Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Oktober 2013

Senja


http://www.tripadvisor.co.id/Attraction_Review-g317103-d3464524-Reviews-Pulau_Merah_Beach-Banyuwangi_East_Java_Java.html

Deburan ombak mengiringi matahari yang semakin dalam tergelincir. Setapak demi setapak terangnya berganti, menyapa hembusan bayu yang menyodorkan uap garam. Wisatawan yang sedari tadi menunggu momen itu segera beranjak berdiri. Ditinggalkan aktifitas yang mereka lakukan. Permainan ataupun aktifitas lain tak lagi menarik selain momen ini. Tatap mata mereka menantang sinar mentari yang memantul di atas gulungan ombak, bersaing dengan buih yang berlarian menuju pantai. Tak mereka hiraukan silau yang menyapa. Momen itu terlalu indah untuk dilewatkan.

Rabu, 02 Januari 2013

Basanan-Wangsalan, Pantun Banyuwangi dan Dinamikanya



Basanan – Wangsalan, Berpantun Ala Banyuwangi dan Dinamikanya

Basanan adalah seni berpantun yang ada dan berkembang dengan baik di Banyuwangi. Basanan bisa diidentikkan dengan parikan Jawa, tapi pada prakteknya menggunakan bahasa Using. Sama seperti pantun dalam bahasa Indonesia, Basanan menggunakan pola Sampiran dan Isi. Sampiran adalah perangkat kata dan kalimat pembuka dalam basanan yang biasa digunakan sebagai penyelaras dengan isi basanan. Sementara Isi merupakan kalimat yang menjadi pokok dalam Basanan. Isi dari Basanan bisa berupa nasehat, sindiran ataupun pedoman hidup yang berguna untuk masyarakat. Dalam salah satu kisah yang pernah saya dengar, Basanan dulu juga biasa digunakan oleh seorang lelaki untuk melamar calon istrinya. Dalam pelaksanaannya, si Lelaki duduk di samping rumah dan membacakan basanan yang dia buat untuk merayu calon mempelai wanitanya.
Contoh Basanan :
Cemeng, cemenge manuk sikatan   (Hitam, hitamnya burung sikatan)
Kadung Putih kethune pak Kaji      (Jika putih kopyahnya pak Haji)
Meneng-meneng njaluk Pegatan      (Diam-diam minta pegatan/cerai)
Goleko maning hang pinter ngaji     (Carilah lagi yang pinter mengaji)
(Asmuni, Mangir-Rogojampi)

Wangsalan pada prinsipnya sama dengan basanan. Jika Basanan adalah pantun yang berisi nasehat, sindiran atau pegangan hidup, wangsalan adalah sebaliknya. Wangsalan adalah seni berpantun yang biasa digunakan untuk bermain tebak-tebakan. Sama seperti Basanan, Wangsalan juga menggunakan kalimat sampiran dan isi. Perbedaan lain dari Wangsalan adalah adanya jawaban yang muncul dari pantun ini.
Contoh Wangsalan :
Nang Padang Ulan kelompenan    (Ke Padang Ulan pakai terompah)
Pirang ulan riko demenan              (Berala bulan/lama pacaran)
Sama seperti pantun dalam bahasa Indonesia, Basanan-Wangsalan juga menggunakan rima. Rima adalah padanan/persamaan bunyi di akhir kalimat dalam pantun atau puisi. Dalam Basanan-Wangsalan, rima yang sering digunakan adalah: a-a-b-b, a-b-b-a dan a-b-a-b. Sangat jarang, bahkan sangat sulit kita temukan basanan yang menggunakan rima lainnya.

Senin, 19 November 2012

Banyuwangi Etno Carnival 2, Re-Barong Using Nuansa Kontemporer

Minggu 18 November 2012, Kabupaten Banyuwangi kembali menggelar Banyuwang Etno Carnival 2. Banyuwangi Etno Carnival adalah karnaval budaya yang bertujuan untuk menggali dan melestarikan budaya lokal yang berkembang dan ada di Banyuwangi agar tidak punah ditelan jaman. Untuk itulah maka Pemda Banyuwangi menggelar event ini dengan tujuan melakukan pendekatan seni budaya Banyuwangi pada kalangan pemuda dengan sentuhan kontemporer, tidak terpaku pada pakem yang telah lama berkembang, tapi tetap mempertahankan unsur-unsur yang merupakan nilai luhur suatu budaya. Untuk tema pelaksanaan tahun ke-2 ini adalah Re-Barong Using. Barong adalah kesenian yang berkembang di Banyuwangi dan Bali. Khusus untuk yang berkembang di Banyuwangi, ada semacam asimilasi dengan budaya lokal lainnya.

