Selasa, 10 Januari 2012

Turning Point

" Allah tak akan merubah nasib suatu kaum hingga mereka sendiri yang berusaha untuk merubahnya. " Sepenggal kalimat itu terdengar menyambut mata Xixi yang baru terbuka. Sayup-sayup suara ceramah subuh di masjid dekat kompleks apartemennya menelusup masuk ke kamarnya. Membangunkannya dari tidurnya semalaman. Xixi termenung di ujung pembaringannya. Kalimat-kalimat yang menyapa telinganya halus menghunjam ke dalam lubuk hatinya. Butiran-butiran air mata perlahan mengalir dari kelopak matanya yang sayu. 

Kalimat-kalimat dari penceramah itu begitu mengena di hatinya. Kajian dengan bahasa yang santun dan halus terasa seperti butiran embun yang membasahi dahaganya. Hatinya yang lama terbuai oleh kenikmatan duniawi perlahan luruh dalam sesalan tak bertepi. Sepasang kakinya yang biasanya kokoh menantang pijakan dogma perlahan melemah dalam ketakberdayaan. Air matanya semakin deras mengaliri kedua sisi pipinya.


" Ya Allah ampunilah aku ya Allah. Aku ini hanyalah mahluk lemah yang tak punya daya. Aku hanyalah mahluk hina yang tak pernah mensyukuri apapun yang engkau limpahkan kepadaku Ya Allah. Ya Allah ijinkanlah kakiku ini kulangkahkan ke haribaanmu. Ijinkanlah tanganku ini merengkuh ampun-MU. Ijinkanlah tanganku ini tengadah untuk mensyukuri nikmatmu. " gumam halus Xixi mengiringi isak tangisnya yang memecah kesunyian kamarnya di pagi itu.

Sementara Xisi terus tenggelam dalam tangis dan sesalnya, di luar kamarnya sang pembantu ikut menangis terharu. Semenjak kematian Daniel, Xixi yang kembali tenggelam dalam jeratan Alkohol seakan telah lupa siapa dirinya. Tangis yang di dengarnya sepulang dari masjid tadi begitu menyiksa bathinnya. Perlahan disekanya air mata yang ikut mengalir di kedua pipinya yang mulai keriput. Tangannya perlahan membuka pintu kamar sang majikannya.

" Neng Xixi dah bangun dari tadi? " tanyanya pelan sambil memegang pundaj Xixi.

" Sudah bi. Bi apakah Allah akan mengampuni semua salahku ya? " tanya Xixi sambil menyandarkan kepalanya ke tubuh sang pembantu. Sang pembantu dengan penuh kasih membelai rambut Xixi yang masih awut-awutan. Perlahan dirapikannya rambut majikannya tersebut.

" Neng Allah itu maha pengampun. Dia pasti akan mengampuni semua dosa kita, andai kita mau benar-benar bertobat dan tidak mengulangi semua kesalahan yang pernah kita lakukan. " jawab sang pembantu dengan suaranya yang lemah lembut.

" Tapi dosaku terlalu banyak Bi. Apa masih pantas aku bersimpuh di depan-NYA Bi? Aku merasa hina di mata-NYA Bi." sergah Xixi diiringi dengan tangisnya yang semakin kencang terdengar. 

Dengan sabar sang pembantu terus menasehati Xixi. Kata-katanya halus mengalir dengan lancar dari bibirnya. Penekanan-penekanan kalimat yang begitu tertata rapi membuat Xixi mudah menerima semua penjelasan itu. Perlaha-lahan Xixi tegakkan badannya. Dipandanginya sang pembantu tersebut dengan mata seakan tak percaya. Wanita yang seumuran dengan ibunya tersebut sungguh sangat bijak menasehatinya. Wajah lugunya menambah keteduhan di hatinya. Keteduhan yang lama tak lagi dia rasakan.

" Bi maukan mengantar aku ke pak Kiai untuk dipandu melakukan taubat? " tanya Xixi memecah keheningan yang ada. Sang pembantu tertegun. Sorot matanya seakan tak percaya akan perkataan yang baru saja meluncur dari bibir majikannya tersebut. Matanya lurus menatap ke wajah sang majikan dengan tidak berkedip.

