Kamis, 26 April 2012

Rindu Tak Bertuan

Kalimaya art galery

Kau tinggalkan rasa selaksa bara
Membakar nadi menyentuh rongga
Mengulum jiwa pada ruang hampa
Saat ragamu tak lagi berada

Selasa, 24 April 2012

Pelukis Mimpi

Ingin kusibak jelaga yang menari di wajahmu
Agar kulihat lagi birunya langit menghias bola matamu
Menyapu debu-debu lusuh di hatimu
Yang tlah membunuh pancaran sinarmu

Senin, 16 April 2012

Esok Tak Pernah Ada

Esok?
Masih adakah kata yang terucap
Saat ujung titiap makin kental mengendap
Menyergap pandang mata yang tak bisa lagi berhenti menatap

Esok?
Masihkah kan kau berharap hadirnya
Saat matahari beranjak tersia-sia tanpa prestasi nyata
Sementara dia tak pernah bisa memutar arahnya
Hanya bergerak setapak demi setapak langkahnya
Hingga akhir dunia kan tiba waktunya

Rabu, 11 April 2012

Bourjuis Narsis

Kita tidak sedang mematut diri di papan catur
Melihat setiap langkah untuk dicounter
Dengan berbagai muslihat yang terpikir nalar
Liat meliuk tarian liar
Demi sebuah kata bermakna kemenangan besar

Kita tidak sedang bersandiwara
Memainkan kisah seribu muka
Berwajah cantik bengis menggoda
Ataupun melankolis mengundang iba

Selasa, 27 Maret 2012

Cakar - Cakar Hitam Masa Lalu

kalimayaartgalery

            Adzan isya’ telah berlalu. Jamaah sholat isya masjid al Ikhlas pun berangsur-angsur kembali ke rumahnya. Pun dengan Xixi yang telah berada di masjid sejak waktu ashar tadi. Dengan irama yang teratur, diayunkan langkah kakinya menuju rumah yang ditempatinya. Rumah mungil bercat kuning yang bertempat di ujung gang dekat masjid al-Ikhlas. Rumah yang dibelinya dari sisa uang tabungannya.
“ Dasar sundal. “ maki seorang ibu ketika  berpapasan dengannya.
            Xixi tak menjawab makian tersebut. Hanya suara istighfar yang terlontar dari bibirnya. Seulas senyum yang setengah dipaksakan tersungging dari bibirnya yang mungil. Senyuman untuk menutupi luka hatinya, setiap kali kata-kata hinaan menghampirnya. Telinganya yang terbungkus jilbab serasa sudah kebal, karena setiap hari mendengar makian dan cemoohan warga. Namun dia selalu berusaha bersabar menghadapi semua hinaan itu. Setiap cemoohan yang diterimanya, dibalasnya dengan do’a-do’a kebaikan. Do’a-do’a yang selalu dipanjatkannya di setiap waktunya. Tak ingin dia berlama-lama terlarut rasa dendam dan sakit hati.
“ Hee Sundal, ditunggu sama pelangganmu itu. “ kata seorang ibu lain saat berpapasan di dekat rumahnya. Tatap mata sinis dan penuh kebencian terlihat di matanya.

Minggu, 25 Maret 2012

Anakku Bukan Esktrimis II


http://icus2ays.blogspot.com/2009/01/intifadah.html
“ Dorrr…..dorrr….dorrr “ bunyi tembakan dari sniper yang berlindung di beberapa gedung terus memburu langkah-langkah kecil Ali yang lincah berlarian di atas puing-puing bangunan. Tumpukan batu bata dan bahan bangunan lainnya merupakan pemandangan harian yang selalu menyambut sinar matahari di bumi Gazza. Pun dengan bunyi tembakan yang yang terus memburu tubuh kurus Ali Bin Suhail, bocah kurus berusia 15 tahun bersenjatakan ketapel yang selalu tergantung di lehernya.
                        Ali adalah putera Abu Suhail yang mati terbunuh dua tahun yang lalu. Abu Suhail terbunuh saat pasukan Israel menyerang sebuah masjid di Gazza. Abu Suhail yang sedang sholat subuh berjamaah menjadi korban berondongan senapan mesin bersama puluhan jamaah lainnya. Bangunan masjid tempat mereka sholat rata dengan tanah dihujani tembakan mortir dan bom yang dijatuhkan pesawat pembom Israel.
        

Selasa, 20 Maret 2012

Keteguhan Hati


Hari-hari terus berganti. Hubungan Xixi dan Iqbal semakin dekat. Kedekatan yang mereka jalani semakin membuat warga di sekitar tempat tinggal Xixi panas. Bagaimanapun mereka tahu siapa Iqbal. Berasal dari keluarga seperti apa pemuda tampan tersebut. Sejujurnya di hati kecil ibu-ibu sekitar rumah Xixi, menganggap hubungan itu tidak sepantasnya. Iqbal, putera seorang pemuka agama yang mereka hormati menjalin hubungan dengan seorang mantan pelacur.
Banyak ibu-ibu yang merasa, Iqbal lebih pantas mendapatkan wanita yang lebih baik. Bahkan ada beberapa orang ibu yang rela menyodorkan anak gadis ataupun saudara perempuannya yang masih gadis agar Iqbal mau mengawininya. Namun tak ada tanggapan dari pemuda tersebut.

