Senin, 04 April 2011

Perasaanku Perasaanmu ( Kolaborasi dengan Jingga )



Ah cinta kenapa kau baru merasa
Apakah kau memang tiada merasa
aAaukah memang kau telah mendua
Membiarkanku tersaruk langkah
Menantimu dalam puzle-puzle asa yang tersisa

Tidak sayaang…
Mari kita kumpulkan puzlenya…
Kita bentuk bersama dalam balutan aroma cinta kita…
Biarkan mereka terbentuk sempurna
Dan terbingkai indah di hati kita… 
Ah aku rindu kamu sayang
Halus kulitmu begitu menggoda
Saat tangan kita bersinggungan mesra
Saat merangkai puzle cinta kita
Yang begitu indah tuk dilupa
Meski lama tiada bersua

Denpasar,04042011.1241
Kolaborasi dengan Jingga


Jangan Obral Cintamu ( Kolaborasi agung - nying-nying )


Ahhh begitu indahnya simphoni yang kau mainkan,
Menghibur hati yang lara,
Memberi keteduhan pada jiwa yang retak

Kumainkan sinphony ini tuk hati yang melara
Agar duka tiada lagi kan mendera
Karena itu tiada elok menemani wajah yang menawan
Laksana langit biru berselimut awan
Gelap
Menakutkan
Ijinkanlah simphony ini terus kumainkan
Hingga tanganku tak mampu lagi melakukan


Sudah lupakah kau panggilan sayangmu untukku
Yang selalu membawaku ke alam itu
Hingga sering buat rasaku terbang tak menentu
Setelah lama jiwaku membeku
Kini panggilan itu menghantuiku
Kaukah bagian hidupku itu
Yang telah lama begitu ku rindu
Ahh aku tak tahu

Kau lelaki si penebar 1000 pesona
Jangan kau masukkan aku dalam daftar buruanmu
Aku adalah perempuan egois
Yang tak biasa berbagi kekasih…
Pergilah kau dari sisiku,
Kejarlah 1000 wanita
Tapi jangan kau jamah aku.

Aku bukanlah seperti yang kau duga
Ku hanya ingin berbagi ceria
Meski duka lara merasuk jiwa
Ku kan coba membagi bahagia
Cukuplah dukaku untukku
Bukan untuk kubagi dengan yang lain
Biarlah ragaku menagis pilu
Asal temanku tetap tersenyum

Denpasar, 04042011.1226
Kolaborasi dengan Miss Nying-nying

Orkestra Hidup

13018750171067057447
Langkah tiada teratur
Menikmati irama keramik yang tercabik
Bagai orkestra kehidupan
Tempo yang tiada pernah tetap
Ketukan lembut segera terganti
Saat percepatan irama menggoda tuk di nanti
———-
Orskestrasi ini begitu memukau
Membuat jiwa seakan terpukau
Permainan indah berpadu tempo yang tiba-tiba meracau
Menikmati amukan hati sang conductor
Yang bergerak liar dengan irama tangannya
Cepat
Melambat
perlahan tempo naik merambat
Kadang jatuh begitu cepat
Mengaduk rasa sejuta nikmat
Tak jarang bikin hati tercekat
Serasa hati melesat
Dengan nada yang tepat
Hatipun terpikat
——
Denpasar, 04042011.0645
Note: saat menikmati ceracau liar hati yang terbungkus pekat
foto minjam di zeta galeri

Kremasi

1301850127906759595
Terbunuh rasa
Saat lenguhanku menyayat jiwa
Membakar rumpun-rumpun bunga yang ku semai
Terabukan dalam bara kata
—–
lidah memang tiadalah rasa
Semai kata saat badai belumlah reda
Kebiri putik bunga yang akan merona
Berkerut tiada indah
————–
Denpasar, 03042011
Masopu
gambar pinjam dilapak ini
http://hanidila.blogspot.com/2010/11/lelaki-ucap-maaf-dapat-buat-jantung.htm

Desah Binal ( Kolaborasi Bareng Jingga )

Tiap malam jiwa ini selalu rindukan kehangatan…
Selimutku tergolek di bibir ranjang….
Aaahhh… mengapa hanya sepi disini…
Jiwaku ingin basah…
Lidahku ingin bertaut
Bertaut dalam gelora rasa
Arungi lautan malam
Setubuhi bintang
Bersama hangat kecupmu…
Mungkinkah??? aku hanya mampu menunggu di bibir ranjang

