa ini terlahir
Tanpa terucap bibir
Bukan impian nyinyir
Kau ada
Pada rasa
Gelegak jiwa
Muksakan getir pernah tercipta

Denpasar.18122012.0615

Masopu

Akhir Pelarian sang Mafia



http://www.rimanews.com/read/20120905/74526/densus-sembunyikan-terduga-teroris-firman

              Aku duduk menghadap jendela kamar. Hembusan angin pantai Kuta membawa sedikit uap air, efek panas yang masih terasa sedikit terobati semilir angin. Meski AC sudah diset ke titik terendah, panasnya udara masih membekas di kulit. Di sampingku, dalam posisi duduk bersila di atas ranjang, Netti sibuk bermain dengan laptopnya. Sudah hampir dua jam dia sibuk melacak IP seseorang yang sedang kami buru. Kabar keberadaannya yang telah 2 minggu menyaru sebagai wisatawan membuatku penasaran. Seorang agen Interpol Italy mengabariku tiga hari yang lalu, sesaat menjelang keberangkatannya ke sini, megendus jejak-jejak bayangnya.
            Netti, gadis manis berusia 29 tahun, maniak computer terhandal yang aku punya. Tubuh tinggi dengan alis mata tebal dan bentuk wajah ovalnya lebih pantas menjadi model ataupun seorang penyanyi, daripada menjadi polisi sepertiku. Sudah 4 tahun dia berpartner denganku, mengendus jejak penjahat lintas batas dan aku selalu menugaskannya untuk segala sesuatu yang berkaiatan dengan komputer, sesuatu yang tak pernah aku bisa tangani. Sejak informasi keberadaan sang Mafia Italy hinggap di telingaku, dia tak pernah lelah melacak jejak-jejak maya. Sementara aku lebih suka menjadi seekor herder yang bertugas mengendus sisa-sisa bau di alam nyata daripada menjadi mata-mata dunia maya.
            “ Capt, aku berhasil melacak keberadaan Alessio Monaco. Dari IP yang berhasil aku detect, dia ada di kawasan Jimbaran. Apakah Marco serta kawan-kawannya sudah siap? “ suaranya yang lembut jelas menutupi kegarangannya saat beraksi menangkap penjahat. Jemari lentiknya cukup terlatih untuk memainkan pelatuk pistol yang selalu menggantung di pinggangnya. Kadang jemari itu terasa lebih kokoh saat mengunci pusat-pusat kekuatan seorang yang sedang lengah.
            “ Marco, saat ini sudah siaga, tinggal menunggu kita saja. Polisi lainnya, aku tinggal kontak AKP Made, tadi siang aku sudah koordinasikan hal ini dengannya. “ aku menjawab sambil melihat ke laptop Netti. Aku tak bisa membayangkan apa yang dilakukannya dengan benda itu, sekali dia membukanya waktu yang ada terasa begitu cepat berlalu. Bibirnya lebih banyak ngoceh sendiri tanpa pernah aku mengerti. Kadang tingkahnya seperti anak kecil yang baru dapat permen, di waktu lain laiknya seorang remaja yang baru putus cinta, menceracau tak tentu arahnya.

Kamis, 13 Desember 2012

Desah Kerinduan



Sepi... Malam ini aku hanya duduk termangu mematut bulan.
Meringkuk aku sendiri...
Seperti perahu kertas mengambang tanpa tuan
Seperti layang-layang bocah nakal lepas tanpa kendali...
Aku hanya berusaha sembunyikan birahi di musim basah
Rindu desah...
Rindu  nikmat...
Menggeliat
Bawa aku keluar dari labirinku!!
Desahan bayu lembut mengalun
Lirih mengalir darah mendesir
Iringi hasrat yang terus mengalir
Menyembul pori  membuncah birahi
Saat helai demi helai daunmu terlepas
Memacu jantungku ke puncak rasa

Lepaskan rasamu, satukan tubuhku dalam pelukmu..
Mengais setiap relungku yang kering...
Mainkan jarimu dalam helai rambutku...
Mainkan kecupmu dalam tiap pori-poriku..
Aku meringkuk disini sepi!! dingin!!

ke bumi
Menggelepar dalam erangan tak tertahan 

Usah kau meringkuki dinginmu
Biarkan pacu jantungku hangatimu
Berdua kita kepakkan sayap sayap rasa
Melayang dalam buai awan biru
Hingga kepak tertinggi hempaskan kita
Hingga bayupun malu resapi porimu yang halus

Selasa, 04 Desember 2012

Elegi Cinta Untuk Yana



           60 menit terasa cepat berlalu. Kalimat demi kalimat bergantian keluar dari bibirku dan bibirmu seperti hembusan angin yang tiada terhenti. Percakapan yang diawali basa-basi yang basi semakin lama semakin membuatku pening. Entah kenapa aku semakin tak bisa menikmati kalimat demi kalimat yang terus membanjiri telingaku. Sanggahan dan nasehatku seakan membentur dinding gelombang, menahannya untuk tetap mengembara di angan-angan tanpa harus kau sesapi dengan hati. Jaring-jaring perasaanku menangkap adanya kesan kamu tak ingin setiap kata yang meluncur dari bibirmu untuk didebat. Kamu ingin aku untuk mengikuti segala maumu, tanpa kamu ingin tahu kenapa aku menentang inginmu. Capuccino, banana splitz dan kentang goreng yang menemani kita nyaris tak tersentuh, hanya sekali aku menghirup nikmatnya Capuccinoku, sementara banana Splitz-mu kau biarkan teronggok di meja, mencairkan ice cream yang menjadi toppingnya.
            Kisah pertalian yang orang tuamu niatkan sudah tak mungkin lagi kita tentang. Mulai kini kamu sudah terikat pada sosok lelaki lain, sosok yang pastinya bukan aku. Aku hanyalah sosok asing bagi keluargamu. Asing, bukan karena mereka tidak mengenalku atau keluargaku. Mereka mengenalku dan keluargaku sangat baik. Tapi masalah yang tak pernah terpecahkan di masa lalu membuat keluarga kita terberai. Masalah ego dan keangkuhan yang bersinggungan itu memaksa kita menapaki jalan terjal. Jalan terjal yang awalnya kita yakini akan membawa kita menuju puncak asmara, meski kita menjalaninya secara terselubung.
            “ Kita bertemu lagi nanti untuk membahas masalah ini. Niatanmu untuk mengajakku lari agar mendapat restu dari mereka akan aku pertimbangkan. Sekarang mari kita pikirkan masalah ini baik-baik. Aku tak ingin ada sesal di antara kita kelak. “
            Aku berdiri. Tanpa menunggu pendapat darimu aku berlalu. Pintu keluar sudah melambaikan tangan ke arahku, dia ingin aku segera meninggalkanmu, meninggakan segala keruwetan yang kamu bawa dan sampaikan.
           

