Tampilkan postingan dengan label problema hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label problema hidup. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juli 2011

Aku Ingin Cinta Sejati Nan Halal

Add caption
”Dek…jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu. Karena sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu. Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri. Apa saat ini telah ada cinta di hatimu untuk kakak?  Kakak tahu dan kakak yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kakak selama ini begitu dingin padamu? Sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru kakak kabarkan padamu malam ini. Adik mau tanyakan, apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini..?. ujar kak arfan dengan agak sedikit gugup.

“Iya..tolong jelaskan pada saya kak, mengapa kak begitu tega melakukan ini pada saya..?, tolong jelaskan kak..?”ujarku menimpali tuturnya kak Arfan 

“Hhhhhmmm…, Dek…kau tahu apa itu pelacur..?, Dan apa pekerjaan seorang pelacur..?, Dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah dihatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak. Bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata mana kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi padamu dek. Kau istriku dek. Betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak saat malam pertama pernikahan kita. Sedangkan dihatimu tak ada cinta sama sekali buat kakak. Alangkah berdosanya kakak bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam itu sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak, tetapi ada lelaki lain.

Senin, 13 Juni 2011

Inilah Caraku menunjukkan Cintaku

Cinta sejati? Apa definisi cinta sejati itu? Seperti apa sih cinta bisa dianggap sebagai cinta sejati? Semua pertanyaan itu seringkali menghantui benakku. Begitu banyak beda pandangan dan beda pendapat tentang makna dan definisi cinta sejati.

Cinta Sejati menurut pengertianku adalah suatu perasaan cinta yang yang mana kita akan menerima pasangan kita apa adanya. Lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Serta rela untuk melakukan sesuatu untuk pasangan kita.

Kadang kita bisa bilang cinta sama seseorang, tapi kita tidak bisa menerima kekurangannya. Tidak bisa menerima masa lalunya. Tidak bisa menerima keluarganya. Dan seribu dalih yang kadang hanyalah kita buat-buat saja.

Saat kita mencinta seseorang, biasanya kita tak segan untuk berkorban apa yang kita punya tanpa pamrih. Tanpa pernah mengharap balas budi atas apa yang kita beri. Pure hanya ingin membahagiakan pasangan.

Tapi adakalanya perasaan cinta juga mampu membutakan kita. Seringkali karena rasa cinta yang besar, kita lupa menempatkan obyektifitas kita salam menilai suatu perkara yang melibatkan pasangan kita tidak pada tempatnya. Seringkali kita membela semua perbuatan yang pasangan kita lakukan tanpa mendudukkan suatu masalah dalam proporsi yang ada.

Saat pasangan kita berbuat salah, dan mendapat teguran atau peringatan dari orang lain seringkali kita terlupa bagaimana seharusnya kita bersikap. Ok masalah melibatkan orang terpenting dalam hidup kita, tapi apakah juga akan menutupi mata kita untuk mencari kebenarang? Tidak bukan.

Boleh kita cinta sama pasangan kita, tapi saat ada masalah kita harus berani bersikap. Jika kita tahu posisi pasangan kita di titik yang salah, kenapa kita tidak dengan gagahnya menegur kesalahan pasangan kita dengan seperti halnya kita berani membelanya saat merasa terdzalimi. Begitupun sebaliknya.

Teringat curhatan seorang teman baikku sewaktu mukim di Bogor dulu. Mbak Erna yang asli Madiun waktu meminta masukanku tentang sikap aneh pacarnya. Waktu itu tanpa diketahui kepastiannya apa tiba-tiba sang pacar menanyakan " Bagaimana pendapatku jika pacarku tiba-tiba mempersilahkanku untuk memilih yang lain "

