Kamis, 04 Juli 2013

Dajjal Dan Internet, terkaitkah?

Dajjal. Nama itu bagi kita seorang muslim tentu sering atau setidaknya sayup-sayup pernah kita dengar dalam sebuah ulasan. Lalu kenapa tiba-tiba saya tergerak untuk menulis nama yang oleh orang barat diidentikkan dengan angka 666 atau mereka sebut juga sebagai the Omen. Apakah saya ingin memulai perdebatan ataukah sejenisnya? Tentu tidak.

Dajjal, banyak artikel yang mencoba menjelaskan tentang maksud dari kata itu.

Di salah satu buku yang pernah saya baca, kalau tidak salah judulnya "Dajjal Muncul dari segitiga Bermuda", dajjal digambarkan sebagai mahluk yang sudah ada sejak jaman dahulu, kalau tidak salah ingat dari zaman nabi Musa. Dajjal di sini digambarkan sebagai manusia bermata satu yang memiliki ilmu pengetahuan dan kepintaran di atas rata-rata. Kepintaran di sini bukan hanya kepintaran secara otak, tapi dia juga mempunyai keahlian semacam sihir. Hal ini bisa dibuktikan dengan dikisahkannya tentang patung emas seekor sapi yang disulap hingga mampu bersuara selayaknya dia  hidup.

Dari Blog ini dijelaskan jika gambaran Dajjal bermata satu sesungguhnya hanya kiasan saja. Jika Nabi Isa AS dikabarkan mata sebelah kirinya tidak sekemilau mata kanan, bahkan diartikan seperti laiknya orang buta sebelah, menurut penulis di blog tersebut sebagai gambaran bahwa Nabi Isa AS jauh dari sifat-sifat buruk yang terserak di dunia ini. Sifat-sifat buruk yang tidak terdapat pada diri Nabi Isa antara lain: Kejahilan, kerakusan, keserakahan, sombong dan sejenisnya.

Hal ini berbanding terbali dengan gambaran Dajjal yang bermata satu. Dajjal mata kanannya yang buta. Hal ini sebagai penanda jika Dajjan yang di blog tersebut digambarkan sebagai kumpulan bangsa barat adalah bangsa yang tidak bisa melihat adanya kebaikan rohani. Yang terlihat di mata kiri Dajjal yang berkilau hanyalah kemegahan dunia dan segala sifat buruknya.Mata kiri yang bersinar selayaknya kemilau bintang itu hanya tajam untuk melihat segala urusan duniawi dan lemah mengenai urusan jiwa. Bangsa yang digambarkan sebai Dajjal ini sangat sukses dalam urusan duniawi. Semua yang berurusan dengannya selalu berkaitan dengan materi dan logika.

Ciri-ciri fisik yang digambarkan mengenai Dajjal yang ditulis berdasarkan hadists Bukhari nomer 77;68:92 adalah "Dan Aku melihat orang yang berambut ikal pendek, yang mata kanannya buta. Aku bertanya siapakah ini? Lalu dijawab Dialah Masihid Dajjal."
Dari Hadists Bukhari lainnya bernomer 93:27 ada penjelasan lanjutan lagi. "Awas dia Picak (buta sebelah mata) dan di antara kedua matanya bertuliskan Kafir"
Dari dua hadists tersebut dapat kita simpulkan bahwa ada 3 Ciri utama Dajjal yakni, bermata picak sebelah, BErambut Ikal pendek dan bertubuh kekar dengan kulit putih mengkilat.
 
Dari buku "Dajjal akan muncul dari segitiga Bermuda" penulis buku tersebut mengabarkan jika Dajjal sebenarnya hanya sebuah kiasan. Menurut penulis buku tersebut, Dajjal digambarkan sebagai mahluk melata yang mampu berpindah dari satu bagian bumi ke bagian lain dunia yang berjarak ribuan Mill hanya dalam hitunag detik. Penulis menganggap itu hanya sebagai kiasan dan merujuk pada  sifat-sifat yang menyertainya, maka penulis buku tersebut berkeyakinan hal itu berkaitan dengan perkembangan tekhnologi saat ini.

Menurut penulis Buku tersebut, Dajjal di sini adalah tekhnologi Internet dan jaringan televisi yang mampu mengabarkan bebragai kejadian di belahan dunia lain dalam hitungan Detik. Sebuah kejadian yang terjadi di ujung selatan Afrika, dalam waktu yang hampir bersamaan bisa dilihat dan disaksikan oleh kita yang ada di Indonesia. Sebuah ledakan kecil di Kandahar Afganistan mampu dilihat di Amerika dalam waktu yang hampir bersamaan pula.

