Rabu, 30 November 2011

Titik Balik

http://syarahz.wordpress.com/
Hari-hari terus berlalu meninggalkan Xixi yang terus termangu dibuai rasa tidak percaya dengan apa yang dialaminya saat ini. Hasil diagnosa yang disampaikan dokter sungguh di luar dugaanya. HIV/AIDS? Kata-kata itu selalu berotasi dalam benaknya. Berkali-kali dia berusaha untuk menghilangkannya dari pikiran, namun tak jua mampu dilakukan.

Xixi terus memikirkan hal itu. Hal yang mana membuat proses pengobatannya menjadi lambat. 10  hari telah berlalu dari vonis yang dokter sampaikan, hingga kini keadaannya tak banyak berubah. Semangatnya untuk mencoba segala upaya demi kesembuhannya saat ini jatuh ke titik nadir. Namun pembantu yang selama ini setia menjaganya tak henti untuk terus menyemangatinya. Beberapa kali dengan sabarnya wanita yang seumuran dengan ibunya tersebut menyediakan bahunya yang mulai menua untuk jadi tempat Xixi mencurahkan air matanya.


Siang dengan teriknya yang membakar kulit baru saja berlalu. Semilir angin mengiringi tergelincirnya matahari dari puncaknya saat mata sendu Xixi yang cekug secara tak sengaja menangkap ulasan berita tentang seorang mantan pebasket NBA yang tetap survive dengan virus HIV menjajah tubuhnya. Diperhatikannya dengan seksama ulasan kisah hidup pebasket tersebut. Kehidupan yang hampir sama dengan yang dijalaninya. Free sexlah yang telah membawa tokoh tersebut dalam genggaman virus kutukan itu.

Di bagian lain ulasannya, sang announcer tak lupa mengisahkan kisah hidup seorang lelaki muda anak kiai asal jawa tengah yang mengidap HIV juga. Lelaki yang dikisahnya tersebut terpapar HIV karena kebiasaannya mengonsumsi narkoba memakai jarum suntik. Berawal dari keisengannya melayani tantangan seorang teman kuliahnya di Jakarta, akhirnya lelaki muda tersebut ketagihan mengonsumsi narkoba dan membuatnya terjangkit virus laknat tersebut.

Tak percaya dengan apa yang dideritanya, lelaki tersebut sampai mendatangi beberapa orang dokter untuk meyakinkan dirinya. Benarkah dia terjangkit HIV/AIDS tersebut? Tak kurang 3 dokter dia kunjungi, saat kunjungan ke dokter ke-4 yang berpraktek di sebuah gedung berlantai 3, dia hampir bunuh diri. Keterangan dari dokter yang membenarkan dirinya terjangkit HIV/AIDS membuatnya terpukul dan ingin mengakhiri hidupnya. 

Beruntung saat itu dia datang bersama wanita yang menjadi pacarnya. Wanita berparas cantik tersebut memberinya kekuatan untuk menghadapi semua cobaan itu dengan ikhlas. Dia hanya berkata bahwa semua ini hanya cobaan dan peringatan dari Tuhan atas lakunya yang tak sesuai amanah hidup yang Tuhan berikan untuknya. Karena itu, satu-satunya jalan bagi dirinya untuk bertahan hidup adalah menyadari kesalahan dan memperbaikinya. Apakah nantinya dalam usaha mencari obat demi kesembuhan Tuhan akan berikan atau tidak itu tak penting. Yang terpenting adalah bagaimana di sisa hidupnya, lelaki muda tersebut bisa survive dan memberikan manfaat bagi sekitarnya. Itulah nasehat yang selalu diucapkan oleh pacarnya yang setia tersebut.

Demi kesembuhannya pula, lelaki muda tersebut akhirnya ikut rehabilitasi untuk pengguna narkoba yang sudah addicted banget. Pertama memang susah dilakukannya. Namun dengan ketelatenan yang ditunjukkan oleh sang pacar dalam menemaninya menjalani terapi, akhirnya sugesti untuk berhenti dari kebiasaan buruknya tersebut muncul dan perlahan-lahan membesar. Setelah enam bulan akhirnya dia bisa mengurangi ketergantungannya terhadap narkoba. Namun itu bukan berarti keinginan itu tak pernah muncul lagi. Berkali-kali keinginan tersebut muncul, namun sang pacar yang setia menemani selalu menjaganya, bahkan tak jarang rela mengunci dirinya di kamar mandi.