Minggu, 02 Desember 2012

Rasa Yang Tersapih

Tak perlu mencari letak kelingkingmu di mana
Atau kapan kerling matamu akan menggoda
Semua telah kau punya dan kau rasa
Dan tak mungkin orang kan coba menjamahnya

Tak perlu isap jempol tuk kau coba rasa
Karena kosong tak mungkin kan buat kau luka

Jumat, 30 November 2012

Prasasti Abadi


Kadang diri terlupa,
Jejak-jejak di alam ini lebih nyata,
menggores luka lebih dari kata berpadu mata
Lebih dalam dari sayatan panah

Senin, 19 November 2012

Banyuwangi Etno Carnival 2, Re-Barong Using Nuansa Kontemporer

Minggu 18 November 2012, Kabupaten Banyuwangi kembali menggelar Banyuwang Etno Carnival 2. Banyuwangi Etno Carnival adalah karnaval budaya yang bertujuan untuk menggali dan melestarikan budaya lokal yang berkembang dan ada di Banyuwangi agar tidak punah ditelan jaman. Untuk itulah maka Pemda Banyuwangi menggelar event ini dengan tujuan melakukan pendekatan seni budaya Banyuwangi pada kalangan pemuda dengan sentuhan kontemporer, tidak terpaku pada pakem yang telah lama berkembang, tapi tetap mempertahankan unsur-unsur yang merupakan nilai luhur suatu budaya. Untuk tema pelaksanaan tahun ke-2 ini adalah Re-Barong Using. Barong adalah kesenian yang berkembang di Banyuwangi dan Bali. Khusus untuk yang berkembang di Banyuwangi, ada semacam asimilasi dengan budaya lokal lainnya.

Pagelaran Banyuwangi Etno Carnival tahun ini masih di bawah Supervisi Dynand Fariz yang terkenal dengan Jember Fashion Carnivalnya. Hal ini sesuai dengan kesepakatan saat pagelaran BEC Pertama dulu, dimana pihak JFC akan menjadi supervisi BEC selama 3 tahun awal. Baru di tahun ke 4, insya Allah BEC akan berada di bawah kendali event organizer lokal.

Senin, 05 November 2012

Kopi Pagi

Kopi Semangat

Pekat memikat kata
Jerat berikat kalimat sapa
Iring senyum surya menyapa
kicau burung hangatkan mayapada
Setelah gelap berlalu kuasa

Jumat, 19 Oktober 2012

November-Desember Bulan Wisata Banyuwangi, The Sunrise of Java

https://www.facebook.com/BanyuwangiEthnoCarnival?ref=stream


Selasa sore tanggal 17 Oktober kemarin secara tak sengaja melihat acara Wide Shot di Metro TV. Kebetulan saat itu sedang ada wawancara dengan pejabat Bupati Banyuwangi saat ini, bpk. Abdullah Azwar Anas. Pada acara tersebut, Anaz membahas masalah agenda wisata kabupaten Banyuwangi yang akan diadakan medio bulan November-Desember 2012 ini. Acara wisata itu akan diawali dengan pagelaran Festival Anak Yatim, Parade Gandrung Sewu, Banyuwangi Jazz Festival, Banyuwangi Etno Carnival, Petik laut Muncar dan balap sepeda Banyuwangi Tour De Ijen.

Banyuwangi dalam dua tahun terakhir ini sedang menggalakkan pengembangan wisatanya. Sebagai kabupaten paling timur dan didiami suku using, Banyuwangi mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan kabupaten lain di Jawa Timur. Kabupaten ini bisa mengedepankan wisata alam dan wisata budayanya.

Senin, 08 Oktober 2012

Cawan Retak

http://mimpi1m.heartline.co.id/inspirasi.php?idinspiration=3


“ Beib, jadikan hari ini kita fitting baju pengantin? “ mataku terus membaca sms yang telah aku kirimkan sejam yang lalu. Hingga kini sms balasan yang aku tunggu-tunggu darimu tak pernah muncul. Beberapa kali aku telepon hp-mu, selalu mesin penjawab yang menerima. “ lupakah kamu dengan apa yang telah kita sepakati beberapa hari yang lalu? “ gumamku sambil terus berharap. Sekali lagi sms itu aku kirim, masih tak ada jawaban.
            Janji dengan desainer baju pengantin semakin mendekat, sedekat detakan jantungku yang semakin kencang bertalu. Asa dan do’a semakin lancar terucap dari bibirku, mengharapkan kamu tiba-tiba hadir di depanku, berdiri mengembangkan senyum manis yang selalu aku rindu. Aku tak perlu alasan pembenaran telepon atau sms yang tiada terjawab, tapi butuh hadirmu yang akan kembali satukan retakan-retakan asa yang semakin luas menyebar. Bersama sederet tanya yang semakin menggebu di hati.

