Kamis, 01 Januari 2015

10 Momen Hebat dalam Sejarah AC. Milan


1. Kalahkah Juventus 1-7
Rivalitas AC Milan dan Juventus, yang disebut sebagai ‘dua tim terbesar Italia’, memanas setelah laga ini.Juventus mulai mendominasi liga dan ‘menguasai’ kota Turin menyusul berakhirnya era Il Grande Torino akibat tragedi Superga yang menimpa sang rival sekota pada 4 Mei 1949.Turin diguyur hujan deras ketika Milan datang berkunjung pada 5 Februari 1950. Meski skuatnya dikabarkan kelelahan, Juventus tetap difavoritkan untuk mengalahkan Milan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. La Vecchia Signora dipaksa bertekuk lutut oleh Milan yang dimotori trio Gre-No-Li ( Gunnar Gren, Gunnar Nordahl, Nils Liedholm).Nordahl sendiri mencetak hat-trick dan Milan menang telak 6-1. Kemenangan fantastis ini masih hidup di hari para tifosi Milan bahkan hingga sekarang.

2. Scudetto 1951
Setelah Perang Dunia II, AC Milan menjelma jadi salah satu tim terdepan di persepakbolaan Italia. Dengan serangan berpusat pada trio Gre-No-Li asal Swedia, Milan merajalela.Milan meraih Scudetto 1951 dan itu merupakan awal dari sederet kesuksesan yang mereka rengkuh pada era tersebut. Di antaranya adalah Scudetto 1955, 1957 dan 1959 serta dua gelar dari Copa Latina pada 1951 dan 1956.Gre-No-Li sendiri kemudian menjadi cetak biru tim-tim Milan di masa depan.

3. European Cup 1963 vs Benfica
Di era 1960-an, nama Nereo Rocco mengemuka berkat sistem permainan baru yang diperkenalkannya, yaitu catenaccio.Dengan sistem inilah, plus perekrutan pemain-pemain seperti Gianni Rivera dan Jose Alafini, Milan sukses menjinakkan Benfica 2-1 di Wembley untuk merengkuh trofi European Cup pertamanya pada 1963.Poros pertahanan Milan di laga tersebut tak lain adalah Cesare Maldini.Beberapa dekade berselang, sang putra Paolo Maldini sukses mengikuti jejak Cesare mengangkat trofi kompetisi antarklub paling elit di ranah Eropa.

4. European Cup & Intercontinental Cup 1969
Inter Milan besutan Helenio Herrera mendominasi di era 1960-an dan membuat AC Milan tenggelam dalam bayang-bayang sang rival sekota.Namun, gara-gara itu pula, Milan terlecut untuk bangkit dan mendapatkan hasilnya di akhir dekade tersebut setelah sukses menciptakan keseimbangan tim yang solid.Pada tahun 1969, Milan berhasil menaklukkan Ajax yang dilatih Rinus Michels dan dimotori pemain legendaris Johan Cruijff dengan skor meyakinkan 4-1 di Santiago Bernabeu untuk merebut gelar European Cup keduanya. Setelah itu, Milan juga mengangkat trofi Intercontinental Cup perdananya dengan menjinakkan Estudiantes berkat kemenangan 3-0 di San Siro dan skor 1-2 di La Bombonera (agregat 4-2).Milan menutup dekade yang penuh rasa frustasi itu dengan akhir nan gemilang.

5. Silvio Berlusconi 1986
Silvio Berlusconi dicintai karena dialah yang menyelamatkan AC Milan dari periode kelam usai kembali dari Serie B ke kasta tertinggi Italia.Pada 20 Februari 1986, Berlusconi mengambil alih Milan, menginvestasikan dana dalam jumlah besar, dan menghindarkanRossoneri dari kebangkrutan.Berlusconi lalu merekrut Arrigo Sacchi sebagai pelatih serta memperkuat skuat Milan dengan tambahan amunisi baru berkelas dunia dalam diri trio Belanda Ruud Gullit, Marco van Basten dan Frank Rijkaard.Selain dicintai para pendukung Milan, Berlusconi juga dibenci kubu rival karena mereka menilai kekuatan finansial Milan didapat berkat pengaruh sang bos baru di dunia politik.Namun, tak bisa dibantah bahwa Berlusconi lah yang sudah mengembalikan Milan ke level elit setelah sebelumnya sempat tenggelam.

