Senin, 03 Februari 2014

(re-write) Lintang Lonthar



Kemirih, 21 Februari 1970
            Mbok nawi oleh, isun nyilih picise sulung. Nang omah sing nono beras maning. Kang Karta sing oleh pedamelan. (Mbak, kalau boleh aku pinjam uangnya dulu. Beras di rumah habis. Kang Karta belum dapat kerjaan).” Pinta Karti, adikku sambil menimang-nimang Siti, anak semata wayangnya yang baru berusia 16 bulan.
            Dia tahu semalam aku baru pulang mentas di desa Lemah Bang. Setiap kali pentas, uang saweran yang aku dapat pasti banyak. Semua orang tahu, Onah adalah primadona panggung. Bintang panggung yang selalu menghadirkan keriuhan tersendiri saat dia menari. Ada pameo di penikmat tari Gandrung Sing Onah, sing ono pesona (tiada onah, tiada pesonanya)
            Aku merogoh buntalan kecil di bawah bantal. Kukeluarkan beberapa keping uang yang aku dapatkan semalam. Sambil tersenyum, aku sodorkan uang-uang itu pada adikku yang paling kecil. Sedari kecil dia memang paling aleman terhadapku. Hingga kini pun, saat sudah berkeluarga, dia masih seperti itu.
            Iki, picis isun gawean disik. (Ini, pakailah uangku dulu).”
            Seperti yang sudah-sudah, dia menerima uang itu dengan mata berbinar. Rasa bahagia tergambar di matanya. Sejujurnya dia lebih cantik dariku. Matanya yang bulat, seperti sasadara manjer kawuryan1. Rambutnya yang hitam, ngandan-ngandan2. Gelombangnya yang halus dan rapi seperti riak kecil air laut yang membelai pasir pantai Blimbing sari.  Andai mau, dia bisa jadi bintang pertunjukan sepertiku, bahkan melebihiku. Tapi dia tidak berbakat menari sepertiku, itu kenapa dia tidak tertarik mengikuti jejakku.
            Seperti sebuah ritual. Setiap selesai pentas, di pagi harinya adik dan tetangga yang kekurangan datang bertandang. Berbagai alasan dikemukakan, agar mereka bisa ikut merasakan uang saweran yang aku dapat. Sungguhpun di beberapa kesempatan aku mendengar mereka mencibir, aku tidak tega membiarkan mereka meratapi kekurangannya.
            _ _ _
Lemah Bang, 20 Februari 1970
            Purnama perlahan menunjukkan wajahnya di timur. Sedikit demi sedikit dia memanjat menuju puncaknya. Warnanya yang keemasan, memantul indah saat menyapu pucuk-pucuk daun kelapa yang merapat di atas gumuk3. Semakin tinggi, sinarnya semakin keperakan. Kilaunya menerobos di antara dedaunan yang bergoyang disapu angin malam.
            Suara seperangkat gamelan yang dimainkan sesaat setelah adzan maghrib tadi semakin rancak terdengar. Rancak suara gendang ditingkahi suara kenong dan gong yang saling bersahutan. Suara kluncing4 yang dipukul secara titir5, menambah indah harmonisasi paduan suara alat musik pentatonik itu. Semakin malam irama yang dimainkan semakin cepat, seperti sebuah undangan untuk segera datang.
            Obor-obor yang terbuat dari bambu berdiri berjejer di sepanjang jalan menuju halaman rumah kepala desa Lemah Bang. Obor-obor itu ditata berjejer dengan jarak yang teratur, antara 15-20 meteran. Sementara yang ada di halaman rumah dibuat lebih rapat lagi, agar bisa menerangi lokasi pementasan dengan sempurna.
            Di tengah halaman, sebuah pentas yang tidak terlalu tinggi berdiri. Pentas berukuran 6X8 meter itu beratap anyaman daun kelapa. Tepian pentas berhias janur kuning yang dilengkungkan pada tiang bambu. Tiang-tiang itu juga berfungsi sebagai tempat menggantungkan satu atau dua obor sebagai penerangan di atas pentas.