Kamis, 15 Maret 2012

Belenggu Masa Lalu


kalimayaartgallery
             Mentari yang perlahan mulai meninggi mengiring langkah-langkah kaki Iqbal dan Xixi yang berjalan bersisian meninggalkan masjid Agung Al Akbar Surabaya. Langkah-langkah kaki yang menuntun mereka ke area taman di depan masjid. Sambil berbincang mereka terus berjalan menjauh dari halaman masjid.
“ Kita duduk di sini saja ya? “ tanya Iqbal sambil menjatuhkan pantatnya ke pangkuan kursi taman yang kosong. Kursi kayu bercat hitam yang berdiri kokoh di atas pijakan ke empat kaki-kakinya. Semilir hembusan angin membawa aroma bunga-bunga yang bermekaran di sekitarnya.
            Xixi tak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya mengikuti langkahnya dengan duduk di kursi sebelah Iqbal. Tempatnya yang terbuka dan dipayungi sebuah pohon yang menawarkan kesejukan.   Tangannya yang terlindung baju kurung panjang tersembunyi di balik kerudung birunya yang panjang.

Rabu, 07 Maret 2012

Pertemuan

tausiyah.wordpress.com


            Diiringi sinar matahari yang masih panas membakar kulit, Iqbal menuju ke masjid al Ikhlas. Secarik kertas yang diperoleh dari petugas adminitrasi rumah sakit kemarinlah yang menuntun langkahnya ke masjid tersebut. Xifana Adestya Maharani, nama yang tercantum di kertas tersebut begitu menarik perhatiannya. Terbayang wajah wanita yang kemarin pingsan saat terserempet angkot. Wajahnya yang putih dipadu dengan kerudung biru sungguh suatu pemandangan yang menyejukkan hati. Meski hanya sesaat melihatnya, kenangan itu membekas di hatinya.
            Namun sesungguhnya bukan hal itu yang membuatnya ingin bertemu. Keinginannya bertemu murni hanya ingin tahu bagaimana keadaan gadis yang kemarin diantarnya ke rumah sakit. Seberapa parah luka yang dideritanya saat ini.  Hembusan angin seakan ikut mendorong langkahnya untuk segera bertemu dengannya.
“ Assalamu alaikum.” Iqbal menyapa seorang bapak-bapak tua yang tengah duduk di teras masjid. Tangannya terus memutar tasbih. Bibirnya yang dipait kulit pipi yang mulai mengeriput terus berkomat-kamit membaca dzikir.

Minggu, 26 Februari 2012

Peningkatan Kualitas Wasit, Penting Untuk Pembinaan Pemain Muda


            Pembinaan pemain muda usia yang sedang digalakkan oleh PSSI di era kepemimpinan Djohar Arifin Husein merupakan salah satu cara memperbaiki kualitas pemain di masa yang akan datang. terlepas apakah nantinya Beliau akan tetap bertahan mengurus PSSI atau digantikan dengan pengurus yang lain, seharusnya program ini terus dilakukan. Namun ada hal lain yang juga tak kalah pentingnya dalam pembinaan pemain usia muda, yakni sektor wasit beserta aparat pendukungnya yakni Komdis.

            Kita semua sudah mengetahui, bahwa bibit-bibit usia muda yang bangsa ini miliki sejujurnya punya skill individu yang baik dan mampu bersaing dengan Negara-negara lain. Kita tentu masih ingat saat SSB yang berlokasi di Makasar pernah menembus 4 besar piala Danone. Atau keberhasilan kakak-kakak mereka selama dua tahun berturut-turut menjuarai AC Milan Throphy di Italia. Itu semua bukti bagaimana kualitas anak-anak muda Indonesia dalam bermain bola.

Pentingnya Pembinaan Usia Dini

                    Setelah masa-masa menjelang kejatuhan NH dan kawan-kawannya di PSSI dulu, saya memilih vakum menulis tentang PSSI. Bukan kecewa karena NH dijatuhkan, tetapi sejujurnya saya sudah melihat banyak teman-teman yang mengangkat masalah PSSI dan perjuangan melawan lupa. Perjuangan yang menurut saya tak akan pernah usai, karena pengusung rezim lama masih ada dan berkeliaran untuk membuat PSSI baru terlihat buruk di depan penikmat bola tanah air. Saya menyadari itu, karena mereka memang mengusai setidaknya 2 media televisi dan beberapa portal pemberitaan yang mampu menjadi corong mereka untuk menjegal PSSI dan semua programnya. Mereka berpegang pada prinsip “ Berita salah, jika diberitakan terus menerus lambat laun akan tertanam menjadi kebenaran bagi yang tidak bisa memilah dan memilih berita".

Rabu, 15 Februari 2012

Sang Malaikat Penolong

https://www.facebook.com/people/Malaikat-Penolong/100002627415138
Putaran roda mobil terus berpacu membelah hitamnya aspal jalanan. Iqbal yang duduk di belakang kemudi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sejuknya udara di pagi itu menggodanya untuk menurunkan kaca avanza-nya. Hanya separuh saja yang menutupi jendela mobil yang selalu setia menemaninya. Pandang matanya terus memperhatikan jalanan yang dilauinya. Sementara alunan lembut lagu-lagu dari letto lembut menyapu gendang telinganya.

Laju mobilnya melambat saat melewati sebuah pasar. Aktifitas yang lumayan padat sedikit banyak berpengaruh pada kelancaran lalu lintas di jalan itu. Riuh rendah berbagai suara sedikit banyak mengganggunya. Perlahan laju mobil yang dikemudikannya semakin lambat hingga hampir ke titik 10 km/jam.

Minggu, 12 Februari 2012

Terror Rawagede

http://rioardi.wordpress.com/2011/12/01/foto-foto-langka-agresi-militer-belanda-di-indonesia/rioardi.wordpress
            Lelah belum lagi lunas terbayar, saat sayup gemuruh tank berderak mendekat. Derap sepatu boot mengiringi pergerakannya. Getaran-getaran yang ditimbulkannya serasa mengguncang bale bambu tempatnya merebahkan diri. Baru kemarin perjanjian renville ditanda tangani, kini mimis-mimis rakus KNIL dan pasukan Belanda mengancam ketenangan penduduk Rawagede tempatnya tinggal.