Duhai wanitaku
Tak puaskah saat bibirmu kulitiku
Menggelitik pori nadiku
Yang mendesir memompa darah ke rongga otakku
Teriring lenguhan manjamu
Saat mataku terkejap menikmati indahnya belitanmu
Yang menelikung sendiku yang tergetar kaku
Ah! kau tanyakan puas???
Mana pernah aku merasa puas untuk sebuah nikmat??
Aku selalu haus itu!
Sini sayang…
Peluk aku dalam aroma kental tubuhmu
Biarkan aku melayang ke ranah jingga yg hangat
Dalam geliat liar tak berbatas
Antara dendam dan rinduku biarlah bertarung dalam rasaku
Hanya untuk puasku!
Hanya untuk liarku!
Ku pastikan kau pun kan rajai malam!

Duhai wanitaku
Desahmu gelegakkan geloraku
Tuk merajam inchi demi inchi tubuh polosmu
Yang telentang menantangku
Dengan lenguhanmu yang begitu menggoda
Seret imajiku tuk rengkuhmu dalam romansa biru
Yang menanti hasrat tuk tertunaikan
Dalam guliran jaman tak bertuan
Lambat menikmati indahnya pergumulan kita
Saling peluk
Saling pagut
Terseling cakaran nakalmu
Yang merambah bilur bilur kenikmatan
Saat tetes tetes keringat membanjiri ego kita
Tuk raih puncak bersama
Akhirnya terkullai lemah

Aku hanyut dengan permainan katamu yg binal
Bermain, beronani dalam tumpukan kata
Membawaku dalam ranah liar yg tak ku kenal
Yang aku tahu hanya aku ketagihan!

Tetes birahimu laksana candu
Ingin lari, tapi ku tak mampu
Melawan gelora yang selalu menggoda
Mengajak imajiku liar meremas bayangmu
Meronta dobrak tabu hidupku
Hanya tuk menikmati konyol aksimu
Saat meremas nalar
Campakkan nuraniku
Hingga kutak mampu melewatkan rayuanmu
Binal melepas tali kekangku
Tuk bersama mengejar kenikmatan yang terindah
Kolaborasi dadakan dengan Jingga
Denpasar-Surabaya, 03042011.0118-1136

