Senin, 06 Februari 2012

Taman Ujung, Istana Air Dari Timur

Tanggal 2 februari kemarin saat menikmati libur hari raya Galungan, saya menyempatkan diri melali ( Jalan-jalan = bahasa bali-red ) ke ujung timur pulau Bali. Tujuan awal saya dan teman-teman adalah Taman Soekasada Ujung  yang terletak di desa Tumbu kecamatan Karangasem. Taman ini berjarak sekitar 2-2,5 jam perjalanan darat dari Denpasar.
Koleksi Pribadi

Taman Ujung merupakan salah satu situs peninggalan kerajaan Karangasem yang terletak di lereng Gunung Agung. Taman yang didirikan oleh raja Karangasem terakhir I Gusti Bagus Jelantik ( 1909-1945 ) yang saat memimpin bergelar Anak Agung Agung AngLurah Ketut Karangasem . Taman yang mulai dibangun pada tahun 1919 dan diresmikam tahun 1921 ini awalnya memiliki luas sekitar 400 hr. Namun kini tinggal 10 hr saja karena dibagikan ke warga sekitar saat adanya "Land Reform".


Taman ini dibangun dengan bantuan dua orang arsitek berbeda kewarganegaraan. Mereka adalah Van Den Hentz ( Belanda ) dan Loto Ang ( China ). Selain mereka berdua, pengerjaan Istana Air ini juga melibatkan banyak arsitek lokal dan dibantu pula oleh Mr. Wardodjojo dari dinas pekerjaan umum. 

Perpaduan mereka menghasilkan bangunan bernuansa Eropa, China dan mengandung kearifan lokal. Ciri arsitektur Belanda tampak pada bangunan yang bergaya Indis. Pengaruh arsitektur china tampak pada pintu masuk, bangunan kolam yang berbentuk segi delapan dan bale bundar adatu gasebo. Sementara hiasan dindingnya menggambarkan kearifan lokal Bali.

Begitu masuk dari gerbang utama  yang berada di sisi barat kita langsung disambut dengan tangga menurun yang menurut warga sekitar berjumlah sekitar 107 undakan. Di kiri kanan undakan kita bisa menikmati aneka bunga yang menghiasinya. Setelah melewati undakan, di kiri kanan jalan kita bisa melihat kolam-kolam besar yang menyejukkan mata.
Pintu masuk ke bangunan peristirahatan raja

Di sisi utara terdapat sebuah bangunan kecil berbentuk persegi. Bangunan yang terletak ditengah-tengah kolam besar tersebut merupakan tempat peristirahatan raja karangasem dan keluarga. Ada sekitar 4 ruang kecil dan sebuah ruangan besar yang terdapat di sana. Foto-foto keluarga beserta perlengkapan tidur raja dan seperangkat meja marmer tersimpan rapi di bangunan tersebut. Ada jembatan panjang yang menghubungkan bangunan ini dengan areal parkir.


Sementara di sisi selatan terdapat sebuah bale yang juga terletak di tengah-tengah kolam yang lain. Bale ini pun juga dihubungkan dengan jembatan panjang. Kita bisa menikmati pemandangan dengan leih leluasa dari bangunan ini. Di kolam ini pula pengelola menyediakan dua perahu kecil yang bisa disewa untuk mengelilingi kolam dengan panduan seorang juru mudi.
Kearifan lokal di taman ujung ini terasa begitu kuat saat kita berkesempatan melihat bangunan yang terletak di atas bukit. Dinding-dinding bangunan yang mirip sebuah kapel tersebut berhias dengan ukiran khas bali. Dari sini kita bisa menikmati pemndangan indah laut biru yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari komplek taman ujung.

Taman Ujung sendiri sebenarnya baru selesai dipugar tahun 2002 lalu. Dana pemugaran diperoleh dari bantuan bank dunia dan swadaya masyarakat Karangasem. Sebelum dipugar taman ini mengalami kerusakan parah akibat peristiwa letusan gunung agung tahun 1963 lalu. 

Di bangunan yang bernama bale warak, kita bisa melihat dua buah prasasti yang dituliskan di atas batu marmer. Yang di sebelah kiri dituliskan dengan bahasa Indonesia yang berbunyi :
Peringatan
Waktoe kerja
Dewa jadnya
Maligya
Poeri Agung
Kawan Karangasem
Tanggal
6 Agustus 1937

Sedang di sebelah kanan ditulis menggunakan aksara dan bahasa bali dan berbunyi:
Pekeling daweg rahina karyya dewwa yajna
miwah malighya rin puri agung kawan karanase
m, duk rahina, su, pa, wara prabakat, pan pin
m, sasih, 2, usaka 1859 maka li
nga rin malighya, padhandha ghde ktut karanase
da hanake hangun ghde hanlurah ktut karangase
m raja lombok, miwah hida hanake hagun
ghde jlanthik, jumnen hagun ring karanasem.

Kedua prasasti menunjukkan jika pengerjaan pembangunan taman ujung baru benar-benar selesai tahun 1937.
Peraduan Raja
Denpasar, 06022012.0222

Masopu

Note: Maaf jika ada kesalahan penulisan tempat dan lokasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...