Dia ada
Dia menggoda
Dengan nada pentatonik membahana
Dia di sini
Menanti hari berimaji
Saat jemari tak henti menari
Meniti inchi berpori
Dia di sini
Dengan goresan tinta yang pernah terhenti
Pada koma dimana nalar tlah mati
Hingga desirnya tak lagi nyaring bernyanyi
Dia disini
Bukan menanti penghapus koma pada narasi basi
Bukan pula untuk celoteh tiada henti
Dia disini tuangi hati, untuk titik yang tak pantas disesali
Dia di sini
Goreskan tanda bacanya sendiri
Tak untuk takdirnya yang tlah mati
Tapi untuk bab baru tanpa elegi.
Denpasar. 23052014-2017
Masopu
Bermula pada kata, cerita kan tertata.
Bermula pada kata, gaungnya membahana
"WDY"
Tempatku Belajar Menuangkan Ide, Merangkai kata dan Peristiwa menjadi sebuah cerita.
Jumat, 23 Mei 2014
Rabu, 12 Maret 2014
Menteri Alim itu....
![]() |
| http://zentangle.blogspot.com/2010/03/paradox-q.html |
Bogor, 09 September 2013
Aku bergidik, sejak mengenalmu, baru kali ini kamu menatapku dengan begitu tajamnya. Sorot matamu yang setengah melotot seperti bilah-bilah anak panah Sri Krisna yang mencoba mengoyak tubuh lawannya di
padang Kurusetra. Sorot itu
menciutkan hatiku
yang tidak pernah takut menghadapi marabahaya. Investigasiku dalam beberapa kasus kerusuhan, pembunuhan berantai dan
kasus pelik lainnya, sukses aku taklukkan. Semua karena dukungan moril darimu. Tapi entah kenapa kini kau tidak setuju dengan rencanaku untuk menyelidiki
kasus kecelekaan Lancer EX yang terjadi dinihari kemarin? Padahal kasus itu
nilai jualnya sangat
tinggi di mata awak media sepertiku.
"Sadarkahh kau? Selama ini dirimu seperti
ilalang di savana. Jangankan hembusan angin ribut, sepoi angin yang lembut membelai tubuhmu saja sudah
cukup membuatmu berisik?" Katamu pelan, seakan tanpa semangat. Kau berkata tanpa
kebanggaan seperti yang selama ini selalu kau tiupkan tentang profesiku.
Biasanya kau orang pertama yang berdiri menyemangatiku saat gelisah seperti
ini. Tapi kini, entah kenapa kau berubah. Kau seperti orang lain di mataku.
"Maksudmu apa?" Aku kebingungan melihatmu
bersikap seperti itu.
"Profesimu itu." katamu mantab. “Aku tidak
perlu lagi sembunyikan kegundahan yang selama ini terus menghantui
malam-malamku. Aku takut kehilangan dirimu hanya untuk sebuah kesia-siaan semata. Hanya untuk nilai jual tanpa pesan moral. Itu hanya
pepesan kosong media murahan.”
"Wartawan? Apa yang salah dengan profesiku
sebagai wartawan investigasi?" mukaku memerah seperti kepiting di panggangan.
Jujur
aku tersinggung dengan ucapannya. Aku
berusaha menahan rasa tidak enak yang tiba-tiba saja menggelegak. Entah kenapa rasa itu semakin kuat
merajahi hati. Aku memang
Sabtu, 08 Februari 2014
Tersudut
![]() |
| http://felinophobia.wordpress.com/category/phobia/ |
Telapak tangannya memegang pundakku. Seperti berusaha menahan nyala lilin yang hampir padam, matanya menghujam pusaran korneaku.
Dia tahu saat ini aku terseret di nadir. Dia tahu aku butuh tongkat kecil untuk menopang langkah yang mulai goyah. Karena itu dia berusaha menjadi penopangku.
"Tidak....?"
Aku melotot, melawan tatapannya.
"Apa kamu tahu betapa sakitnya aku? Aku serupa remah-remah roti di antara serbuan ribuan semut. Mereka mencari sisi terlemahku, untuk mencabik dan menyeretnya sepanjang jalan. Aku seperti sosok tidak berguna di mata mereka, selain persembahan untuk sang ratu yang siap bertelur, usai mencerna tubuhku."