Pengalaman Pertama

13018073461783828867Kisahku ini hanya cerita lama setahun yang lalu. Malam itu adalah malam minggu pertama saya menikmati indahnya pulau Dewata. Jam baru menunjukkan pukul 20.00 wib saat seorang teman yang telah lama tinggal di sini menjemputku di tempat aktifitas. Dengan mengendarai Avanza silver dia mengajak saya dan 5 orang teman untuk keliling Denpasar sebelum nantinya akan nongkrong di pantai Kuta.
Karena tujuan awalnya adalah pantai Kuta, tanpa pikir panjang saya ikut saja bersama mereka. Alangkah terkejutnya saya, saat tiba-tiba arah mobil berubah ke arah Sukawati. Ternyata kekagetan itu menjadi nyata, saat mobil masuk ke pelataran parkir sebuah diskotek. Dari luar gedung, Dentuman house musik begitu memekakkan telinga. Pikiran saya pun jadi tak karuan. Ingin bertahan di mobil gak enak, ikutan masuk juga saya hanya bisa menikmati live musicnya tanpa ikutan minum minuman beralkohol.
Ketika kami berenam telah mendapat kursi, segera temanku tersebut bersama seorang teman lokal memesan minuman. Ternyata mereka mengerti jika saya dan seorang lagi teman tidak mau ikut minum beer. Teman-teman memesankan 2 gelas minuman non beer. Sambil minum, keempat teman saya asyik menggerayangi seorang waitres cantik nan seksi yang menemani kami. Setelah lumayan lama, akhirnya acara minum-minum tersebut usai.
Begitu keluar dari situ, saya berpikir kami akan langsung ke Kuta. Tapi apa lacur, saat mobil kembali berbelok ke arah Padang Galak. Bagi teman-teman yang telah lama atau pernah tinggal di sini pasti tahu daerah tersebut daerah apa. Ternyata teman-teman menjebak saya untuk masuk ke lokalisasi tersebut. Dengan langkah berat dan menggerutu dalam hati saya ikuti langkah mereka menuju ke lokasi lokalisasi.
Dengan santainya mereka keluar masuk wisma-wisma yang ada di situ. Dari satu wisma ke wisma lainnya kami disambut senyuman manis nan menggoda dari para penghuniya. Sementara alunan musik dari wisma ke wsima lainnya berlainan. Mulai dari musik dangdut jadul yang mendayu hingga musik dangdut koplo, dari lagu daerah seperti kendang kempul Banyuwangi dan Campur sari sampai house music bergantian mengiringi langkah-langkah para pencari kenikmatan semu yang datang.
Setelah keluar masuk beberapa wisma, akhirnya tiga orang teman telah mendapatkan wanita pilihannya yang kan coba tuk hapuskan aroma alkohol dari bibir mereka. Sementara saya yang memang tidak antusias dengan hal itu hanya duduk-duduk saja di kursi bagian depan sebuah wisma yang tengah rame pengunjung dengan iringan lagu dangdutnya yang mendayu. Saat itu kulihat begitu banyak pengunjung yang berlalu lalang di sana.
Saat sedang duduk bersama seorang teman lainnya yang tadi pas ke diskotek  gak ikutan minum juga, kami didekati 2 orang wanita berbaju seksi dengan make up menornya. Setelah berbasa-basi sekian lama, mereka mencoba memancing nafsuku, agar bisa mendapatkan pelanggan yang menurut mereka adalah pelanggan pertamanya malam itu. Meski bujuk rayu mereka begitu menggoda bahkan saat salah seorang dari mereka dengan agresifnya melingkarkan lengannya di leher saya tapi hal itu tak membuat saya terpengaruh tuk mencobainya.