" Kenapa selarut ini tank-tank Belanda sudah memasuki perkampungan ini. " gumam lelaki muda berusia sekitar 30 tahun tersebut sambil mengucek-ucek matanya. Suara adzan isya' dari surau telah berlalu tanpa sempat dirinya mendengar iqomat yang terlindas pusaran rantai-rantai tank dan derap sepatu boot. " Adakah mereka hanya ingin menempatkan pasukannya di sini? " kembali sebuah tanya berkumandang di benaknya.

Kamis, 09 Februari 2012

Malaikat Pembimbing

http://animaker131.deviantart.com/art/Guardian-Angel-147904735
Sejak peristiwa kedatangan ibu-ibu wali murid ke TPQ, Xixi terus mengalami teror. Kata-kata tak sedap sering terdengar ketika dirinya melewati sekumpulan ibu-ibu yang sedang bercengkerama di sore hari. Mulai dari sindiran halu sampai kata-kata kasar. Meski dirinya tak menghiraukannya, namun dirinya khawatir hal itu akan diikuti oleh beberapa orang anak-anak TPQ yang melihatnya.

" Assalamualaikum " sapa Xixi saat dirinya melewati beberapa orang ibu yang sedang duduk-duduk di teras rumah warga.

Senin, 06 Februari 2012

Taman Ujung, Istana Air Dari Timur

Tanggal 2 februari kemarin saat menikmati libur hari raya Galungan, saya menyempatkan diri melali ( Jalan-jalan = bahasa bali-red ) ke ujung timur pulau Bali. Tujuan awal saya dan teman-teman adalah Taman Soekasada Ujung  yang terletak di desa Tumbu kecamatan Karangasem. Taman ini berjarak sekitar 2-2,5 jam perjalanan darat dari Denpasar.
Koleksi Pribadi

Taman Ujung merupakan salah satu situs peninggalan kerajaan Karangasem yang terletak di lereng Gunung Agung. Taman yang didirikan oleh raja Karangasem terakhir I Gusti Bagus Jelantik ( 1909-1945 ) yang saat memimpin bergelar Anak Agung Agung AngLurah Ketut Karangasem . Taman yang mulai dibangun pada tahun 1919 dan diresmikam tahun 1921 ini awalnya memiliki luas sekitar 400 hr. Namun kini tinggal 10 hr saja karena dibagikan ke warga sekitar saat adanya "Land Reform".

Jumat, 03 Februari 2012

Penentangan

http://penabuluan.multiply.com/journal/item/597/Lena_Lena
Seminggu telah berlalu sejak pertama kali Xixi mulai mengajar anak-anak TPQ. Pelan tapi pasti berita tentang dirinya segera menyebar ke orang tua murid. Ada pro dan kontra yang datang menghampiri dirinya. Jamaah masjid terbelah karena peristiwa tersebut. Bagaimanapun mereka tahu siapa dia. Apa latar belakang dirinya. Dan hampir semua yang ada pada dirinya jamaah masjid tahu.

Matahari sore baru saja menyapa mayapada, setelah sejak pagi bersembunyi di balik awan. Pelataran masjid yang baru saja sepi ditinggalkan jamaah sholat ashar kembali ramai oleh sekumpulan ibu-ibu yang datang dengan suaranya yang berisik. Pak Kiai dan Xixi yang sedang mengawasi anak-anak TPQ belajar membaca Al Qur'an hanya mengira jika itu suara orang-orang sedang lewat di dekat masjid.

Sabtu, 28 Januari 2012

Kesempatan Ke Dua

http://budiuzie.wordpress.com/2008/12/01/sunset-atau-sunrise/
Matahari sudah semakin dekat menyentuh nadirnya. Di dalam ruang sekretariat masjid terlihat 10 orang tengah duduk berhadap-hadapan. Mereka terlibat pembicaraan serius membahas mengenai beberapa permasalahan yang ada di kepengurusan masjid. Rapat tersebut telah berhasil membuat beberapa keputusan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

" Saudara-saudara sekalian, semua masalah sekarang sudah berhasil kita putuskan. Tinggal satu masalah lagi yang perlu kita bicarakan yakni masalah tenaga pengajar untuk anak-anak TPQ yang ada di masjid ini. Adakah usulan yang ingin saudara-saudara sampaikan? " tanya pak Kiai kepada para peserta rapat.

Kamis, 26 Januari 2012

Rencana Menantang Karma

http://www.fractal-wallpapers.com/

" Assalamualaikum pak Kiai " sapa Xixi begitu jamaah yang menghadiri kuliah subuh di pagi itu sudah pergi meninggalkan masjid. 

" Waalaikum salam. Kapan nak Xixi datangnya? " jawab pak Kiai. Kedua telapak tangannya dirapatkan di depan dada sambil menganggukkan badan. Xixi-pun melakukan hal yang sama. Mereka hanya bertukar salam tanpa saling memegang telapak tangan. 

" Kemarin sore saya nyampek di sini pak Kiai. " jawab Xixi sambil melemparkan seulas senyum kepada seorang jamaah yang kebetulan menyapanya dengan sebuah senyuman.

Selasa, 24 Januari 2012

Mengejar Waktu Yang Tersisa

http://sbelen.wordpress.com/2008/12/29/waktu-yang-tersisa/
Waktu terus berlalu. Xixi terus menikmati hari-harinya dengan berbagai kegiatan sosialnya. Tak dipedulikannya berapa banyak waktu yang akan terbuang untuk hal itu. Yang terpenting sekarang adalah mengisi waktu-waktu yang tersisa di antara jedanya mencari pengobatan. Seperti nasehat Haji Rahmat " kesembuhan memang yang utama, tetapi bagaimana dia mengisi hari-hari yang tersisa untuknya dengan baik juga tak kalah pentingnya.

