Kamis, 16 Agustus 2012

Resensi Buku : Ouhibouki Areta


Ouhibouki Areta
Risma El Jundi

            Novel Ouhibouki areta mengisahkan cerita cinta bersetting kerajaan Maroko. Kedua tokoh utama adalah Asyam Bachir, seorang pelajar Indonesia yang sedang memperdalam ilmu agama di negeri maghribi tersebut. Areta, muslimah Maroko yang mempunyai garis keturunan Indonesia dari sang Umi.
            Cerita bermula dengan keberhasilan Asyam Bachir, pemuda keturunan Minang meraih beasiswa S2 dari Universitas Muhammed V. Di Maroko, Asyam berkenalan dengan seorang gadis bernama Areta. Areta yang baru menyelesaikan pendidikannya di Universitas Madinah Internasional. Kepulangannya ke Maroko juga untuk melanjutkan pendidikan S2-nya di Universitas Muhammed V.

Jumat, 03 Agustus 2012

Perspektif Saya Tentang Muhammadiyah

Hari ini, setelah semalam berhasil mendownload ceramah agama dari AA Gym dan beberapa KIAI lainnya yang tidak begitu terkenal, saya mendengarkannya dengan antusias. Awalnya saya menikmati ceramah AA Gym di Korea. Ceramah yang dibagi dalam 9 bagian itu begitu menyejukkan saya. Terlepas dari masalah yang pernah mendera beliau, saya sangat menikmati ceramahnya. Bagi saya, masalah pribadi tidaklah mempengaruhi keinginan saya untuk mendengarkan ceramah yang bersangkutan. Dan benar, gaya bahasa beliau yang santun, begitu menyihir dan merasuk dalam hati saya.

Selepas ceramah AA Abdullah Gymanstiar, saya mendengar ceramah seorang kiai lokal jawa timur. Kiai yang berasal dari daerah Bojonegoro tersebut sebenarnya di awal ceramah sudah bagus dan menarik. Penyampaiannya yang diselingi dengan humor sungguh menyegarkan. Ceramah yang berdurasi 95 menit itu mencapai klimak di tengah-tengah ceramah. Dengan kebanggaannya sebagai seorang NU, beliau menghina alasan/landasan Muhammadiyah dalam menjalankan roda oragnisasinya. Sejujurnya hal itulah yang langsung menggerakkan tangan saya untuk menskip ceramah yang masih berjalan kurang dari 45 menit tersebut. Bukan karena saya seorang yang sedari kecil besar di lingkungan Muhammadiyah, tapi saya kurang "sreg" dengan gaya bahasa-nya yang kasar dan kefanatikan yang bisa diartikan lain sama jamaahnya.

Jumat, 22 Juni 2012

Yang Kan terlupa

Seperti lukisan Usang
Terbuang kala suka telah Lekang
Tersingkap masa yang terus menerjang
Menjadikanmu sebuah bayang

Senin, 11 Juni 2012

( FF ) Akad

Mataku terkunci di genggaman tangan lelaki setengah baya itu. Matanya yang kenyang menikmati asam garam kehidupan menguliti tubuhku. Debaran jantung ini serasa lebih kencang dari gemuruh salju yang runtuh dari puncak alpen. Hawa dingin menyergap kening dan tengkukku, merindingkan romaku.
Sementara......

Minggu, 10 Juni 2012

Jejak-jejak Rindu

Jejakmu masih tersisa di sini. Bersama rangkaian lukisan yang kembali ku-slide dalam memoriku.
Senyummu, candamu semua masih mengharu ingatanku. Bersama jejak-jejak air matamu yang kau sisakan di pundakku.

Keabadianmu, Kehilanganku

Lembar lembar bunga menetes dari sela jemariku, mengiringi air membasuh tanah sehabis tercabik cangkul. Membentuk gunung kecil bermahkota di kedua sisinya. Memanjang segaris denganmu.

Kutinggalkan Lara, Untuk sebuah Asa

Langkahku mantab meninggalkan hiruk pikuk tetamu yang bergemuruh. Tangis sedih, raut kecewa dan tak percaya bersenyawa dengan tatap mata heran mengiringi langkahku . Tangis Exa yang tak terbendung, tak mampu menyurutkan langkahku. Kutinggalkan penghulu dan wali nikah yang duduk mematung.

Perih

Aku tertegun. Kata-katamu menusuk ke relung hatiku. Kukuatkan hati ini untuk mendengarnya, untuk mencernanya. Namun semakin dalam aku mencernanya, semakin dalam katamu menusuk.
Aku Ingin teriak, aku ingin memaki. Tapi lidahku telah terkunci. Telingakupun terpatri, untuk selalu terpaku dengan kata-katamu yang begitu kubenci. 

