Minggu, 11 Desember 2011

Vonis Terakhir

Waktu terus berlalu. Xixi dan Daniel terus berusaha untuk berkonsultasi dengan beberapa dokter. Rangkaian test mereka lakukan. Dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain rela mereka lakukan. Hingga akhirnya sesuai dengan kesepakatan mereka berdua, mereka akan melakukan test terakhir ke dokter yang direkomendasikan dokter Widodo. Dan hari ini hasil test tersebut akan mereka ketahui.

Seperti pemberitahuan yang diberikan dokter Septian, sore ini mereka akan diberitahu tentang hasil medical mereka berdua. Daniel dan Xixi memilih datang lebih awal dari waktu yang telah disepakati. Sebelum bertemu dengan dokter Septian, mereka berdua berjanji untuk saling menguatkan. Apapun hasil test yang mereka terima hari ini, mereka harus kuat. Itulah janji mereka berdua.


Dengan menarik nafas dalam-dalam selama beberapa saat, mereka berdua berjalan menuju ruang praktek Dokter Septian. Degup jantung mereka semakin kencang, seiring dengan makin dekatnya langkah mereka ke ruangan sang Dokter. Sejuknya gerimis yang turun sore itu tak lagi mereka rasakan. Kegerahan membekap tubuh dua orang yang sedang harap-harap cemas menunggu kepastian apalagi yang akan mereka dengar dari Dokter Septian. Masihkah sama dengan vonis dari ke empat dokter yang telah mereka temui? Ataukah beda dengan vonis terdahulu?

Sesampainya di dalam ruangan berwarna putih tersebut, Xixi dan Daniel segera duduk di kursi hitam yang angkuh menanti mereka. Suasana tegang tampak sekali terlukis dalam setiap siluet gurat wajah mereka berdua. Aroma obat yang begitu menyengat di ruangan tersebut, tak mampu mengalihkan fokus mereka dari memikirkan vonis apa yang akan dikatakan oleh sang Dokter.

Butiran keringat dingin perlahan bersemi di antara pori-pori kulit mereka. Wajah-wajah tegang mereka semakin memucat saat Dokter Septian datang menghampiri mereka berdua. Sambil duduk di kursi seberang meja, dia meletakkan dua buah berkas hasil test medis mereka berdua. Perlahan dia duduk sambil tak henti-hentinya memandang mereka berdua. Tak henti-hentinya tarikan nafas halus sang dokter dihela dalam-dalam. Beberapa saat lamanya keheningan menyergap ruangan tersebut.

" Sebelum saya menyampaikan hasil medical kalian berdua, boleh saya memberikan beberapa nasehat untuk anda berdua? " tanya Dokter Septian. Mata tajamnya yang tersembunyi di balik beningnya kaca mata lurus memandang Xixi dan Daniel bergantian. Tatap mata penuh wibawa. Tatap mata penuh ketenangan yang sedang berusaha untuk meyakinkan dirinya jika mereka berdua yang berdiri di depannya termasuk orang-orang yang kuat.

Xixi dan Daniel semakin kikuk mendapat pandangan mata seperti itu. Degup jantung mereka yang sudah terpacu tak beraturan semakin kencang berdetak. Butiran keringat dingin semakin subur menghias wajah-wajah mereka yang semakin memasi. Tatap mata mereka sejenak saling beradu. Mereka berdua berkomunikasi satu sama lainnya hanya dengan tatapan mata saja. Perlahan anggukan kepala Xixi memberi tanda ke Daniel jika dia sudah siap.

" Silahkan Dok. " kata Daniel sambil mencoba melawan tatap mata tajam Dokter Septian. Tatap mata yang tenang tapi begitu menusuk sanubarinya.

" Benarkah itu mbak Xixi? " tanya Dokter Septian kembali bertanya sambil merubah arah tatapannya ke arah Xixi. Xixi segera menjawab pertanyaan tersebut dengan anggukan kepala pelan.
http://de-enjel.blogspot.com/

" Apapun hasil medical yang akan saya bacakan nantinya, saya harap pak Daniel dan Mbak Xixi tetap tabah. Tetap kuat. Ini hanyalah sekedar vonis dokter, yang bisa salah bisa pula benar. " Sejenak Dokter Septian menghentikan perkataannya. Diaturnya tarikan nafasnya sedemikian rupa. Wajah yang tadi terlihat tenang dan berwibawa tersebut, perlahan berubah agak tegang. Bagaimanapun ada beban moral untuknya menyampaikan hasil medical tersebut. Terlebih jika hasilnya diluar harapan sang pasien. Perlahan ditariknya nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya.

" Pak Daniel, Mbak Xixi........" kembali Dokter Septian menarik nafas dalam-dalam. " Apapun yang saya katakan nanti, saya hanya ingin kalian berdua kuat. Hidup itu berat, jangan dibuat makin berat dengan berputus asa. Karena sesunguhnya Allah membenci orang yang berputus asa. Seberat apapun cobaan hidup yang akan kalian berdua hadapi sesudah ini, kalian harus tetap kuat. Kalian harus tetap berusaha. Anggap apa yang menimpa kalian saat ini adalah teguran atas kesalahan di masa lalu. " Dokter Septian kembali berhenti. Tarikan nafasnya semakin dalam.