Aku berusaha melepaskan tangan Tsiefana dari pundak. Sambil membuang muka, aku memalingkan wajah. Bukan aku tidak mencintainya, tapi serombongan semut merah yang bebaris menarik mangsa, buatku muak.
"Hei kemana perginya Joey, si karang pelindung pantai? Bukankah selama ini dia tegar meski sapuan ombak tak henti menghajar? Adakah dia telah runtuh, tergerus angkuh lidah pembunuh?"
Senin, 03 Februari 2014
(re-write) Lintang Lonthar
Kemirih,
21 Februari 1970
“Mbok
nawi oleh, isun nyilih picise sulung. Nang omah sing nono beras maning. Kang
Karta sing oleh pedamelan. (Mbak, kalau boleh aku pinjam uangnya dulu.
Beras di rumah habis. Kang Karta belum dapat kerjaan).” Pinta Karti, adikku
sambil menimang-nimang Siti, anak semata wayangnya yang baru berusia 16 bulan.
Dia tahu semalam aku baru pulang
mentas di desa Lemah Bang.
Setiap kali pentas, uang saweran yang aku dapat pasti banyak. Semua orang tahu,
Onah adalah primadona panggung. Bintang panggung yang selalu menghadirkan keriuhan
tersendiri saat dia menari. Ada pameo di penikmat tari Gandrung “Sing Onah, sing ono pesona” (tiada onah,
tiada pesonanya)
Aku merogoh buntalan kecil di bawah
bantal. Kukeluarkan beberapa keping uang yang aku dapatkan semalam. Sambil
tersenyum, aku sodorkan uang-uang itu pada adikku yang paling kecil. Sedari kecil dia memang paling
aleman terhadapku. Hingga kini pun, saat sudah berkeluarga, dia masih seperti
itu.
“Iki,
picis isun gawean disik. (Ini, pakailah uangku dulu).”
Seperti yang sudah-sudah, dia
menerima uang itu dengan mata berbinar. Rasa bahagia tergambar di matanya.
Sejujurnya dia lebih cantik dariku.
Matanya yang bulat, seperti sasadara manjer kawuryan1.
Rambutnya yang hitam, ngandan-ngandan2.
Gelombangnya yang halus dan rapi seperti riak kecil air laut yang membelai
pasir pantai Blimbing
sari. Andai mau,
dia bisa jadi bintang
pertunjukan sepertiku, bahkan melebihiku. Tapi dia tidak berbakat menari
sepertiku, itu kenapa dia tidak tertarik mengikuti jejakku.
Minggu, 02 Februari 2014
Nono Coretan
Krikilan, 17 Desember
2013, 19.30 wib
“Ibu tidak setuju dengan pilihanmu.”
“Tapi…”
“Dia kupu-kupu malam, Ray.” Potong ibu
“Itu dulu.” Sanggahku.
“Dulu atau sekarang sama saja. Sekali kupu-kupu malam,
tetap seperti itu.”
“Tidakkah ibu lihat dia sekarang seperti apa. Itu masa
lalunya, sekarang dia sudah berubah. Dia sudah menutup kisah itu. Dia Mey
Ganesha Prameswari yang baru, Mey seorang aktifis sosial.”
“Itu tidak berarti di mata ibu.”
“Ibu, ijinkan Ray menikahinya.”
Kamis, 24 Oktober 2013
Senja
![]() |
| http://www.tripadvisor.co.id/Attraction_Review-g317103-d3464524-Reviews-Pulau_Merah_Beach-Banyuwangi_East_Java_Java.html |
Deburan
ombak mengiringi matahari yang semakin dalam tergelincir. Setapak demi setapak
terangnya berganti, menyapa hembusan bayu yang menyodorkan uap garam. Wisatawan
yang sedari tadi menunggu momen itu segera beranjak berdiri. Ditinggalkan aktifitas
yang mereka lakukan. Permainan ataupun aktifitas lain tak lagi menarik selain
momen ini. Tatap mata mereka menantang sinar mentari yang memantul di atas
gulungan ombak, bersaing dengan buih yang berlarian menuju pantai. Tak mereka
hiraukan silau yang menyapa. Momen itu terlalu indah untuk dilewatkan.