6. AC. Milan vs Maradona 1987/88
Pada musim tersebut, AC Milan meraih Scudetto pertamanya sejak 1979. Sampai sekarang, Scudetto itu adalah Scudetto tersulit yang pernah dimenangi oleh Milan.Dipimpin pelatih brilian Arrigo Sacchi dan diperkuat sederet talenta istimewa dari Franco Baresi, Mauro Tassotti, Ruud Gullit hingga Marco van Basten, Milan ternyata tak bisa begitu saja merajai Italia.Penyebabnya adalah Napoli. Napoli merupakan saingan berat Milan waktu itu. Selain memiliki bintang-bintang seperti Careca dan Circo Ferrara, skuat Napoli juga dihuni seorang pemain legendaris bernama Diego Maradona.Setelah bersaing dari awal, Milan akhirnya berdiri di puncak Italia dengan keunggulan hanya tiga poin dari Napoli. Selisih tiga poin itu didapat Milan berkat kemenangan dramatis 3-2 di Naples pada penghujung musim.

7. AC Milan & Steaua Bucureti 1989
AC Milan meraih gelar European Cup ketiganya dengan menghancurkan Steaua Bucuresti 4-0.Masing-masing dua gol dari Ruud Gullit dan Marco van Basten membawa Milan era Sacchi/Berlusconi menghajar habis sang wakil Rumania di Camp Nou pada 24 Mei 1989.Saat itu, persepakbolaan Italia merupakan yang terbaik di dunia dan Milan adalah klub yang berdiri di puncaknya.Pada tahun itu juga, Rossoneri menciptakan reputasi hebat di Eropa, yang mereka pegang sampai sekarang.

8. Kalahkan Barcelona 4-0 1994
Pada titik ini, European Cup sudah berganti nama menjadi Liga Champions.AC Milan merengkuh gelanya yang kelima dengan mempermalukan raksasa Spanyol Barcelona, yang memiliki Romario dan Hristo Stoichkov, pada partai final 18 Mei 1994 di Athena.Dilatih master tactician Fabio Capello dan diperkuat pemain-pemain hebat dari belakang sampai depan semisal kiper Sebastiano Rossi, Mauro Tassotti, Paolo Maldini, Demetrio Albertini, Zvonimir Boban, Marcel Desailly, Dejan Savicevic serta Daniele Massaro, Rossoneri menggilasBlaugrana empat gol tanpa balas.Massaro mencetak dua gol, sedangkan Savicevic dan Desailly masing-masing menyumbang satu.Trofi elit Eropa, dipadu dengan catatan impresif 58 laga tak terkalahkan di Serie A antara 1992 sampai 1994, pun menegaskan status Milan era tersebut sebagai salah satu tim terbaik sepanjang sejarah.

9. Kalahkan Inter Milan 0-6
Selisih skor setelak ini dalam Derby Della Madonnina mungkin sulit kita saksikan lagi di masa mendatang.AC Milan menang dengan sangat meyakinkan. Skor 6-0 yang tercipta pada 11 Mei 2001 ini merupakan rekor kemenangan terbesar dalam bentrokan dua rival sekota ini di Serie A.Gianni Comandini mencetak dua gol di babak pertama. Federico Giunti menjadikannya 3-0 di awal babak kedua sebelum Andriy Shevchenko memperparah luka Inter dengan brace-nya. Di penghujung laga, Serginho menutup pesta.

