Minggu, 26 Februari 2012

Pentingnya Pembinaan Usia Dini

                    Setelah masa-masa menjelang kejatuhan NH dan kawan-kawannya di PSSI dulu, saya memilih vakum menulis tentang PSSI. Bukan kecewa karena NH dijatuhkan, tetapi sejujurnya saya sudah melihat banyak teman-teman yang mengangkat masalah PSSI dan perjuangan melawan lupa. Perjuangan yang menurut saya tak akan pernah usai, karena pengusung rezim lama masih ada dan berkeliaran untuk membuat PSSI baru terlihat buruk di depan penikmat bola tanah air. Saya menyadari itu, karena mereka memang mengusai setidaknya 2 media televisi dan beberapa portal pemberitaan yang mampu menjadi corong mereka untuk menjegal PSSI dan semua programnya. Mereka berpegang pada prinsip “ Berita salah, jika diberitakan terus menerus lambat laun akan tertanam menjadi kebenaran bagi yang tidak bisa memilah dan memilih berita".

               Ok. Saat ini saya tak akan membahas masalah itu panjang lebar. Saya hanya ingin membahas masalah PSSI baru dengan program-programnya dalam memajukan persepkabolaan Indonesia saat ini, yang utama adalah pembinaan usia dini. Kita harus berkaca pada kegagalan regenarasi PSSI era sebelumnya dan juga melihat kegagalan PBSI ( Bulu Tangkis ) dalam hal ini.
                Selama 8 tahun era kepemimpinan sebelumnya, kita sangat jarang melihat adanya bibit-bibit pemain muda yang sangat menonjol. Bukan karena ketidak adanya bibit pemain tersebut, tetapi karena mental dari pengurus sebelumnya yang cenderung lebih mementingkan/mengakomodasi pemain yang itu-itu saja, meski terbukti bahwa mental mereka ( pemain langganan timnas ) kadang tidak layak untuk tampil di pentas internasional. Sedang pengurus PSSI selalu takut berinovasi untuk mencoba pemain baru yang kemungkinan mentalnya lebih baik.
                Kita bisa lihat saat gelaran piala AFF 2010 lalu. Lebih dari 70% pemain nasional yang tampil adalah mereka yang sudah berusia diatas 25 tahun. Hanya Octo dan Irfan Bachdim yang berusia di bawah 25 tahun. Bandingkan dengan Malaysia yang mayoritas masih berusia di bawah 25 tahun dan telah bersama sejak gelaran sea games 2007 dan 2009, dimana mereka meraih emas. FAM ( PSSI-nya Malaysia ) tidak hanya memikirkan harus juara tahun ini, tapi lebih memikirkan bagaimana ke depannya timnas mereka bisa lebih baik dan bisa berbicara di level internasional. Padahal saat itu era Indra Sahdan Daud cs belum habis, tapi demi regenarasi mereka lebih memilih menampilkan pemain muda yang dikomandoi Safee Sali dan Badrun Bachtiar serta kiper muda usia mereka.
                Sejujurnya PSSI harus berkaca pada kegagalan regenaerasi di PBSI. Di era 1980-1990 Indonesia bisa dibilang Indonesia adalah rajanya bulu tangkis, bahkan China pun sempat kewalahan menghadapi kekuatan kita. Namun karena takut tidak mendapatkan kemenangan dan piala di tiap turnamen yang diikuti, PBSI lebih memilih pemain senior untuk tampil terus di berbagai kejuaran. Padahal faktor umur lambat laun akan menjadi penghalang untuk setiap pemain . Jika waktunya telah tiba mereka pasti tak akan mampu melawan kodrat itu. Itulah yang terjadi, saat yang senior pensiun, pemain muda telah ketinggalan jauh dari pemain Negara lain, sehingga pembinaan seolah-olah tidak jalan. Padahal bakat-bakat muda itu sebenarnya mumpuni secara teknis dan skill individu, tapi tidak secara mental. Mental hanya didapat dengan semakin seringnya mereka bertanding.
                Belajar dari hal itu, PSSI di era kepemimpinan yang baru mencoba memperbaikinya dengan membentuk timnas secara berjenjang. Bukan hanya dengan pembentukan timnas yang berjenjang, mereka juga mencoba mengadopsi pembinaan pesepakbola usia dini seperti halnya klub-klub sepakbola professional di Eropa. Setidaknya saat ini mereka telah membentuk beberapa SSB yang disebut dengan SSB Nusantara di beberapa kota. Di bawah komando Timo Scheuneman selaku direktur pembinaan usia muda PSSI gelar workshop kepelatiahn di beberapa kota. Tak cukup dengan hal itu, PSSI berencana mengadakan beberapa turnamen usia muda untuk menjaring bibit muda Indonesia.
              Cara-cara pengiriman pemain muda untuk berkompetisi di satu negara seperti era Primavera-Baretti serata SAD di Uruguay tidak lagi mereka lakukan. Selain biaya yang besar, juga keterbatasan cakupan pemain yang tersaring. Sepertinya PSSI memetik pelajaran dari kegagalan program-program itu. Daripada biaya besar untuk mengirim sekumpulan pemain ke luar negeri, mendingan digunakan untuk membiayai pembinaan dan kompetisi usia dini di dalam negeri. Hal ini tentunya akan menjaring banyak bibit-bibit baru untuk timnas.
