Senin, 19 Desember 2011

Siluet Seraut Wajah Di Ujung Senja

http://www.kaskus.us/
Senja telah menjelang. Langit yang biru perlahan berganti warna kemerahan. Semakin dalam matahari tenggelam ke ufuk barat, bias kemerahan itu semakin menebal sebelum nantinya hilang berganti dengan jelaga hitam yang semakin memekat. 

Iqbal yang telah lama menjalankan tugas di kota kelahirannya bergegas untuk pulang. Mobil dinas dari perusahaan yang setia menemaninya kini dikemudikannya sendiri. Toyota Avanza hitam keluaran terbaru tersebut perjalan tenang menyusuri jalanan dari kantor ke rumah orang tuanya. Jalanan mulus yang berhias aneka bunga terjajar rapi dalam pot-pot besar. Sementara di beberapa titik tertentu barisan pohon akasia dan ketapang menjadi perindang jalan dari panas dan hujan yang datang menerpa.


Hari itu, tak seperti biasanya Iqbal memilih jalan yang agak berbeda. Ketika baru keluar, arah mobilnya dibelokkan ke arah lain selain jalan yang harus dilaluinya. Dia memilih melalui jalanan yang pernah digunakan untuk berlari pagi. Jalan di mana terdapat sebuah taman dan beberapa rombong pedagang kaki lima yang berjualan makanan khas kota Surabaya. Setelah sampai ditujuan, dia segera memarkir mobilnya dan menuju salah satu stand makanan tradisonal tersebut. Iqbal memesan tiga porsi makanan untuk dibawa pulang.

Setelah semua pesanannya di tangan, dia kembali memacu mobilnya pulang. Dibiarkannya mobil tersebut berjalan tenang menyusuri jalanan yang mulai berhias kedipan lampu-lampu mercury. Kedipan yang terasa lebih indah dibanding saat dia menikmatinya di Jakarta dulu. Beberapa kali dilaluinya perempatan-perempatan yang tengah ramai pemakai jalan. Pemandangan yang  sduah rutin dinikmatinya beberapa bulan belakangan ini.

Ketika jarak perjalanan ke rumah semakin dekat, matanya tak sengaja menatap apartemen dimana dulu dia pernah berkenalan dengan seseorang. Perkenalan tak sengaja saat dirinya pulang dari berlari pagi. Perkenalan dengan seorang gadis muda yang pulang dalam keadaan mabuk berat dan terhuyung-huyung saat turun dari taksi. Hingga memaksanya untuk mengantar sang gadis menuju ke apartemennya. 

Iqbal berhenti sejenak tak jauh dari apartemen tersebut. Diperhatikannya apartemen yang kokoh berdiri, sementara di seberang jalan tampak beberapa rumah warga biasa berpagar tinggi menghias sisi lainnya. " Masihkah Xixi tinggal di sini ?" gumam Iqbal dari balik kemudi mobilnya. Matanya masih terus memandangi apartemen yang berhias taman luas di depannya. " Masihkah dia ingat aku ? " tanya Iqbal dalam hatinya.
http://bebyputri.wordpress.com/

Kembali terbayang pertemuannya dengan Xixi. Pertemuan kedua sekaligus juga yang terakhir. Pertemuan singkat yang penuh kenangan. Pertemuan yang diwarnai dengan pemukulan seorang lelaki yang tak dikenalnya. Lelaki yang dia duga sebagai pacar ataupun suami Xixi. Lelaki kasar yang suka main pukul, tak peduli pada wanita ataupun lelaki. Pertemuan yang singkat namun penuh makna

" Kenapa pikiranku jadi ngelantur gini? " gumam Iqbal saat tersadar dirinya tengah melamun. Dikucek-kucek matanya. Tak lama kemudian dilajukannya lagi avanza hitam tersebut perlahan. 

Rona merah di ufuk barat semakin lama semakin tenggelam dalam pekat. Terang mentari yang memenuhi bumi segera terganti dengan terang mercury. Terang yang hanya mampu menyinari beberapa jengkal bagian bumi saja. Namun terang tersebut cukuplah membantu Iqbal memngawasi jalanan yang dilaluinya. Jalanan yang tak seberapa jauh dari rumahnya.

Tak lama kemudian mobilnya berhenti di sebuah rumah tua. Rumah di mana dirinya tinggal bersama kedua orang tuanya. Setelah mengucap salam, Iqbal buru-buru masuk ke rumah dan segera melaksanakan sholat maghrib yang hampir habis waktunya.

Denpasar, 19122011.0229

Masopu

Note :
  • Untuk membaca tulisan sebelumnya Silahkan baca di bagian 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11,12 , 13, 14, 15, 16, 17, 18 , 19 , 20        
  • Maaf jika ada kesamaan nama tokoh dan cerita. Ini hanya fiksi belaka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...