Selain dengan meminum ramuan yang diberikan oleh Haji Rahmat, Xixi terus berusaha mengobati penyakitnya dengan berbagai cara yang tak bertentangan dengan tuntunan agama. Dari satu metode ke metode yang lain dari, usahanya tak pernah berhenti. Komunikasi dengan dokter yang merawatnya di Surabaya dulu terus dijalaninya. Semua hanyalah bagian dari ikhtiarnya. Setiap malam do'a-do'a tak henti menghiasi bibirnya. Sementara di siang harinya saat tak ada kegiatan, disibukkannya dirinya dengan beberapa kegiatan belajar mendalami agama. Semakin lama dirinya semakin tenggelam dalam keingin tahuan dan keinginan untuk mendalami dan mengamalkan ajaran agama.

Rabu, 18 Januari 2012

Ikhtiar Seorang Ayah

http://kurniawanjefry.wordpress.com/2011/04/14/berusaha-dan-berusaha/
Sejuk udara pagi berhembus perlahan dari arah pepohonan pinus. Aromanya yang segar perlahan menjalar ke seluruh tubuh Xixi bersama tiap sesapan nafasnya. Lelah yang sempat terasa selama dalam perjalanan akhirnya tertuntaskan. Jalanan berbatu yang dilaluinya menjelang sampai ke tujuan, membuat perjalanan terasa sangat lama. Guncangan mobil yang miring ke kiri atau ke kanan membuat tubuhnya terasa pegal. 

" Xi kita sudah sampai di rumah Haji Rahmat. Ayo kita turun. " Pak Ismail berkata sambil membuka pintu mobil yang berhenti di halaman sebuah masjid kecil. Sesampainya di luar, segera dia bergerak seperti orang sedang bersenam. Lamanya perjalan yang hampir 2 jam, ditambah dengan kondisi jalanan yang berbatu di seperempat jalan terakhir membuat badannya terasa pegal.

Senin, 16 Januari 2012

Foto Eksklusif Derbi Dellamadonina

Suasana Curva Nord menjelang Derbi Di mulai    
Mengheningkan Cipta Untuk korban kapal tenggelam Costa Concordia Di lepas pantai Palermo Italia

Cahaya Kasih Seorang Ayah

http://redsuitee.wordpress.com/2010/11/05/jadilah-pelita/
" Xi bapak turut prihatin atas semua yang kamu alami saat ini. Sejujurnya bapak tak mengharapkan hal ini menimpamu. Di sisi lain bapak juga merasa bersyukur atas semua yang kamu jalani. Dengan semua kejadian ini, Allah mengembalikanmu kepada kami. Bapak bersyukur kamu masih bisa diberi kesempatan bertaubat, meski harus dicambuk dulu untuk itu. " Pak Ismail terdiam sebentar. Sorot mata teduh lelaki paruh baya tersebut lurus memandang Xixi yang duduk terdiam di kursinya. Tak lama kemudian tangan kirinya mengambil gelas air putih yang ada di depannya. Diminumnya air tersebut perlahan. " Bagaimana dengan rencanamu untuk berobat ke rumah pak Haji Rahmat Xi? " tanyanya sesaat setelah menaruh gelas air minumnya.

Sabtu, 14 Januari 2012

Kepulangan

Jarak pandang semakin tak terbatasi, saat kaki-kaki lincah Xixi berjalan perlahan menapaki sebuah halaman rumah mungil nan asri. Rumah mungil dengan hiasan kembang melati, mawar dan bougenville yang tertata rapi. Sayup-sayup suara kokok ayam menyambut pemutaraan kaset qiro'ah dari masjid di dekat rumah tersebut. Sorot lampu yang menerobos dari dalam rumah bersaing dengan terang yang perlahan menyibak pekat yang berkuasa semalaman. 

Sesampainya di depan daun pintu, Xixi berdiri mematung beberapa lamanya. Ada rasa gagu. Ada rasa segan yang menyergap pergelangan tangannya. Beberapa kali tangannya terangkat untuk mengetuk daun pintu tersebut, tapi segera terhenti saat tarikan kecil dipergelangan tangan hendak melontarkannya ke daun pintu. Berkali-kali tangan yang sudah terangkat tersebut kembali turun menggantung sejajar tubuhnya. Sementara pandang matanya terus lurus ke arah daun pintu tersebut, berharap ada seseorang yang membukakannya dari dalam.

Kamis, 12 Januari 2012

Oase Di Tengah Kegersangan

http://asya84.wordpress.com/
Hari-hari terus berganti. Xixi semakin tekun mendalami dan melaksanakan ajaran agamanya. Peristiwa demi peristiwa hidup yang dialaminya benar-benar telah menempa hidupnya menjadi lebih baik. Vonis dokter yang sempat melemahkannya, kini telah menjadi sumber energi untuk memulai hal baru. Hal yang lebih baik dari masa lalunya.

Pak kiai yang selama ini tekun membimbingnya, terus memperhatikan apa yang dilakukannya. Dia tak pernah menyadari hal itu. Andaipun tahu, Xixi hanya menganggapnya sebagai perhatian seorang guru terhadap muridnya. Namun tidak di mata pak Kiai. Dia telah menganggapnya seperti anaknya sendiri. Karena itu, pak Kiai turut prihatin denga penyakit tersebut.