Dalam hati saya terus menggerutu, kemana sih teman-teman kok lama banget. Mana tangan wanita tersebut makin agresif menarik saya ke dalam rengkuhannya yang nakal. Sesekali tangannya nakal menarik-narik hidung saya yang memang gampang tarikannya sambil berkata ” Duh bagusnya hidungmu, andai hidungmu adalah hidungku pasti aku jadi primadona disini”. Beruntung posisi tangan saya saat itu lagi sedakep memeluk kaki kanan yang posisinya saya naikkan satu di kursi tuk menopang dagu, jadi agak susah bagi dia tuk menarik saya lebih rapat dalam pelukannya. Sementara teman saya yang satunya ambil posisi badan seperti saya juga, cuman bedanya dia pura-pura tertidur sambil duduk, hingga tidak digangguin wanita yang lainnya.
Setelah bosan merayu saya dan teman saya yang satunya, Akhirnya itu cewek menyerah. Segera dia mengambil kursi plastik dan duduk ngobrol dengan saya, tanpa tangannya beraksi lagi. Dari obrolan itu akhirnya saya tahu siapakah dia, ststusnya apa, asal usulnya dari mana sampai alasan kenapa dia terlibat pekerjaan ini. Melihat dia dah gak terlalu agresif menggoda saya, kaki saya turunkan lagi agar lebih rileks dan sopan berbincang dengannya.
Sambil asyik bercerita dengannya, saya teringat kisah beberapa orang teman yang masih duduk di bangku SMA. Yups saya punya beberapa orang teman cewek yang sudah terlibat hal ini sejak masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Bahkan ada seorang teman cewek yang sudah meninggal karena kecelakaan bercerita jika dia dah menjadi wanita panggilan sejak kelas 3 SMP dan dalam setahun dia pernah aborsi 2 kali. Pikiran saya terus menerawang ke teman-teman yang terlibat bisnis tersebut. Bagaimana saat di dalam kendaraan umum pun, jika dah tak dapat tempat duduk, mereka seenaknya saja naruh pantatnya di pangkuan teman cowoknya.
Ternyata wanita muda di depan saya ( meski usia sebenarnya malah di atas usiaku ) itu terlibat prostitusi karena telah bercerai dengan suaminya. Saat itu dia sudah punya seorang anak yang ditinggalkan di kampung halamannya. Demi memenuhi kebutuhan anaknya, dia mengembara ke Bali ikut ajakan teman sekampungnya dan  terjerumus ke lokalisasi.
Tak terasa waktu 1,5 jam telah terlewati dengan hanya mengobrol bersama seorang wanita yang kurang beruntung tersebut. Selain rasa syukur karena saya tak sampai terjerumus ke dalam hal yang tak pernah saya ingin lakukan jika bukan dengan pasangan resmi saya, hati saya terenyuh mendengar cerita dan pengakuan wanita tersebut. Sebuah pengakuan yang sulit saya bayangkan jika sampai menimpa adik saya.
Dalam hati saya hanya bisa berdo’a tuk wanita tersebut semoga dia bisa segera keluar dari pekerjaannya tersebut dan suatu saat nanti bertemu dengan lelaki baik yang mau menerima dia apa adanya. Mau menuntun dia ke jalan hidup yang lebih baik dari yang dia jalani saat ini. Dan semoga tidak ada anggota keluarga saya yang terlibat di dalamnya.
————
Denpasar, 03042011.1152
Masopu
Note | Nama sengaja tidak saya cantumkan di sini, agar tidak menyinggung dan melukai perasaan orang lain.
  • Foto minjam di statusbook comunity