Pagelaran Banyuwangi Etno Carnival tahun ini masih di bawah Supervisi Dynand Fariz yang terkenal dengan Jember Fashion Carnivalnya. Hal ini sesuai dengan kesepakatan saat pagelaran BEC Pertama dulu, dimana pihak JFC akan menjadi supervisi BEC selama 3 tahun awal. Baru di tahun ke 4, insya Allah BEC akan berada di bawah kendali event organizer lokal.

Jumat, 19 Oktober 2012

November-Desember Bulan Wisata Banyuwangi, The Sunrise of Java

https://www.facebook.com/BanyuwangiEthnoCarnival?ref=stream


Selasa sore tanggal 17 Oktober kemarin secara tak sengaja melihat acara Wide Shot di Metro TV. Kebetulan saat itu sedang ada wawancara dengan pejabat Bupati Banyuwangi saat ini, bpk. Abdullah Azwar Anas. Pada acara tersebut, Anaz membahas masalah agenda wisata kabupaten Banyuwangi yang akan diadakan medio bulan November-Desember 2012 ini. Acara wisata itu akan diawali dengan pagelaran Festival Anak Yatim, Parade Gandrung Sewu, Banyuwangi Jazz Festival, Banyuwangi Etno Carnival, Petik laut Muncar dan balap sepeda Banyuwangi Tour De Ijen.

Banyuwangi dalam dua tahun terakhir ini sedang menggalakkan pengembangan wisatanya. Sebagai kabupaten paling timur dan didiami suku using, Banyuwangi mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan kabupaten lain di Jawa Timur. Kabupaten ini bisa mengedepankan wisata alam dan wisata budayanya.

Senin, 06 Februari 2012

Taman Ujung, Istana Air Dari Timur

Tanggal 2 februari kemarin saat menikmati libur hari raya Galungan, saya menyempatkan diri melali ( Jalan-jalan = bahasa bali-red ) ke ujung timur pulau Bali. Tujuan awal saya dan teman-teman adalah Taman Soekasada Ujung  yang terletak di desa Tumbu kecamatan Karangasem. Taman ini berjarak sekitar 2-2,5 jam perjalanan darat dari Denpasar.
Koleksi Pribadi

Taman Ujung merupakan salah satu situs peninggalan kerajaan Karangasem yang terletak di lereng Gunung Agung. Taman yang didirikan oleh raja Karangasem terakhir I Gusti Bagus Jelantik ( 1909-1945 ) yang saat memimpin bergelar Anak Agung Agung AngLurah Ketut Karangasem . Taman yang mulai dibangun pada tahun 1919 dan diresmikam tahun 1921 ini awalnya memiliki luas sekitar 400 hr. Namun kini tinggal 10 hr saja karena dibagikan ke warga sekitar saat adanya "Land Reform".

Minggu, 23 Oktober 2011

Banyuwangi Etno Carnival, Karnaval Budaya Nuansa Kontemporer

Banyuwangi Ethno Carnival. TEMPO/ Ika Ningtyas
Hari sabtu kemarin tanggal 22 oktober 2011, Kabupaten Banyuwangi menggelar hajatan karnaval budaya-nya yang pertama. Karnaval yang diberi nama " Banyuwangi Etno Carnival " merupakan karnaval yang bertujuan menganggkat seni budaya Banyuwangi dengan kemasan kontemporer. Pada acara tersebut, para peserta bebas memodifikasi pakaian yang bertema 3 kesenian yang berkembang di Banyuwangi. Ketiga kesenian tersebut adalah Gandrung, Damarwulan dan Kundaran.

Pemkab Banyuwangi mengadakan event ini selain untuk melestarikan budaya asli Banyuwangi, juga bertujuan untuk meningkatkan jumlah arus kunjungan wisatawan ke Banyuwangi. Berkaca dari keberhasilan Jember Fashion Carnival yang telah berlangsung selama 10 tahun, Pemkab Banyuwangi menggandeng EO JFC yang dipimpin Dynand Fariz sebagai konsultan acara tersebut untuk selama 3 tahun.