Minggu, 03 Juni 2012

( Bukan ) pemuja Setan

Barisan orang berjubah hitam semakin merapat. Degup jantungku bertalu menghentak dada, mengiring kerumunan yang makin memekat. Desa Rangkat baru saja kulalui, langkahku kembali telah tertutup pengepungku
“ Mau apa kamu kesini? “ tanya salah seorang dari mereka sambil memutar tongkat besi di tangannya.

Penerbangan Terakhir

Debaran jantungku perlahan kembali normal. Katakutanku menjelang take off tadi begitu keras menghentak. Pertama kalinya aku mencoba menerbangkan pesawat di lokasi ini. Lokasi yang indah dan berbukit-bukit.
Pesawat melayang tenang dalam kendaliku. Desa Rangkat yang indah menggodaku di sela-sela bebukitan. Aku terlena, tak kusadari sebuah tebing menantang kepakan sayap pesawat terbaruku.

Selasa, 01 Mei 2012

Jalang Liarku

Desah nafasmu masih terasa
Membaluri buluh perindu yang terjaga
Bersama nafas yang tak henti terpompa
Mengiringi liarnya rasa yang berkuasa

Wangimu masih terbaca
Dersama ion-ion udara yang menyapa bulu penciumanku
Mengantar sejuta rasa mengembara
Tuk menyingkap rahasia yang belum terjamah

Kamis, 26 April 2012

Rindu Tak Bertuan

Kalimaya art galery

Kau tinggalkan rasa selaksa bara
Membakar nadi menyentuh rongga
Mengulum jiwa pada ruang hampa
Saat ragamu tak lagi berada

Selasa, 24 April 2012

Pelukis Mimpi

Ingin kusibak jelaga yang menari di wajahmu
Agar kulihat lagi birunya langit menghias bola matamu
Menyapu debu-debu lusuh di hatimu
Yang tlah membunuh pancaran sinarmu

Senin, 16 April 2012

Esok Tak Pernah Ada

Esok?
Masih adakah kata yang terucap
Saat ujung titiap makin kental mengendap
Menyergap pandang mata yang tak bisa lagi berhenti menatap

Esok?
Masihkah kan kau berharap hadirnya
Saat matahari beranjak tersia-sia tanpa prestasi nyata
Sementara dia tak pernah bisa memutar arahnya
Hanya bergerak setapak demi setapak langkahnya
Hingga akhir dunia kan tiba waktunya

Rabu, 11 April 2012

Bourjuis Narsis

Kita tidak sedang mematut diri di papan catur
Melihat setiap langkah untuk dicounter
Dengan berbagai muslihat yang terpikir nalar
Liat meliuk tarian liar
Demi sebuah kata bermakna kemenangan besar

Kita tidak sedang bersandiwara
Memainkan kisah seribu muka
Berwajah cantik bengis menggoda
Ataupun melankolis mengundang iba

Selasa, 27 Maret 2012

Cakar - Cakar Hitam Masa Lalu

kalimayaartgalery

            Adzan isya’ telah berlalu. Jamaah sholat isya masjid al Ikhlas pun berangsur-angsur kembali ke rumahnya. Pun dengan Xixi yang telah berada di masjid sejak waktu ashar tadi. Dengan irama yang teratur, diayunkan langkah kakinya menuju rumah yang ditempatinya. Rumah mungil bercat kuning yang bertempat di ujung gang dekat masjid al-Ikhlas. Rumah yang dibelinya dari sisa uang tabungannya.
“ Dasar sundal. “ maki seorang ibu ketika  berpapasan dengannya.
            Xixi tak menjawab makian tersebut. Hanya suara istighfar yang terlontar dari bibirnya. Seulas senyum yang setengah dipaksakan tersungging dari bibirnya yang mungil. Senyuman untuk menutupi luka hatinya, setiap kali kata-kata hinaan menghampirnya. Telinganya yang terbungkus jilbab serasa sudah kebal, karena setiap hari mendengar makian dan cemoohan warga. Namun dia selalu berusaha bersabar menghadapi semua hinaan itu. Setiap cemoohan yang diterimanya, dibalasnya dengan do’a-do’a kebaikan. Do’a-do’a yang selalu dipanjatkannya di setiap waktunya. Tak ingin dia berlama-lama terlarut rasa dendam dan sakit hati.
“ Hee Sundal, ditunggu sama pelangganmu itu. “ kata seorang ibu lain saat berpapasan di dekat rumahnya. Tatap mata sinis dan penuh kebencian terlihat di matanya.