Daniel dan Xixi hanya diam saja mencoba mencerna nasehat itu. Degup jantung mereka semakin tak beraturan. Berkejaran seperti tak ingin terhenti. Tarikan nafas mereka berdua tak kalah dalamnya dengan tarikan nafas Dokter Septian. Dari nasehat pembuka, pikiran mereka berdua telah bisa menebak apa hasil medical mereka.

" Tak perlu ada penyesalan. Tak perlu ada keinginan untuk saling menyalahkan, apalagi mencari siapa yang salah, siapa yang benar. Karena hal itu tak akan menyelesaikan masalah yang kalian hadapi. Yang perlu kalian pikirkan hanyalah, what's next?. Apa yang harus kalian lakukan ke depannya. Berdiam diri dan berpasrah diri? Atau mencoba memperbaiki sesuatu yang salah di masa lalu sambil terus berusaha untuk mencari obat untuk anda berdua. Saya rasa sudah cukup upaya kalian berdua untuk mencari secomd opinion. Kini saatnya kalian mencurahkan waktu, tenaga dan biaya yang kalian punya untuk memperbaiki diri dan berobat. " kata Dokter Septian sambil meraih dua buah berkas yang tadi dibawanya.

Perlahan-lahan dibukanya satu persatu berkas tersebut. Matanya terus awas memperhatikan mereka berdua. Dia harus bersiap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada mereka. Bagaimanapun ruangannya yang berada di lantai 3 rumah sakit bisa dijadikan tempat orang nekad melakukan sesuatu yang di luar kendali. Apalagi saat ini, hanya kaca yang memisahkan ruangannya dengan bagian luar gedung. Jika sampai salah satu dari dua pasiennya tersebut terpukul dan berniat bunuh diri dengan lari menerobos kaca maka akan susah menanganinya. Segera dia berdiri dari tempatnya. Tangannya masih memegang hasil medical kedua pasiennya tersebut.
" Hasil medical kalian adalah kalian positif HIV. " kata Dokter Septian sambil tetap berdiri.

Xixi dan Daniel yang mendengarnya tak terlalu kaget lagi. Sebab sedari mendengar nasehatnya, mereka sudah bisa menebak hasilnya. Namun tak urung hal ini membuat mereka terpukul juga. Mata Xixi seketika berurai air mata. Kembali terbayang masa-masa yang telah lalu. Wajah Ibu-Bapaknya bergantian hadir mengiringi rasa sesal yang menyapa. Kemudian terbayang pula wajah Denny serta lelaki-lelaki yang pernah hadir memeluknya. Dan yang terakhir muncul adalah kandasnya impian untuk terus menapaki duania keartisan yang baru seumur jagung dinikmatinya. Baru beberapa film yang dia bintangi, kini harus terhenti karena dirinya positif HIV.

Daniel pun tak kalah terpukulnya. Kalimat terakhir itu begitu keras menghentak dadanya. Bagaimanapun dia belum siap menerima keadaan ini. Dia belum siap seandainya para kru film beserta artis-artis yang sering bermain di filmnya tahu apa yang dideritanya. Dia tak siap jika harus menerima kenyataan itu, jatuh gara-gara dirinya positif HIV.

" Benarkah vonis ini Dok? '" tanya Daniel mencoba meyakinkan dirinya jika dia tak salah dengar.
http://imronspiritlife.blogspot.com/2011_02_01_archive.html

" Benar pak. Seperti hasil test dokter-dokter sebelum saya, kalian berdua positif HIV " jawab Dokter Septian. " Tapi jangan khawatir. Kalian masih bisa terus beraktifitas seperti semula. Selama kalian tahu cara penanganannya, Insya ALLAH penyakit kalain tak akan menular ke orang-orang sekitar anda. Penyakit ini hanya menular melalui perantaraan jarum suntik yang tak steril, transfusi darah dan hubungan seks. Oh ya jangan lupa berhati-hati dengan penggunaan jarum untuk tattoo. Itu saja." Dokter Septian kembali menjelaskan.

Kemudian Dokter Septian meneruskan nasehat-nasehatnya untuk Xixi dan Daniel. Dengan sabar dia terus memotivasi mereka berdua untuk tetap sabar. Untuk tetap kuat dan terus berusaha. Dengan tetap tenang dia menceritakan beberapa kisah hidup orang-orang penderita HIV yang tetap mampu survive.

Daniel dan XIxi terus mendengarkan nasehat dari DOkter Septian. Sesekali pertanyaan meluncur dari bibir mereka berdua. Dan Dokter Septian menjawabnya dengan penuh ketelatenan. Motivasi-motivasi yang diberikan sang dokter untuk sementara bisa menenangkan mereka berdua. Perlahan kesedihan yang mereka rasakan semakin berkurang.

Setelah cukup lama, akhirnya Xixi dan Daniel pamit undur diri. Dengan sabar Dokter Septian mengantar mereka berdua menuju pintu keluar. Diperhatikan langkah kaki mereka berdua hingga mereka hilang di balik pintu lift yang membawa mereka berdua turun ke lantai dasar.

Denpasar.11122011.0332

Masopu

Note :
  • Untuk membaca tulisan sebelumnya Silahkan baca di bagian 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11,12 , 13, 14, 15, 16, 17, 18 , 19        
  • Maaf jika ada kesamaan nama tokoh dan cerita. Ini hanya fiksi belaka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...