Selasa, 01 November 2011

Pengkhianatan

mansyur7.wordpress.com
Rentang waktu terus tertarik menjauh dari berbagai kejadian yang telah dilalui anak-cucu adam. Begitupun takdir yang harus dihadapi oleh Xixi. Perlahan tapi pasti Xixi telah melupakan peristiwa pertemuannnya dengan Iqbal, meski Iqbal di sisi lain masih terus terkenang dengan pertemuan tersebut. Aktifitas Xixi seperti hembusan angin sepoi-sepoi yang perlahan melenakan dirinya hingga terlelap dalam dekapannya. Semakin jauh dan semakin melenakan.

Hari itu selepas menemani seorang tamunya dari Jakarta, Xixi pulang dengan naik taxi menuju apartemen yang ditinggalinya bersama Ferdy. Hal itu dilakukannya karena Ferdy tak bisa menjemputnya. Mobilnya lagi bermasalah. Alasan tersebut sebenarnya tidaklah masalah buat Xixi, tetapi kata-kata dari sang tamu jika dirinya sebenarnya dibayar lebih mahal dari yang Ferdy katakan kepadanyalah yang membuat Xixi marah. Menurut lelaki bertato yang tadi memakai jasanya, dirinya telah membayar Xixi senilai 3 juta untuk semalam. Sementara Ferdy berkata kepadanya jika dirinya hanya dihargai sebesar 1,5 juta saja seperti  beberapa transaksi terakhirnya.

Saat menginjakkan kakinya di halaman apartemennya, mata Xixi terbelalak. Mobil yang katanya Ferdy mogok di dekat pusat kota ternyata telah terparkir anggun di samping rumahnya. Dari asap yang masih mengepul di lubang knalpot, terlihat jika mobil baru saja dipakai. Setengah berlari segera Xixi menuju ke kamar tidurnya.

" Braakkk " terdengar pintu kamar yang terbanting membentur dinding. Mata Xixi terpaku memandang dua orang setengah telanjang bergerak liar. Sementara dua orang yang menari liar di atas ranjang terperanjat. Tarian tak layak mereka terhenti. Keringat yang mulai membasahi kulit mereka berdua tak sempat kering, saat kilatan mata tajam tersebut memandang mereka berdua bergantian. Dua sosok berbeda jenis itu pasi mematung. Bibir-bibir mereka berdua tergetar, namun tak ada suara yang keluar selain hembusan nafas berat dan penuh sesal.

" Jadi ini yang kamu lakukan di saat aku bekerja? " bentak Xixi memecah keheningan yang tersemai tadi. Sorot mata merahnya nanar memandang mereka berdua. " Siapa jalang ini Fer? Tak puas kau kuliti tubuhku selama ini? " kembali tanya itu menghajar gendang telinga Ferdy.

" Dia..... dia......" jawab Ferdy tergagap.

" Dia siapa? " tanya Xixi sambil menjambak rambut wanita yang tadi sempat bergumul dengan Ferdy. " Jawab Fer! Jangan hanya diam saja " kata Xixi sambil menarik rambut wanita tersebut lebih keras lagi. Wanita tersebut hanya bisa meringis dan menangis. Usahanya untuk melepaskan diri dari jambakan Xixi tak berhasil. Wanita manis yang tingginya tak sampai 150 cm tersebut akhirnya hanya menangis pasrah.

" Dia Rindu. Pacar baruku. " jawab Ferdy sambil berusaha melepaskan tangan Xixi dari rambut wanita bernama Rindu tersebut. Usahanya berhasil. Begitu berhasil lepas dari jambakan Xixi, Rindu segera berlari menjauh dari dua sejoli yang terlibat perang mulut tersebut.

" Terkutuk kau Fer. Setelah kau renggut kehormatanku, kau jual aku pada setiap lelaki yang kau temui. Terus kau bohongi aku dengan mengambil sebagain uangku, kini kau khianati aku. Pergi kau dari sini! " bentak Xixi sambil melemparkan celana Ferdy yang tadi tergeletak di lantai. Saat Ferdy berusaha menangkap celana tersebut, Xixi menampar Rindu.

" Tapi apartemen ini aku yang bayar Xi. "

" Memang kamu yang bayar, tapi dari hasil keringatku. Pergi sekarang juga." bentak Xixi.

" Xi maafkan aku. Aku tak ingin berpisah denganmu. " rengek Ferdy sambil berusaha memeluk Xixi. Xixi menghindar. Saat Ferdy kembali berusaha untuk meraih tubuhnya, dengan sigap kakinya ditekuk ke depan, lututnya yang terangkat ke depan tanpa ampun menghajar selangkangan Ferdy. Ferdy yang tak sempat menghindar mengerang kesakitan sambil memegang kemaluannya.

" Kenapa kau lakukan ini Xi. Kau bisa seperti sekarang karena aku juga. " kata Ferdy sambil mengerang menahan sakit.

" Iya memang karena kamu. Tetapi karena kamu pula aku tak bisa hidup lebih dari yang aku punya sekarang." jawab Xixi.

" Maksudmu apa Xi? " tanya Ferdy mencoba berdiri tegak. Namun rasa sakit di selangkangan dan juga mual yang mendera membuat dirinya tetap pada posisi tubuh agak condong ke depan.

" Aku baru tahu jika selama ini tarifku lebih mahal 2 kali lipat dari yang kau katakan. Dan selama ini aku membiayaimu untuk bersenang-senang dari keringatku. Hadiah yang kau berikan kepadaku ternyata juga dari keringatku juga. Jadi aku tak butuh kamu!" bentak Xixi.

" Itu tidak benar Xi! " jawab Ferdy.

" Tidak benar katamu. Lelaki yang membayarku tadi yang berkata padaku. Dia tunjukkan padaku bukti transfer ATM-nya." jawab Xixi. Ferdy hanya termangu. Wajahnya makin memasi mendengar kata-kata Xixi tersebut.

" Xi maafkan aku." kata Ferdy.

" Tak ada maaf lagi untuk Fer. Pergilah kau dengan wanitamu itu" kata Xixi sambil menunjuk muka Rindu yang terduduk di bibir ranjang. " Aku tak butuh kamu. Aku bisa mencari pelanggan sendiri tanpamu." lanjut Xixi.

" Baiklah kalau itu maumu. Kau akan menyesal nantinya. " jawab Ferdy sambil memakai celanannya. Diraihnya bajunya yang teronggok di lantai. Tak lupa dia meminta Rindu untuk segera merapikan bajunya. Setelah itu mereka berdua pergi meninggalkan apartemen tersebut.

Xixi yang sedari tadi berusaha menahan agar tangisnya tak sampai jatuh membasahi pipinya tak lagi kuasa menahan tangisnya. Begitu Ferdy dan Rindu berlalu, Xixi membanting pintu kamar tersebut. Perlahan air mata turun membasahi pipinya yang memerah menahan amarah. Tubuhnya yang mencoba tegar merosot terduduk tersandar di daun pintu. Wajahnya segera terbenam di antara lututnya yang tertekuk. Tangisan sendu segera memenuhi ruangan tersebut. Pelan tapi menyayat hati.

Denpasar, 01112011.0224

Masopu

Note :
  • Untuk membaca tulisan sebelumnya Silahkan baca di bagian 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9                  
  • Maaf jika ada kesamaan nama tokoh dan cerita. Ini hanya fiksi belaka.

2 komentar:

  1. @rudi F
    Terima kasih mas Rudi
    silahkan baca bagian awal dan akhirnya
    salam

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...