Minggu, 25 Maret 2012

Anakku Bukan Esktrimis II


http://icus2ays.blogspot.com/2009/01/intifadah.html
“ Dorrr…..dorrr….dorrr “ bunyi tembakan dari sniper yang berlindung di beberapa gedung terus memburu langkah-langkah kecil Ali yang lincah berlarian di atas puing-puing bangunan. Tumpukan batu bata dan bahan bangunan lainnya merupakan pemandangan harian yang selalu menyambut sinar matahari di bumi Gazza. Pun dengan bunyi tembakan yang yang terus memburu tubuh kurus Ali Bin Suhail, bocah kurus berusia 15 tahun bersenjatakan ketapel yang selalu tergantung di lehernya.
                        Ali adalah putera Abu Suhail yang mati terbunuh dua tahun yang lalu. Abu Suhail terbunuh saat pasukan Israel menyerang sebuah masjid di Gazza. Abu Suhail yang sedang sholat subuh berjamaah menjadi korban berondongan senapan mesin bersama puluhan jamaah lainnya. Bangunan masjid tempat mereka sholat rata dengan tanah dihujani tembakan mortir dan bom yang dijatuhkan pesawat pembom Israel.
        

Selasa, 20 Maret 2012

Keteguhan Hati


Hari-hari terus berganti. Hubungan Xixi dan Iqbal semakin dekat. Kedekatan yang mereka jalani semakin membuat warga di sekitar tempat tinggal Xixi panas. Bagaimanapun mereka tahu siapa Iqbal. Berasal dari keluarga seperti apa pemuda tampan tersebut. Sejujurnya di hati kecil ibu-ibu sekitar rumah Xixi, menganggap hubungan itu tidak sepantasnya. Iqbal, putera seorang pemuka agama yang mereka hormati menjalin hubungan dengan seorang mantan pelacur.
Banyak ibu-ibu yang merasa, Iqbal lebih pantas mendapatkan wanita yang lebih baik. Bahkan ada beberapa orang ibu yang rela menyodorkan anak gadis ataupun saudara perempuannya yang masih gadis agar Iqbal mau mengawininya. Namun tak ada tanggapan dari pemuda tersebut.

Kamis, 15 Maret 2012

Belenggu Masa Lalu


kalimayaartgallery
             Mentari yang perlahan mulai meninggi mengiring langkah-langkah kaki Iqbal dan Xixi yang berjalan bersisian meninggalkan masjid Agung Al Akbar Surabaya. Langkah-langkah kaki yang menuntun mereka ke area taman di depan masjid. Sambil berbincang mereka terus berjalan menjauh dari halaman masjid.
“ Kita duduk di sini saja ya? “ tanya Iqbal sambil menjatuhkan pantatnya ke pangkuan kursi taman yang kosong. Kursi kayu bercat hitam yang berdiri kokoh di atas pijakan ke empat kaki-kakinya. Semilir hembusan angin membawa aroma bunga-bunga yang bermekaran di sekitarnya.
            Xixi tak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya mengikuti langkahnya dengan duduk di kursi sebelah Iqbal. Tempatnya yang terbuka dan dipayungi sebuah pohon yang menawarkan kesejukan.   Tangannya yang terlindung baju kurung panjang tersembunyi di balik kerudung birunya yang panjang.

Rabu, 07 Maret 2012

Pertemuan

tausiyah.wordpress.com


            Diiringi sinar matahari yang masih panas membakar kulit, Iqbal menuju ke masjid al Ikhlas. Secarik kertas yang diperoleh dari petugas adminitrasi rumah sakit kemarinlah yang menuntun langkahnya ke masjid tersebut. Xifana Adestya Maharani, nama yang tercantum di kertas tersebut begitu menarik perhatiannya. Terbayang wajah wanita yang kemarin pingsan saat terserempet angkot. Wajahnya yang putih dipadu dengan kerudung biru sungguh suatu pemandangan yang menyejukkan hati. Meski hanya sesaat melihatnya, kenangan itu membekas di hatinya.
            Namun sesungguhnya bukan hal itu yang membuatnya ingin bertemu. Keinginannya bertemu murni hanya ingin tahu bagaimana keadaan gadis yang kemarin diantarnya ke rumah sakit. Seberapa parah luka yang dideritanya saat ini.  Hembusan angin seakan ikut mendorong langkahnya untuk segera bertemu dengannya.
“ Assalamu alaikum.” Iqbal menyapa seorang bapak-bapak tua yang tengah duduk di teras masjid. Tangannya terus memutar tasbih. Bibirnya yang dipait kulit pipi yang mulai mengeriput terus berkomat-kamit membaca dzikir.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...