            Nada yang dimainkan para nayaga yang duduk di bagian belakang pentas iramanya sedikit berubah. Seperti mendapat sebuah isyarat, penonton perlahan mendekat. Mereka tahu sebentar lagi pementasan akan dimulai. Nada yang baru saja berubah adalah pertanda.
            Dari balik kelambu, empat orang gadis cantik yang seumuran keluar. Balutan baju hitam dengan berbagai accesorisnya menambah cantik wajah mereka. Ilat-ilatan (Lidah-lidahan) berwarna kuning keemasan menjulur di depan dada. Sepasang sumping6 sewarna menggantung di telinga. Mahkota yang ujungnya mental-mentul mengikuti gerak tubuh, menghias kepala. Di lengan atas accesoris dengan warna senada bertengger sempurna. Bagian bawah tubuh para penari itu dililit kain batik Gajah Oling7. Keempat penari itu adalah Onah Anjarwati, Suliyana, Kurniasih dan Sumiati.
            Seperti seorang pelayan yang mengikuti majikannya, para nayaga memainkan alat musik di tangannya sesuai gerak tubuh para penari. Saat keempat penari bergerak cepat mengelilingi pentas, mereka memainkan musiknya dengan cepat. Di bawah komando tukang gendang, alat musik lainnya mengiringi. Denting kluncing yang berbentuk segitiga hadirkan harmonisasi yang lain. Berbeda dengan perangkat musik lainnya, suaranya melengking.
            Setelah beberapa kali berganti posisi dan tarian sebagai pembuka acara pementasan, satu-persatu penari masuk ke dalam. Setelah beristirahat sejenak, Suliyana kembali ke pentas. Langkahnya perlahan memasuki arena pertunjukan. Meski bertubuh mungil, langkahnya cukup lincah untuk susuri setiap sudut. Setelah berputar beberapa kali, dia mendekat ke sudut kanan panggung. Sekali lempar, sampur8 berwarna merah di tangannya terbang dan melingkari leher seorang lelaki gagah. Lelaki itu melompat menaiki pentas yang tingginya tidak sampai satu meter. Awalnya dia bergerak perlahan, mengikuti gerak tari Suliyana. Saat sang penari bergerak ke kiri, dia mengikuti gerakan itu. Begitupun sebaliknya.
            Suliyana terus menggoda lelaki itu untuk mengikuti kemana gerakannya. Kadang dia bergerak lambat, kadang cepat. Saat lelaki itu menyergapnya, dia menghindar. Seperti membakar suasana, para nayaga pun melakukan hal yang sama. Musik terus dimainkan sesuai dengan lentur tubuh penari yang terus melenting menghindari serbuan sang lelaki.
            Lelaki pertama turun tanpa pernah bisa mendaratkan ciuman. Penari berwajah oval itu melempar sampur ke lelaki selanjutnya. Sama seperti yang sebelumnya, lelaki itu kewalahan mengikuti gerak tubuh mungil di depannya. Tidak sekalipun dia mampu mendaratkan ciumannya pada sang penari. Empat kali Suliyana melempar sampur, tiga lelaki gagal mendaratkan ciuman di pipinya. Hanya penari ke-empat yang sempat mendaratkan ciuman ke pipi kanan sang penari paling mungil itu.
            Setelah Suliyana undur diri dari pentas, Kurniasih dan Sumiati bergantian mengisi pementasan. Tubuh-tubuh semampai mereka berseliweran menggoda para penggemarnya untuk diberi kesempatan menari bersama. Satu-persatu lelaki-lelaki itu naik dan turun pentas, tapi tidak satupun yang dapat mendekati kedua penari yang masih saudara sepupu itu. Bukan karena pandai menghindar, tapi karena mereka terus menjaga jarak.
            Selepas turunnya Sumiati, tiba-tiba suara gendang berubah. Pukulannya yang lebih menghentak seperti menggoda. Suara titir kluncing semakin cepat, penonton yang sebagian masih duduk perlahan berdiri. Mereka tahu siapa yang akan tampil. Seperti disesap rasa penasaran mereka merapat ke arah pentas. Gemuruh beberapa penonton, berharap menjadi orang pertama yang melihat sang primadona panggung keluar dari ruang riasnya.
            Tepukan tangan riuh menyambut terbukanya kelambu.