Rabu, 11 Januari 2012

Jiwa Yang Terlahir Kembali

http://andreafrian.blogspot.com/
Kata-kata " Allah tak akan merubah nasib suatu kaum, sebelum mereka sendiri yang berusaha merubahnya " telah menjadi hujjah dalam hati Xixi. Sejak pelaksanaan taubat nasuha yang dilakukannya, Xixi terus aktif mendalami agama islam. Hari-hari kelam yang pernah dilaluinya tak ingin lagi terulang dalam hidupnya. Karena itu dia terus berupaya untuk mendalami ajaran agama yang sempat terlupa olehnya. Tak lupa Xixi terus mengusahakan kesembuhan dirinya dari virus HIV yang menjangkitinya.

Hari-hari Xixi kini telah berganti. Fajar baru dalam hidupnya telah menyingsing di ufuk timur, memindai lembar demi lembar selaput kegelapan yang telah merongrong jiwanya. Perlahan cahaya iman yang pernah tersingkir, kini semakin kuat menyinarinya. Sinar matanya yang kuyu dengan hiasan hitam di sisi-sisi kelopak matanya perlahan berganti dengan pancaran semangat yang terpatri semakin besar. Tak ada lagi raut putus asa terlukis di raut wajahnya yang terlihat semakin cantik. Riasan muka yang dulu tebal kini telah terganti dengan sapuan tipis nan alami. Sementara rambutnya yang dulu terbungkus aneka warna, kini telah terbungkus selembar kain panjang yang anggun menggantung. Tubuh mulus yang dulu terumbar paparan nakal mata jalang, kini telah tersembunyi dalam balutan baju-baju yang syar'i.

Selasa, 10 Januari 2012

Turning Point

" Allah tak akan merubah nasib suatu kaum hingga mereka sendiri yang berusaha untuk merubahnya. " Sepenggal kalimat itu terdengar menyambut mata Xixi yang baru terbuka. Sayup-sayup suara ceramah subuh di masjid dekat kompleks apartemennya menelusup masuk ke kamarnya. Membangunkannya dari tidurnya semalaman. Xixi termenung di ujung pembaringannya. Kalimat-kalimat yang menyapa telinganya halus menghunjam ke dalam lubuk hatinya. Butiran-butiran air mata perlahan mengalir dari kelopak matanya yang sayu. 

Kalimat-kalimat dari penceramah itu begitu mengena di hatinya. Kajian dengan bahasa yang santun dan halus terasa seperti butiran embun yang membasahi dahaganya. Hatinya yang lama terbuai oleh kenikmatan duniawi perlahan luruh dalam sesalan tak bertepi. Sepasang kakinya yang biasanya kokoh menantang pijakan dogma perlahan melemah dalam ketakberdayaan. Air matanya semakin deras mengaliri kedua sisi pipinya.

Sabtu, 07 Januari 2012

Terpuruk

http://benderahitam.wordpress.com/
Kepergian Daniel dengan cara yang tragis membuat Xixi terpukul. Dia tidak pernah menyangka jika Daniel akan pergi dengan cara yang di luar dugaannya. Selama ini yang dia kenal, Daniel adalah lelaki kuat dan tegar menghadapi segala cobaan. Selama ini Daniel selalu bisa keluar dari masalah hidupnya dengan cara yang briilian. Namun semua itu musnah dengan peristiwa bunuh dirinya.

Hari-hari yang Xixi lalui terasa begitu berat. Apalagi dengan peristiwa kematian Daniel, wartawan Infotainment pun akhirnya tahu apa yang terjadi pada mereka. Apa yang terjadi pada Xixi yang telah beberapa bulan lamanya menghilang dari jagad hiburan. 

Kamis, 05 Januari 2012

Putus Asa

Gelap belum lagi sempurna tersapu dari muka bumi, saat sayup-sayup telinga Xixi mendengar raungan sirene ambulan datang mendekati hotel tempatnya menginap. Perlahan dikerjap-kerjapkannya mata indahnya yang baru terbangun dari lelap tidurnya. Saat suara sirene semakin kencang menyapa telinganya, dibalikkannya tubuhnya ke bagian kiri ranjang. Matanya tak menemukan sesosok tubuh yang dicarinya.

" Mimpi apa semalam ,jam segini dia sudah mandi? " gumam Xixi. Segera diperbaiki letak bantal tidurnya. Disandarkan tubuhnya yang masih lemas ke bantal yang ditaruhnya berdiri di bagian atas ranjang. Baju tidurnya yang agak berantakan kini telah kembali rapi. Dirapikannya sedikit rambut lurusnya yang kini kembali berwarna hitam. Agak lama dia termangu. Telinganya tak mendengar adanya guyuran air dari shower di kamar mandi.

Rabu, 04 Januari 2012

Harapan Yang Ternoda

Deretan mawar beraneka warna menyambut tatapan mata Iqbal. Juntaian warnanya begitu menggoda, membuat mata lelaki muda tersebut tak henti-henti menikmati pemandangan indah di depan apartemen mewah tersebut. Setelah puas menikmatinya, Iqbal segera turun dari mobil. Dilangkahkannya kaki berbalut sepatu hitam buatan Yongki Komaladi ke arah pos penjaga komplek apartemen tersebut.

Beberapa saat bibirnya sibuk berbasa-basi dengan petugas jaga apartemen. Setelah itu dia dengan lancar menceritakan maksud kedatangannya ke komplek tersebut. Tutur bahasanya yang halus dan lembut membuat mata petugas jaga tersebut terkesiap. Kekaguman terlihat jelas di matanya. Seumur-umur jarang sekali lelaki paro baya tersebut menemui lelaki muda usia dengan gaya bahasa yang santun.

