Jumat, 21 September 2012

Tangisanku Untuk Bumi Blambangan


http://satunegeri.com/tambang-emas-tumpang-pitu-milik-imn-sampai-2015.html



                Raut muka tak percaya mengiringi langkahku turun dari mobil. Keempat rodanya yang terkunci tanah berlumpur tak lagi mampu bergerak, hingga memaksaku meninggalkan mobil 4WD itu di sini. Sudah beberapa kali kakiku menginjak gas dalam-dalam, namun roda mobil enggan menjauh dari kubangan tanah lempung yang becek tersiram air. Mataku mengejar arah air yang menggenangi jalan itu berasal. “ Ah bukit indah itu kini berantakan. “ gumamku. Sesosok bukit yang beberapa tahun lalu berdiri kokoh dengan balutan warna hijau pekat kini telah muksa. Ya warna hijau yang terlihat seperti bertumpuk 7 lapisan itu kini gersang. Hanya sosok bukit kering kerontang dengan dominasi warna kecoklatan yang menyambut mataku.

Rabu, 19 September 2012

Kamis, 06 September 2012

Debat Kusir Pendukung Foke


http://kopidangdut.org/tag/politik/
              Tanggal 28 Agustus kemarin, untuk pertama kalinya, setelah beberapa lama enggan ikut debat online akhirnya saya ikut debat di wall grup Kompasiana. Saya tertarik untuk ikut berdebat bukan untuk menunjukkan apa yang saya punya. Bukan pula untuk membela satu pendapat. Dua hal itu ditambah untuk menjatuhkan pendapat orang lain tidak pernah terlintas dalam benak saya. Saya ikutan debat hanya ingin menjadi penengah untuk orang-orang yang sedang berdebat masalah PILKADA DKI.
            Dua kubu yang berdebat, menurut saya sudah terpancing ke arah debat kusir. Mereka tidak sedang mengupas / mendalami isi postingan yang salah satu pihak posting ke wall grup. Tapi mereka saling menjatuhkan, terutama dari kubu calon incumbent. Sanggahan atas postingan yang mereka berikan selalu dijawab dengan link-link berita dari situs-situs yang patut kita pertanyakan kebenaran beritanya. Dan link-link berita itu sebenarnya hanya alibi lemah atas postingan mereka. Saat mereka terdesak karena tidak bisa menjawab sanggahan sang lawan, mereka malah menyerang sisi-sisi pribadi lawan dengan melempar kata-kata yang tak sepantasnya seperti anggota partai terlarang ataupun suatu golongan dalam agama islam yang tidak bisa dengan mudah disematkan kepada oran-orang yang seiman ataupun orang non muslim.

Jumat, 31 Agustus 2012

Lintang Lontar ( Bintang Yang Terbuang )


http://andrew-christian.blogspot.com/2012/07/misteri-lubang-hitam-black-hole.html
            Suara gamelan bersinergi dengan erangan serangga malam, mengiringi pementasan seni gandrung yang dibawakan grup kesenian Pacul Guwang. Beberapa penari yang mereka bawa silih - sambut menghibur para penonton setianya. Kibasan sampur yang melilit leher para penari sesekali menyapa penonton. Yang mendapat sampur segera berjoget mengiringi gerak tubuh sang penari meliuk bersama alunan suara gamelan.
Suara riuh penonton semakin ramai, mengiring tatap-tatap mata yang tak berkedip memandang ke atas pentas. Setelah beberapa penari meramaikan pentas seni di pendopo kelurahan Temuguruh, akhirnya sang idola tampil. Sosok cantik dengan tubuhnya yang nyaris sempurna memulai aksi. Sambil berjalan, lentik jemarinya terus menari mengikuti irama gamelan yang seakan telah menyatu dengan dirinya. Gerak tubuhnya yang dinamis seakan menjadi dirigen untuk para penabuh gamelan. Saat dia bergerak cepat, hentakan gendang cepat mengikuti gerak kakinya. Pun saat gerak tubunya melambat, hentakan gendang sebagai pemegang komando gamelan ikut melambat.