Setelah berjuang bertahun-tahun akhirnya lelaki tersebut sembuh dari ketergantungannya. Begitu sembuh dia akhirnya mendaftarkan diri untuk menjadi penyuluh tentang penanggulangan HIV/AIDS. Kehidupan dengan pacarnya pun semakin membaik. Keluarga sang pacar yang tahu dia menderita HIV menerimanya dengan tangan terbuka. Begitupun keluarga besarnya di Jawa Tengah menerima keadaannya dan terus menyemangati dirinya untuk berbuat yang terbaik bagi sekitarnya. Hari-harinya bersama penyakit terkutuk tersebut tidak membuatnya terpuruk dalam sesal. Namun musibah tersebut dijadikannya pijakan untuk merubah hidupnya lebih baik.

Xixi terus memperhatikan kisah hidup para penderita HIV tersebut dengan mata yang hampir tak berkedip. Dia tersadar, ternyata bukan hanya dirinya saja yang bernasib buruk terjangkiti penyakit itu. Tapi masih banyak yang lain. Ada yang terus terpuruk, ada pula yang mampu bangkit. Jika kedua tokoh yang ada di kisah tersebut mampu, kenapa dirinya tidak mampu? Perlahan pertanyaan itu tersembul di benaknya. Awalnya hanya melintas perlahan dalam benaknya. Hanya menjadi selingan akan rasa terpuruk yang tengah menjajah hatinya, namun semakin lama semakin sering terlintas di benaknya. Dari pertanyaan itulah akhirnya timbul keinginan pada dirinya untuk berusaha sembuh terlebih dahulu.

Semangat untuk sembuh dalam dirinya yang semakin tebal setelah melihat tayangan di televisi tadi berpengaruh pada sinar wajahnya. Perlahan wajah yang telah lama terlihat pasi tersebut kembali memancarkan aura kehidupannya. Saat suster datang membawakan makan untuknya, disambutnya dengan senyuman termanis yang dia punya selama hampir seminggu ini. Pembantu yang setia menemaninya girang melihat sang majikannya mulai bisa tersenyum.
http://mahisaajy.blogspot.com/

Perlahan-lahan wanita tua tersebut menyuapi Xixi. Sesendok demi seseondok makanan terus merasuki bibirnya yang terlihat mengering tersebut. Tidak seperti hari-hari kemarin di mana Xixi susah makan, kini dia makan dengan lahapnya. Sebentar saja makanan dari rumah sakit telah habis dimakannya. Sungguh perubahan yang sangat menyenangkan pembantunya tersebut.

Sekitar setengah jam kemudian, kembali suster yang tadi mengantarkan makanannya datang. Dia kaget bercampur gembira saat melihat makanan tersebut telah habis. Apalagi saat dilihatnya Xixi tengah minum obat dengan dibantu oleh pembantunya.

" Nah begitu dong mbak Xixi. Kalau gak gitu kapan mbaknya cepat sembuh" kata Suster yang seumuran dengan XIxi tersebut.

" Terima kasih mbak. " jawab Xixi sambil tersenyum.

" Cepat sembuh ya mbak" kata suster tersebut sesaat sebelum meninggalkan ruangan Xixi dirawat.

Xixi menyandarkan tubuhnya di bantal yang baru saja ditata oleh pembantunya. Keinginannya untuk sembuh semakin menggebu-gebu. Tak dipedulikannya lagi rasa sakit yang masih mendera. Pokoknya dia harus cepat sembuh dan keluar dari rumah sakit. Setelah itu baru dia akan mencari dokter yang lain untuk memastikan penyakit apa yang dideritanya.

Denpasar, 30112011.0232

Masopu

Note :
  • Untuk membaca tulisan sebelumnya Silahkan baca di bagian 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11,12 , 13, 14, 15           
  • Maaf jika ada kesamaan nama tokoh dan cerita. Ini hanya fiksi belaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...