Dan saya setuju dengan asumsi yang penulis buku "Dajjal Akan Muncul Dari Segitiga Bermuda" adalah benar. Internet dan Televisi sekarang menjadi media propaganda yang cukup mujarab. Fitnah dan asumsi yang terus-menerus dikabarkan melalui jaringan Internet dan Televisi bisa menjadi awal kekisruhan bahkan keruntuhan suatau negara. Coba kita tengok Revolusi Mesir beberapa waktu lalu, kejatuhan Moammar Qadhafi, Rusuh Suriah, semuanya berawal dari pemberitaan yang masive melalui jaringan Internet dan Televisi.

Di salah satu artikel yang saya lupa penulisnya, ada ungkapan bahwa "kebohongan yang dipublish secara terus menerus dan berulang, lama-lama akan dianggap sebagai kebenaran itu sendiri." hal ini sesuai dengan kejadian di Timur tengah. Kejadian yang dikenal dengan sebutan Arab Springs tersebut berawal dari pemberitaan jaringan televisi Asing dan juga kampanye Massive melalui media jejaring Sosial.Pemerintahan lokal yang tidak mampu meredam dan mengendalikan kebebasan pers dan internetnya, maka rakyatnya akan termakan isu yang menyebar seperti gerakan mahluk melata, bergerak dari bawah permukaan dan saat yang tepat akan membelit mangsa di atasnya.

Revolusi Mesir yang menyebabkan jatuhnya kekuasan sebelum Mursi adalah bukti nyata. Memanfaatkan Facebook dan Twitter, kampanye untuk menjatuhkan presiden yang berkuasa saat itu berlangsung secara sembunyi.sembunyi. Setelah kampanye melalui jejaring sosial, baru pemberitaan tentang keburukan penguasa diumbar melalui televisi untuk meraih simpati dan hati rakyat yang tengah menjerit akibat resesi ekonomi berkepanjangan. Untuk meminimalkan efek dari hegemoni Televisi dan Internet menyebar Fitnah, penguasa Mesir sempat memblokir Internet dan jaringan Televisi.

Kejadian yang sama terulang di Libya dan beberapa negara lain yang terkena efek domino Arabian Springs. Kita tentu masih ingat isu Senjata Pemusnah Massal Irak? Ya isu yang disebarkan melalui jaringan Internet dan Televisi itu yang menjadi pintu masuknya AS dan sekutunya untuk menumbangkan Saddam Husein. Padahal menurut data yang bocor, isu mengenai senjata pemusnah massal hanyalah pengalihan isu saja. Praktis sejak kalah di peranmg teluk 1991 lalu, senjata pemusnah Irak sudah dilucuti. Penyerangan terhadap Irak semata hanya pembenaran atas ambisi Amerika dan sekutunya untuk menguasai ladang minyak dan gas di Irak.

Kembali ke masalah Dajjal, saya pribadi, berdasar referensi dari beberapa blog dan juga buku yang saya baca berkesimpulan jika Dajjal yang digambarkan dalam hadists Bukhari tersebut adalah sebuah sistem yang memungkinkan untuk menyebarkan fitnah keji demi tujuan duniawi. Dan kita, Muslim membutuhkan kontrol untuk mengatasi hal itu. Internet dan televisi yang kita tonton haruslah dalam kontrol ketat, agar benih-benih kebencian tidak mudah menyebar.

Bukankah Amerika yang menyatakan menjunjung tinggi kebebasan pers dan kebebasan berpendapat melakukan kontorl ketat untuk dua urusan tersebut. Pemberitaan televisi, meski terkesan bebas masih dikontrol pihak berkuasa. Kenyamanan Internet dan bertelepon juga dibawah kendali ketat FBI dan pengawas lainnya. Jika ada hal yang menurut mereka berbahaya, maka mereka tidak segan-segan untuk menyadap dan menginterogasi seseorang atau lembaga. Perlakuan ini dibenarkan oleh penguasa Amerika walau kecurigaan yang mereka sebar hanya berdasar Asumsi semata.Bohong jika ada yang berkata jika Amerika adalah negera paling bebas. Bohong jika di Amerika kita bebas berbicara apa saja. Saat kita salah berpendapat, mereka tidak segan menginvestigasi kita. 

mari kita kontrol diri. Berhenti menyebarkan link berita yang mengabarak sesuatu yang berbau SARA. Bijak berinternet dan berkomentar serta berbagi adalah cara meminimalkan kemungkina kita menjadi salah satu agen Dajjal menyebarkan fitnahannya. 

Denpasar, 04072013.0208

Masopu
 

1 komentar:

  1. saya satu pendapat dengan anada.... itu teori hitler yang lupa penuisnya

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...