            Onah keluar. Seperti seorang dewi, dia tidak langsung melangkah. Tangan kanannya setengah menggantung, memegang selendang kuningnya. Selendang merah masih dibiarkannya menggantung di pinggul. Tangan kiri terangkat rata-rata air, terlilit selendang berwarna kuning dan merah. Lengan bawahnya sedikit diturunkan dengan jemari terbuka lebar dan bergerak bergantian. Matanya yang bulat indah memandang berkeliling, menyapu wajah-wajah penggemarnya.
            Tabuhan gendang dan kluncing kembali berubah. Jika tadi cepat menghentak, kini sedikit melambat.
            Onah bergerak perlahan. Setapak demi setapak dia maju ke ujung pentas. Di ujung pentas dia bergerak ke sebelah kanan dan terus memutari pentas beberapa kali. Kedua tangan bergerak naik turun secara bergantian. Semakin lama gerakan kaki dan tangannya semakin cepat. Irama gamelan yang mengiringi pun semakin cepat, seperti berusaha mensejajari gemulai sang idola.
            Setelah berputar beberapa kali, Onah melambatkan langkahnya. Para nayaga pun melakukan hal yang sama, melambatkan tempo gamelan. Matanya terus menyusuri setiap wajah yang ada di depan pentasnya.
            “Brrrrr”
            Seperti terbang sampurnya mendarat ke leher pak Lurah yang duduk didampingi sang istri. Lelaki berusia 58 tahun itu menoleh ke samping, memandangi istri yang telah 30 tahun menemaninya. Sebuah anggukan kecil, sudah cukup sebagai jawaban. Suara musik seperti menggodanya untuk cepat-cepat maju.
            Pak Lurah berdiri. Dia mengikuti tarikan sampur yang ada di tangan Onah. Perlahan dia menari, mengikuti gemulai tubuh wanita yang seumuran anaknya yang kedua itu. Setiap kali Onah bergerak, ke situ pak lurah memburu. Semakin lama gerakan mereka semakin cepat. Pentas yang cukup lebar itu seperti terlalu sempit untuk mereka berdua. Suara derit kayu yang bergesek, menandai betapa cepat langkah mereka bergerak. Sang Penari menggoda, pak Lurah memburu, meski harus mengelilingi pentas beberapa kali.           
            Beberapa saat lamanya pak Lurah menemani Onah menari, tetapi tenaga tuanya tidak mampu mengimbangi. Sambil memegang pinggang, dia mundur dan kembali duduk di samping istrinya.
            Onah kembali memutari pentas. Seperti bersenyawa, gerak tubuh dan irama musik yang dimainkan nayaga sungguh serasi. Meski kulitnya tidak seputih Suliyana, tapi kemampuannya menyelami iringan musik, membuat aura penampilannya lebih hidup. Ditambah suaranya yang merdu, membuatnya layak menjadi bintang panggung. Setelah dua kali memutari panggung, dia kembali melempar sampur. Seorang lelaki tegap di sudut panggung melompat naik. Senyum mengembang di bibirnya.
            Onah memainkan kaki. Sikapnya seperti berjalan di tempat. Sementara kedua tangan yang terbuka lebar naik turun bergantian. Pantatnya yang padat berisi, bergoyang ke kiri dan ke kanan, seirama gerak kakinya. Sampur merah dan kuning yang menggantung, sekali-kali diterbangkan ke lelaki tegap. Sikapnya yang kemayu seperti menggoda lelaki itu untuk segera menyergapnya.
            Lelaki itu bergerak maju. Tubuh tinggi besarnya seperti akan mudah memeluk dan mencium tubuh Onah yang ramping. Ternyata tidak. Onah cukup lincah. Dengan memiringkan badan sedikit, dekapannya lewat. Dibuai rasa penasaran, lelaki itu terus memburu. Onah seperti menggoda. Dibiarkan wajah dan tangannya mendekat, saat sudah dekat, Onah kembali menghindar.