10. Balas Dendam di Athena
Gelar European Cup/Liga Champions terkini yang diraih AC Milan adalah pada 2007 silam. Itu merupakan gelar ketujuh Rossoneri di kompetisi elit ini.Milan memenanginya dengan cara terbaik – dari sudut pandang mereka, yakni dengan mengalahkan tim yang di dua edisi sebelumnya membuat sang raksasa Italia gigit jari Istanbul. Tim itu adalah Liverpool.Pada final tahun 2005, Milan dibuat menangis oleh The Reds setelah keunggulan tiga gol di babak pertama musnah pada paruh kedua dan mereka kalah lewat adu penalti.Dua tahun berselang, Milan dan Liverpool bertemu lagi di partai puncak Liga Champions. Kali ini, duel bertempat di Olympic Stadium, Athena.Jalan ceritanya berbeda. Filippo Inzaghi membawa Milan memimpin 2-0 dengan golnya pada menit 45 dan 82. Tak seperti laga dramatis di Istanbul, Liverpool hanya bisa menipiskan selisih skor melalui Dirk Kuyt satu menit jelang bubaran.Skor akhir 2-1 dan Milan pun sukses membalaskan dendam atas Liverpool sekaligus kembali menegaskan diri sebagai klub nomor satu di Eropa.Sukses Milan itu semakin komplet dengan jatuhnya gelar top scorer dan pemain terbaik turnamen kepada maestro mereka asal Brasil, Kaka. (Sumber: Bola.net)

Jumat, 23 Mei 2014

Takdir Terakhir

Dia ada
Dia menggoda
Dengan nada pentatonik membahana

Dia di sini
Menanti hari berimaji
Saat jemari tak henti menari
Meniti inchi berpori

Dia di sini
Dengan goresan tinta yang pernah terhenti
Pada koma dimana nalar tlah mati
Hingga desirnya tak lagi nyaring bernyanyi

Dia disini
Bukan menanti penghapus koma pada narasi basi
Bukan pula untuk celoteh tiada henti
Dia disini tuangi hati, untuk titik yang tak pantas disesali

Dia di sini
Goreskan tanda bacanya sendiri
Tak untuk takdirnya yang tlah mati
Tapi untuk bab baru tanpa elegi.

Denpasar. 23052014-2017

Masopu

Bermula pada kata, cerita kan tertata.
Bermula pada kata, gaungnya membahana
"WDY"

Rabu, 12 Maret 2014

Menteri Alim itu....



http://zentangle.blogspot.com/2010/03/paradox-q.html
Bogor, 09 September 2013
Aku bergidik, sejak mengenalmu, baru kali ini kamu menatapku dengan begitu tajamnya. Sorot matamu yang setengah melotot seperti bilah-bilah anak panah Sri Krisna yang mencoba mengoyak tubuh lawannya di padang Kurusetra. Sorot itu menciutkan hatiku yang tidak pernah takut menghadapi marabahaya. Investigasiku dalam beberapa kasus kerusuhan, pembunuhan berantai dan kasus pelik lainnya, sukses aku taklukkan. Semua karena dukungan moril darimu. Tapi entah kenapa kini kau tidak setuju dengan rencanaku untuk menyelidiki kasus kecelekaan Lancer EX yang terjadi dinihari kemarin? Padahal kasus itu nilai jualnya sangat tinggi di mata awak media sepertiku.
"Sadarkahh kau? Selama ini dirimu seperti ilalang di savana. Jangankan hembusan angin ribut, sepoi angin yang lembut membelai tubuhmu saja sudah cukup membuatmu berisik?" Katamu pelan, seakan tanpa semangat. Kau berkata tanpa kebanggaan seperti yang selama ini selalu kau tiupkan tentang profesiku. Biasanya kau orang pertama yang berdiri menyemangatiku saat gelisah seperti ini. Tapi kini, entah kenapa kau berubah. Kau seperti orang lain di mataku.
"Maksudmu apa?" Aku kebingungan melihatmu bersikap seperti itu.
"Profesimu itu." katamu mantab. “Aku tidak perlu lagi sembunyikan kegundahan yang selama ini terus menghantui malam-malamku. Aku takut kehilangan dirimu hanya untuk sebuah kesia-siaan semata. Hanya untuk nilai jual tanpa pesan moral. Itu hanya pepesan kosong media murahan.
"Wartawan? Apa yang salah dengan profesiku sebagai wartawan investigasi?" mukaku memerah seperti kepiting di panggangan. Jujur aku tersinggung dengan ucapannya. Aku berusaha menahan rasa tidak enak yang tiba-tiba saja menggelegak. Entah kenapa rasa itu semakin kuat merajahi hati. Aku memang

