Kamis, 10 November 2011

Kabar Kejutan

Hari-hari terus berlalu. Perlahan-lahan Iqbal bisa sedikit demi sedikit melupakan pertemuannya dengan Xixi. Kesibukan-kesibukannya berolahraga bersama Vita terus menggerus ingatan-ingatannya akan kehadiran Xixi. Hampir setiap hari mereka berdua selalu berolahraga bersama. Dari sekedar joging ringan sampai ikut panjat tebing. Bahkan kadang di akhir pekan Vita mengajak Iqbal bersepeda gunung ataupun rafting. Lama-lama Iqbal yang tadinya tidak suka berolahraga, menjadi suka berolahraga.

Kini Iqbal telah kembali seperti sedia kala. Hari-harinya senantiasa diliputi oleh kebahagian. Teman-teman sekantornya pun kembali melihat senyum ceria selalu terpancar di wajahnya. Sementara beberapa orang karyawati yang sekantor dengannya, perlahan mulai mencoba mendekati lelaki yang telah menjadi salah seorang kepercayaan big boss.


Pagi itu ketika dirinya tengah menyiapkan beberapa gambar yang akan dibawanya untuk mengecek progres pembangunan beberapa proyek yang ditanganinya, Iqbal dikagetkan dengan dering telepon di mejanya.

" Selamat pagi " sapa Iqbal sembari mengangkat gagang telepon di mejanya.

" Pagi Iqbal. Kamu bisa ke ruangan saya segera." sahut suara di seberang.

" Bisa pak. " jawab Iqbal.

Iqbal segera menuju ke ruangan orang yang tadi memanggilnya. Langkah-langkah kakinya yang khas dan teratur membuat beberapa karyawan lainnya mampu mengenali langkah tersebut tanpa harus melihat ke arah lorong penghubung. Sesekali senyumnya yang manis tersimpul dari bibirnya, ketika dirinya berpapasan dengan beberapa orang di lorong. Senyum manis yang merupakan ciri dari lelaki bertubuh tegap dan berwibawa tersebut. Dalam usia yang masih terbilang muda, dirinya telah membawahi beberapa pegawai senior. Meski begitu, para senior tersebut tetap menghormati Iqbal.

Tak lama langkah kakinya sampai di ruangan yang ditujunya. Diketuknya pintu ruangan tersebut perlahan-lahan. Belum sempat dia mengulangi ketukannya, terdengar suara dari dalam mempersilahkannnya masuk.

" Selamat pagi pak Surya " sapa Iqbal sambil duduk di kursi yang ada didepan orang yang dipanggilnya pak Surya.

" Pagi Iqbal. Bagaimana keadaanmu saat ini? " tanyanya sambil melempa seulas senyum.

" Alhamdulillah sehat pak. " jawab Iqbal sambil membenarkan posisi duduknya.

" Hari ini kamu ada rencana mau meninjau proyek yang mana saja Bal? " tanya pak Surya sambil memperhatikan Iqbal yang duduk di depannya. Lelaki berusia sekitar 52 tahun tersebut berwajah mirip dengan almarhum pak Soeharto. Lelaki yang berasal dari daerah Malang tersebut telah memimpin perusahaan tersebut selama 7 tahun. Pada masa kepemimpinannya, perusahaan mengalami perkembangan yang begitu pesat.

" Hari ini rencananya saya mau meninjau proyek yang di daerah Ancol pak. Kebetulan sudah hampir seminggu ini saya belum sempat menijaunya pak. " jawab Iqbal.

" Ok kalau begitu. Aku memanggilmu ke sini mau menyampaikan berita bagus untukmu Bal. " kata pak Surya sambil terus memperhatikan wajah Iqbal.

" Berita bagus apa pak? Apakah ada kaitannya dengan saya juga? " tanya Iqbal dengan wajah diliputi kebingungan. Wajah polosnya tak mampu menutupi rasa bingung dan heran yang tiba-tiba datang menyergapnya. Kulitnya yang putih sedikit berubah memerah menyadari sedari tadi pak Surya terus memperhatikan dirinya dengan seksama.

" Bal kamu kan pernah bercerita jika kamu ingin membahagiakan orang tuamu. Sebagai anak tunggal kamu selalu ingin berada di samping mereka berdua. Apalagi kini usia mereka sudah mendekati 60 tahun. " kata-kata pak Surya terhenti sejenak. Tangan kanannya segera meraih gelas air putih yang tadi disediakan oleh office boy kantor. Setelah menyelesaikan minumnya, pak Surya kembali melanjutkan kata-katanya " Karena itu saya mau menanyakan sesuatu ke kamu Bal. "

" Ada apa pak? " tanya Iqbal makin heran.

" Bal para direksi beberapa hari yang lalu mengadakan rapat. Mereka membahas tentang perusahaan yang di Surabaya. Mereka menginginkan agar ada penyegeran di sana, Kebetulan beberapa petinggi di sana sedang memasuki masa pensiun. Karena itu kami ingin menugaskan beberapa orang dari kantor pusat dan juga orang-orang yang di sana untuk dipromosikan di sana. Nama yang muncul salah satunya adalah namamu. Kamu mau tidak? " tanya pak Surya dengan sorot mata masih terus memperhatikannya.

" Tapi saya masih baru di perusahaan ini pak. Apa tidak menimbulkan rasa iri pada para senior pak? ' tanya Iqbal.

" Kamu di sana tidak sebagai pemimpin Bal. Kamu hanya akan membawahi beberapa orang yang akan memegang proyek-proyek besar di sana. Masalah pertanggung jawaban kamu tetap harus lapor ke pimpinan yang di sana. " pak Surya menerangkan tentang posisi Iqbal di sana yang ternyata tidak jauh beda dengan posisi yang ditempatinya di sini. Beliau juga menjelaskan mengenai siapa saja orang pusat yang akan ditugaskan di sana. Dan Iqbal mengenal betul siapa orang yang akan dijadikan pimpinan di sana.

" Baiklah pak, kalau memang posisi saya di sana tidak sebagai pimpinan saya terima pak. Saya bersyukur dengan penempatan ini, saya bisa lebih care sama orang tua saya. "

" Baguslah kalau begitu." kata pak Surya.

kemudian pak Surya menjelaskan beberapa hal yang tadi nelum sempat disinggungnya. Tentang orang yang akan menangani proyek-proyek yang tadinya dipegang Iqbal selama ini. Tentang waktu  Iqbal dipindahkan dan juga tentang besaran kenaikan gaji yang akan diterimanya di Surabaya nanti.

Keterangan pak Surya yang cukup jelas tersebut membuat Iqbal tersenyum. Setidaknya dia masih punya waktu sampai 2 bulan ke depan. Dia akan pindah ke Surabaya selepas tahun baru. Setelah semuanya jelas, Iqbal mohon diri untuk segera berangkat ke lokasi proyek yang sedang ditanganinya.

Denpasar, 10112011.0249

Masopu

Note :
  • Untuk membaca tulisan sebelumnya Silahkan baca di bagian 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11,12 , 13           
  • Maaf jika ada kesamaan nama tokoh dan cerita. Ini hanya fiksi belaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...