Sabtu, 12 Oktober 2013
Lentera Untuk Bahtera Rapuh
![]() |
| https://www.facebook.com/Kalimaya.Art.Gallery |
Kamu
datang lagi. Masih seperti resep obat dari dokter, kamu datang sehari tiga
kali. Aneka bunga setia berada dalam genggaman tanganmu di pagi dan soremu
berkunjung. Sesaat setelah memutar knop pintu, bunga-bunga itu kausodorkan
padaku. Aroma mewangi yang khas selalu menyapa hidungku, menarik angan untuk
melukis aku dan kamu di awang-awang, menari bersama diaroma awan tipis
melayang. Hatiku benar-benar dibuainya. Aku seperti Ainun, cinta sejati
Habibie, sang tekhnokrat dari Makasar.
Masih seperti yang tercatat dalam memoriku ini, ceria
wajahmu bangkitkan semangat ini. Entah kenapa, saat binar matamu menatap, saat
senyummu hadirkan kilau gigimu yang putih mengkilat, sakit ini seperti sadar
diri, dia pergi. Dia pergi dan enggan kembali sampai waktunya kakimu berlalu
pergi, kembali memasungku dalam sendiri.
Tersanjungkah
aku, jika ternyata aku menyukai sikapmu? Berlebihkah aku, jika anggap hadirmu
adalah anugrah terindah di detik-detik hidupku yang menyempit? Tidak tahu
diriku aku, mencintai sosokmu yang mendekati sempurna. Aku takut rasaku ini
akan berakhir duka. Duka untukmu. Duka untukku.
Kamis, 10 Oktober 2013
Citra Sebuah Jiwa
![]() |
| http://kisah-kisahislamdancinta.blogspot.com/ |
Aku
hanya wujud bernama
Menikmati
gemeretak jemari tangan yang lelah
Ataupun
kesemutan merajah tapak kaki yang menapak lumpur-lumpur basah
Tak
termakan buaian tangan-tangan kuli tinta
Sebarkan
jala-jala pelemah jiwa
Aku
nama yang berjiwa
Citra
dan cita selaras di dada
Mengejar
mimpi yang tiada sempurna
Kembang
tidur sejak aku belia
Selasa, 08 Oktober 2013
Galery Cinta
![]() |
| http://madebayak.files.wordpress.com/2012/08/exotisme-gadis-bali-65x75cm-spray-paint-on-plastic-trash-2012.jpg |
Binar
matamu menyambut langkahku mendekat. Tatap mata indahmu mantabkan langkah untuk
segera datang menghampiri. Sorot tajamnya yang lembut, tidak mampu aku hitung
dengan deretan bilangan biner yang sempat aku pelajari. Satu,..dua…tiga dan
deret angka itu tiada mampu menggambarkan bagaimana tatap matamu itu, seperti
penerang jiwaku yang sempat gulana dihampakan cinta.
Tanpa banyak kata, hanya berteman suara gantungan kunci
yang bergemerincing, engkau berdiri, menghambur dalam pelukku. Tatap mata aneh,
datang menjaring kita dari berbagai sudut tak lagi kau hiraukan. Engkau
memelukku, menciumi pipi ini dengan buas, kita seperti sejoli yang lama
terpisah, seakan di ruang itu hanya ada kau dan aku, seakan kita telah lama
terpenjara dinding waktu dan jarak. Sambil berbisik aku berusaha menahan
bibirmu, agar tidak terus menyerang pipi dan bibirku, menuntunmu ke balik pilar
yang minim sorotan mata.
Seperti tadi, kau masih belum puas melepas rindumu. Tiada
sempat aku berbasa-basi, tanganmu tetap melingkari leher. Tapi kau pasif, tiada
aksi lanjutan yang kauberikan. Rasa penasaran mengulum otakku, melihat sepasang
bibir merah merekah terbuka di depan mataku. Auranya menggoda, menghisapnya
dalam kubangan kepicikan pikir. Aku mencoba bertahan dari sesapan nafsu yang
berusaha menjatuhkanku dalam kenistaan. Deru nafas dan debaran jantungku tiada
menentu, bersanding dengan wajah memerah menahan gejolak nafsu yang sedang
kulawan.
Minggu, 06 Oktober 2013
Ujian Untuk Amara
“Kenapa mereka selalu bergunjing tentangku?”