Selasa, 02 Oktober 2012

Apa Maumu Tuan?



Masih ingatkah jalan ini tuan?
Jalan yang pernah kau sabdakan saat aku terjebak kelam
Masih ingatkah nyonya, saat terompah lusuh ini terseret di jalan tanpa tembusan?
Bukankah kau pinta aku mundur setapak dua tapak, agar terlihat celah yang mungkin terlewatkan

Genjer-Genjer, Pembelokan Sejarah yang tercecer



Genjer-Genjer, Pembelokan Sejarah yang Tercecer

 
http://www.tokoh-lingkarberita.com/2011/08/sinar-syamsi-anak-pencipta-lagu-genjer.html#more 
            Genjer-genjer, bagi teman-teman yang pernah merasakan hidup di jaman Orde Baru dan menonton film pengkhianatan G30S/PKI pasti akan sangat mengenalnya. Film tersebut adalah film wajib yang harus diputar di setiap malam 30 september hingga menjelang masa reformasi. Kenapa lagu ini berkaitan dengan Film itu, tak lain di salah satu bagian film “propaganda” itu kita akan menemukan penggalan kisah pembantaian para Jendral. “ Konon “ saat peristiwa tersebut berlangsung, anggota Gerwani selaku Ormas underbow PKI menyanyikan lagu ini untuk mengiringi “prosesi” penyiksaan ke-tujuh Jendral AD hingga meninggal. Mereka yang di film tersebut oleh anggota PKI selalu disebut sebagai anggota Dewan Jendral yakni sekumpulan Jendral AD yang berniat mengkudeta kekuasaan presiden Soekarno. Satu per satu para Jendral yang ditawan di Lubang Buaya disiksa oleh petinggi partai dan pimpinan ormas underbownya. Sementara di halaman rumah yang digunakan sebagai tempat penyiksaan, anggota dan simpatisan PKI menari sambil diiringi alunan suara ibu-ibu Gerwani yang menyanyikan lagu Genjer-genjer yang telah “diplesetkan” syairnya menjadi seperti di bawah ini.

Jumat, 21 September 2012

Tangisanku Untuk Bumi Blambangan


http://satunegeri.com/tambang-emas-tumpang-pitu-milik-imn-sampai-2015.html



                Raut muka tak percaya mengiringi langkahku turun dari mobil. Keempat rodanya yang terkunci tanah berlumpur tak lagi mampu bergerak, hingga memaksaku meninggalkan mobil 4WD itu di sini. Sudah beberapa kali kakiku menginjak gas dalam-dalam, namun roda mobil enggan menjauh dari kubangan tanah lempung yang becek tersiram air. Mataku mengejar arah air yang menggenangi jalan itu berasal. “ Ah bukit indah itu kini berantakan. “ gumamku. Sesosok bukit yang beberapa tahun lalu berdiri kokoh dengan balutan warna hijau pekat kini telah muksa. Ya warna hijau yang terlihat seperti bertumpuk 7 lapisan itu kini gersang. Hanya sosok bukit kering kerontang dengan dominasi warna kecoklatan yang menyambut mataku.

Rabu, 19 September 2012

Kamis, 06 September 2012

Debat Kusir Pendukung Foke


http://kopidangdut.org/tag/politik/
              Tanggal 28 Agustus kemarin, untuk pertama kalinya, setelah beberapa lama enggan ikut debat online akhirnya saya ikut debat di wall grup Kompasiana. Saya tertarik untuk ikut berdebat bukan untuk menunjukkan apa yang saya punya. Bukan pula untuk membela satu pendapat. Dua hal itu ditambah untuk menjatuhkan pendapat orang lain tidak pernah terlintas dalam benak saya. Saya ikutan debat hanya ingin menjadi penengah untuk orang-orang yang sedang berdebat masalah PILKADA DKI.
            Dua kubu yang berdebat, menurut saya sudah terpancing ke arah debat kusir. Mereka tidak sedang mengupas / mendalami isi postingan yang salah satu pihak posting ke wall grup. Tapi mereka saling menjatuhkan, terutama dari kubu calon incumbent. Sanggahan atas postingan yang mereka berikan selalu dijawab dengan link-link berita dari situs-situs yang patut kita pertanyakan kebenaran beritanya. Dan link-link berita itu sebenarnya hanya alibi lemah atas postingan mereka. Saat mereka terdesak karena tidak bisa menjawab sanggahan sang lawan, mereka malah menyerang sisi-sisi pribadi lawan dengan melempar kata-kata yang tak sepantasnya seperti anggota partai terlarang ataupun suatu golongan dalam agama islam yang tidak bisa dengan mudah disematkan kepada oran-orang yang seiman ataupun orang non muslim.

Jumat, 31 Agustus 2012

Lintang Lontar ( Bintang Yang Terbuang )


http://andrew-christian.blogspot.com/2012/07/misteri-lubang-hitam-black-hole.html
            Suara gamelan bersinergi dengan erangan serangga malam, mengiringi pementasan seni gandrung yang dibawakan grup kesenian Pacul Guwang. Beberapa penari yang mereka bawa silih - sambut menghibur para penonton setianya. Kibasan sampur yang melilit leher para penari sesekali menyapa penonton. Yang mendapat sampur segera berjoget mengiringi gerak tubuh sang penari meliuk bersama alunan suara gamelan.
Suara riuh penonton semakin ramai, mengiring tatap-tatap mata yang tak berkedip memandang ke atas pentas. Setelah beberapa penari meramaikan pentas seni di pendopo kelurahan Temuguruh, akhirnya sang idola tampil. Sosok cantik dengan tubuhnya yang nyaris sempurna memulai aksi. Sambil berjalan, lentik jemarinya terus menari mengikuti irama gamelan yang seakan telah menyatu dengan dirinya. Gerak tubuhnya yang dinamis seakan menjadi dirigen untuk para penabuh gamelan. Saat dia bergerak cepat, hentakan gendang cepat mengikuti gerak kakinya. Pun saat gerak tubunya melambat, hentakan gendang sebagai pemegang komando gamelan ikut melambat.