" Bibi maukan mengantar aku menemui pak Kiai? " tanya Xixi sekali lagi.

" Ma...ma...mau Neng. " jawab sang pembantu tergagap kaget. " Kapan neng? Sekarang '" tanyanya kemudian.

" Sekarang Bi. " jawab Xixi tegas.

" Ya sudah neng Xixi mandi duluyang bersih, baru namti saya antar neng Xixi ke pak Kiai " jawab sang Bibi.

Xixi segera beranjak menuju ke kamar mandi. Dibersihkannya seluruh tubuhnya. Setelah selesai membersihkan diri, Xixi segera memilih baju yang pantas untuk menemui pak Kiai. Dia tertegun di depan lemari pakaiannya. Tak didapatinya pakain pantas dan sopan untukmenghadap ke pak Kiai. Semua pakaian yang ada di sana adalah pakaian-pakaian mini yang menojolkan kesan seksi. Hanya ada beberapa celana jeans yang masih bisa dipakainya untuk bawahannya. Tapi untuk bagian atasnya, dia tak punya pakain berlengan panjang.

" Ada apa neng? " tanya sang pembantu mengagetkannya.

" Bi aku tak punya baju yang cukup sopan untuk menghadap pak Kiai. "

" Neng Xixi pakai celana jeans saja dulu, terus atasannya pakai baju yang ada. Setelah itu neng Xixi tutupi bagian atasnya dengan mukenah. Neng Xixi masih punya mukenah kan?" tanya sang pembantunya.

" Punya Bi " jawab Xixi. Segera dia ikuti saran pembantunya tersebut. Dengan mengenakan celana jeans di bagian bawahnya dan t-shirt putih bagian atasnya. Setelah itu ditutupinya bagian atasnya tersebut dengan mukenah yang sudah kelihatan agak usang, karena lama tak pernah dipakainya. Setelah semua siap, Xixi dan sang pembantu segera berjalan kaki menuju masjid yang tak jauh dari kompleks apartemennya.

Tatap-tatap mata tak percaya terus mengawasi setiap gerak langkah kaki mereka. Tatap mata itu baru berhenti, saat tubuh Xixi dan pembantunya tertutupi oleh bebungaan yang menghiasi sisi jalan. Tak berapa lama kemudian langkah kaki mereka telah sampai di masjid yang ditujunya. Kebetulan pak Kiai baru saja selesai memberi ceramah subuh.

Dengan segera sang pembantu menceritakan maksud kedatangannya ke pak Kiai. Pak Kiai yang ditemani oleh ketua takmir masjid mendengarkannya dengan seksama. Tak ada penyelaan dari mereka. Hanya anggukan-anggukan kepala pelan yang menyertai setiap cerita yang disampaikan oleh sang pembantu dan juga dibenarkan oleh Xixi. Setelah sang pembantu dan Xixi selesai menceritakan maksud kedatangan mereka, pak kiai baru menjawab semua cerita mereka. Dan beliau bersedia menuntun Xixi dalam upayanya untuk bertaubat.

Setelah semua penjelasan mengenai tata cara taubatan nasuha selesai dibahas, maka Xixi segera menjalan semua petunjuk pak kiai. Dengan panduan pak Kiai, Xixi menjalankan semua tuntunan dalam melakukan taubat. Dan setelah semua proses selesai dilakukakn, Xixi dan pembantunya mohon diri untuk kembali ke apartemennya. Pak kiai dan ketua takmir masjid mengantar mereka dengan seulas senyuman yang menyejukkan hati.

Denpasar, 10012012.0243

Masopu

Note :
  • Untuk membaca tulisan sebelumnya Silahkan baca di bagian 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11,12 , 13, 14, 15, 16, 17, 18 , 19 , 20, 21, 22 , 23, 24, 25    
  • maaf jika ada kesamaan nama tokoh dan cerita. Ini hanya fiksi belaka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...