            Siulan dan teriakan dari penonton seperti ledekan untuk lelaki itu. Sebagian orang mahfum, Onah adalah penari liat. Dia susah untuk ditundukkan. Selincah apapun gerak kaki orang yang menari dengannya, belum pernah ada yang mampu menciumnya, selain almarhum suaminya. Hanya Bahar yang mampu melakukannya, itupun saat mereka masih belum saling kenal. Dan kini, meski sudah dua tahun suaminya meninggal, belum ada yang menggantikan kedudukannya, baik sebagai penakluk di pentas ataupun pengganti kedudukan almarhum di sisinya.
            Sama seperti lelaki yang kini berdiri di depannya, tidak ada yang mampu menaklukkan Onah Anjarwati. Status janda yang disandang, bukan berarti langkahnya tiada ditimbang. Pandang mata yang menghujam, seperti pedang yang menelanjangi dia, mencari cela dan kisahnya yang buram. Karenanya dia harus tetap tenang, agar tidak terterkam lelaki jalang.
            Meski berusaha keras, lelaki itu tidak juga berhasil. Kemana dia memburu, ke arah lain Onah menggeser tubuh. Sesekali Onah menunggu tangan atau wajah lelaki itu mendekat, saat yang ditunggu tiba, dia segera menggeser badan. Sang pemburu mati gaya. Dia tidak mampu mendektai Onah walau selincam9 saja. Teriakan dan siulan penonton membuatnya membabi buta, seruduk sana seruduk sini. Tapi hanya angin yang ditemui.
            Lelah mengimbangi gerakan Onah, lelaki itu undur diri. Sementara sang Primadona terus menari. Sampurnya terus mengundang lelaki datang dan menari bersama dia. Satu datang, satu pergi. Ekspresi sama yang tersisa, kecewa. Tidak ada yang mampu mengimbangi gerak tarinya.
Onah terus menari. Suara gamelan yang mengiringi setiap gerakannya semakin rancak dan padu, membius penonton yang enggan beranjak pergi. Pertunjukan yang mendekati akhir tak mampu mengantar penonton ke rumah masing-masing. Mata mereka terus terpatri ke sosok Onah, sang primadona. Saat gending “keriping Sawi10” digantikan gending “Keok-keok11”, Onah bergerak ke sayap kanan panggung. Seorang lelaki kurus yang sedari awal pertunjukan diam memperhatikan, ketiban sampur. Sekali kibasan lelaki itu langsung naik ke atas pentas.
Gemuruh suara penonton mengiringi lelaki itu menari. Gending “keok-keok” sebagai lagu terakhir terus mengiringi gerakan kedua orang itu menari di atas panggung. Lincah kaki lelaki kurus itu terus memburu langkah Onah. Beberapa kali wajahnya mendekati sang primadona. Namun Onah terus memainkan aksinya. Seakan-akan menggoda, Onah membiarkan wajah itu mendekati pipi kiri ataupun kanannya. Saat wajah itu semakin dekat, Onah menggeser kepalanya ke samping. Aksi itu membuat suara tertawa penonton bergemuruh. Saat gending “keok-keok” berakhir, lelaki itu tak bisa mendaratkan satu ciuman pun ke Onah. Dengan wajah penuh kekecewaan dia turun dari panggung, sementara Onah sudah menghilang di balik panggung.
_ _ _
Pementasan Gandrung Blambangan telah usai, penonton pun sudah kembali ke rumah masing-masing. Yang tersisa di halaman rumah pak lurah Lemah Bang hanya rombongan penari Gandrung dari desa Kemirih dan para Nayaga. Pak lurah dan bu lurah hanya mampir sejenak untuk menyerahkan uang pertunjukan pada Onah, setelah itu mereka masuk ke rumahnya yang besar.
Nayaga yang sudah merapikan perangkat gamelan duduk bersandar bergerombol, menunggu para penari dan sinden mebersihkan riasan wajahnya. Setelah merapikan barang masing-masing, para penari dan sinden bergabung dengan nayaga. Mereka duduk melingkari sebuah ublik yang terletak di tengah-tengah ruang.