Kamis, 10 Maret 2011

Goa Gajah Ubud

Hari jum’at kemarin saya menemani dua orang kerabat yang sedang transit di Bali. Mereka berdua adalah Om dan Adik sepupu saya yang tinggal di Bogor. Sepulang dari menjenguk orang-orang tercinta di kampung halaman Banyuwangi, mereka berdua transit di Bali sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Dengan menumpang pesawat Pelita Air Service dari Banyuwangi, jam 9.25 wita mereka mendarat di Bandara Ngurah Rai.
Berhubung pesawat yang akan membawa mereka ke Jakarta baru berangkat pada pukul 21.20 wita. Maka mereka minta tolong dicarikan mobil rental untuk berkeliling ke beberapa lokasi yang sebenarnya sudah sering mereka kunjungi setiap kali main ke Bali.  Rencana awal kami ingin main ke pasar seni Sukawati untuk mencari souvenir, tapi karena hari itu menjelang perayaan hari raya nyepi, maka banyak toko yang sudah tutup.
Dengan sangat terpaksa akhirnya kami putuskan untuk pergi ke arah Ubud. Di sepanjang jalan yang kami lalui, tak henti-hentinya kedua orang saudaraku itu mengambil foto-foto ogoh-ogoh yang telah siap di pinggir jalan. Ogoh-ogoh tersebut hendak di arak menyusuri jalanan di sekitarnya mulai sore sampai malam hari. Karena  keasikan mengambil foto ogoh-ogoh tersebut, tanpa terasa akhirnya kami malah sudah sampai di kawasan pura Goa gajah.
12995302161714717700Pura Goa Gajah terletak di desa Bedulu yang berjarak sekitar 6 km dari kota Ubud. Selain keberadaan goa yang menurut riwayatnya sering digunakan untuk bertapa tersebut, di lokasi juga terdapat air suci. Di dalam goa yang tidak seberapa dalam tersebut, terdapat 3 arca. Arca-arca tersebut bernama Ratu Kompiang, Arca Trilingga dan Arca Ganesha. Selain arca-arca tersebut, di bagian dinding goa terdapat beberapa lubang yang bisa digunakan untuk bertapa / semedi.
Menurut cerita salah seorang teman yang berasal dari Bali, ada anggapan jika tangan kita mampu memegang bagian atas goa dari mulai pintu masuk sampai ke bagian dalam tanpa terputus, maka apa yang kita inginkan biasanya tercapai. Untuk kebenaran dari cerita tersebut, semua kembali kepada niatan kita dan kemurahan hati Sang Maha Pencipta.
12995307051151433246Di bagian depan dari pintu masuk Goa Gajah terdapat kolam yang berisi 7 air mancur dan beberapa ekor ikan. Air dari kolam tersebut biasanya digunakan untuk bersuci bagi mereka yang mau bersembahyang / bersemedi di Goa Gajah. Konon ikan dan air dari kolam tersebut dari dulu tetap seperti itu baik ukuran ikannya maupun jumlah air serta ikannya.
1299530337331931847Di sebelah kiri pintu masuk goa terdapat puing-puing candi yang rusak akibat gempa. Puing-puing tersebut tertata rapi depan kolam air suci. Puing-puing itu dibiarkan terkumpul dalam beberapa kelompok, karena sudah tidak bisa disatukan lagi untuk membentuk beberapa candi yang dulu ada.