Sabtu, 08 Februari 2014

Tersudut

http://felinophobia.wordpress.com/category/phobia/
"Tidak. Kamu tidak boleh melakukannya."
Telapak tangannya memegang pundakku. Seperti berusaha menahan nyala lilin yang hampir padam, matanya menghujam pusaran korneaku.
Dia tahu saat ini aku terseret di nadir. Dia tahu aku butuh tongkat kecil untuk menopang langkah yang mulai goyah. Karena itu dia berusaha menjadi penopangku.
"Tidak....?"
Aku melotot, melawan tatapannya.
"Apa kamu tahu betapa sakitnya aku? Aku serupa remah-remah roti di antara serbuan ribuan semut. Mereka mencari sisi terlemahku, untuk mencabik dan menyeretnya sepanjang jalan. Aku seperti sosok tidak berguna di mata mereka, selain persembahan untuk sang ratu yang siap bertelur, usai mencerna tubuhku."
Aku berusaha melepaskan tangan Tsiefana dari pundak. Sambil membuang muka, aku memalingkan wajah. Bukan aku tidak mencintainya, tapi serombongan semut merah yang bebaris menarik mangsa, buatku muak.
"Hei kemana perginya Joey, si karang pelindung pantai? Bukankah selama ini dia tegar meski sapuan ombak tak henti menghajar? Adakah dia telah runtuh, tergerus angkuh lidah pembunuh?"

Senin, 03 Februari 2014

(re-write) Lintang Lonthar



Kemirih, 21 Februari 1970
            Mbok nawi oleh, isun nyilih picise sulung. Nang omah sing nono beras maning. Kang Karta sing oleh pedamelan. (Mbak, kalau boleh aku pinjam uangnya dulu. Beras di rumah habis. Kang Karta belum dapat kerjaan).” Pinta Karti, adikku sambil menimang-nimang Siti, anak semata wayangnya yang baru berusia 16 bulan.
            Dia tahu semalam aku baru pulang mentas di desa Lemah Bang. Setiap kali pentas, uang saweran yang aku dapat pasti banyak. Semua orang tahu, Onah adalah primadona panggung. Bintang panggung yang selalu menghadirkan keriuhan tersendiri saat dia menari. Ada pameo di penikmat tari Gandrung Sing Onah, sing ono pesona (tiada onah, tiada pesonanya)
            Aku merogoh buntalan kecil di bawah bantal. Kukeluarkan beberapa keping uang yang aku dapatkan semalam. Sambil tersenyum, aku sodorkan uang-uang itu pada adikku yang paling kecil. Sedari kecil dia memang paling aleman terhadapku. Hingga kini pun, saat sudah berkeluarga, dia masih seperti itu.
            Iki, picis isun gawean disik. (Ini, pakailah uangku dulu).”
            Seperti yang sudah-sudah, dia menerima uang itu dengan mata berbinar. Rasa bahagia tergambar di matanya. Sejujurnya dia lebih cantik dariku. Matanya yang bulat, seperti sasadara manjer kawuryan1. Rambutnya yang hitam, ngandan-ngandan2. Gelombangnya yang halus dan rapi seperti riak kecil air laut yang membelai pasir pantai Blimbing sari.  Andai mau, dia bisa jadi bintang pertunjukan sepertiku, bahkan melebihiku. Tapi dia tidak berbakat menari sepertiku, itu kenapa dia tidak tertarik mengikuti jejakku.

Minggu, 02 Februari 2014

Nono Coretan



Krikilan, 17 Desember 2013, 19.30 wib
            “Ibu tidak setuju dengan pilihanmu.”
            “Tapi…”
            “Dia kupu-kupu malam, Ray.” Potong ibu
            “Itu dulu.” Sanggahku.
            “Dulu atau sekarang sama saja. Sekali kupu-kupu malam, tetap seperti itu.”
            “Tidakkah ibu lihat dia sekarang seperti apa. Itu masa lalunya, sekarang dia sudah berubah. Dia sudah menutup kisah itu. Dia Mey Ganesha Prameswari yang baru, Mey seorang aktifis sosial.”
            “Itu tidak berarti di mata ibu.”
            “Ibu, ijinkan Ray menikahinya.”