Untuk Melati Hati

1301749530602362053
Teruntuk melati hati
Adakah ragu masih terlukis di hati
Hingga tanyamu tiada terhenti
Sementara jawab beberapa kali menghampiri
——–

Monolog Gembala

Aku hanyalah seorang gembala
Berdiri diantara luasnya savana
Sambil menikmati sirkus para domba
Yang bermain tanpa irama
Tanpa nada
Dan tanpa penanda
+++
Derak langkah sibak pekatnya ilalang
Membumbung tinggi halang pandang
Tak mampu sibak gelap dalam terang
Hingga lupa cara nafsu terhadang
+++
Kaki telah tergores dedaun tajam menyayat
Tinggalkan perih menggiris pilu
Saat kutakluk dalam irama sang domba
Menari liar tiada kendali

Sabtu, 02 April 2011

Saya Belajar dari Keluargaku dan Sekitarku

Tiada terasa sudah hampir 6 bulan saya bergabung dan belajar dari kompasiana ini. Dan selama kurun waktu tersebut, begitu banyak pelajaran yang saya petik dan dapatkan dari sini. Jika sebelum gabung di kompasiana saya banyak berinteraksi dengan buku, hingga tak heran julukan kutu buku melekat erat di diriku. Semenjak kenal kompasiana, saya juga belajar dari tulisan teman teman di kompasiana ini.
Di kompasiana ini begitu banyak teman dengan berbagai karakter. Mulai dari yang sedingin salju di puncak Cartens sampai semendidih air di atas tungku. Begitu banyak penulis hebat yang saya temui. Mereka yang seringkali saya serap ilmunya AL; Om Jay dengan tulisannya yang sangat inspiratif. Pak Bain Saptaman dengan tulisan satirenya yang selalu mengena dengan situasi terkini. Brother Herry FK dengan imaji kenthirnya yang seringkali berisi nasehat berkelas. Mbak Arya NingTyas dengan tulisannya yang penuh kehalusan budi dan menyejukkan. Loganue Saputra dan Herlya An-nisa yang kuat dalam imajinasinya. Serta kompasioner hebat lainnya sekelas mas Kimi Raiko, Om Gusti BOb, daeng Andi Harianto serta banyak lagi yang tak mampu saya sebutkan semuanya.
Sebelumnya, selain belajar dari buku yang saya baca saya seringkali belajar dari pengalaman pribadi saya, dari pengalaman teman dan juga dari hasil diskusi di warung kopi pinggir jalan dengan penerangan sangat super minim. Dari diskusi itu ada banyak hal yang saya petik dan pelajari serta seringkali mempengaruhi pola pikir saya. Itulah kenapa saya dalam beberapa kesempatan secara jujur mengakui, jika apa yang saya ungkapkan adalah hasil kutip sana kutip sini dari diskusi yang kadang saya lupa siapa pencetusnya dan dari mana mereka mendapatkan pola pikir itu. Sejauh itu positif, saya akan pakai pegangan.
Tapi sebenarnya yang paling mempengaruhi pola pikir saya adalah tantangan yang pernah ibu lontarkan sesaat sebelum saya pergi melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain. Saat itu dalam beberapa kesempatan ibu selalu melontarkan kalimat ‘” Kenapa diantara ke-4 anak saya gak ada yang memiliki kemiripan sikap dengan ibunya yang penyabar ini? ” Pernyataan itu terus terngiang di benak saya dan menghantui langkah kaki saya menyusuri jalanan hidup saya. Dari satu kota ke kota lain, saya terus berusaha belajar meneladani sikap ibu.
Terus terang ibu saya hanyalah seorang wanita desa biasa dengan pendidikan ala kadarnya. Namun di balik keterbatasannya di sekolah formal, ada suatu kelapangan hati yang tak pernah saya temukan di dalam diri orang lain. Ya meski hanya wanita desa biasa yang banyak mengabdikan hidupnya dengan bekerja di sebuah yayasan sosial di seputar lokasi saya tinggal, ibu ternyata punya kelapangan hati yang sangat luas dan kesabaran yang sangat tinggi. Padahal sejak 15 tahun yang lalu beliau digerogoti penyakit hypertensi yang akut. Tekanan darah beliau bisa dibilang normal jika di kisaran 170-180. Tapi penyakit itu tak mampu membunuh sifat sabar ibu.
Hal ini terbukti beberapa tahun yang lalu. Waktu itu menjelang keberangkatan saya ke Bogor. Beberapa minggu sebelum hari H ada kabar kurang sedap yang menghampiri saya lewat ibu. Saya mendapati fitnah menghampiri saya. Ada tuduhan jika saya bersama teman-teman sepermainan saya terlibat kasus pencurian untuk melakukan pesta minum-minuman beralkohol. Tuduhan ini bukan dari orang lain, tapi dari kerabat dekat saya sendiri yang kebetulan hanya melihat saya beberapa kali nongkrong sama teman-teman, tanpa pernah ikut gabungan.
Mendengar hal itu, ibu bukannya marah atau langsung menanyakan hal tersebut kepada saya. Beliau hanya mendengarkan cerita tersebut, seakan beliau tidak sedang mendengarkan cerita tentang anaknya yang  dijelek-jelekkan. Entah bagaimana cara beliau selidiki kebiasaan saya setiap keluyuran malam tuk mencari fakta kebenaran atas semua berita tersebut.
Saat fitnah tersebut telah mereda dan ibu telah memiliki banyak bukti tentang saya, beliau mengajak saya ngobrol berdua dan bercerita tentang hal tersebut. Tapi sebelumnya ibu mewanti-wanti saya untuk tidak marah dan dendam terhadap si penyebar fitnah tersebut. Setelah saya berjanji, beliau baru mau bercerita tentang fitnah tersebut dan beliau tetap menaruh kepercayaan penuh terhadap saya sampai hari ini.