Onah memasuki lingkaran. Sebelum duduk di dekat ublik12, dia melihat teman-temannya, sudah berkumpul semua ataukah belum. Dia membuka amplop dari pak lurah dan juga saweran pengunjung yang dikumpulkan dalam keranjang rotan. Di bawah tatapan mata teman-temannya, dia menghitung uang-uang itu. Setelah itu dia membagi uang yang mereka dapat sesuai dengan jumlah anggota yang ada, sama rata sama banyak. Meski primadona pertunjukan, dia tidak pernah sekalipun mengambil jatah lebih banyak dibandingkan yang lain.
Mbok Onah, bagiane riko sing kurang ta? (mbak Onah, apa bagianmu tidak kurang)” tanya Slamet sesaat setelah Onah membagikan uang. Slamet adalah penabuh gendang yang biasa mengiringi pementasan Onah dan teman-temannya. Dia sudah mengikutinya sejak sang penari berusia belasan tahun.
            Cukup, Met. Sak mene baen isun sing kurangan. (Cukup Met, segini saja sudah cukup)”
            Kelendi ambi lare-lare hang ono ring omah? Kelendi ambi adine mbok Onah hang ngarepake rejekine Mbok? (Bagaimana dengan anak-anak di rumah? Bagaimana dengan adiknya mbak Onah yang mengharap rejeki dari Mbak?)”
            Anak-anak isun, ben isun baen sing mikiri. Riko pikiri anak-anak riko hang mageh cilik. Picis sak mene cukup gawe isun. (Anak-anakku biar aku saja yang mikir. Kamu tidak usah ikut mikir. Pikirkan saja anak-anakmu yang masih kecil. Uang segini sudah cukup untukku)” kata Onah sambil membereskan bagiannya.
            Mbok, isun uga mesakaken ambi riko. Riko iki primadonane grup Pachul Guwang13, apuwo riko sing gelem bagian lebih. Isun ambi konco-konco ikhlas mbok. (Mbak, saya juga kasihan denganmu. Sebagai primadona grup Pachul Guwang, kenapa kamu tidak mau bagian lebih. Saya dan teman-teman ikhlas, mbak)” Parmin menimpali perkataan Onah. Pemain kluncing yang sudah lama mengikuti Onah itu mencoba merayunya agar mau mengambil bagian yang lebih banyak.
            Parmin, Slamet lan sak dulur kabeh. Duduk isun sing gelem njumuk bagian lebih, tapi isun sing biso. Kabeh podo duwe andil, kabeh podo duwe tanggung jawab. Isun sing ono dulur-dulur iki, sing ono apa-apane. Isun dadi primadona amergo ono sedulur kabeh. Iku sebabe isun sing gelem njumuk bagian lebih. Sitik-akeh ayo dinikmati barengan. kurang ta cukup iku pangeran hang ngatur. (Parmin, Slamet dan saudara semua, bukan saya tidak mau mengambil bagian lebih. Saya tidak bisa. Semua sama-sama punya andil. Saya tanpa saudara-saudara tidak ada apa-apanya. Saya jadi primadona karena ada saudara semua. Itu sebabnya saya tidak mau mengambil bagian lebih. Sedikit-banyak ayo dinikmati bersama. Kurang ataukah cukup itu Tuhan yang mengatur.)”
            “Tapi, mbok…”
            Wes, Met. Sing dibahas maning. Riko wes suwe milu isun. Riko wes weruh abang-birune atin isun. (Sudah, Met. Tidak usah dibahas lagi. Kamu sudah lama ikut aku. Kamu sudah tahu merah-hijaunya hatiku.)” potong Onah Anjarwati.
            Slamet, Parmin dan yang lainnya hanya bisa terdiam. Mereka sudah hafal bicara dengan siapa. Wanita di depannya berpendirian kokoh. Meski deraan hidup tiada henti menghadang. Dia tetap berada di jalannya. Kebiasaan yang dijalani sejak masih belum menikah tetap sama, dia membagi rata apa yang didapat. Uang yang didapatnya dari mentas, hanya numpang lewat. Anak-anak, adiknya dan juga tetangga esok akan mengerubuti, meminta jatah untuk menyambung hidup mereka.