Rabu, 21 Desember 2011

Secercah Cahaya Gerimis

http://iib-ibrims.blogspot.com/2011_05_01_archive.html
Rinai gerimis perlahan membumi. Matahari yang sempat berbagi, kini kembali bersembunyi. Menghilang dalam buaian selimut sang awan. Malu,  jika nantinya sinar putih keperakannya terurai menjadi aneka warna yang elok di pandangan. Sementara dinginnya hawa di pagi itu kian terasa menusuk tulang, pun bagi Iqbal yang pulang berlari pagi.

Iqbal yang terjebak gerimis segera berlari menuju ke teras rumah kosong di seberang sebuah apartemen. Rumah besar yang tepat berapa di depan apartemen tersebut, terlihat bersih dan rapi. Sambil menunggu gerimis mereda, dia sibuk bercerita dengan seorang bapak penjaga rumah. Lelaki berusia sekitar 45 tahun tersebut adalah lelaki pendatang yang ditugaskan oleh sang majikan untuk menjaga rumahnya. Sementara sang majikan lebih banyak berada di Jakarta dan kota Denpasar untuk mengurusi bisnis restorannya.

Senin, 19 Desember 2011

Siluet Seraut Wajah Di Ujung Senja

http://www.kaskus.us/
Senja telah menjelang. Langit yang biru perlahan berganti warna kemerahan. Semakin dalam matahari tenggelam ke ufuk barat, bias kemerahan itu semakin menebal sebelum nantinya hilang berganti dengan jelaga hitam yang semakin memekat. 

Iqbal yang telah lama menjalankan tugas di kota kelahirannya bergegas untuk pulang. Mobil dinas dari perusahaan yang setia menemaninya kini dikemudikannya sendiri. Toyota Avanza hitam keluaran terbaru tersebut perjalan tenang menyusuri jalanan dari kantor ke rumah orang tuanya. Jalanan mulus yang berhias aneka bunga terjajar rapi dalam pot-pot besar. Sementara di beberapa titik tertentu barisan pohon akasia dan ketapang menjadi perindang jalan dari panas dan hujan yang datang menerpa.

Sabtu, 17 Desember 2011

Mawar 07

" Al, kamu tunggu di mobil saja ya! " kataku pada Allanis yang sedari tadi duduk manis di sampingku. Allanis wanita hitam manis dengan rambut keriting terurai sampai ke punggungnya. Kulitnya hitam manis dipadu dengan bentuk bibir mungil menggantung di bawah hidungnya yang mancung. Alisnya yang tebal menambah kesan manis yang ada padanya.

" Aku mau ikut kamu Jon. Masak gak boleh sih? " rengek manja Allanis sambil menarik lengan bajuku lembut. Matanya genit menggoda.

" Gak usahlah Al. Aku gak lama, paling hanya sekitar 15 menit saja. " jawabku pelan seraya turun. Tanganku segera menggenggam kamera yang sedari tadi menggantung di leherku. Sementara Allanis memilih untuk diam di dalam honda jazz yang aku parkir di depan sebuah rumah tua peninggalan jaman Belanda.

Minggu, 11 Desember 2011

Vonis Terakhir

Waktu terus berlalu. Xixi dan Daniel terus berusaha untuk berkonsultasi dengan beberapa dokter. Rangkaian test mereka lakukan. Dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain rela mereka lakukan. Hingga akhirnya sesuai dengan kesepakatan mereka berdua, mereka akan melakukan test terakhir ke dokter yang direkomendasikan dokter Widodo. Dan hari ini hasil test tersebut akan mereka ketahui.

Seperti pemberitahuan yang diberikan dokter Septian, sore ini mereka akan diberitahu tentang hasil medical mereka berdua. Daniel dan Xixi memilih datang lebih awal dari waktu yang telah disepakati. Sebelum bertemu dengan dokter Septian, mereka berdua berjanji untuk saling menguatkan. Apapun hasil test yang mereka terima hari ini, mereka harus kuat. Itulah janji mereka berdua.

Kamis, 08 Desember 2011

Pukulan Ke Dua

http://dreesc.wordpress.com/2010/06/24/terpuruk/
Xixi dan Daniel duduk tertegun. Di seberang meja yang memisahkan mereka duduk dokter Widodo dengan wajahnya yang kalem dan bersahaja. Raut muka Xixi dan Daniel berubah-ubah dengan cepat. Tak beraturan seperti segumpal kertas yang telah lecek dimainkan tangan. Kadang datar. Kadang tegang. Di lain waktu kelihatan tak percaya. Hanya satu yang pasti dari mereka berdua, sorot mata mereka sama-sama terpaku dengan lembaran kertas yang mereka pegang.

Hampir sepuluh menit lamanya mereka terpaku dalam tatap mata tak percaya. Hanya komunikasi sunyi dengan lembar kertas di tangan saja yang mereka berdua lakukan. Sementara dokter Widodo hanya diam melihat perubahan raut muka mereka berdua. Dia sadar kalau mereka berdua butuh waktu untuk menguasai diri. Saat ini rasa tak percaya masih mencengkeram pikiran mereka. Ketakpercayaan akan hasil medical yang mereka jalani kemarin.

Minggu, 04 Desember 2011

Rangkaian Test

http://cutcaster.com/
Seperti apa yang dikatakan oleh dokter Widodo kemarin, hari ini Xixi akan melakukan medical check up untuk mencari penyakit apa yang sesungguhnya mendera dirinya beberapa waktu yang lalu. Dan karena janji itulah, Kini dirinya tengah bersiap untuk kembali mengunjungi dokter Widodo di rumah sakit Dr. Soetomo. Dengan masih ditemani oleh pembantunya yang setia, Xixi keluar dari apartemennya. Saat itulah sebuah taxi berhenti di depan pintu masuk apartemenya. Dari dalam taxi turun sesosok lelaki yang begitu dikenalnya.