Sabtu, 02 April 2011

Saya Belajar dari Keluargaku dan Sekitarku

Tiada terasa sudah hampir 6 bulan saya bergabung dan belajar dari kompasiana ini. Dan selama kurun waktu tersebut, begitu banyak pelajaran yang saya petik dan dapatkan dari sini. Jika sebelum gabung di kompasiana saya banyak berinteraksi dengan buku, hingga tak heran julukan kutu buku melekat erat di diriku. Semenjak kenal kompasiana, saya juga belajar dari tulisan teman teman di kompasiana ini.
Di kompasiana ini begitu banyak teman dengan berbagai karakter. Mulai dari yang sedingin salju di puncak Cartens sampai semendidih air di atas tungku. Begitu banyak penulis hebat yang saya temui. Mereka yang seringkali saya serap ilmunya AL; Om Jay dengan tulisannya yang sangat inspiratif. Pak Bain Saptaman dengan tulisan satirenya yang selalu mengena dengan situasi terkini. Brother Herry FK dengan imaji kenthirnya yang seringkali berisi nasehat berkelas. Mbak Arya NingTyas dengan tulisannya yang penuh kehalusan budi dan menyejukkan. Loganue Saputra dan Herlya An-nisa yang kuat dalam imajinasinya. Serta kompasioner hebat lainnya sekelas mas Kimi Raiko, Om Gusti BOb, daeng Andi Harianto serta banyak lagi yang tak mampu saya sebutkan semuanya.
Sebelumnya, selain belajar dari buku yang saya baca saya seringkali belajar dari pengalaman pribadi saya, dari pengalaman teman dan juga dari hasil diskusi di warung kopi pinggir jalan dengan penerangan sangat super minim. Dari diskusi itu ada banyak hal yang saya petik dan pelajari serta seringkali mempengaruhi pola pikir saya. Itulah kenapa saya dalam beberapa kesempatan secara jujur mengakui, jika apa yang saya ungkapkan adalah hasil kutip sana kutip sini dari diskusi yang kadang saya lupa siapa pencetusnya dan dari mana mereka mendapatkan pola pikir itu. Sejauh itu positif, saya akan pakai pegangan.
Tapi sebenarnya yang paling mempengaruhi pola pikir saya adalah tantangan yang pernah ibu lontarkan sesaat sebelum saya pergi melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain. Saat itu dalam beberapa kesempatan ibu selalu melontarkan kalimat ‘” Kenapa diantara ke-4 anak saya gak ada yang memiliki kemiripan sikap dengan ibunya yang penyabar ini? ” Pernyataan itu terus terngiang di benak saya dan menghantui langkah kaki saya menyusuri jalanan hidup saya. Dari satu kota ke kota lain, saya terus berusaha belajar meneladani sikap ibu.
Terus terang ibu saya hanyalah seorang wanita desa biasa dengan pendidikan ala kadarnya. Namun di balik keterbatasannya di sekolah formal, ada suatu kelapangan hati yang tak pernah saya temukan di dalam diri orang lain. Ya meski hanya wanita desa biasa yang banyak mengabdikan hidupnya dengan bekerja di sebuah yayasan sosial di seputar lokasi saya tinggal, ibu ternyata punya kelapangan hati yang sangat luas dan kesabaran yang sangat tinggi. Padahal sejak 15 tahun yang lalu beliau digerogoti penyakit hypertensi yang akut. Tekanan darah beliau bisa dibilang normal jika di kisaran 170-180. Tapi penyakit itu tak mampu membunuh sifat sabar ibu.
Hal ini terbukti beberapa tahun yang lalu. Waktu itu menjelang keberangkatan saya ke Bogor. Beberapa minggu sebelum hari H ada kabar kurang sedap yang menghampiri saya lewat ibu. Saya mendapati fitnah menghampiri saya. Ada tuduhan jika saya bersama teman-teman sepermainan saya terlibat kasus pencurian untuk melakukan pesta minum-minuman beralkohol. Tuduhan ini bukan dari orang lain, tapi dari kerabat dekat saya sendiri yang kebetulan hanya melihat saya beberapa kali nongkrong sama teman-teman, tanpa pernah ikut gabungan.
Mendengar hal itu, ibu bukannya marah atau langsung menanyakan hal tersebut kepada saya. Beliau hanya mendengarkan cerita tersebut, seakan beliau tidak sedang mendengarkan cerita tentang anaknya yang  dijelek-jelekkan. Entah bagaimana cara beliau selidiki kebiasaan saya setiap keluyuran malam tuk mencari fakta kebenaran atas semua berita tersebut.
Saat fitnah tersebut telah mereda dan ibu telah memiliki banyak bukti tentang saya, beliau mengajak saya ngobrol berdua dan bercerita tentang hal tersebut. Tapi sebelumnya ibu mewanti-wanti saya untuk tidak marah dan dendam terhadap si penyebar fitnah tersebut. Setelah saya berjanji, beliau baru mau bercerita tentang fitnah tersebut dan beliau tetap menaruh kepercayaan penuh terhadap saya sampai hari ini.
Dari situ saya belajar bagaimana menghadapi isu yang berkembang. Bagaimana dengan hati yang membara, saya harus tetap berkepala dingin dalam menghadapi masalah. Meski nyatanya sampai hari ini saya belum bisa mengikuti sikap ibu sedikitpun, tapi saya akan terus berusaha meniru sikap sabar dan dingin ibu menangani masalah.