            Ada hal lain lagi yang membuat Slamet dan teman-temannya salut dan hormat padanya adalah Onah tetap bisa menjaga diri. Status yang disandang, tidak membuat dia terjerumus dalam lembah hitam. Meski telah ditinggal mati sang suami, dia tetap menjalani hidupnya dengan tabah dan tidak tergoda oleh rayuan buaya-buaya darat yang siap menjerat. Andai dia mau, bermodal wajah rupawan, masih ada saudagar kaya yang mau menikahinya. Andai pun tidak dinikahi, dijadikan simpanan orang kaya tentu lebih mudah untuknya menjalani hidup.
            _ _ _
Temuguruh, 31 Oktober 2013
            Aku berjalan tertatih. Dari hari ke hari tubuhku semakin lemah. Usia memang tidak bisa dibohongi. 40 tahun yang lalu, jarak yang aku tempuh dari ruang tengah ke lincak14 di emperan15 tidak jauh. Hanya butuh waktu sekerjapan mata saja. Tapi kini, jarak yang tidak lebih dari enam meter, serasa jarak enam puluh meter jauhnya. Butuh waktu lama dan menguras sisa-sisa nafasku. Padahal dulu jarak itu bisa aku tempuh bolak-balik sambil memainkan selendang dan menggoda para penari pria untuk mendekatiku.
            Gadis cantik itu memapahku. Matanya yang bulat, seperti mataku di kala muda. Rambut hitamnya lurus tergerai sampai ke pinggul, seperti rambutku dulu. Alisnya yang lentik, seperti mahkota yang melindungi matanya dari sinar matahari. Hanya hidung dan bibirnya saja yang berbeda dariku. Bibirnya tebal dan bagus, tidak seperti bibirku yang tipis. Hidungnya mancung dengan garisnya yang kuat. Baju putih yang dikenakan, serasi dengan tubuhnya yang semampai.
            Apuwo, Mak? (Kenapa, Mak)” tanyanya lembut.
            Suaranya lebih lembut dari suaraku dulu. Suaranya jauh berbeda dibanding suara orang-orang Suku Using16 pada umumnya. Suara orang Banyuwangi umumnya tinggi melengking. Dia meski tinggi, tapi halus dan ada kesan kemayu seperti orang-orang Mataraman14 yang biasa tinggal di Purwoharjo dan beberapa kecamatan di Banyuwangi selatan.
            Isun kesel, Beng. (Aku Capek, nduk)”
            Nawi Mak Onah kesel, lenggah sulung. Sing keneng dipekso. (Kalau Mak Onah Capek, duduk dulu. Tidak usah dipaksa)” katanya sambil memapahku menuju lincak yang tinggal selangkah di depanku.
              Beng, saiki kelendi nasib awak isun iki. Mangan golet-golet dewek. Sing ono hang nulih. Mulih sing ono hang ngereken. Ojo maneh tonggo parak, anak-dulur baen sing ono hang ngereken. Tapi sing paran-paran wes, isun paran jare. (Nduk, sekarang bagaimana nasib diri ini. Makan harus cari sendiri. Tidak ada lagi yang mau menoleh. Pulang pun tidak ada yang menganggap. Jangankan tetangga dekat, sanak-saudara pun tidak ada yang memperdulikan. Tapi tidak apa-apa sudah, aku apa katanya takdir.)”
            Tanganku gemetar memegangi lembaran lontar18 yang tadi aku bawa dari kamar. Huruf-huruf arab yang tertulis disana kulafalkan. Meski mata ini sudah tidak setajam dulu, meski guratan di atasnya agak buram, aku masih mampu membacanya dengan baik. Bentuk dan letak setiap huruf serta tanda bacanya masih aku ingat. Andaipun aku tidak memegang, aku masih bisa melafalkan. Setiap kali perih menjamah hati, aku selalu mengambilnya, membacanya hingga tanpa sadar air mataku ini menitik.
            Tidak, aku tidak pernah menangis untuk derita yang aku hadapi. Aku tidak pernah mengutuk takdir yang harus aku jalani. Ini semua sudah garis-Nya. Bagaimanapun aku menangisi hal itu ataupun seberapa besar caci-maki yang aku lontarkan, tidak akan pernah meringankannya. Ini semua harus aku jalani, karena fase inilah yang akan menentukan tempatku kelak.
