Selasa, 10 September 2013

Nyanyian Ilalang



Aku bergidik, sejak berhubungan denganmu, baru kali kamu menatapku dengan tatap mata yang begitu tajam. Sorotnya seperti bilah-bilah anak panah yang mencoba mengoyak hatiku, menciutkan nyali yang tak pernah takut menghadapi mara bahaya. Investigasi akan beberapa kasus kerusuhan, pembunuhan berantai dan kasus pelik lainnya, sukses aku taklukkan. Semua karena dukungan moral darimu. Tapi entah kenapa kamu tiba-tiba tidak setuju dengan rencanaku untuk menyelidiki kasus kecelekaan Lancer EX yang terjadi dinihari kemarin?
"Sadarkahh kau? Selama ini dirimu seperti ilalang di tengah savana. Jangankan hembusan angin ribut, sepoi angin yang membelai, sudah cukup buatmu berisik?" Katamu pelan, seakan tanpa semangat, tanpa kebanggaan yang selalu kau tiupkan tentang profesiku selama ini.

             "Maksudmu apa?" Aku kebingungan melihatnya bersikap seperti itu.
"Profesimu itu." katamu mantab. “Aku tak perlu sembunyikan lagi kegundahan yang selama ini terus menghantui malam-malamku. Aku takut kehilangan dirimu untuk sebuah kesia-siaan.”
"Wartawan? Apa yang salah dengan profesiku sebagai wartawan investigasi?" mukaku menegang, menahan rasa tidak enak yang tiba-tiba saja menggelora di dada. Entah kenapa rasa tidak enak itu semakin kuat merajah hatiku. Aku menangkap adanya keraguan di matamu yang bening itu.
"Tidak ada yang salah dengan profesimu. Kamu adalah investigator handal, yang mampu mengendus kecurangan dalam suatu kasus. Yang salah adalah kadang kamu tidak sadar ada yang memanfaatkan suara berisikmu itu. Rencanamu menginvestigasi kasus kecelekaan itu seperti ikut arus. Aku takut blow up yang membuncah setelah artikelmu, akan membuat semua mata mengarah ke kasus itu.” Kamu diam. Tanganmu memainkan ujung kerudung biru favoritmu. Aku tahu hatimu gundah, karena rutinitas itulah yang kerap kamu lakukan saat-saat seperti ini.
“Sadarkah kau, di luar sana, banyak harimau-harimau liar, serigala-serigala lapar ataupun singa-singa kesepian itu sering memanfaatkan suara berisikmu untuk sembunyikan jati diri mereka.” Kamu kembali diam. Nafas panjangmu memberi sedikit jeda, memberiku ruang untuk semakin dalam mencerna kegundahanmu. “Saat semua terlena menikmati alunan musikmu yang berisik, mereka, binatang-binatang rakus itu menerkam mangsa yang tiada berdaya. Membunuhnya dan meninggalkannya tanpa bekas. Aku takut, suara berisikmu akan kasus yang sedang hangat terjadi, membuat semua mata teralih pada hal itu. Sementara kerakusan dan kerusakan yang mereka hasilkan akan terlupakan. Dan saat kita tersadar, tak ada darah, tak ada kulit dan tak ada lagi tulang yang tersisa. Kita akan kehilangan jejak yang bisa kita gunakan untuk merekonstruksi kasus itu lagi."
"Jadi?"
"Tinggalkan kasus itu. Lanjutkan investigasimu tentang kasus korupsi di balik peran alim sang menteri." Pungkasmu sambil berdiri meninggalkan meja makan.
"Aku lebih bangga melihatmu mati dalam investigasi itu, daripada mati serupa ilalang kering yang terbakar." kamu berhenti sejenak dan membalikkan badan. " Dan akan lebih bangga saat kamu berhasil dengan selamat membongkar kasus gila itu, bukan menari bersama buaian angin yang melenakan itu." Tanganmu menaruh kamera kesayanganmu di atas meja, seakan menegaskan sikapmu yang lebih mendukung aku menginvestigasi kasus korupsi sang menteri lalim itu.

Denpasar.09092013.1511

Masopu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...