Beruntung saat saya menetap di Bogor, saya diberi kesempatan belajar  menyikapi hidup ala adik sepupu bapak saya. Beliau yang tahu saya anaknya agak sro’ol ( Istilah orang madura untuk orang yang grusa-grusu dalam bersikap ), mencoba mengerem laju sikap saya tersebut dengan menjadikan saya front man di usaha yang beliau rintis. Ya saya jadi humas, tekhnisi sound, kasir dan juga sebagai pembuat minuman di resto tersebut. Bisa dibilang hampir semua kerjaan di sana harus bisa saya tangani, kecuali sebagai koki tentunya.
Dari semua tugas yang saya emban, yang paling mempengaruhi kedewasaan saya adalah saat harus menghadapi komplain konsumen yang memiliki aneka karakteristik dengan kepala harus tetap dingin. Bayangkan hanya seorang anak SMA harus menghadapi konsumen yang rata-rata bergelar sarjana.   Salah bicara yang ada akan merusak nama baik restoran yang baru dirintis tersebut.
Kekhawatiran tersebut ternyata bukan hanya hidup dalam bayangan saya. Berkali-kali saya harus menghadapi komplain dari konsumen yang beraneka ragam. Dari para peneliti yang ada di sekitar resto sewaktu masih berlokasi di sekitaran BALITRO Bogor, dari para petinggi perusahaan yang mengadakan acara, dari para birokrat pemerintah bahkan petinggi kepolisian dan ABRI.Saya benar-benar nervous. Beruntung paman selalu memberi nasehat dan masukan serta semangat kepada keponakannya yang masih hijau dan lugu ini.
Seringkali paman mengajak saya diskusi untuk membahas masalah yang saya hadapi. Membahas komplain konsumen terutama yang disampaikan langsung kepadanya. Beliau selalu mengajari saya untuk menilai dan memutuskan masalah seolah saya sedang tidak terlibat masalah tersbut.
Di suatu diskusi kecil, beliau berkata ” Gung kamu sebagai front man harus bisa menilai sesuatu seolah-olah kamu bukan orang yang terlibat masalah. Lihatlah suatu masalah dari berbagai sisi, jangan hanya dari satu sisi. Seperti kita melihat benda yang memiliki bentuk tak beraturan. Jika kita melihat dari satu sisi, pasti pandangan kita kan berbeda dengan yang melihat dari sisi kiri, kanan ataupun atas. Seperti itulah dalam menghadapi masalah, jangan kau seperti memandang sebuah koin yang hanya bisa kamu lihat dari dua sisi. Yakni sisimu dan sisi orang yang berseberangan. Lihatlah dari sisi orang lainnya yang tidak terlibat, pastinya kan kamu temui pandangan berbeda yang bisa lebih obyektif menilai masalah tersebut.”
Seringkali beliau dengan sengaja menguji saya untuk menghadapi tetamu yang super cerewet. Beliau terus mengasah rasa sabar saya dengan menghadapkan saya dengan manusia super cerewet, super bawel dan juga super menyebalkan.  Bahkan tak jarang setiap ingin bertemu dengan koleganya, beliau datang agak terlambat, agar saya mau menemani ngobrol para koleganya tersebut. Hal ini mau tak mau membuat saya harus santai menghadapinya.Untuk mengetahui profil waroeng keboen cempaka tantri silahkan dapat klik, klik.  lokasi klik. Grupnya di FB klik ini
Saat di Bogor, saya juga berkumpul sama adik dan kakak saya. Sedangkan Ibu-Bapak masih di kampung halaman di Banyuwangi. Saat itu secara gak langsung saya harus sering menjadi penengah untuk adik dan kakak saya serta adik sepupu saya jika lagi ada masalah. Saya sendiri juga heran, karena diantara 4 bersaudara, saya adalah yang paling kaku dalam bersikap. Namun selalu saja mereka minta masukan saya jika bermasalah terutama adik dan pacarnya.
Yang jelas sampai saat ini saya sedang belajar. Baik itu dari alam sekitar saya, dari diskusi teman-teman di kompasiana. Baik yang serius, maupun yang kenthir. Yang jelas saya terus belajar. Bukan lagi dari tumpukan buku seperti yang dulu saya lakukan, tapi juga dari sekitar saya. Semoga saya selalu terus belajar menghadapi dinamika hidup saya. Asam, Asin ataupun manis, pasti ada hikmah yang selalu dapat saya petik.
Salam Kompasiana
———–
————–
Denpasar, 02042011.0341
Masopu
Note : Maaf tuk teman2 yang tidak sempat saya sebutkan di sini, kalian tetap guru dan tempat saya menimba ilmu
  • Tulisan ini saya persembahkan untuk ibu saya yang telah mengandung dan  membesarkan saya, mengajari saya hidup, dan bagaimana menyikapi hidup. Untuk bapak dengan bekal pengetahuan yang saya dapatkan dan semua guru saya tentunya.
  • Untuk paman saya dan keluarganya, adik, kakak dan kerabat saya di Bogor, teman-teman di restoran Waroeng keboen Cempaka Tantri Bogor di jalan padjajaran no.57 beserta pelangganya.
  • Semua kompasioner yang pernah berinteraksi dengan saya di sini dan juga teman-teman di alam nyata. GOD BLESS YOU ALL