Kamis, 24 Oktober 2013

Senja


http://www.tripadvisor.co.id/Attraction_Review-g317103-d3464524-Reviews-Pulau_Merah_Beach-Banyuwangi_East_Java_Java.html

Deburan ombak mengiringi matahari yang semakin dalam tergelincir. Setapak demi setapak terangnya berganti, menyapa hembusan bayu yang menyodorkan uap garam. Wisatawan yang sedari tadi menunggu momen itu segera beranjak berdiri. Ditinggalkan aktifitas yang mereka lakukan. Permainan ataupun aktifitas lain tak lagi menarik selain momen ini. Tatap mata mereka menantang sinar mentari yang memantul di atas gulungan ombak, bersaing dengan buih yang berlarian menuju pantai. Tak mereka hiraukan silau yang menyapa. Momen itu terlalu indah untuk dilewatkan.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Lentera Untuk Bahtera Rapuh


https://www.facebook.com/Kalimaya.Art.Gallery

Kamu datang lagi. Masih seperti resep obat dari dokter, kamu datang sehari tiga kali. Aneka bunga setia berada dalam genggaman tanganmu di pagi dan soremu berkunjung. Sesaat setelah memutar knop pintu, bunga-bunga itu kausodorkan padaku. Aroma mewangi yang khas selalu menyapa hidungku, menarik angan untuk melukis aku dan kamu di awang-awang, menari bersama diaroma awan tipis melayang. Hatiku benar-benar dibuainya. Aku seperti Ainun, cinta sejati Habibie, sang tekhnokrat dari Makasar.
            Masih seperti yang tercatat dalam memoriku ini, ceria wajahmu bangkitkan semangat ini. Entah kenapa, saat binar matamu menatap, saat senyummu hadirkan kilau gigimu yang putih mengkilat, sakit ini seperti sadar diri, dia pergi. Dia pergi dan enggan kembali sampai waktunya kakimu berlalu pergi, kembali memasungku dalam sendiri.
Tersanjungkah aku, jika ternyata aku menyukai sikapmu? Berlebihkah aku, jika anggap hadirmu adalah anugrah terindah di detik-detik hidupku yang menyempit? Tidak tahu diriku aku, mencintai sosokmu yang mendekati sempurna. Aku takut rasaku ini akan berakhir duka. Duka untukmu. Duka untukku.

Kamis, 10 Oktober 2013

Citra Sebuah Jiwa


http://kisah-kisahislamdancinta.blogspot.com/

Aku hanya wujud bernama
Menikmati gemeretak jemari tangan yang lelah
Ataupun kesemutan merajah tapak kaki yang menapak lumpur-lumpur basah
Tak termakan buaian tangan-tangan kuli tinta
Sebarkan jala-jala pelemah jiwa

Aku nama yang berjiwa
Citra dan cita selaras di dada
Mengejar mimpi yang tiada sempurna
Kembang tidur sejak aku belia

Selasa, 08 Oktober 2013

Galery Cinta



http://madebayak.files.wordpress.com/2012/08/exotisme-gadis-bali-65x75cm-spray-paint-on-plastic-trash-2012.jpg