                Mengacu pada pentingnya pertandingan untuk pesepakbola usia muda, kita bisa merujuk ke AC Milan. Klub kota mode ini mempunyai pembinaan usia muda yang cukup baik. Mereka telah mengumpulkan banyak bakat-bakat muda di Akademi sepakbola mereka. Pembinaan yang berjenjang mereka lakukan mulai pemain berusia 9 tahun ( Anak yang lahir tahun 2003 ) sampai mereka yang bermain di level Primavera ( 18 tahun = kelahiran tahun 1993 ). Dan untuk masing-masing jenjang mereka ikutkan di kompetisi ataupun pertandingan persahabatan secara rutin.
                Contoh di atas adalah contoh jadwal pertandingan yang harus diikuti oleh para pemain muda Ac Milan. Pemain-pemain kelahiran 2002 tersebut mempunyai jadwal tanding setiap seminggu sekali. Dan pertandingan tersebut adalah pertandingan resmi di bawah FIGC. Dalam hal ini mereka bukan hanya mengejar kemenangan dan piala, tapi bagaimana pemain muda ini bisa menikmati permainan mereka tanpa takut kalah. Mengasah skill individu dan kerjasama tim serta mental tanding mereka.
                Dengan adanya pertandingan rutin seperti itu, setidaknya pemain akan terbiasa menghadapi atmosfer pertandingan. Semakin sering mereka bertanding, semakin terasah baik skill individu dan juga metal mereka. Selain juga yang tak boleh dilupakan adalah kerjasama tim akan semakin baik dengan makin seringnya bertanding. Pertandingan yang berkala setidaknya mengurangi kejenuhan pemain dari rutinitas latihan yang mereka hadapi.
           Beberapa waktu yang  saya membaca komentar Frank De Boer ( mantan kapten Belanda dan juga pemain Ajax Amsterdam yang saat ini melatih klub tersebut ) dalam sebuah wawancara. Dia berkata: " Sebenarnya kami ( Frank dan saudara kembarnya Roenald De Boer ) tidaklah mempunyai bakat bermain sepakbola yang hebat sebesar bakat darii Seedorf, Davids dan pemain seangkatan kami. Namun kecintaan kami pada sepakbola menuntun kami untuk berlatih rutin setiap harinya. Sejak usia 6 tahun kami sudah cinta sepakbola dan belajar menikmatinya".  Dari kalimat itu satu hal yang bisa kita pelajari, bakat besar tanpa danya kecintaan di bidangnya kadang kala tak ada gunanya. Kecintaan tanpa bakat dan pembinaan yang benar juga tidaklah berguna. Jika bakat, kecintaan dan penanganannya benar, maka kita tinggal memetik hasilnya seperti yang De Boer bersaudara dapatkan di masa jaya mereka.
                Pemain muda yang sering terlibat pertandingan kompetitif tentunya juga akan memiliki mental yang baik. Mereka akan selalu terbbiasa menghadapi sorakan penonton. Terbiasa menghadapi berbagai macam type permaianan, yang secara tak langsung akan membuat mereka terpacu untuk lebih baik.
                Sejujurnya saya saat ini tidak mengharapkan apa-apa dari program PSSI. Karena hasil dari program ini baru akan kita ketahui sekitar 5-10 tahun lagi. Dengan catatan PSSI yang sekarang tetap bisa menjalankan tugas yang mereka emban sampai berakhirnya masa bakti mereka. Selain itu konsistensi PSSI dalam menjalankan program pembinaan usia muda.
                Satu lagi yang perlu dicatat oleh pengurus PSSI dalam menjalankan pembinaan usia muda adalah tentang pemahaman mengenai sportivitas dalam bermain. Banyak pemain timnas senior yang saya rasa punya skill bagus, tapi tidak dengan sportivitas yang baik. Hal ini bisa terjadi karena di era kepemimpinan sebelumnya Wasit dan KOMDIS seperti tidak punya nyali untuk menegakkan aturan baku sepakbola. Pelanggaran yang selayaknya mendapat kartu kuning hanya mendapat peringatan dari wasit. Begitupun dengan pelanggaran yang harus dikartu merah, oleh wasit hanya dikartu kuning. Hal ini membuat pemain menjadi kebablasan, sehingga di partai internasional pemain kita sering mendapat kartu kuning bahkan kartu merah karena pelanggaran yang berlebihan. Karena itulah sedari usia muda selayaknya jika mereka dibiasakan untuk menjalankan aturan yang semestinya. Tidak ada pemain istiemwa, jika pelanggarannya membahayakan dan layak dapat kartu, kasih hukuman meraka.
                Mari kita dukung program-progran PSSI dengan baik. Terlepas dari segala kontroversi yang ada, saat ini biarkan mereka bekerja sampai akhir periode kepengurusannya. Setelah itu baru kita bisa menilai keberhasilan mereka. Jangan hanya bermimpi ke pentas dunia, tanpa memperbaiki kesalahan yang ada di sector pembinaan usia muda. Bravo PSSI.

Denpasar, 25022012.1152

Masopu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...