Sabtu, 26 Februari 2011

Belajar Malu Dari Seekor Kucing



Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita luput memperhatikan hal kecil yang sebenarnya mampu kita ambil sebagai ajang pembelajaran diri untuk lebih baik. Pernah kita memperhatikan kucing? Yups kucing saat buang kotoran, ataupun saat melindungi anak-anaknya dari gangguan mahluk asing yang suka iseng. Dari tingkah binatang lucu ini kita bisa belajar banyak hal.

1. Mengenai cara kucing membuang kotoran


Pernahkah kita memperhatikan Saat kucing buang kotoran? Kalau pernah pasti tahu dong bagaimana mereka membuang kotoran dan saatnya? lo kok membahas masalah bagaiamana, Kapan dan di mana kucing buang kotoran sih?
Kucing saat buang kotoran pasti memilih untuk mencari tempat yang sepi, tersembunyi dan aman untuk melaksanakan hajatnya tersebut. Tahu kenapa? Ini hanya peesepsi saya pribadi, kenapa kucing melakukan hal tersebut? Karena kucing sadar jika kotorannya itu merupakan suatu aib, karenanya dia gak ingin mahluk lainnya tahu bagaimana dia buang kotoran tersebut, seperti apa ekspresinya maupun hal-hal lainnya.
Dari situ kita bisa belajar bahwa sebagai insan yang dikarunia akal dan Nurani sebaiknya kita bisa memilih dan memilah mana hal yang termasuk katageri kotoran dan bagaimana kita mau berbagi tentang sesuatu yang layak dibagi atau sekedar menjadi rahasia masing-masing pribadi. Kita dengan anugerah akal dan Nurani pasti tahu dong kapan saat kita berbagi informasi dan kapan kita harus menutup informasi. Jangan sampai hal yang berbau kotoran kita sebar luaskan. Kan malu sama kucing. Kucing saja mau menyembunyikan kotoran, masa kita mau membuka aib kita pribadi.

2. Saat kucing Melindungi anak-anaknya dari mahluk asing

Pernahkah kita memperhatikan bagaimana kucing melindungi anak-anaknya dari gangguan mahluk asing? Tentu pernah juga kan. Saat kucing melihat mahluk asing datang mengganggu anak-anaknya, dengan berbagai cara dia akan berusaha untuk membela anak-anaknya tersebut. Walau kadang dia sadar jika lawan yang dihadapi jauh lebih besar ataupun lebih perkasa darinya. Tapi dia pasti coba untuk melawannya. Setelah benar-benar tak mampu baru dia akan menjauh tapi sambil tetap berusaha melindungi anak-anaknya.
Dari hal ini kita bisa belajar, seharusnya sebagai manusia yang berakal dan bernurani kita bisa melindungi anak-anak kita ( Bagi yang sudah berkeluarga ) ataupu hak kita dari intimidasi tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Meski kadang kita sadar kita mungkin kalah tenaga ataupun kalah kuasa. Tapi dengan bermodal akal yang kita punya, kita bisa memperjuangkan hak kita/ anak kita dengan berbagai cara yang mungkin kita lakukan selama masih dalam jalan yang baik.

Bisakah kita belajar sesuatu dari yang Tuhan tunjukkan kepada kita lewat hal-hal kecil yang ada disekitar kita? Tentu kita semua bisa selama kita mau dan punya kemampuan untuk melakukannya.

