Senin, 21 Januari 2013

Lagu Sedih di Musim Penghujan


http://cahayareformasi.com/berita/2013/banjir-jakarta-bukan-karena-hujan-deras/

Tiba kita di simpang Jalan
Kala kerontang berhenti berdentang
Terlipat oleh air cucuran
Temani sajak sedih yang kembali berdentang

Sampah menggenang sumbat alur cerita
Tangis menggenang memaki ketidak berdayaan
Terlupa salah walau hanya seucap kata
Semena-mena bunuh sesalan

Kita merasa tak pernah salah
Ketika bah datang menerpa
Menunjuk sesama sambil berkata “Merekalah yang bersalah, tak bisa mengatasi masalah”
Atau “kita hanya menerima kiriman bencana dari kawan nun jauh di sana”

Terlupakah kita semua?
Alam yang teraniaya, menanti waktu bicara
Ungkap sakit yang selalu kita timpakan padanya
Tanpa terpikir balasnya kan tiba

Tak pernahkah kita belajar dari musibah?
Saat dia datang, kita sibuk menghiba
Mengharap kasih pada sesama
Sementara adat kitalah sesungguhnya sumber bencana

Kita serakah menimbun indahnya karsa dan karya
Tanpa peduli menutup jalan mereka
Kita sibuk bersihkan sampah di rumah kita
Lemparkannya ke segala arah, tanpa takut sumbat arus pulangnya

Kita terlalu buta
Meminta sesuatu berubah seketika
Sementara kita merusaknya bertahun lamanya

Kita terlalu tuli
Hanya bisa kritik sana kritik sini
Tanpa mau perbaiki diri

Kawan, musibah ini bukan murka sang alam
Inilah kreasi kita
Merusak keserasian hidup sang alam
Hingga bencana ketuk rumah kita
Agar kembali bersahabat dengannya

Denpasar.20.21012013.1125
Masopu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...