Binar matamu menyambut langkahku mendekat. Tatap mata indahmu mantabkan langkah untuk segera datang menghampiri. Sorot tajamnya yang lembut, tidak mampu aku hitung dengan deretan bilangan biner yang sempat aku pelajari. Satu,..dua…tiga dan deret angka itu tiada mampu menggambarkan bagaimana tatap matamu itu, seperti penerang jiwaku yang sempat gulana dihampakan cinta.
            Tanpa banyak kata, hanya berteman suara gantungan kunci yang bergemerincing, engkau berdiri, menghambur dalam pelukku. Tatap mata aneh, datang menjaring kita dari berbagai sudut tak lagi kau hiraukan. Engkau memelukku, menciumi pipi ini dengan buas, kita seperti sejoli yang lama terpisah, seakan di ruang itu hanya ada kau dan aku, seakan kita telah lama terpenjara dinding waktu dan jarak. Sambil berbisik aku berusaha menahan bibirmu, agar tidak terus menyerang pipi dan bibirku, menuntunmu ke balik pilar yang minim sorotan mata.
            Seperti tadi, kau masih belum puas melepas rindumu. Tiada sempat aku berbasa-basi, tanganmu tetap melingkari leher. Tapi kau pasif, tiada aksi lanjutan yang kauberikan. Rasa penasaran mengulum otakku, melihat sepasang bibir merah merekah terbuka di depan mataku. Auranya menggoda, menghisapnya dalam kubangan kepicikan pikir. Aku mencoba bertahan dari sesapan nafsu yang berusaha menjatuhkanku dalam kenistaan. Deru nafas dan debaran jantungku tiada menentu, bersanding dengan wajah memerah menahan gejolak nafsu yang sedang kulawan.

Minggu, 06 Oktober 2013

Ujian Untuk Amara



“Kenapa mereka selalu bergunjing tentangku?”
Hitam bola matamu bertumpu pada sumbunya, menatapku yang berada di seberang meja dengan tajam. Seakan-akan aku ini ikut bersalah, bergunjing tentangmu. Bibir tipismu sedikit manyun, memamerkan warnanya yang merah delima, warna yang selama ini membuatku jatuh cinta. Bulu-bulu tipis antara hidung dan bibirmu semakin jelas terlihat, dalam sorotan lampu yang tepat di atasmu. Hidungmu yang mungil, kembang-kempis memompa dan menghisap udara secara bergantian.
“Amara, tenangkan dirimu. Jangan emosi begini.”
“Tenang katamu? Ar, Enam bulan aku dijadikan bahan gunjingan. Enam bulan aku jadi bahan olok-olokan, dan kamu hanya memintaku tenang?”
Engkau berdiri. Dua tanganmu menekan meja, menyangga tubuhmu yang kau condongkan ke arahku. Alis matamu yang tebal dan mempesona, hampir menyatu, mengikuti kerutan di dahimu. Engkau seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan.

Kamis, 19 September 2013

(FF) Sesat Pikir

POV-DevianArt
"Sesat?"
Mataku tak mampu beralih dari bulatan hitam kornea matamu. Ada binar-binar kemarahan memancar di sana. Tidak biasanya aku melihat hal itu. Silang-kata, biasa menjadi penyedap persahabatan kita. Kamu dengan kacamata plus-mu dan aku dengan kacamata silinderku.
"Kamu telah sesat pikir. Sudah jelas kalau hal itu salah, tidak sesuai tuntunan dan ajaran yang sama-sama kita anut, kenapa kamu tidak bersikap tegas untuk menolaknya?" serbuan tanyamu seperti muntahan peluru AK-47, tidak kenal ngadat, meski panas semakin menyengat.
"Aku sesat pikir?" tanyaku kebingungan. Telunjuk kananku mengarah ke dada.

Kamis, 12 September 2013

Jerat-Jerat Sesat

Seperti malam yang lalu
Wangi dupa tersesap gerimis yang berlalu
Remas nyalanya serupa abu

Seperti malam yang telah lewat
Diri ini kembali tersesat
Pada sebuah keindahan yang telah cacat
Termakan binatang pengerat

Manis madu itu hanya pemikat
Dari maksiat kata yang tersirat
Tersurat bersama seribu mudharat
Setelah kaki terikat erat
Tak bergerak, tersesat