Di sisi lain Goa gajah, tepatnya jika kita berjalan turun kita akan menemukan sebuah jembatan kecil yang menghubungkan antara komplek Goa Gajah dengan komplek Pertapaan Budha. Di sepanjang jalan turun tersebut kita bisa melihat pemandangan yang indah. Mulai dari sungai kecil yang berair jernih di sebelah kiri jembatan, serta kolam di sebelah kanannya. Di sungai tersebut terdapat dua gundukan batu besar serta sebuah reruntuhan arca yang konon jatuh dari bagian atas tebing karena gempa yang dulu melanda.
Di seberang jembatan kecil, kita akan menjumpai sebuah tempat pemujaan yang konon dulu digunakan oleh pertapa Budha. Menurut seorang nenek yang kami temui di lokasi tersebut, dulu disana ada sebuah patung utuh. Namun sekitar 10 tahun yang lalu patung tersebut hilang dicuri orang tak bertanggung jawab. Sekarang yang tersisa di komplek pertapaan Budha tersebut hanya sebuah arca kecil yang terpotong bagian kepalanya.
Sementara di sebelah lokasi pertapaan tersebut tampak sebuah tebing yang tak terlalu tinggi berdiri kokoh. Di beberapa bagian tebing tersebut tampak beberapa bentuk pahatan. Pahatan tersebut ada yang mirip babi di satu sisi. Sementara di sisi lain yang nampak adalah pahatan berupa tengkorak serta bentuk lain yang agak samar. Sayang keindahan pahatan tersebut tertutup oleh lumut yang semakin menebal.
Setelah puas melihat pemandangan di situ, kamipun kembali. Setelah melewati jembatan yang kami seberangi tadi, kami mencoba melihat-lihat keindahan di dekat kolam di sisi jembatan tersebut. Dari bagian kolam tersebut, saya sempat melihat sebuah gasebo yang telah rusak. Beberapa bagian atapnya telah jatuh dimakan usia dan tak terawat. Sementara di bagian atas kolam tampak sebuah lubang berbentuk persegi yang agak luas. Sayangnya lubang tersebut tampak dipenuhi rembesan air.
Akhirnya setelah puas melihat-lihat beberapa sisi Goa Gajah, kami berniat untuk pulang. Sebelum pulang tak lupa kami mencoba peruntungan dan keahlian kami untuk menawar souvenir khas Bali yang dijual oleh beberapa orang pedagang di stand yang ada di depan pintu masuk. Setelah melalui proses tawar menawar yang agak lama, oleh-oleh khas Bali kami dapatkan. Mulai dari beberapa celana pendek dan celana panjang khas Bali berharga lumayan murah, sebuah daster yang om belikan untuk tante di Bogor, serta dua buah lukisan.
Akhirnya kami pulang dengan hati senang. Oh ya hampir lupa untuk tiket masuk ke Goa Gajah kita cukup bayar Rp. 15000,-.  Jika saat kita akan masuk Goa Gajah kita tidak menggunakan celana panjang, jangan kuatir petugas di pintu masuk akan memberi pinjaman selembar kain untuk dipakai masuk. So kalau mau kesana usahakan memakai celana panjang dan berpakain yang sopan dan rapi.
1299530407167540712712995308851378693450
Jika belum pernah ke sana, silahkan segera ke sana ya. Jika anda tidak terikat paket wisata, Untuk enaknya sih bisa dengan jalan menyewa mobil atau motor. Masalah harga jangan khawatir dijamin murah dan terjangkau.
Selamat berwisata.
Denpasar, 08032011.0328
Masopu
Note :
- Maaf jika ada keterangan yang kurang tepat baik itu penulisan nama, asal usul cerita ataupun penggunaan istilah pada tulisan ini.
- maaf jika Kualitas foto yang kurang bagus, karena acara mendadak sehingga lupa membawa kamera yang lebih baik lagi.