Dari situ saya belajar bagaimana menghadapi isu yang berkembang. Bagaimana dengan hati yang membara, saya harus tetap berkepala dingin dalam menghadapi masalah. Meski nyatanya sampai hari ini saya belum bisa mengikuti sikap ibu sedikitpun, tapi saya akan terus berusaha meniru sikap sabar dan dingin ibu menangani masalah.
Beruntung saat saya menetap di Bogor, saya diberi kesempatan belajar  menyikapi hidup ala adik sepupu bapak saya. Beliau yang tahu saya anaknya agak sro’ol ( Istilah orang madura untuk orang yang grusa-grusu dalam bersikap ), mencoba mengerem laju sikap saya tersebut dengan menjadikan saya front man di usaha yang beliau rintis. Ya saya jadi humas, tekhnisi sound, kasir dan juga sebagai pembuat minuman di resto tersebut. Bisa dibilang hampir semua kerjaan di sana harus bisa saya tangani, kecuali sebagai koki tentunya.
Dari semua tugas yang saya emban, yang paling mempengaruhi kedewasaan saya adalah saat harus menghadapi komplain konsumen yang memiliki aneka karakteristik dengan kepala harus tetap dingin. Bayangkan hanya seorang anak SMA harus menghadapi konsumen yang rata-rata bergelar sarjana.   Salah bicara yang ada akan merusak nama baik restoran yang baru dirintis tersebut.
Kekhawatiran tersebut ternyata bukan hanya hidup dalam bayangan saya. Berkali-kali saya harus menghadapi komplain dari konsumen yang beraneka ragam. Dari para peneliti yang ada di sekitar resto sewaktu masih berlokasi di sekitaran BALITRO Bogor, dari para petinggi perusahaan yang mengadakan acara, dari para birokrat pemerintah bahkan petinggi kepolisian dan ABRI.Saya benar-benar nervous. Beruntung paman selalu memberi nasehat dan masukan serta semangat kepada keponakannya yang masih hijau dan lugu ini.
Seringkali paman mengajak saya diskusi untuk membahas masalah yang saya hadapi. Membahas komplain konsumen terutama yang disampaikan langsung kepadanya. Beliau selalu mengajari saya untuk menilai dan memutuskan masalah seolah saya sedang tidak terlibat masalah tersbut.
Di suatu diskusi kecil, beliau berkata ” Gung kamu sebagai front man harus bisa menilai sesuatu seolah-olah kamu bukan orang yang terlibat masalah. Lihatlah suatu masalah dari berbagai sisi, jangan hanya dari satu sisi. Seperti kita melihat benda yang memiliki bentuk tak beraturan. Jika kita melihat dari satu sisi, pasti pandangan kita kan berbeda dengan yang melihat dari sisi kiri, kanan ataupun atas. Seperti itulah dalam menghadapi masalah, jangan kau seperti memandang sebuah koin yang hanya bisa kamu lihat dari dua sisi. Yakni sisimu dan sisi orang yang berseberangan. Lihatlah dari sisi orang lainnya yang tidak terlibat, pastinya kan kamu temui pandangan berbeda yang bisa lebih obyektif menilai masalah tersebut.”
Seringkali beliau dengan sengaja menguji saya untuk menghadapi tetamu yang super cerewet. Beliau terus mengasah rasa sabar saya dengan menghadapkan saya dengan manusia super cerewet, super bawel dan juga super menyebalkan.  Bahkan tak jarang setiap ingin bertemu dengan koleganya, beliau datang agak terlambat, agar saya mau menemani ngobrol para koleganya tersebut. Hal ini mau tak mau membuat saya harus santai menghadapinya.Untuk mengetahui profil waroeng keboen cempaka tantri silahkan dapat klik, klik.  lokasi klik. Grupnya di FB klik ini
Saat di Bogor, saya juga berkumpul sama adik dan kakak saya. Sedangkan Ibu-Bapak masih di kampung halaman di Banyuwangi. Saat itu secara gak langsung saya harus sering menjadi penengah untuk adik dan kakak saya serta adik sepupu saya jika lagi ada masalah. Saya sendiri juga heran, karena diantara 4 bersaudara, saya adalah yang paling kaku dalam bersikap. Namun selalu saja mereka minta masukan saya jika bermasalah terutama adik dan pacarnya.
Yang jelas sampai saat ini saya sedang belajar. Baik itu dari alam sekitar saya, dari diskusi teman-teman di kompasiana. Baik yang serius, maupun yang kenthir. Yang jelas saya terus belajar. Bukan lagi dari tumpukan buku seperti yang dulu saya lakukan, tapi juga dari sekitar saya. Semoga saya selalu terus belajar menghadapi dinamika hidup saya. Asam, Asin ataupun manis, pasti ada hikmah yang selalu dapat saya petik.
Salam Kompasiana
———–
————–
Denpasar, 02042011.0341
Masopu
Note : Maaf tuk teman2 yang tidak sempat saya sebutkan di sini, kalian tetap guru dan tempat saya menimba ilmu
  • Tulisan ini saya persembahkan untuk ibu saya yang telah mengandung dan  membesarkan saya, mengajari saya hidup, dan bagaimana menyikapi hidup. Untuk bapak dengan bekal pengetahuan yang saya dapatkan dan semua guru saya tentunya.
  • Untuk paman saya dan keluarganya, adik, kakak dan kerabat saya di Bogor, teman-teman di restoran Waroeng keboen Cempaka Tantri Bogor di jalan padjajaran no.57 beserta pelangganya.
  • Semua kompasioner yang pernah berinteraksi dengan saya di sini dan juga teman-teman di alam nyata. GOD BLESS YOU ALL