Denpasar, 26022011.1736 ( menjelang Adzan Maghrib )
Masopu

Belajar Dari Pengamen

Pengamen selama ini identik dengan orang terpinggirkan, orang kurang berpendidikan,sehingga kadang-kadang tingkah lakunya pun dicap kurang terpuji, kurang terdidik atau kurang apalah. Tapi sesungguhnya dari mereka kita bisa belajar sesuatu yang tidak pernah kita dapatkan di bangku sekolah. Apakah itu?
Kita bisa belajar memilih teman menggunakan metode yang biasa digunakan oleh para pengamen saat memilih warung makan di daerah asing atau daerah yang belum pernah dikunjungi. Hanya dengan modal seadanya, biasanya mereka akan berusaha untuk memilih makan di warung yang murah meriah dengan rasa yang menurut mereka tidak kalah dengan restoran berbintang. Dengan hanya mengandalkan instingnya mereka mengamati sekitarnya, saat melihat suatu warung yang ramai dikunjungi orang yang sekelas pengamen, mereka sudah bisa menduga kalau warung tersebut memiliki keunggulan rasa enak dan harga yang terjangkau. Karena pastinya warung seperti itu tak akan sepi dari pengunjung.
Begitupun dalam memelih teman, kita bisa melihat dari seberapa banyak dia mempunyai teman. Orang yang ramah, baik hati dan pintar bergaul biasanya dia mempunyai banyak teman dari berbagai kalangan. Mereka berteman dengan dia punya banyak teman, bukan karena seide, mempunyai kekayaan sama, atau ingin memanfaatkan dia untuk suatu tujuan. Mereka berteman dengannya karena memang mereka merasa aman berada di dekatnya. Meski tidak selalu bisa menyelesaikan masalah yang mereka hadapi, tapi biasanya dia bisa memberi rasa aman pada orang-orang disekitarnya, baik secara sikap maupun secara nasehat.
Lain halnya jika kita berteman dengan orang yang seide atau setujuan.Biasanya pertemanan model seperti ini memang awalnya banyak teman, tapi saat merasa ide/tujuan sudah mulai beda baik itu akhir dari tujuan tersebut ataupun jalan untuk mencapainya biasanya persahabatan seperti ini akhirnya juga kan berakhir. Oleh karena itu persahabatan/ pertemanan yang hadir diantara mereka silih berganti tergantung ide dan tujuan yang ingin dicapai.
Sekarang tinggal kita yang bisa mengambil pelajaran dari kasus mereka. Mau mengambil ilmu yang dimiliki dari seorang pengamen atau mau hanya berteman berdasarkan ide dan tujuan saja seperti para politikus. Tinggal kita saja yang bisa menetukan.


Denpasar, 26022011.1218

Masopu

Note: tulisan ini terinspirasi dari sebuah note yang ada dalam novel Makrifat Cinta karya Taufiqurrohman Al Aziziy

Kamis, 13 Januari 2011

Ketulusan versiku

Jika kau bertanya apakah aku tulus kepadamu?

Aku akan jawab” Ya aku tulus kepadamu”

“Seberapa besar ketulusanmu kepadaku”

Aku jawab ” Sebesar engkau menghargai arti ketulusanku itu”

Jika kau bertanya “Kok begitu sih?”
Aku kan jawab ” Karena aku gak mungkin bisa memberimu lebih dari itu”

“Kenapa?”

” Karena sebesar itulah kemampuanmu menerima ketulusanku” jawabku

” Sudahkah kau mencoba untuk memberikanku lebih banyak ketulusanmu?”

” Sudah beberapa kali, ternyata kamu seperti ember air” jawabku

” Loh kok ember air sih?”

” Ya jika ketulusanku melibihi kemampuanmu menerima, yang ada mubadzir kayak air yang luber dari embernya” jawabku

” Oooo gitu ya”

” Ya begitulah” jawabku lagi

” Berarti kamu benar-benar tulus dong”

” Tak usah kau pertanyakan lagi” jawabku
Denpasar, 13012011.1507
Masopu

Rabu, 10 November 2010

Remaja AS Doyan Seks Oral

Terlibat dalam seks oral menjadi pintu gerbang bagi remaja AS menuju hubungan seksual sesungguhnya. Risiko penyakit menular seksual dan kehamilan pun menjadi meningkat.

Penelitian baru di California menemukan fakta bahwa 9% siswa SMA telah mulai berhubungan seks oral sejak akhir kelas sembilan hingga akhir kelas 11.

Seks oral merupakan aktivitas seksual paling umum di kalangan remaja AS. Satu dari lima mahasiswa sekolah tinggi dan lebih dari separuh remaja berusia 15-19 melaporkan bahwa mereka sudah mencobanya.