" Mas Daniel! " pekik Xixi begitu lelaki yang turun dari taxi membalikkan badannya. 

Jumat, 02 Desember 2011

Mencari Second Opinion

http://cantigi.net/2011/10/sindoro/
Tetes-tetes embun menghiasi pepucukan rumput dan bunga-bunga yang rapi berjajar di halaman apartemen tempat tinggal Xixi. Sejak pulang dari rumah sakit, baru hari ini Xixi terbangun di pagi hari dengan kondisi tubuh yang lebih baik dari yang sudah-sudah. Kemilau warna perak yang membias ketika menyambar embunan di pagi itu begitu indah untuk dinikmati. Nyanyian kenari dan tekukur laksana orkestra hidup di telinganya. Merdu menjalar ke setiap bagian tubuhnya. Relaksasi yang begitu menggodanya untuk terus menikmatinya.

Sejuknya udara di pagi itu mampu membangkitkan semangat baru dalam hidupnya. Merdu kicauan burung piaran tetangganya seperti stimulan yang memacu nyala asa yang sempat terlunta luka. Dibulatkan tekadnya untuk mencari second opinion untuk penyakit yang di deritanya. Apalagi kondisi tubuhnya kini telah membaik. Tak ada alasan lagi baginya untuk bermalas-malasan menunggu kesembuhan tanpa daya dan upaya yang diusahakan. 

Rabu, 30 November 2011

Titik Balik

http://syarahz.wordpress.com/
Hari-hari terus berlalu meninggalkan Xixi yang terus termangu dibuai rasa tidak percaya dengan apa yang dialaminya saat ini. Hasil diagnosa yang disampaikan dokter sungguh di luar dugaanya. HIV/AIDS? Kata-kata itu selalu berotasi dalam benaknya. Berkali-kali dia berusaha untuk menghilangkannya dari pikiran, namun tak jua mampu dilakukan.

Xixi terus memikirkan hal itu. Hal yang mana membuat proses pengobatannya menjadi lambat. 10  hari telah berlalu dari vonis yang dokter sampaikan, hingga kini keadaannya tak banyak berubah. Semangatnya untuk mencoba segala upaya demi kesembuhannya saat ini jatuh ke titik nadir. Namun pembantu yang selama ini setia menjaganya tak henti untuk terus menyemangatinya. Beberapa kali dengan sabarnya wanita yang seumuran dengan ibunya tersebut menyediakan bahunya yang mulai menua untuk jadi tempat Xixi mencurahkan air matanya.

Selasa, 29 November 2011

Vonis Kejutan

Hari-hari terus berlalu meninggalkan goresan-goresan memory yang tak muda dilupakan. Begitupun bagi kehidupan yang sedang Xixi jalani. Terjalnya jalan yang dilaluinya datang silih berganti dengan hadirnya suka yang selalu dia nikmati. Perasaan suka yang dinikmatinya tak ubahnya seprti debu-debu yang segera menutupi luka-luka yang dulu pernah mendera.

Setelah debut filmnya yang sukses, kehidupan Xixi berubah 180 derajat. Xixi wanita panggilan kelas atas dari kota Surabaya telah menjadi bintang film ternama. Tawaran main film datang silih berganti. Namun karena tak mendapat persetujuan dari pak Daniel, tidak semuanya bisa Xixi terima. Keberhasilan film pertamanya tak lantas membuatnya meninggalkan profesi lamanya tersebut. Saat-saat tertetntu dia masih mau melayani ajakan lelaki hidung belang untuk cinta satu malam.

Minggu, 27 November 2011

Ode Untuk Koruptor

http://justnurman.wordpress.com
Luruh gemuruh ombak bersauh
Mengiring degup yang kian bertalu
Menyapu selaksa deru memompa pembuluh
Tersipu malu karena ulah para benalu
Menumpang hidup pada induk semang selalu
http://centraldemokrasi.com

Sabtu, 26 November 2011

Menghardik Takdir

Denting gemerisik air berderik
Nyanyian sengau bernada syirik
Lunglai merepih guliran detik
Tak bergeming walau setitik

Kamis, 24 November 2011

Pengalaman Pertama Ikut Lomba Nulis

" Apa ikutan lomba? " kata-kata itu sontak terlempar dari bibirku saat itu. Saat di mana seseorang yang terus memancing ide kreatifitasku untuk terpacu. saat aku bilang "aku tak punya naskah" dia hanya tersenyum saja di saluran telepon yang menghubungkan kita. Begitu selesai tersenyumnya, dia memintaku untuk membuka inbox kompasianaku. Dan dia ternyata sudah nginboxin aku link tentang lomba yang aku ikutin kemarin. Saat aku bilang gak pede, dia tidak menyerah terus memintaku untuk ikutan. Dan akhirnya bujukan tersebut aku terima. Itulah penggalan kisah yang mengawali keikutsertaanku di lomba menulis berdasar iboxan tanggal 26 juni 2011.

Kamis, 10 November 2011

Kabar Kejutan

Hari-hari terus berlalu. Perlahan-lahan Iqbal bisa sedikit demi sedikit melupakan pertemuannya dengan Xixi. Kesibukan-kesibukannya berolahraga bersama Vita terus menggerus ingatan-ingatannya akan kehadiran Xixi. Hampir setiap hari mereka berdua selalu berolahraga bersama. Dari sekedar joging ringan sampai ikut panjat tebing. Bahkan kadang di akhir pekan Vita mengajak Iqbal bersepeda gunung ataupun rafting. Lama-lama Iqbal yang tadinya tidak suka berolahraga, menjadi suka berolahraga.