Kamis, 13 Januari 2011

Perjalananku Terganggu Calo


Menjelang tahun baru kemarin saya kembali bepergian ke Jakarta. Jika biasanya saya selalu naik bus Lorena untuk melakukan perjalanan jauh, tapi kali ini saya mencoba suatu hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya, mencoba dengan cara estafet dari satu kota transit ke kota lainnya dan seterusnya hingga nantinya sampai di Jakarta.

Hari itu 29 desember 2010 saya berangkat dari terminal Ubung Denpasar pukul 9 malam dengan tujuan awal untuk transit adalah kota Surabaya. Baru saja memasuki area terminal, Perjalanan saya sudah mulai terganggu dengan ulah para calo yang gentayangan di terminal. Mereka begitu agresif mengejar saya, bahkan tak segan untuk menarik-narik tas atau baju yang saya pakai agar mau ikut dengannya. Dan semuanya sudah pada tahu kan bagaimana mereka beraksi, tiket biasanya dinaikkan minimal 50% dari harga normal, padahal itu hari biasa bagaimana jika hari menjelang hari raya?

Setelah mendinginkan diri beberapa saat dari kejaran beberapa calo, akhirnya saya coba bertanya sama awak bus berapa harga tiket yang sebenarnya. Belum sempat saya mendapat jawaban, tiba-tiba saja segerombolan calo berlari mengerubuti saya dan hendak menyeret-nyeret saya agar ikut bus yang dia tawarkan. Beruntung salah seorang calo merupakan saudara dari teman yang mengantarkanku ke terminal Ubung. Tanpa negoisasi yang panjang, sang calo memberi saya tiket bus sesuai harga yang dia dapatkan dari pihak awak bus.

Sesampainya di terminal Bungurasih Surabaya, saya duduk sebentar sambil menunggu seorang teman yang akan berangkat bareng ke Jakarta. Setelah temanku datang, langsung saya masuk mencari bus yang tujuan Jakarta dan kembali pengalaman sebelumnya terulang. Saya berurusan dengn calo yang main tarik sana tarik sini agar kami mau ikut bus yang dia tawarkan. Karean salah satu barang bawaan teman sudah dibawa naik ke bus duluan sama kawanan calo tersebut, akhirnya kami ikut ke bus yang dituju. Saya sedikit heran saat karton yang berisi telor asin sama calo yang bawa tadi main lempar naruhnya. Saat itu juga saah seorang calo menyodorkan kertas pengganti tiket untuk kami, disitu tertera suatu angkan yang menurut saya itu harga untuk dua orang dan langsung saya bayar. Tetapi anggapan saya salah, ternyata angka tersebut hanya untuk satu orang, padahal bus yang saya naiki saat itu hanya bus ekonomi. Setelah saya tanyakan itu adalah harga yang pantas katanya, padahal masih lekang dalam ingatan saya 6 bulan sebelumnya dengan harga selisih hampir 65 ribu lebih murah dari tiket yang dia sodorkan, saya bisa menikmati perjalanan darat menuju jakarta dari Surabaya dengan bus Lorena. Setelah saya tegaskan gitu, para calo tetap saja ngotot itu harga yang pantas dan menurut mereka karena menjelang libur tahun baru.Tanpa banyak tanya dan debat, saya minta uang saya kembali dan langsung turun dari bus tersebut. Para calo tersebut terus mengikuti saya turun dan terus meyakinkan kami untuk tetap naik bus tersebut dengan harga yang telah mereka sodorkan. Saya tetap tidak mau mendengarkan omonganmerekan dan segera naik bus lain menuju kota Semarang meninggalkan para calo yang tetap ngoceh gak jelas.

Sesampainya di terminal Semarang saat kami istirahat untuk makan dan membersihkan diri tiba beberapa orang calo kembali mengusik. Karena saya lihat bus yang berangkat ke Jakarta tinggal satu-satunya saja, segera saya naik ke bus tersebut dan tanpa banyak basa-basi segeram membayar sejumlah uang untuk tiket ke Jakarta. Jika di terminal-terminal sebelumnya saya sering tarik menarik dengan calo, maka di sini saya tidak terlibat hal tersebut. Tapi yang mengganggu di sini hanyalah bahasa para calo yang kasar dan berbicara seenaknya saja, bahkan seorang ibu yang hendak pergi ke Purwokerto lebih memilih turun, setelah mendengar kata-kata seorang calo yang memanaskan hati sang ibu. Setelah menunggu sekitar 30 menit bus bergerak ke kota tujuan.

Saat saya balik dari Jakarta tanggal 3 januari 2011, saya sempat naik kereta sebelum akhirnya pindah ke bus dari Cikampek karena kondisi penumpang yang overload. Selama perjalanan Jakarta-Cikampek saya berbincang bersama seorang ibu dan anaknya yang masih sekolah SD. Dia bercerita jika untuk naik KA tersebut sang ibu terpaksa membayar tiket seharga hampir 2 kali lipat dari harga normal tiket tersebut. Usut punya usut ternyata sang Ibu memebli tiket lewat Calo.