Hitam bola matamu
bertumpu pada sumbunya, menatapku yang berada di seberang meja dengan tajam. Seakan-akan
aku ini ikut bersalah, bergunjing tentangmu. Bibir tipismu sedikit manyun,
memamerkan warnanya yang merah delima, warna yang selama ini membuatku jatuh
cinta. Bulu-bulu tipis antara hidung dan bibirmu semakin jelas terlihat, dalam
sorotan lampu yang tepat di atasmu. Hidungmu yang mungil, kembang-kempis memompa dan menghisap udara
secara bergantian.
“Amara, tenangkan
dirimu. Jangan emosi begini.”
“Tenang katamu? Ar, Enam bulan aku dijadikan bahan gunjingan. Enam bulan aku jadi bahan
olok-olokan, dan kamu hanya memintaku tenang?”
Engkau berdiri. Dua
tanganmu menekan meja, menyangga tubuhmu yang kau condongkan ke arahku. Alis matamu
yang tebal dan mempesona, hampir menyatu, mengikuti kerutan di dahimu. Engkau
seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan.
Kamis, 19 September 2013
(FF) Sesat Pikir
![]() |
| POV-DevianArt |
Mataku tak mampu beralih dari bulatan hitam kornea matamu. Ada binar-binar kemarahan memancar di sana. Tidak biasanya aku melihat hal itu. Silang-kata, biasa menjadi penyedap persahabatan kita. Kamu dengan kacamata plus-mu dan aku dengan kacamata silinderku.
"Kamu telah sesat pikir. Sudah jelas kalau hal itu salah, tidak sesuai tuntunan dan ajaran yang sama-sama kita anut, kenapa kamu tidak bersikap tegas untuk menolaknya?" serbuan tanyamu seperti muntahan peluru AK-47, tidak kenal ngadat, meski panas semakin menyengat.
"Aku sesat pikir?" tanyaku kebingungan. Telunjuk kananku mengarah ke dada.
Kamis, 12 September 2013
Jerat-Jerat Sesat
Seperti malam yang lalu
Wangi dupa tersesap gerimis yang berlalu
Remas nyalanya serupa abu
Seperti malam yang telah lewat
Diri ini kembali tersesat
Pada sebuah keindahan yang telah cacat
Termakan binatang pengerat
Manis madu itu hanya pemikat
Dari maksiat kata yang tersirat
Tersurat bersama seribu mudharat
Setelah kaki terikat erat
Tak bergerak, tersesat
Wangi dupa tersesap gerimis yang berlalu
Remas nyalanya serupa abu
Seperti malam yang telah lewat
Diri ini kembali tersesat
Pada sebuah keindahan yang telah cacat
Termakan binatang pengerat
Manis madu itu hanya pemikat
Dari maksiat kata yang tersirat
Tersurat bersama seribu mudharat
Setelah kaki terikat erat
Tak bergerak, tersesat
Selasa, 10 September 2013
Nyanyian Ilalang
Aku bergidik, sejak berhubungan denganmu, baru kali kamu
menatapku dengan tatap mata yang begitu tajam. Sorotnya seperti bilah-bilah
anak panah yang mencoba mengoyak hatiku, menciutkan nyali yang tak pernah takut
menghadapi mara bahaya. Investigasi akan beberapa kasus kerusuhan, pembunuhan
berantai dan kasus pelik lainnya, sukses aku taklukkan. Semua karena dukungan
moral darimu. Tapi entah kenapa kamu tiba-tiba tidak setuju dengan rencanaku untuk
menyelidiki kasus kecelekaan Lancer EX yang terjadi dinihari kemarin?
"Sadarkahh kau? Selama ini dirimu seperti
ilalang di tengah savana. Jangankan hembusan angin ribut, sepoi angin yang
membelai, sudah cukup buatmu berisik?" Katamu pelan, seakan tanpa
semangat, tanpa kebanggaan yang selalu kau tiupkan tentang profesiku selama
ini.
Rabu, 28 Agustus 2013
17, Keramat Terindah
![]() |
| http://swaranda.blogspot.com/2012/03/hadiah-terindah-dari-allah-taala.html |
Seperti air yang terus mengalir, begitupun dengan alunan langkah
sepatuku, setapak demi setapak langkahnya terus mendekati akhir. Sungguhpun aku
ingin berhenti sesaat, menikmati sejuknya udara di lembah itu ataupun derasnya
hembusan angin di puncak bukit Kintamani. Sungguhpun aku masih ingin bersalaman
dengan sesanak saudara yang datang, tapi langkah ini enggan untuk berhenti.