Kini Iqbal telah kembali seperti sedia kala. Hari-harinya senantiasa diliputi oleh kebahagian. Teman-teman sekantornya pun kembali melihat senyum ceria selalu terpancar di wajahnya. Sementara beberapa orang karyawati yang sekantor dengannya, perlahan mulai mencoba mendekati lelaki yang telah menjadi salah seorang kepercayaan big boss.

Selasa, 08 November 2011

Belajar Acting


http://www.mylot.com
Waktu terus berlalu. Melalui berbagai pertimbangan dan komunikasi intens yang dilakukan pak Daniel, Akhirmya Xixi mau menerima tawaran dari pak Daniel. Tawaran bermain film laga yang akan diproduksi pertengahan tahun depan tersebut bagi Xixi terlalu sayang untuk dilewatkan. Bagaimanapun itu adalah peluang emas yang tak mungkin datang 2 kali dalam hidupnya.

Dengan berbagai pertimbangan, Xixi memutuskan untuk tetap bertahan di Surabaya. Dia hanya akan ke Jakarta sebulan sebelum shooting dan selama shooting. Sementara jika tak ada jadwal shooting, Xixi lebih memilih untuk meneruskan aktifitasnya di Surabaya.

Sabtu, 05 November 2011

Kejutan Dari Sang Tamu

dechristhoper.com
Dua hari sudah Xixi menemani pak Daniel meetimg bersama calon sutradara yang akan menangani film laga terbarunya. Dalam dua hari tersebut, Pak Daniel sudah sepakat dengan Bruce Alain Wheldon untuk memulai produksi film tersebut pertengahan tahun depan. Dan dalam rentang waktu sisa, mereka berdua akan mengadakan audisi untuk pemeran utama wanita. Dalam pembicaraan mereka berdua, beberapa kali pak Daniel menyebut nama Xixi sebagai salah satu bintang yang direkomendasikannya. Awalnya Bruce menolak usulan tersebut, namun setelah melihat wajah dan bahasa tubuh Xixi, Bruce setuju untuk mencobanya. Namun dia meminta agar hal itu dibicarakan dulu antara pak Daniel dan Xixi sendiri.

Selama dua hari di Bali, di sela-sela acara meeting Xixi dan Pak Daniel berjalan-jalan menikmati suasana dan pemandangan indah pulau Bali. Meski telah beberapa kali datang ke Bali, pak Daniel mengaku menyukai suasana Bali yang tidak sesemrawut Jakarta. Meski kemacetan mulai menyapa beberapa bagian pulau ini, tetapi tidaklah separah di Jakarta. Bising suara mesin dan klakson juga tidaklah separah Jakarta. Bisa dikatakan Bali lebih tertib dan berbudaya dalam berlalu lintas.

Jumat, 04 November 2011

Pelangi Di Ujung Savana

http://www.fanbox.com/
Menapak savana berawan
Bingkai biru kenangan
Menarikan tangan rangkai oxygen yang beterbangan
Sisakan kesejukan tak tertawan

Pertemuan Di Bali

Hari-hari terus berjalan dengan konstannya. Perlahan namun pasti Xixi terbiasa dengan keadaan dirinya sekarang. Setelah kasus perselingkuhan Ferdy yang terbongkar di pagi buta tersebut, Xixi langsung kembali ke kehidupannya. Berlari dari satu pelukan lelaki jalang ke lelaki hidung belang lainnya. Hampir bisa dikatakan tak ada lagi tempat untuknya bersedih mengenang pengkhianatan tersebut.

Yang sedikit berbeda hanyalah kini dirinya menjalankan semuanya sendirian. Mulai dari mencari laki-laki penikmat kehangatan yang dia tawarkan, Menentukan lokasi pertemuan dan transaksi juga dihandlenya sendiri. Namun itu semua tak membuatnya berkeinginan untuk kembali ke pelukan lelaki yang telah memanfaatkan dirinya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. 

Selasa, 01 November 2011

Pahlawanku, Aku malu

http://chemistry35.blogspot.com

Galau menyusur jalan berbatu
Terpelanting pada sebuah kata Malu
Terbit dari sanubari yang terbuai pilu
Melihat bangsaku terlupa sejarah lalu
Tentang perjuangan dan pengorbanan para pendahulu

Resah kata terendap rasa
Melihat mereka yang terbaring di sana
Jasad-jasad tertelan cacing dan serangga
Seperti jasa mereka yang terlupa masa
Hingga tahta buat  katarak mata hati kita

Pengkhianatan

mansyur7.wordpress.com
Rentang waktu terus tertarik menjauh dari berbagai kejadian yang telah dilalui anak-cucu adam. Begitupun takdir yang harus dihadapi oleh Xixi. Perlahan tapi pasti Xixi telah melupakan peristiwa pertemuannnya dengan Iqbal, meski Iqbal di sisi lain masih terus terkenang dengan pertemuan tersebut. Aktifitas Xixi seperti hembusan angin sepoi-sepoi yang perlahan melenakan dirinya hingga terlelap dalam dekapannya. Semakin jauh dan semakin melenakan.

Hari itu selepas menemani seorang tamunya dari Jakarta, Xixi pulang dengan naik taxi menuju apartemen yang ditinggalinya bersama Ferdy. Hal itu dilakukannya karena Ferdy tak bisa menjemputnya. Mobilnya lagi bermasalah. Alasan tersebut sebenarnya tidaklah masalah buat Xixi, tetapi kata-kata dari sang tamu jika dirinya sebenarnya dibayar lebih mahal dari yang Ferdy katakan kepadanyalah yang membuat Xixi marah. Menurut lelaki bertato yang tadi memakai jasanya, dirinya telah membayar Xixi senilai 3 juta untuk semalam. Sementara Ferdy berkata kepadanya jika dirinya hanya dihargai sebesar 1,5 juta saja seperti  beberapa transaksi terakhirnya.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...