Yang saya herankan selama perjalanan pulang dan pergi Denpasar-Jakarta kenapa banyak sekali calo yang berkeliaran dan berpakaian seperti layaknya awak bus, mereka membawa tiket tapi bukan tiket untuk bus tersebut. Sementara awak bus dan aparat di terminal/stasiun terkesan tutup mata dengan fenomena tersebut. Dan yang semakin mengherankan lagi, ternyata tiket yang berasal dari para calo tersebut, saat diatas bus biasanya tidak dicek lagi sama awak bus. Kenapa saya berkata begitu, karena setelah saya lihat di tiket tertulis BUS A, tapi bus yang saya tumpang BUS B. Seandainya di terminal/stasiun tidak ada calo, saya rasa perjalanan akan semakin nyaman dan yang terpenting para pengguna jasa angkutan akan membayar jauh lebih murah jika dibandingkan saat beli tiket lewat calo. Dan mungkin pengalaman tas yang saya bawa hampir putus karena ulah para calo tak akan dialami oleh penumpang lain.

Denpasar, 13 januari 2011

Masopu

Jumat, 29 Oktober 2010

Indahnya Ubud

     Ubud merupakan tempat peristirahatan yang terletak di kabupaten Gainyar. Disana wisatawan bisa menikmati keindahan alamya yang sangat kesohor serta bisa mencari berbagai sovenir. bisa berwisata ke beberapa lokasi wisata yang ada disana. Mulai wisata alam, Wisata religi serta Berwisata museum dan Wisata belanja.
      Ada beberapa wisata alam yang bisa dinikmati di Ubud. Mulai dari arung jeram, sistem irigasi teras iring yang begitu terkenal, serta bisa juga berwisata ke Monkey forest yang terletak di desa Padangtegal Ubud. Wisata arung jeram dan berkayak bisa wisatawan lakukan di Tukad Ayung.

  
     Wisata religi bisa dilakukan di Pura Agung Ubud. Pura yang terletak dipusat kota Ubud ini, selain sebagai pusat keagamaan juga sebagai pusat kesenian. Disana seminggu sekali diadakan pertunjukan seni yang sengaja diadakan untuk wisatawan, Selain itu setiap hari diadakan latihan kesenian dari berbagai kelompok kesenian yang ada di Ubud.

      Menurut sejarah, Puri Agung Ubud dulunya merupakan pusat pemerintahan kerajaan. Sampai saat ini tata ruang dan bangunan Puri Agung Ubud tersebut masih dipertahankan seperti dulu.
      Selain obyek wisata tersebut di atas kita bisa  juga berkunjung ke Museum Lukisan dan juga Museum Rudana dan Rudana Fine Art Galery. Untuk mencari berbagai sovenir kita bisa hunting sovenir di pasar Ubud serta Art shop - art shop yang berjejer rapi di sepanjang jalan di kota Ubud.

KINTAMANI BALI

     Kintamani adalah nama sebuah danau di kabupaten Bangli. Danau ini terletak di kaki Gunung Batur. Di areal salah satu obyek wisata yang cukup terkenal ini banyak sekali terdapat restorannya.
     Kintamani dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih sekitar 2 jam dari kota denpasar. sepanjang perjalanan kesana kita bisa menikmati pemandangan yang indah dan suasana pedesaan yang masih asri dengan udaranya yang begitu segar.
      Saat kita sampai di sekitar danau, udara yang kita rasakan akan sangat beda dengan kebanyakan daerah wisata di Bali yang biasanya panas. Disana kita akan disambut dengan udara dingin yang sangat sejuk. Suhu udara disana berada dikisaran angka 16-20 derajat celcius. Benar-benar sejuk untuk para wisatawan yang berasal dari daerah / kota yang bersuhu panas seperti Surabaya atau Jakarta.
       Selain pemandangan danau dengan airnya yang keliatan berwarna biru, kita juga bisa menikmati batu-batuan vulkanik sisa-sisa letusan Gunung Batur. Selain itu ada juga sumber air panas di dekat danau.
       Jika kita ingin melihat desa adat Bali, kita bisa berkunjung ke Desa Trunyan yang terletak dekat danau kintamani tersebut. Disana kita dapat melihat sesuatu yang bisa kita rasa benar-benar beda. Disana akan kita temukan pemakaman yang sangat terkenal, yakni area pemakaman dimana posisi mayat tidaklah terkubur, tapi ditaruh dibawa pohon. Konon pohon tersebut mampu membuat mayat tidak menyebarkan bau busuk seperti biasanya mayat yang tidak dikuburkan. Dan ini merupakan salah satu obyek wisata favorit bagi wisatawan yang berkunjung kesana.

 Kintamani Mountain, Bali Indonesia

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...