"Banyak program pendidikan seksual bertujuan mencegah hubungan seksual atau praktik seks aman bagi remaja, namun mengabaikan peran seks oral dalam perilaku seksual remaja," kata peneliti senior Dr Bonnie L. Halpern-Felsher dari University of California, San Francisco, kepada Reuters.

"Dalam publikasi terakhir, kami menunjukkan bahwa remaja merasa bahwa seks oral lebih diterima dan lebih umum dibandingkan dengan hubungan seks," katanya. "Dan bahwa remaja percaya bahwa seks oral membawa lebih sedikit risiko konsekuensi kesehatan - infeksi seksual menular, HIV dan kehamilan - serta konsekuensi sosial dan emosional daripada hubungan seks vaginal."

Sebagian remaja mungkin benar bahwa seks oral agak lebih aman daripada hubungan seksual, namun bukan berarti hal itu tanpa risiko, catat peneliti. "Tindakan itu bisa membawa konsekuensi tidak langsung juga, terutama jika remaja mengarah untuk berpartisipasi dalam tindakan berisiko lebih, seperti seks vaginal."

Halpern-Felsher dan Dr Anna Song V dari University of California melakukan penelitian lebih dari 600 siswa dari dua sekolah menengah di California Utara, pada 2002-2005. Penelitian itu untuk lebih memahami peran seks oral dalam perkembangan perilaku seksual remaja.

Para remaja mengisi kuesioner setiap enam bulan, sejak awal kelas sembilan hingga akhir kelas 11. Lebih dari 90% siswa kelas sembilan mengatakan bahwa mereka belum mencoba seks vaginal, sedangkan 40% dari siswa kelas 11 melaporkan hal yang sama.

Selama penelitian, remaja melaporkan pertama kali melakukan hubungan seks di dalam atau setelah periode enam bulan yang sama seperti pengalaman pertama seks oral mereka. Mereka lebih mencoba seks oral sebelum mencoba hubungan seksual, bukan sebaliknya.

Selanjutnya, para peneliti menemukan fakta bahwa memulai seks oral di kelas sembilan atau 10 sangat meningkatkan kemungkinan seorang remaja akan melakukan hubungan seks vaginal pada akhir kelas 11.

Sebaliknya, anak-anak yang memulai aktivitas seksual sebelum kelas sembilan atau setelah kelas 10, memiliki kesempatan jauh lebih rendah menuju hubungan seksual pada akhir sekolah menengah. Remaja yang abstain dari seks oral, memiliki peluang 80% melalui kelas 11 dengan menghindari seks vaginal.

"Tidak ada perbedaan dalam perkembangan perilaku seksual antara anak laki-laki dan perempuan, atau di antara remaja Hispanik, Asia, dan kulit putih," lapor para peneliti dalam Archives of Pediatric and Adolescent Medicine.

Halpern-Felsher dan Song mencatat bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk lebih memperjelas hubungan antara seks oral dan vagina di kalangan remaja. Sebagai contoh, mungkin akan ada inisiasi dini seks oral sebagai gerbang memiliki hubungan seksual bagi beberapa individu, sementara yang lain dapat berperilaku menunda seks vaginal.

"Temuan ini menyoroti kebutuhan bagi penyedia kesehatan, pendidik kesehatan, dan orang tua untuk memasukkan diskusi seks oral dalam kurikulum pendidikan seksual yang komprehensif," kata Halpern-Felsher.

"Kami tak membahas mengenai risiko yang berkaitan dengan seks oral. Remaja berpikir seks oral tidak terlalu berisiko. Padahal, itu tidak bebas risiko sama sekali," tambah Felsher. [mor]

Rabu, 13 Oktober 2010

Mengapa "Love at First Sight" Bisa Terjadi?


 Tak semua orang percaya akan kekuatan "cinta pada pandangan pertama". Hal itu pasti dianggap sebagai ketertarikan sesaat saja. Namun tak sedikit pula orang yang berani mengatakan bahwa pasangannya saat ini merupakan jodohnya sejak pertama bertemu. Darimana sebenarnya keyakinan ini berasal? Mengapa kita bisa jatuh cinta begitu cepat pada seseorang?
Rasa tertarik yang begitu cepat terjadi, menurut Helen Fisher, PhD, peneliti dari jurusan Anthropologi, Columbia University, New York City, tak lepas dari fenomena ketertarikan instan yang terjadi pada binatang. Para ilmuwan telah merekam fenomena ketertarikan instan ini dalam ratusan spesies. Dari orangutan, babon, berang-berang, simpanse, anjing eskimo, dan banyak mahluk lainnya. Gajah, misalnya, melakukan gerakan-gerakan seperti melambai-lambaikan kupingnya dengan intens, atau mengacungkan belalainya tinggi-tinggi, ketika mengamati lawan jenisnya.