Senin, 27 Agustus 2012

Kendang Kempul


               Kendang Kempul adalah sebutan untuk musik etnik yang lahir dan berkembang di Banywangi, Jawa Timur. Menurut sejarahnya, cikal bakal kendang kempul telah ada dan berkembang sekitar tahun 1920-an akhir. Lagu ( Gending = bahasa Using ) yang diciptakan saat itu untuk mengiringi kesenian seblang / gandrung Blambangan. Lagu awal yang diciptakan saat itu antara lain “ keriping sawi “ dan “ keok-keok “.
            Ada beberapa pendapat yang menjadi rujukan untuk awal mula berkembangnya musik Kendang Kempul. Ada pendapat yang menyatakan seperti di paragraf pertama. Ada pula yang menyatakan bahwa musik kendang kempul naru berkembang di sekitar tahun 1960-an, menjelang peristiwa G3S/PKI. Pendapat ini diperkuat dengan adanya salah satu lagu kendang kempul “ Genjer-genjer “ yang fenomenal di masa itu dinyanyikan oleh underbow partai ( LEKRA ). Ada pula yang menyebutkan perkembangan kendang kempul di mulai tahun 1980-an. Tapi menilik adanya instruksi bupati Banyuwangi 1966-1978  Djoko Supaat Slamet di tahun 1970 untuk membangkitkan musik Banyuwangi yang sempat mati suri, penulis lebih condong saama pendapat yang ada di paragraf pertama.
            Perkembangan kendang kempul semakin baik saat unsur musik angklung ikut masuk. Kendang kempul yang tadinya hanya dimainkan dengan alat : Gendang/Kendang, Kempul/Gong Besar, Kluncing ( Triangle dari kawat besi dan pemukul besi, seukuran beton neser lebih tebal sedikit ),  serta beberapa perangkat gamelan yang biasanya digunakan untuk mengiringi pementasan gandrung.
Seiring perkembangan jaman, kendang kempul terus berbenah. Tahun 1980-1990-an akhir, kendang kempul didominasi oleh penampilan Emilia Contessa, Sumiati, Alip S, Cahyono ( pelawak Jayakarta Group ) Suliana dan masih banyak lagi. Musik kendang kempul pada masa ini masih bisa dikatakan sebagai kendang kempul versi aslli, karena lebih mengandalkan perangkat gamelan untuk pengiringnya. Pada masa ini yang menjadi superstarnya adalah Sumiati dengan lagu fenomenalnya “ gelang alit” Bahkan seorang Sudjiwo Tedjo di akun twitternya menyatakan lagu ini “ penuh daya magis “.

Kamis, 16 Agustus 2012

Resensi Buku : Ouhibouki Areta


Ouhibouki Areta
Risma El Jundi

            Novel Ouhibouki areta mengisahkan cerita cinta bersetting kerajaan Maroko. Kedua tokoh utama adalah Asyam Bachir, seorang pelajar Indonesia yang sedang memperdalam ilmu agama di negeri maghribi tersebut. Areta, muslimah Maroko yang mempunyai garis keturunan Indonesia dari sang Umi.
            Cerita bermula dengan keberhasilan Asyam Bachir, pemuda keturunan Minang meraih beasiswa S2 dari Universitas Muhammed V. Di Maroko, Asyam berkenalan dengan seorang gadis bernama Areta. Areta yang baru menyelesaikan pendidikannya di Universitas Madinah Internasional. Kepulangannya ke Maroko juga untuk melanjutkan pendidikan S2-nya di Universitas Muhammed V.

Jumat, 03 Agustus 2012

Perspektif Saya Tentang Muhammadiyah

Hari ini, setelah semalam berhasil mendownload ceramah agama dari AA Gym dan beberapa KIAI lainnya yang tidak begitu terkenal, saya mendengarkannya dengan antusias. Awalnya saya menikmati ceramah AA Gym di Korea. Ceramah yang dibagi dalam 9 bagian itu begitu menyejukkan saya. Terlepas dari masalah yang pernah mendera beliau, saya sangat menikmati ceramahnya. Bagi saya, masalah pribadi tidaklah mempengaruhi keinginan saya untuk mendengarkan ceramah yang bersangkutan. Dan benar, gaya bahasa beliau yang santun, begitu menyihir dan merasuk dalam hati saya.

Selepas ceramah AA Abdullah Gymanstiar, saya mendengar ceramah seorang kiai lokal jawa timur. Kiai yang berasal dari daerah Bojonegoro tersebut sebenarnya di awal ceramah sudah bagus dan menarik. Penyampaiannya yang diselingi dengan humor sungguh menyegarkan. Ceramah yang berdurasi 95 menit itu mencapai klimak di tengah-tengah ceramah. Dengan kebanggaannya sebagai seorang NU, beliau menghina alasan/landasan Muhammadiyah dalam menjalankan roda oragnisasinya. Sejujurnya hal itulah yang langsung menggerakkan tangan saya untuk menskip ceramah yang masih berjalan kurang dari 45 menit tersebut. Bukan karena saya seorang yang sedari kecil besar di lingkungan Muhammadiyah, tapi saya kurang "sreg" dengan gaya bahasa-nya yang kasar dan kefanatikan yang bisa diartikan lain sama jamaahnya.