Senin, 27 Agustus 2012

Kendang Kempul


               Kendang Kempul adalah sebutan untuk musik etnik yang lahir dan berkembang di Banywangi, Jawa Timur. Menurut sejarahnya, cikal bakal kendang kempul telah ada dan berkembang sekitar tahun 1920-an akhir. Lagu ( Gending = bahasa Using ) yang diciptakan saat itu untuk mengiringi kesenian seblang / gandrung Blambangan. Lagu awal yang diciptakan saat itu antara lain “ keriping sawi “ dan “ keok-keok “.
            Ada beberapa pendapat yang menjadi rujukan untuk awal mula berkembangnya musik Kendang Kempul. Ada pendapat yang menyatakan seperti di paragraf pertama. Ada pula yang menyatakan bahwa musik kendang kempul naru berkembang di sekitar tahun 1960-an, menjelang peristiwa G3S/PKI. Pendapat ini diperkuat dengan adanya salah satu lagu kendang kempul “ Genjer-genjer “ yang fenomenal di masa itu dinyanyikan oleh underbow partai ( LEKRA ). Ada pula yang menyebutkan perkembangan kendang kempul di mulai tahun 1980-an. Tapi menilik adanya instruksi bupati Banyuwangi 1966-1978  Djoko Supaat Slamet di tahun 1970 untuk membangkitkan musik Banyuwangi yang sempat mati suri, penulis lebih condong saama pendapat yang ada di paragraf pertama.
            Perkembangan kendang kempul semakin baik saat unsur musik angklung ikut masuk. Kendang kempul yang tadinya hanya dimainkan dengan alat : Gendang/Kendang, Kempul/Gong Besar, Kluncing ( Triangle dari kawat besi dan pemukul besi, seukuran beton neser lebih tebal sedikit ),  serta beberapa perangkat gamelan yang biasanya digunakan untuk mengiringi pementasan gandrung.
Seiring perkembangan jaman, kendang kempul terus berbenah. Tahun 1980-1990-an akhir, kendang kempul didominasi oleh penampilan Emilia Contessa, Sumiati, Alip S, Cahyono ( pelawak Jayakarta Group ) Suliana dan masih banyak lagi. Musik kendang kempul pada masa ini masih bisa dikatakan sebagai kendang kempul versi aslli, karena lebih mengandalkan perangkat gamelan untuk pengiringnya. Pada masa ini yang menjadi superstarnya adalah Sumiati dengan lagu fenomenalnya “ gelang alit” Bahkan seorang Sudjiwo Tedjo di akun twitternya menyatakan lagu ini “ penuh daya magis “.

Kamis, 16 Agustus 2012

Resensi Buku : Ouhibouki Areta


Ouhibouki Areta
Risma El Jundi

            Novel Ouhibouki areta mengisahkan cerita cinta bersetting kerajaan Maroko. Kedua tokoh utama adalah Asyam Bachir, seorang pelajar Indonesia yang sedang memperdalam ilmu agama di negeri maghribi tersebut. Areta, muslimah Maroko yang mempunyai garis keturunan Indonesia dari sang Umi.
            Cerita bermula dengan keberhasilan Asyam Bachir, pemuda keturunan Minang meraih beasiswa S2 dari Universitas Muhammed V. Di Maroko, Asyam berkenalan dengan seorang gadis bernama Areta. Areta yang baru menyelesaikan pendidikannya di Universitas Madinah Internasional. Kepulangannya ke Maroko juga untuk melanjutkan pendidikan S2-nya di Universitas Muhammed V.

Jumat, 03 Agustus 2012

Perspektif Saya Tentang Muhammadiyah

Hari ini, setelah semalam berhasil mendownload ceramah agama dari AA Gym dan beberapa KIAI lainnya yang tidak begitu terkenal, saya mendengarkannya dengan antusias. Awalnya saya menikmati ceramah AA Gym di Korea. Ceramah yang dibagi dalam 9 bagian itu begitu menyejukkan saya. Terlepas dari masalah yang pernah mendera beliau, saya sangat menikmati ceramahnya. Bagi saya, masalah pribadi tidaklah mempengaruhi keinginan saya untuk mendengarkan ceramah yang bersangkutan. Dan benar, gaya bahasa beliau yang santun, begitu menyihir dan merasuk dalam hati saya.

Selepas ceramah AA Abdullah Gymanstiar, saya mendengar ceramah seorang kiai lokal jawa timur. Kiai yang berasal dari daerah Bojonegoro tersebut sebenarnya di awal ceramah sudah bagus dan menarik. Penyampaiannya yang diselingi dengan humor sungguh menyegarkan. Ceramah yang berdurasi 95 menit itu mencapai klimak di tengah-tengah ceramah. Dengan kebanggaannya sebagai seorang NU, beliau menghina alasan/landasan Muhammadiyah dalam menjalankan roda oragnisasinya. Sejujurnya hal itulah yang langsung menggerakkan tangan saya untuk menskip ceramah yang masih berjalan kurang dari 45 menit tersebut. Bukan karena saya seorang yang sedari kecil besar di lingkungan Muhammadiyah, tapi saya kurang "sreg" dengan gaya bahasa-nya yang kasar dan kefanatikan yang bisa diartikan lain sama jamaahnya.