Senyum Dong Sayang

13016437721444299549
Lihatlah sayang
Mendung itu kini telah hilang
Masihkau muram menghias cantiknya wajahmu
Sementara mentari rindu nyanyianmu
——
Sayang
Tak tahukah kau kenapa Tuhan mengirimu awan?
Apakah mendung itu selalu kelam sayang?
———
Sayang
Tuhan mengutus mendung tuk sejukkanmu
Saat panas mulai membakar mahkotamu
Agar tak rusak terbakar nyala yang telah membara
——
Sayang
Tersenyumlah tuk sambut mendung yang menjelang
Karena itulah karuniaNYA sayang
Tuk apa kita memaki wujud sayangNYA sayang
——-
Sayang senyum lagi ya
Biar ku pandangi kau dengan sempurnanya sinarku
Agar tak lagi murung menyiksamu
Agar senyummu mekar dimataku
—————–
Ahhh sayang
Senyummu terlalu indah tuk terbunuh awan sayang
Jangan lagi bermuram dalam temaram ya sayang
Agar ku tak lagi merindukan senyummu yang hilang
——
——-
Denpasar,01042011.1431
Foto njopok di sini

Kejarlah Asamu Kawan

Biarkan Jiwamu melayang mencari asa yang tersisa
Dari satu raga ke raga yang ada
Tuk pengobat jiwa dari rasa tiada terejawantah
Yang mungkin kan selalu temani langkah-langkah sang masa
——
Jangan bunuh jiwamu dengan kenisbian yang mendera
Karena itu hanya coba yang kangen menyapa
Merapal sukma dalam jiwa yang terkerdilkan
Takluk dalam buaian durjana beraroma madu yang menggoda
——
Jangan biarkan jiwamu mengembara tanpa arah
Karena nestapa kan hadir menjelma
Mengaduk sisi sisi jiwamu yang terluka
Perabukanmu dalam kegelepan yang nyata
——-
Ikutlah aroma sang bayu bagikan
Karena di sana asa bahagia kan coba nantikan
Meski mungkin aroma tipuan sedang bersandiwara
Janganlah kau bunuh asa yang masih menyala
Tegaklah langkahmu
Angkat bahumu
Tuk jemput asamu
++++++
Denpasar,01042011.1044

Jumat, 01 April 2011

Nyanyian Jiwa


Na na na na
Senandung jiwaku bergembira
Setelah murka membakar sukma
Melantakkanku dalam nadir
——
Na na na na
Kini aku tengah memendam rasa
Setelah desyah manja sang luka mengembara
Terbang bersama guratan embun yang berjelaga
————-
Na na na na
Aku kan bernyanyi ceria
Tuk ragaku yang tengah bermandi asa
Menyelamimu dengan bahasa jiwa
———
Na na na na
Ku kan raih bahagia ini selamanya
Tanpa pernah terbelunggu keabsurdan logika
Karena kini ku sedang
Na na na na na
———
Denpasar,31032011.1416

Simphony Hati Tuk Adinda

13015124511500592062
Tahukah dirimu
Kicau burung itu begitu kurindu
Semerbak mawar dibalik jendela begitu menggodaku
Dan sejuknya katamu melebur dalam sanubariku
———–
Tahukah kamu
Aku tak rela kantung airmatamu pecah berderai
Membasahi pucuk-pucuk cemara yang bersenarai
menari melambai kawanan burung tuk tertawa berderai
Menghibur hati yang telah lama terbalut duka
————
Tahukah kamu
Jika kicau burung itu begitu mendamba
Mendambamu yang ceria seperti dulu
Yang kokoh menantang nafsu yang menggoda
Kokoh menantang badai yang tak henti menyapa
——————
Ah kamu
Ceriamu lebih merdu dari senandung lagu cinta sang nuri
Yang selalu menemaniku di kala mentari hangat memanggang ambisi
Membakar asaku tuk terus berlari
Demi sebuah nyata yang berawal dari mimpi
—————————-
Tahukah kamu
Kataku takkan henti mengaum di gendang telingamu
Meski makian kan datang menghampiriku
Dengan kata-kata bersayap yang menghambur
————————–
Jujurku padamu
Takkan relakan  kau terbuai rindu yang tersepuh
Terbingkai mutiara yang berduri
Melena menggiriskan pedih
Karena engkaulah permata yang ingin kujaga
Dalam hentakan nafas yang selalu menggelora
Selamanya
——-
——–
Denpasar, 31032011.0157
———————–
Note : Wake up girlz
Foto nyadap di blog ini

Yang Telah Luruh

1301470445599816219
Luruh
Laksana kuncup bunga di musim semi
Jatuh tanpa sempat mekar berseri
Layu tiada kan mekar lagi
Luruh
Semua tak akan kembali
Tuk Merangkai sebuah mimpi bersama lagi
Dalam belai sejuk embunan pagi
Yang meresapi klorofil kehidupan ini
——
Luruh
Tanpa tersentuh kilatan guruh
Berkeping-keping dalam serpih
Terlalu muskil disatukan yang telah terperih
Semuanya telah luruh
——
Denpasar,30032011.1423
Note: Entahlah saat sahabat baik kembali, satu pergi
foto minjam di mobiday

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...