Jumat, 22 Juni 2012

Yang Kan terlupa

Seperti lukisan Usang
Terbuang kala suka telah Lekang
Tersingkap masa yang terus menerjang
Menjadikanmu sebuah bayang

Senin, 11 Juni 2012

( FF ) Akad

Mataku terkunci di genggaman tangan lelaki setengah baya itu. Matanya yang kenyang menikmati asam garam kehidupan menguliti tubuhku. Debaran jantung ini serasa lebih kencang dari gemuruh salju yang runtuh dari puncak alpen. Hawa dingin menyergap kening dan tengkukku, merindingkan romaku.
Sementara......

Minggu, 10 Juni 2012

Jejak-jejak Rindu

Jejakmu masih tersisa di sini. Bersama rangkaian lukisan yang kembali ku-slide dalam memoriku.
Senyummu, candamu semua masih mengharu ingatanku. Bersama jejak-jejak air matamu yang kau sisakan di pundakku.

Keabadianmu, Kehilanganku

Lembar lembar bunga menetes dari sela jemariku, mengiringi air membasuh tanah sehabis tercabik cangkul. Membentuk gunung kecil bermahkota di kedua sisinya. Memanjang segaris denganmu.

Kutinggalkan Lara, Untuk sebuah Asa

Langkahku mantab meninggalkan hiruk pikuk tetamu yang bergemuruh. Tangis sedih, raut kecewa dan tak percaya bersenyawa dengan tatap mata heran mengiringi langkahku . Tangis Exa yang tak terbendung, tak mampu menyurutkan langkahku. Kutinggalkan penghulu dan wali nikah yang duduk mematung.

Perih

Aku tertegun. Kata-katamu menusuk ke relung hatiku. Kukuatkan hati ini untuk mendengarnya, untuk mencernanya. Namun semakin dalam aku mencernanya, semakin dalam katamu menusuk.
Aku Ingin teriak, aku ingin memaki. Tapi lidahku telah terkunci. Telingakupun terpatri, untuk selalu terpaku dengan kata-katamu yang begitu kubenci. 

Minggu, 03 Juni 2012

( Bukan ) pemuja Setan

Barisan orang berjubah hitam semakin merapat. Degup jantungku bertalu menghentak dada, mengiring kerumunan yang makin memekat. Desa Rangkat baru saja kulalui, langkahku kembali telah tertutup pengepungku
“ Mau apa kamu kesini? “ tanya salah seorang dari mereka sambil memutar tongkat besi di tangannya.

Penerbangan Terakhir

Debaran jantungku perlahan kembali normal. Katakutanku menjelang take off tadi begitu keras menghentak. Pertama kalinya aku mencoba menerbangkan pesawat di lokasi ini. Lokasi yang indah dan berbukit-bukit.
Pesawat melayang tenang dalam kendaliku. Desa Rangkat yang indah menggodaku di sela-sela bebukitan. Aku terlena, tak kusadari sebuah tebing menantang kepakan sayap pesawat terbaruku.

Selasa, 01 Mei 2012

Jalang Liarku

Desah nafasmu masih terasa
Membaluri buluh perindu yang terjaga
Bersama nafas yang tak henti terpompa
Mengiringi liarnya rasa yang berkuasa

Wangimu masih terbaca
Dersama ion-ion udara yang menyapa bulu penciumanku
Mengantar sejuta rasa mengembara
Tuk menyingkap rahasia yang belum terjamah

Kamis, 26 April 2012

Rindu Tak Bertuan

Kalimaya art galery

Kau tinggalkan rasa selaksa bara
Membakar nadi menyentuh rongga
Mengulum jiwa pada ruang hampa
Saat ragamu tak lagi berada

Selasa, 24 April 2012

Pelukis Mimpi

Ingin kusibak jelaga yang menari di wajahmu
Agar kulihat lagi birunya langit menghias bola matamu
Menyapu debu-debu lusuh di hatimu
Yang tlah membunuh pancaran sinarmu

Senin, 16 April 2012

Esok Tak Pernah Ada

Esok?
Masih adakah kata yang terucap
Saat ujung titiap makin kental mengendap
Menyergap pandang mata yang tak bisa lagi berhenti menatap

Esok?
Masihkah kan kau berharap hadirnya
Saat matahari beranjak tersia-sia tanpa prestasi nyata
Sementara dia tak pernah bisa memutar arahnya
Hanya bergerak setapak demi setapak langkahnya
Hingga akhir dunia kan tiba waktunya

Rabu, 11 April 2012

Bourjuis Narsis

Kita tidak sedang mematut diri di papan catur
Melihat setiap langkah untuk dicounter
Dengan berbagai muslihat yang terpikir nalar
Liat meliuk tarian liar
Demi sebuah kata bermakna kemenangan besar

Kita tidak sedang bersandiwara
Memainkan kisah seribu muka
Berwajah cantik bengis menggoda
Ataupun melankolis mengundang iba

Selasa, 27 Maret 2012

Cakar - Cakar Hitam Masa Lalu

kalimayaartgalery

            Adzan isya’ telah berlalu. Jamaah sholat isya masjid al Ikhlas pun berangsur-angsur kembali ke rumahnya. Pun dengan Xixi yang telah berada di masjid sejak waktu ashar tadi. Dengan irama yang teratur, diayunkan langkah kakinya menuju rumah yang ditempatinya. Rumah mungil bercat kuning yang bertempat di ujung gang dekat masjid al-Ikhlas. Rumah yang dibelinya dari sisa uang tabungannya.
“ Dasar sundal. “ maki seorang ibu ketika  berpapasan dengannya.
            Xixi tak menjawab makian tersebut. Hanya suara istighfar yang terlontar dari bibirnya. Seulas senyum yang setengah dipaksakan tersungging dari bibirnya yang mungil. Senyuman untuk menutupi luka hatinya, setiap kali kata-kata hinaan menghampirnya. Telinganya yang terbungkus jilbab serasa sudah kebal, karena setiap hari mendengar makian dan cemoohan warga. Namun dia selalu berusaha bersabar menghadapi semua hinaan itu. Setiap cemoohan yang diterimanya, dibalasnya dengan do’a-do’a kebaikan. Do’a-do’a yang selalu dipanjatkannya di setiap waktunya. Tak ingin dia berlama-lama terlarut rasa dendam dan sakit hati.
“ Hee Sundal, ditunggu sama pelangganmu itu. “ kata seorang ibu lain saat berpapasan di dekat rumahnya. Tatap mata sinis dan penuh kebencian terlihat di matanya.