Jumat, 22 Juni 2012

Yang Kan terlupa

Seperti lukisan Usang
Terbuang kala suka telah Lekang
Tersingkap masa yang terus menerjang
Menjadikanmu sebuah bayang

Senin, 11 Juni 2012

( FF ) Akad

Mataku terkunci di genggaman tangan lelaki setengah baya itu. Matanya yang kenyang menikmati asam garam kehidupan menguliti tubuhku. Debaran jantung ini serasa lebih kencang dari gemuruh salju yang runtuh dari puncak alpen. Hawa dingin menyergap kening dan tengkukku, merindingkan romaku.
Sementara......

Minggu, 10 Juni 2012

Jejak-jejak Rindu

Jejakmu masih tersisa di sini. Bersama rangkaian lukisan yang kembali ku-slide dalam memoriku.
Senyummu, candamu semua masih mengharu ingatanku. Bersama jejak-jejak air matamu yang kau sisakan di pundakku.

Keabadianmu, Kehilanganku

Lembar lembar bunga menetes dari sela jemariku, mengiringi air membasuh tanah sehabis tercabik cangkul. Membentuk gunung kecil bermahkota di kedua sisinya. Memanjang segaris denganmu.

Kutinggalkan Lara, Untuk sebuah Asa

Langkahku mantab meninggalkan hiruk pikuk tetamu yang bergemuruh. Tangis sedih, raut kecewa dan tak percaya bersenyawa dengan tatap mata heran mengiringi langkahku . Tangis Exa yang tak terbendung, tak mampu menyurutkan langkahku. Kutinggalkan penghulu dan wali nikah yang duduk mematung.

Perih

Aku tertegun. Kata-katamu menusuk ke relung hatiku. Kukuatkan hati ini untuk mendengarnya, untuk mencernanya. Namun semakin dalam aku mencernanya, semakin dalam katamu menusuk.
Aku Ingin teriak, aku ingin memaki. Tapi lidahku telah terkunci. Telingakupun terpatri, untuk selalu terpaku dengan kata-katamu yang begitu kubenci. 

Minggu, 03 Juni 2012

( Bukan ) pemuja Setan

Barisan orang berjubah hitam semakin merapat. Degup jantungku bertalu menghentak dada, mengiring kerumunan yang makin memekat. Desa Rangkat baru saja kulalui, langkahku kembali telah tertutup pengepungku
“ Mau apa kamu kesini? “ tanya salah seorang dari mereka sambil memutar tongkat besi di tangannya.

Penerbangan Terakhir

Debaran jantungku perlahan kembali normal. Katakutanku menjelang take off tadi begitu keras menghentak. Pertama kalinya aku mencoba menerbangkan pesawat di lokasi ini. Lokasi yang indah dan berbukit-bukit.
Pesawat melayang tenang dalam kendaliku. Desa Rangkat yang indah menggodaku di sela-sela bebukitan. Aku terlena, tak kusadari sebuah tebing menantang kepakan sayap pesawat terbaruku.

Selasa, 01 Mei 2012

Jalang Liarku

Desah nafasmu masih terasa
Membaluri buluh perindu yang terjaga
Bersama nafas yang tak henti terpompa
Mengiringi liarnya rasa yang berkuasa

Wangimu masih terbaca
Dersama ion-ion udara yang menyapa bulu penciumanku
Mengantar sejuta rasa mengembara
Tuk menyingkap rahasia yang belum terjamah

Kamis, 26 April 2012

Rindu Tak Bertuan

Kalimaya art galery

Kau tinggalkan rasa selaksa bara
Membakar nadi menyentuh rongga
Mengulum jiwa pada ruang hampa
Saat ragamu tak lagi berada

Selasa, 24 April 2012

Pelukis Mimpi

Ingin kusibak jelaga yang menari di wajahmu
Agar kulihat lagi birunya langit menghias bola matamu
Menyapu debu-debu lusuh di hatimu
Yang tlah membunuh pancaran sinarmu

Senin, 16 April 2012

Esok Tak Pernah Ada

Esok?
Masih adakah kata yang terucap
Saat ujung titiap makin kental mengendap
Menyergap pandang mata yang tak bisa lagi berhenti menatap

Esok?
Masihkah kan kau berharap hadirnya
Saat matahari beranjak tersia-sia tanpa prestasi nyata
Sementara dia tak pernah bisa memutar arahnya
Hanya bergerak setapak demi setapak langkahnya
Hingga akhir dunia kan tiba waktunya

Rabu, 11 April 2012

Bourjuis Narsis

Kita tidak sedang mematut diri di papan catur
Melihat setiap langkah untuk dicounter
Dengan berbagai muslihat yang terpikir nalar
Liat meliuk tarian liar
Demi sebuah kata bermakna kemenangan besar

Kita tidak sedang bersandiwara
Memainkan kisah seribu muka
Berwajah cantik bengis menggoda
Ataupun melankolis mengundang iba

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...