Menurut Fisher, manusia mewarisi untaian otak ini sehingga terjadi ketertarikan instan, atau yang kita kenal dengan love at first sight itu. Hasrat yang spontan ini disebabkan mamalia hanya memiliki waktu beberapa jam, beberapa hari, atau beberapa minggu, untuk dibuahi. Mereka tak ada waktu untuk ngobrol dan menyesuaikan diri. Mamalia harus segera bertemu untuk menyalurkan hasrat dan berkembang-biak dengan cepat.

Pada manusia, pertemuan pertama memang memegang peran penting, apakah pertemuan selanjutnya akan terjadi lagi atau tidak. Tanpa mengetahui siapa sosok ini sebenarnya, kita cenderung akan bergantung pada kesan pertama saja. Berdasarkan sepotong informasi ini, kita lalu membentuk opini yang kuat mengenai pria yang baru kita temui, umumnya dalam tiga menit pertama saja.

Siapa yang jatuh cinta lebih cepat?
Kecenderungannya, pria jatuh cinta lebih cepat daripada wanita. Kemungkinan  hal ini disebabkan sirkuit otaknya untuk cinta romantis lebih cepat dipicu oleh obyek secara visual. Tetapi kita bisa saja berbicara beberapa menit dengan seseorang yang baru kita kenal, dan segera merasakan chemistry. Setidaknya, tahu akan ada chemistryselanjutnya.
Apakah ini cinta atau nafsu? Menurut Fisher, dua jenis perasaan ini melibatkan jaringan otak yang sangat berbeda. Kita bisa saja memiliki keintiman fisik dengan seseorang yang tidak kita cintai, atau kita bisa jatuh cinta berat dengan seseorang yang belum pernah Anda cumbu. Namun untaian otak ini bisa saling memicu, dan sesaat akan membuat kita bertanya-tanya apakah ketertarikan ini murni fisik atau tidak.

Penulis buku Why We Love ini juga mengatakan, kita akan tahu apakah hasrat kita adalah cinta atau nafsu, hanya dengan menjawab pertanyaan sederhana: "Berapa kali dalam sehari Anda memikirkannya?" Sebab, cinta romantis akan menjadi obsesi. Hal itu bisa terjadi dalam sekejap, tetapi ketika itu terjadi, Anda tidak bisa berhenti memikirkannya. Hasrat yang instan ini kadang-kadang bisa berlangsung dalam beberapa tahun.

Kesimpulannya, perasaan akan hasrat romantis yang intens bisa saja terbangun dalam saat-saat pertama Anda menatap seseorang yang memenuhi konsep Anda mengenai pasangan yang sempurna. Saat itu Anda mengalamilove at first sight.

DIN

Penting Diketahui Sebelum Serius Dengan Si Dia

Bisa saja kita berpikir bahwa kita sudah mengenal si calon suami dengan lekat. Namun, tanpa kita sadari, ada beberapa hal yang bisa saja lupa kita kenali dari si dia apa sajakah?

1. Hubungan sebelumnya
Bicarakanlah hubungan-hubungan yang pernah Anda dan dia jalani serius sebelumnya. Anda tak perlu menceritakan segala detail, namun informasi yang cukup penting sebaiknya diceritakan sejak awal untuk menghindari "kejutan-kejutan" yang datang mendadak. Menceritakan hal-hal yang umum, seperti kapan Anda berhubungan dengan si mantan, berapa lama, dan alasan tidak berhasil.

2. Anak?
Tak penting seberapa dalam Anda dan dia saling mencintai. Namun, kehadiran seorang anak bisa mengubah banyak hal. Akan sangat penting untuk Anda dan dia berada dalam pandangan yang sama mengenai hal ingin adanya anak atau tidak. Karena, Anda dan dia akan menghadapi masalah di kemudian hari jika terjadi perbedaan pendapat mengenai ini di dalam pernikahan. Penting pula untuk membicarakan apakah ia sudah memiliki anak di hubungan sebelumnya. Di zaman sekarang ini sudah banyak cerita mengenai kehamilan di luar pernikahan, atau pun perceraian.