Langkah ini seperti terus menarikku menuju titian panjang, dua dunia yang
terpisah.
Aku….
Tanggal 16 ramadhan pemuda itu datang lagi padaku.
Seperti pada kedatangannya yang telah lalu, selalu dia bertanya tentang apa
yang dirasanya aneh dari lakuku. Dia selalu protes dengan aktifitasku yang
berlebih. Dan nasehat-nasehatnya tentang ini-itu. Tapi bukan itu yang menyentuh
ulu hatiku. Sebuah tanya di akhir pertemuan itu, “Kenapa saat menjelang subuh,
aku selalu mengitari masjid ini 17 kali?”
Aku tidak ingat lagi bagaimana semua bermula. Yang aku
ingat hanyalah saat aku mengawali ritualku, usiaku sudah menginjak 34 tahun.
Usia dimana harusnya hati ini sudah matang dan mantap hidup dengan 1 istri
serta minimal 1 anak yang menemani hari-hariku, meniti indahnya kebersamaan.
“kemana saja aku selama ini, hingga tersesat dari hakikat hidupku sebagai insan
kamil ciptaan sang Khalik?” Itulah tanya yang mengawali ritualku saat itu.
Sabtu, 17 Agustus 2013
Kembali Bermimpi
Lama kulelap
Pada wanginya masih tersesap
Lupa langkah tak boleh mengendap
Pada cerita tak bersayap
Lama kuterlupa
Dupa dewata hilir mudik bersama puja
Agungkan asa tiada terpatah
Walau kaki terrantai lelah
Pada wanginya masih tersesap
Lupa langkah tak boleh mengendap
Pada cerita tak bersayap
Lama kuterlupa
Dupa dewata hilir mudik bersama puja
Agungkan asa tiada terpatah
Walau kaki terrantai lelah
Luka Dalam
Terselip di antara bebatu
Hitam, Beku
Tak terusik, manikam terharu
Kebas, termakan Panas meranggas
Iba di ujung laras
Tak terusik, lara membekas
Hitam, Beku
Tak terusik, manikam terharu
Kebas, termakan Panas meranggas
Iba di ujung laras
Tak terusik, lara membekas
Denpasar, 02082013.2340
Masopu
Dua Sisi
Bermain di dua kaki
Injak sana, berlalu mendekat
Ulurkan tangan, salam persahabatan
Bermain di dua kaki
Ucap manis, laku serupa sembilu
Sebelah merangkul, sebelah memukul
Dua laku satu waktu
Injak sana, berlalu mendekat
Ulurkan tangan, salam persahabatan
Bermain di dua kaki
Ucap manis, laku serupa sembilu
Sebelah merangkul, sebelah memukul
Dua laku satu waktu
Senyawa Asa
![]() |
| http://my.opera.com/angahyorkaef/albums/showpic.dml?album=10217932&picture=136525892 |
Luka
senyawa asa yang terbang arungi badai
Sembab, Lembab, terjerembab
Berkeping, terurai hujan, larut dalam lumpur
Layu dimangsa air melimpah
Luka, Tiada kan nyata
Saat asa menyatu bersama sepoi sang bayu
Tanpa haluan, terturut arus, tertambat di antah-berantah
Terserak serupa spora
Tertetes hujan, asa baru bersemi
Mencari jalan menjadi nyata
Denpasar, 16082013.1430
Agung Masopu
Jumat, 05 Juli 2013
Dehidrasi Otak, Sinting
![]() |
| www.komisikepolisianindonesia.com |
Bersama pagi yang berdering
Butiran embun mengering
Mengiring setiap kata, berdenting
Menembakkan insting sinting logika miring
Butiran embun mengering
Mengiring setiap kata, berdenting
Menembakkan insting sinting logika miring
Dehidrasi otak mengering
Panas
Terbakar bara, logikamu meranggas
Fakta mati tertusuk praduga
Sumpah muksa dibakar mimpi yang tiada sempurna
Panas
Terbakar bara, logikamu meranggas
Fakta mati tertusuk praduga
Sumpah muksa dibakar mimpi yang tiada sempurna
Langganan:
Postingan (Atom)

