Minggu, 25 Maret 2012

Anakku Bukan Esktrimis II


http://icus2ays.blogspot.com/2009/01/intifadah.html
“ Dorrr…..dorrr….dorrr “ bunyi tembakan dari sniper yang berlindung di beberapa gedung terus memburu langkah-langkah kecil Ali yang lincah berlarian di atas puing-puing bangunan. Tumpukan batu bata dan bahan bangunan lainnya merupakan pemandangan harian yang selalu menyambut sinar matahari di bumi Gazza. Pun dengan bunyi tembakan yang yang terus memburu tubuh kurus Ali Bin Suhail, bocah kurus berusia 15 tahun bersenjatakan ketapel yang selalu tergantung di lehernya.
                        Ali adalah putera Abu Suhail yang mati terbunuh dua tahun yang lalu. Abu Suhail terbunuh saat pasukan Israel menyerang sebuah masjid di Gazza. Abu Suhail yang sedang sholat subuh berjamaah menjadi korban berondongan senapan mesin bersama puluhan jamaah lainnya. Bangunan masjid tempat mereka sholat rata dengan tanah dihujani tembakan mortir dan bom yang dijatuhkan pesawat pembom Israel.
        

Selasa, 20 Maret 2012

Keteguhan Hati


Hari-hari terus berganti. Hubungan Xixi dan Iqbal semakin dekat. Kedekatan yang mereka jalani semakin membuat warga di sekitar tempat tinggal Xixi panas. Bagaimanapun mereka tahu siapa Iqbal. Berasal dari keluarga seperti apa pemuda tampan tersebut. Sejujurnya di hati kecil ibu-ibu sekitar rumah Xixi, menganggap hubungan itu tidak sepantasnya. Iqbal, putera seorang pemuka agama yang mereka hormati menjalin hubungan dengan seorang mantan pelacur.
Banyak ibu-ibu yang merasa, Iqbal lebih pantas mendapatkan wanita yang lebih baik. Bahkan ada beberapa orang ibu yang rela menyodorkan anak gadis ataupun saudara perempuannya yang masih gadis agar Iqbal mau mengawininya. Namun tak ada tanggapan dari pemuda tersebut.

Kamis, 15 Maret 2012

Belenggu Masa Lalu


kalimayaartgallery
             Mentari yang perlahan mulai meninggi mengiring langkah-langkah kaki Iqbal dan Xixi yang berjalan bersisian meninggalkan masjid Agung Al Akbar Surabaya. Langkah-langkah kaki yang menuntun mereka ke area taman di depan masjid. Sambil berbincang mereka terus berjalan menjauh dari halaman masjid.
“ Kita duduk di sini saja ya? “ tanya Iqbal sambil menjatuhkan pantatnya ke pangkuan kursi taman yang kosong. Kursi kayu bercat hitam yang berdiri kokoh di atas pijakan ke empat kaki-kakinya. Semilir hembusan angin membawa aroma bunga-bunga yang bermekaran di sekitarnya.
            Xixi tak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya mengikuti langkahnya dengan duduk di kursi sebelah Iqbal. Tempatnya yang terbuka dan dipayungi sebuah pohon yang menawarkan kesejukan.   Tangannya yang terlindung baju kurung panjang tersembunyi di balik kerudung birunya yang panjang.

Rabu, 07 Maret 2012

Pertemuan

tausiyah.wordpress.com


            Diiringi sinar matahari yang masih panas membakar kulit, Iqbal menuju ke masjid al Ikhlas. Secarik kertas yang diperoleh dari petugas adminitrasi rumah sakit kemarinlah yang menuntun langkahnya ke masjid tersebut. Xifana Adestya Maharani, nama yang tercantum di kertas tersebut begitu menarik perhatiannya. Terbayang wajah wanita yang kemarin pingsan saat terserempet angkot. Wajahnya yang putih dipadu dengan kerudung biru sungguh suatu pemandangan yang menyejukkan hati. Meski hanya sesaat melihatnya, kenangan itu membekas di hatinya.
            Namun sesungguhnya bukan hal itu yang membuatnya ingin bertemu. Keinginannya bertemu murni hanya ingin tahu bagaimana keadaan gadis yang kemarin diantarnya ke rumah sakit. Seberapa parah luka yang dideritanya saat ini.  Hembusan angin seakan ikut mendorong langkahnya untuk segera bertemu dengannya.
“ Assalamu alaikum.” Iqbal menyapa seorang bapak-bapak tua yang tengah duduk di teras masjid. Tangannya terus memutar tasbih. Bibirnya yang dipait kulit pipi yang mulai mengeriput terus berkomat-kamit membaca dzikir.