3. Agama
Meski misalnya Anda dan si dia tak terlalu religius sekali pun, pembicaraan mengenai agama adalah hal yang penting. Ini akan menyangkut keluarga, pernikahan, hari pernikahan, anak, dan sebagainya. Anda perlu mengetahui seberapa penting agama dalam kehidupan ke depannya.

4. Keluarganya

Keluarga adalah asal si dia bertumbuh. Ada baiknya Anda mengenal dan bertemu keluarganya sebelum melangkah lebih jauh. Ketahuilah hal-hal penting dan umum mengenai garis besar keluarganya, seperti apa keluarganya, niscaya Anda akan mengerti seperti apa ia.

5. Kelakuannya

Tak hanya untuk pekerjaan. Tetapi, Anda juga perlu tahu kelakuannya. Baik atau tidak? Pernah berurusan dengan hukum atau tidak. Karena jika ia pernah berurusan dengan hukum, ia akan kesulitan mencari pekerjaan, dan sifatnya pun belum tentu baik kepada Anda ke depannya.


Diakah, Cinta Sejati Kita?

 Banyak orang menyakini kita bisa mengetahui seseorang akan menjadi pasangan hidup kita atau tidak dari seberapa nyaman kita menghabiskan waktu bersamanya. Mulai dari sekadar ngobrol ringan sampai hang out berjam-jam hanya untuk mencari tahu apa yang menjadi kegemaran masing-masing.

Tetapi tak semua orang bisa dengan jelas membaca tanda-tanda apakah si dia memang layak dijadikan pasangan seumur hidup. Sebab perbedaan rasa nyaman menjadi teman dan pacar sangatlah tipis. Karena itu, tidak salah untuk memiliki “panduan” dalam membaca tanda-tanda, “Diakah, cinta sejati kita?"

#Tanda 1: Kita memiliki list lengkap apa-apa saja yang perlu dia hentikan jika status keterikatan hubungan semakin ditingkatkan. Mulai dari cara bicaranya, penampilannya, sampai apa yang menjadi kegemarannya. Karena jika kita bersikeras untuk memperbaiki “cela” ini maka kita akan mengubahnya menjadi orang lain. Lebih baik jujur pada diri sendiri dan keadaan, bahwa dia memang bukan untuk kita, daripada terlalu memaksakan diri dan membuang waktu percuma.

#Tanda 2: Kita tidak mempercayainya. Sedikit cemburu, bisa menjadi bumbu asmara. Tetapi jika kita “membuntuti” dia sampai harus membaca e-mail dan SMS-nya untuk mengetahui apa yang dilakukan selama satu hari penuh, ini adalah indikasi awal dari ketidakcocokan. Sebenarnya indikasi ini sangat kasat mata tapi kita sering berlindung dengan mengatakan apa yang kita lakukan dilakukan banyak perempuan di luar sana.

# Tanda 3: Sangat berusaha sekeras tenaga untuk menghindari konflik. Sama seperti rasa cemburu, kadang kala kita perlu sesekali berbeda pendapat. Sebab yang terpenting dari perselisihan adalah kemampuan kita dan pasangan untuk mencari jalan keluar. Inilah titik toleransi untuk memahami dan menerima karakter masing-masing. Menghindari masalah tidak selalu berarti kita adalah pasangan yang sejiwa, karena bisa jadi itu cara kita untuk lari dari masalah.

# Tanda 4: Dia bukanlah shoulder to cry on. Saat kita tengah terpuruk atau sedih, kita butuh seseorang yang melembutkan suasana. Jika kita tidak menemukan kenyamanan untuk mencurahkan perasaan dan air mata di depan dia, maka kita sebenarnya akan kesulitan menemukan ketenangan bersamanya. Karena Mr Right akan membuat kita tersenyum dan meredam segala ketakutan yang kita punya saat begitu banyak masalah datang menghadang.

#Tanda 5:
 Kita tidak bisa menemukan visi yang jelas untuk membesarkan anak bersama. Menjadi orang tua adalah sebuah team work yang harus solid sepanjang masa. Karena itu, jika kita ragu akan bentuk kerja sama yang terjalin dengan partner tersebut maka lebih baik menerima bahwa dia memang bukan untuk kita.

#Tanda 6: Kita kesulitan untuk bisa saling menghargai. Coba amati, berapa kali kekasih hati kita mengolok-olok kita di depan teman-teman. Rasa cinta justru muncul karena kita dapat saling menghargai. Jadi kalau ini sudah tidak ada pada dirinya, untuk apa dipertahankan?

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...