Kata Tanpa Mata

Kata
Mimis tanpa mata
Berbalik arah saat otak lupa

Selasa, 10 September 2013

Nyanyian Ilalang



Aku bergidik, sejak berhubungan denganmu, baru kali kamu menatapku dengan tatap mata yang begitu tajam. Sorotnya seperti bilah-bilah anak panah yang mencoba mengoyak hatiku, menciutkan nyali yang tak pernah takut menghadapi mara bahaya. Investigasi akan beberapa kasus kerusuhan, pembunuhan berantai dan kasus pelik lainnya, sukses aku taklukkan. Semua karena dukungan moral darimu. Tapi entah kenapa kamu tiba-tiba tidak setuju dengan rencanaku untuk menyelidiki kasus kecelekaan Lancer EX yang terjadi dinihari kemarin?
"Sadarkahh kau? Selama ini dirimu seperti ilalang di tengah savana. Jangankan hembusan angin ribut, sepoi angin yang membelai, sudah cukup buatmu berisik?" Katamu pelan, seakan tanpa semangat, tanpa kebanggaan yang selalu kau tiupkan tentang profesiku selama ini.

Rabu, 28 Agustus 2013

17, Keramat Terindah

http://swaranda.blogspot.com/2012/03/hadiah-terindah-dari-allah-taala.html


            Seperti air yang terus mengalir, begitupun dengan alunan langkah sepatuku, setapak demi setapak langkahnya terus mendekati akhir. Sungguhpun aku ingin berhenti sesaat, menikmati sejuknya udara di lembah itu ataupun derasnya hembusan angin di puncak bukit Kintamani. Sungguhpun aku masih ingin bersalaman dengan sesanak saudara yang datang, tapi langkah ini enggan untuk berhenti. Langkah ini seperti terus menarikku menuju titian panjang, dua dunia yang terpisah.
            Aku….
            Tanggal 16 ramadhan pemuda itu datang lagi padaku. Seperti pada kedatangannya yang telah lalu, selalu dia bertanya tentang apa yang dirasanya aneh dari lakuku. Dia selalu protes dengan aktifitasku yang berlebih. Dan nasehat-nasehatnya tentang ini-itu. Tapi bukan itu yang menyentuh ulu hatiku. Sebuah tanya di akhir pertemuan itu, “Kenapa saat menjelang subuh, aku selalu mengitari masjid ini 17 kali?”
            Aku tidak ingat lagi bagaimana semua bermula. Yang aku ingat hanyalah saat aku mengawali ritualku, usiaku sudah menginjak 34 tahun. Usia dimana harusnya hati ini sudah matang dan mantap hidup dengan 1 istri serta minimal 1 anak yang menemani hari-hariku, meniti indahnya kebersamaan. “kemana saja aku selama ini, hingga tersesat dari hakikat hidupku sebagai insan kamil ciptaan sang Khalik?” Itulah tanya yang mengawali ritualku saat itu.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Kembali Bermimpi

Lama kulelap
Pada wanginya masih tersesap
Lupa langkah tak boleh mengendap
Pada cerita tak bersayap

Lama kuterlupa
Dupa dewata hilir mudik bersama puja
Agungkan asa tiada terpatah
Walau kaki terrantai lelah

Luka Dalam

Terselip di antara bebatu
Hitam, Beku
Tak terusik, manikam terharu

Kebas, termakan Panas meranggas
Iba di ujung laras
Tak terusik, lara membekas

Denpasar, 02082013.2340

Masopu

Dua Sisi

Bermain di dua kaki
Injak sana, berlalu mendekat
Ulurkan tangan, salam persahabatan

Bermain di dua kaki
Ucap manis, laku serupa sembilu
Sebelah merangkul, sebelah memukul
Dua laku satu waktu

Senyawa Asa

http://my.opera.com/angahyorkaef/albums/showpic.dml?album=10217932&picture=136525892
Luka
senyawa asa yang terbang arungi badai
Sembab, Lembab, terjerembab
Berkeping, terurai hujan, larut dalam lumpur
Layu dimangsa air melimpah

Luka, Tiada kan nyata
Saat asa menyatu bersama sepoi sang bayu
Tanpa haluan, terturut arus, tertambat di antah-berantah
Terserak serupa spora
Tertetes hujan, asa baru bersemi
Mencari jalan menjadi nyata

Denpasar, 16082013.1430

Agung Masopu

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...