Minggu, 26 Februari 2012

Peningkatan Kualitas Wasit, Penting Untuk Pembinaan Pemain Muda


            Pembinaan pemain muda usia yang sedang digalakkan oleh PSSI di era kepemimpinan Djohar Arifin Husein merupakan salah satu cara memperbaiki kualitas pemain di masa yang akan datang. terlepas apakah nantinya Beliau akan tetap bertahan mengurus PSSI atau digantikan dengan pengurus yang lain, seharusnya program ini terus dilakukan. Namun ada hal lain yang juga tak kalah pentingnya dalam pembinaan pemain usia muda, yakni sektor wasit beserta aparat pendukungnya yakni Komdis.

            Kita semua sudah mengetahui, bahwa bibit-bibit usia muda yang bangsa ini miliki sejujurnya punya skill individu yang baik dan mampu bersaing dengan Negara-negara lain. Kita tentu masih ingat saat SSB yang berlokasi di Makasar pernah menembus 4 besar piala Danone. Atau keberhasilan kakak-kakak mereka selama dua tahun berturut-turut menjuarai AC Milan Throphy di Italia. Itu semua bukti bagaimana kualitas anak-anak muda Indonesia dalam bermain bola.

Pentingnya Pembinaan Usia Dini

                    Setelah masa-masa menjelang kejatuhan NH dan kawan-kawannya di PSSI dulu, saya memilih vakum menulis tentang PSSI. Bukan kecewa karena NH dijatuhkan, tetapi sejujurnya saya sudah melihat banyak teman-teman yang mengangkat masalah PSSI dan perjuangan melawan lupa. Perjuangan yang menurut saya tak akan pernah usai, karena pengusung rezim lama masih ada dan berkeliaran untuk membuat PSSI baru terlihat buruk di depan penikmat bola tanah air. Saya menyadari itu, karena mereka memang mengusai setidaknya 2 media televisi dan beberapa portal pemberitaan yang mampu menjadi corong mereka untuk menjegal PSSI dan semua programnya. Mereka berpegang pada prinsip “ Berita salah, jika diberitakan terus menerus lambat laun akan tertanam menjadi kebenaran bagi yang tidak bisa memilah dan memilih berita".

Rabu, 15 Februari 2012

Sang Malaikat Penolong

https://www.facebook.com/people/Malaikat-Penolong/100002627415138
Putaran roda mobil terus berpacu membelah hitamnya aspal jalanan. Iqbal yang duduk di belakang kemudi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sejuknya udara di pagi itu menggodanya untuk menurunkan kaca avanza-nya. Hanya separuh saja yang menutupi jendela mobil yang selalu setia menemaninya. Pandang matanya terus memperhatikan jalanan yang dilauinya. Sementara alunan lembut lagu-lagu dari letto lembut menyapu gendang telinganya.

Laju mobilnya melambat saat melewati sebuah pasar. Aktifitas yang lumayan padat sedikit banyak berpengaruh pada kelancaran lalu lintas di jalan itu. Riuh rendah berbagai suara sedikit banyak mengganggunya. Perlahan laju mobil yang dikemudikannya semakin lambat hingga hampir ke titik 10 km/jam.

Minggu, 12 Februari 2012

Terror Rawagede

http://rioardi.wordpress.com/2011/12/01/foto-foto-langka-agresi-militer-belanda-di-indonesia/rioardi.wordpress
            Lelah belum lagi lunas terbayar, saat sayup gemuruh tank berderak mendekat. Derap sepatu boot mengiringi pergerakannya. Getaran-getaran yang ditimbulkannya serasa mengguncang bale bambu tempatnya merebahkan diri. Baru kemarin perjanjian renville ditanda tangani, kini mimis-mimis rakus KNIL dan pasukan Belanda mengancam ketenangan penduduk Rawagede tempatnya tinggal.

" Kenapa selarut ini tank-tank Belanda sudah memasuki perkampungan ini. " gumam lelaki muda berusia sekitar 30 tahun tersebut sambil mengucek-ucek matanya. Suara adzan isya' dari surau telah berlalu tanpa sempat dirinya mendengar iqomat yang terlindas pusaran rantai-rantai tank dan derap sepatu boot. " Adakah mereka hanya ingin menempatkan pasukannya di sini? " kembali sebuah tanya berkumandang di benaknya.

Kamis, 09 Februari 2012

Malaikat Pembimbing

http://animaker131.deviantart.com/art/Guardian-Angel-147904735
Sejak peristiwa kedatangan ibu-ibu wali murid ke TPQ, Xixi terus mengalami teror. Kata-kata tak sedap sering terdengar ketika dirinya melewati sekumpulan ibu-ibu yang sedang bercengkerama di sore hari. Mulai dari sindiran halu sampai kata-kata kasar. Meski dirinya tak menghiraukannya, namun dirinya khawatir hal itu akan diikuti oleh beberapa orang anak-anak TPQ yang melihatnya.

" Assalamualaikum " sapa Xixi saat dirinya melewati beberapa orang ibu yang sedang duduk-duduk di teras rumah warga.

Senin, 06 Februari 2012

Taman Ujung, Istana Air Dari Timur

Tanggal 2 februari kemarin saat menikmati libur hari raya Galungan, saya menyempatkan diri melali ( Jalan-jalan = bahasa bali-red ) ke ujung timur pulau Bali. Tujuan awal saya dan teman-teman adalah Taman Soekasada Ujung  yang terletak di desa Tumbu kecamatan Karangasem. Taman ini berjarak sekitar 2-2,5 jam perjalanan darat dari Denpasar.
Koleksi Pribadi

Taman Ujung merupakan salah satu situs peninggalan kerajaan Karangasem yang terletak di lereng Gunung Agung. Taman yang didirikan oleh raja Karangasem terakhir I Gusti Bagus Jelantik ( 1909-1945 ) yang saat memimpin bergelar Anak Agung Agung AngLurah Ketut Karangasem . Taman yang mulai dibangun pada tahun 1919 dan diresmikam tahun 1921 ini awalnya memiliki luas sekitar 400 hr. Namun kini tinggal 10 hr saja karena dibagikan ke warga sekitar saat adanya "Land Reform".

