Senin, 24 Oktober 2011

Pertemuan Tak Terduga

Tetes embun yang bersemayam di atas pucuk dedauanan memendarkan sinar matahari begitu indahnya. Kilau warna perak yang memantul darinya bagai kilatan-kilatan kristal. Begitu sejuk dipandangan mata lelaki muda yang baru saja menginjakkan kakinya di taman tersebut. Matanya terpesona. Hampir 5 tahun lamanya lelaki tersebut tidak lagi menikmati indahnya pemandangan kota Surabaya di pagi hari seperti saat ini.

" Ya Allah sungguh besar kuasaMU. Kau hadirkan keindahan yang tiada tara ini ya Allah. Sungguh aku bersyukur bisa menikmati lagi keindahan kota ini untuk beberapa saat. " gumam lelaki muda tersebut sambil terus melangkahkan kakinya menyusuri setiap sisi taman tersebut. Saat terakhir kali dia meninggalkan kota ini, dirinya ingat betul kalau taman tersebut agak terbengkalai. Tapi kini taman tersebut begitu indah.

Kembali kenangannya teringat saat dirinya masih remaja. Saat dimana dirinya dan beberapa orang temannya sering menghabiskan libur akhir pekan di taman tersebut. Entah untuk sekedar kongkow-kongkow biasa ataupun beradu pendapat dengan teman-temannya tentang sesuatu yang terupdate dalam kehidupan mereka. "Ah masa itu begitu indah" gumamnya lagi sambil menghempaskan pantatnya di kursi taman yang sering kali dulu dia gunakan untuk diskusi bareng teman-temannya.

Dihirupnya udara segar itu dalam-dalam. Matanya terus memandangi deretan bunga bougenville beraneka warna terpapar di depannya. Sementara di sisi lain deretan pohon palem tertata rapi menemani tanaman angsana sebagai penyejuk taman tersebut. Di sekeliling tanaman tersebut bunga-bunga beraneka warna mengelilingi. Sungguh indahnya taman tersebut.

Puas menikmati pemandangan di taman, lelaki muda tersebut segera berdiri. Perlahan kakinya dilangkahkan meninggalkan taman tersebut. Sambil berlari-lari kecil, sesekali lelaki tersebut mengelap butiran keringan yang turun membasahi dahi dan pipinya. Kulitnya yang putih bersemi kemerahan terpapar mentari pagi. Matanya terus memandang lurus ke depan. Diperhatikannya lalu lalang kendaraan yang mulai menyemut di pagi nan indah tersebut.
Saat melintasi sebuah apartemen, langkahnya terhenti. Dia kaget saat sebuah taksi dari arah yang sama dengannya tiba-tiba berhenti di depannya. Hampir saja tubuhnya menabrak pot yang berdiri di pinggi jalan karena aksi sopir taksi tersebut. Dilihatnya seorang wanita muda turun dari taksi tersebut. Dari sayu matanya, dia menangkap ada yang tak beres dengan wanita tersebut. Saat taksi berlalu pergi, wanita tersebut mencoba untuk berjalan, tetapi tubuh sempoyongannya membuat langkah kakinya goyah. Hampir saja tubuh tersebut menabrak gerbang apartemen tersebut.
" Mari mbak saya bantu tuk berjalan" kata lelaki tersebut sambil mengalungkan tangan wanita berbusana mini tersebut ke pundaknya. Dengan telaten dipapahnya wanita tersebut.

" Aku tidak mabuk mas. Biarkan aku jalan sendiri " kata wanita tersebut setengah meronta.

" Tapi mbak terlihat lusuh dan kaki mbak sudah goyah kalau berjalan" kata lelaki tersebut.

" Aku tak apa-apa. Lagian siapa sih kamu pakai pegang-pegang aku? Mau tidur sama aku ta? " tanya wanita tersebut dengan ketus.

" Masyaallah mbak. Saya hanya ingin membantu mbak berjalan. " kata lelaki tersebut.

" Siapa kamu?"tanya wanita tersebut dengan sorot mata tajam.

" Aku Iqbal mbak. Lengkapnya Iqbal Ferdiansyah" jawab lelaki tersebut dengan sabarnya.

" Xixi gak butuh bantuan. Xixi masih kuat berjalan sendiri" kata wanita tersebut sambil mendorong tubuh Iqbal. Kemudian dia mencoba melangkahkan kakinya, tapi baru dua langkah tubuhnya sudah meluruh ke bumi. 

" Tu kan mbak Xixi gak kuat berjalan. Biar saya bantu ya." kata Iqbal sambil meraih tubuh tersebut dan memapahnya berjalan menuju apartemen yang ditinggalnya.

Selama dipapah Iqbal, wanita bernama Xixi tersebut terus berbicara tak karuan. Umpatan-umpatan terus mengalir dari bibir mungilnya yang berbalut gincu warna pink. Dari bibir tersebut tercium aroma yang sempat membuat Iqbal merasakan pusing. Namun demi rasa kemanusian, coba dikuatkannya dirinya agar tak ikutan merasakan pusing. Terus dipapahnya tubuh Xixi ke Apartemennya.

Sesampainya di ruang tamu Apartemennya Xixi, Iqbal segera membaringkan wanita tersebut ke Sofa yang terdapat di dalamnya. Setelah itu dirinya segera meninggalkan tubuh tersebut terbaring di sana. Tak berapa lama kemudian Xixi terlelap di kursi tersebut. Sementara Iqbal melanjutkan aktifitasnya berlari pagi.

" Ah kotaku dah banyak berubah. Tak hanya tamannya saja yang berubah, Perilaku orangnya sekarang hampir mirip dengan Jakarta. Apa begini ini ya yang dibilang kehidupan modern? Pusing aku. " gumam Iqbal sambil meneruskan larinya. Tak lama kemudian dia membelokkan langkah kakinya menuju rumah besar yang terletak di kiri jalan. Rumah tua berdinding putih dan berjendela hijau tersebut terlihat menonjol dibanding bangunan lainnya. Menonjol karena tinggal bangunan tersebut yang masih bergaya bangunan lama di sepanjang jalan tersebut. Dengan santainya dia duduk di teras rumah tersebut. 

Denpasar.24102011.0230

Masopu

Note :
  • Untuk membaca tulisan sebelumnya Silahkan baca di bagian 1, 2, 3, 4                 
  • Maaf jika ada kesamaan nama tokoh dan cerita. Ini hanya fiksi belaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...