Jumat, 03 Februari 2012

Penentangan

http://penabuluan.multiply.com/journal/item/597/Lena_Lena
Seminggu telah berlalu sejak pertama kali Xixi mulai mengajar anak-anak TPQ. Pelan tapi pasti berita tentang dirinya segera menyebar ke orang tua murid. Ada pro dan kontra yang datang menghampiri dirinya. Jamaah masjid terbelah karena peristiwa tersebut. Bagaimanapun mereka tahu siapa dia. Apa latar belakang dirinya. Dan hampir semua yang ada pada dirinya jamaah masjid tahu.

Matahari sore baru saja menyapa mayapada, setelah sejak pagi bersembunyi di balik awan. Pelataran masjid yang baru saja sepi ditinggalkan jamaah sholat ashar kembali ramai oleh sekumpulan ibu-ibu yang datang dengan suaranya yang berisik. Pak Kiai dan Xixi yang sedang mengawasi anak-anak TPQ belajar membaca Al Qur'an hanya mengira jika itu suara orang-orang sedang lewat di dekat masjid.

Sabtu, 28 Januari 2012

Kesempatan Ke Dua

http://budiuzie.wordpress.com/2008/12/01/sunset-atau-sunrise/
Matahari sudah semakin dekat menyentuh nadirnya. Di dalam ruang sekretariat masjid terlihat 10 orang tengah duduk berhadap-hadapan. Mereka terlibat pembicaraan serius membahas mengenai beberapa permasalahan yang ada di kepengurusan masjid. Rapat tersebut telah berhasil membuat beberapa keputusan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

" Saudara-saudara sekalian, semua masalah sekarang sudah berhasil kita putuskan. Tinggal satu masalah lagi yang perlu kita bicarakan yakni masalah tenaga pengajar untuk anak-anak TPQ yang ada di masjid ini. Adakah usulan yang ingin saudara-saudara sampaikan? " tanya pak Kiai kepada para peserta rapat.

Kamis, 26 Januari 2012

Rencana Menantang Karma

http://www.fractal-wallpapers.com/

" Assalamualaikum pak Kiai " sapa Xixi begitu jamaah yang menghadiri kuliah subuh di pagi itu sudah pergi meninggalkan masjid. 

" Waalaikum salam. Kapan nak Xixi datangnya? " jawab pak Kiai. Kedua telapak tangannya dirapatkan di depan dada sambil menganggukkan badan. Xixi-pun melakukan hal yang sama. Mereka hanya bertukar salam tanpa saling memegang telapak tangan. 

" Kemarin sore saya nyampek di sini pak Kiai. " jawab Xixi sambil melemparkan seulas senyum kepada seorang jamaah yang kebetulan menyapanya dengan sebuah senyuman.

Selasa, 24 Januari 2012

Mengejar Waktu Yang Tersisa

http://sbelen.wordpress.com/2008/12/29/waktu-yang-tersisa/
Waktu terus berlalu. Xixi terus menikmati hari-harinya dengan berbagai kegiatan sosialnya. Tak dipedulikannya berapa banyak waktu yang akan terbuang untuk hal itu. Yang terpenting sekarang adalah mengisi waktu-waktu yang tersisa di antara jedanya mencari pengobatan. Seperti nasehat Haji Rahmat " kesembuhan memang yang utama, tetapi bagaimana dia mengisi hari-hari yang tersisa untuknya dengan baik juga tak kalah pentingnya.

Selain dengan meminum ramuan yang diberikan oleh Haji Rahmat, Xixi terus berusaha mengobati penyakitnya dengan berbagai cara yang tak bertentangan dengan tuntunan agama. Dari satu metode ke metode yang lain dari, usahanya tak pernah berhenti. Komunikasi dengan dokter yang merawatnya di Surabaya dulu terus dijalaninya. Semua hanyalah bagian dari ikhtiarnya. Setiap malam do'a-do'a tak henti menghiasi bibirnya. Sementara di siang harinya saat tak ada kegiatan, disibukkannya dirinya dengan beberapa kegiatan belajar mendalami agama. Semakin lama dirinya semakin tenggelam dalam keingin tahuan dan keinginan untuk mendalami dan mengamalkan ajaran agama.

Rabu, 18 Januari 2012

Ikhtiar Seorang Ayah

http://kurniawanjefry.wordpress.com/2011/04/14/berusaha-dan-berusaha/
Sejuk udara pagi berhembus perlahan dari arah pepohonan pinus. Aromanya yang segar perlahan menjalar ke seluruh tubuh Xixi bersama tiap sesapan nafasnya. Lelah yang sempat terasa selama dalam perjalanan akhirnya tertuntaskan. Jalanan berbatu yang dilaluinya menjelang sampai ke tujuan, membuat perjalanan terasa sangat lama. Guncangan mobil yang miring ke kiri atau ke kanan membuat tubuhnya terasa pegal. 

" Xi kita sudah sampai di rumah Haji Rahmat. Ayo kita turun. " Pak Ismail berkata sambil membuka pintu mobil yang berhenti di halaman sebuah masjid kecil. Sesampainya di luar, segera dia bergerak seperti orang sedang bersenam. Lamanya perjalan yang hampir 2 jam, ditambah dengan kondisi jalanan yang berbatu di seperempat jalan terakhir membuat badannya terasa pegal.

Senin, 16 Januari 2012

Foto Eksklusif Derbi Dellamadonina

Suasana Curva Nord menjelang Derbi Di mulai    
Mengheningkan Cipta Untuk korban kapal tenggelam Costa Concordia Di lepas pantai Palermo Italia

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...