            Mak,…Mak sing kepingin ta urip bareng anak lan putu riko? (Mak…Mak tidak kepingin hidup bareng dengan anak dan cucumu)”
            Pertanyaan dari Cici mengagetkanku. Wajahnya terlalu lugu dan polos saat melontarkan pertanyaan itu. Gadis muda itu mungkin seumuran dengan cucuku.  Terakhir aku melihat cucuku saat dia berusia 2.5 tahun. Setelah itu, dia dan kedua orang tuanya pindah ke Jogjakarta. Sejak saat itu, aku tidak lagi bertemu dengan mereka. Kabar berita tentang mereka pun tiada pernah sampai padaku. Aku seperti tersisih, terutama sejak aku tidak lagi jadi penari dan pindah ke sini, di perkebunan kopi yang berhawa sejuk.
            Beng, isun sing kepingin ngerepoti anak, putu uga seduluran. Wes cukup kadung emak kudu urip gedigi. Masio mung mbekere jaran hang ono ring tegalan hang ngancani. Masio mung jangkrik hang ngudangi ati, isun ikhlas beng. Iki kabeh wes dadi garise Gusti Allah Hang Maha Kuasa. (Nduk, aku tidak ingin merepotkan anak, cucu dan juga sanak saudara. Sudah cukup emak kalau harus hidup seperti ini. Meski hanya suara ringkikan kuda di kebun yang menemani. Meski hanya suara jangkrik yang menghibur hati, aku ikhlas nduk. Ini semua sudah takdirnya Allah yang maha kuasa.)”
            “Mak…”
            Cici memelukku dengan erat. Tidak kutemui rasa canggung dari caranya memeluk. Aku merasakan ada ketulusan dalam setiap lakunya. Dia tahu aku hanya wanita renta, yang terbuang dari keluarganya. Bajuku yang lusuh dan kumal, tidak menghalanginya untuk mendekapku. “Andai saja anak atau cucuku yang melakukan ini.”
            Beng,.. opo riko sing isin kadung ono wong hang ndeleng riko ndekep isun gedigi? (Nduk apa kamu tidak malu jika ada orang yang melihatmu memeluk aku seperti ini?)”
            Aku merasa tidak enak. Kebaikannya selama ini sudah lebih dari cukup. Dengan hadirnya yang rutin setiap dua atau tiga hari sekali, sudah menjadi hiburan untukku. Saat dia datang, aku terhibur. Aku seperti melihat diriku di masa muda, meski dalam bentuk lain. Dia terlalu cantik jika dibandingkan denganku dulu. Dia terlalu sempurna dengan semua yang dimilikinya.
            Nawi ta riko iki putu isun, Beng! (Seandainya saja engkau adalah cucuku, Nduk)” kata-kata itu tiba-tiba saja terlontar dari bibirku.
            Nawi isun Putu riko, Mak gelem ta sing urip bareng isun? (Seandainya saya cucu. Mak mau apa tidak untuk hidup denganku)”
            Masio ta uripe isun mung nganteni tangan tengen ring nduwuran. Masio ta laku isun wes terantanan, isun emong urip hang nggayung lintang, beng. Iku mau mung perandane, dudu hang sun arepno. Isun emong ngeropoti emak-apak riko. (Meskipun kini hidupku hanya mengharap uluran tangan kanan di atas. Meskipun jalanku sudah tertatih, aku tidak mau seperti menggapai bintang di langit. Itu tadi hanya perumpamaan, bukan sesuatu yang saya harapkan. Aku tidak mau merepotkan ibu-bapakmu.)”
            Mak, Isun putune riko. (Mak, aku cucumu)”
            Telingaku seperti kembali mendengar gelegar suara gong. Satu hal yang telah lama aku karamkan di hati, kini bergetar. Jemari kananku yang keriput bergerak perlahan, mencoba menyusuri garis di wajahnya. Gemetaran aku masukkan telunjuk kiriku ke lubang telinga. Seakan tidak percaya aku membersihkan lubang telinga yang sama keriputnya dengan jemariku.
            Paran? (Apa?)”
            Ingin aku membelalakkan mata. Tapi mataku tidak seperti dulu. Keriput di kelopaknya seperti mengunci inginku.
            Cici mengangkat tangan kanan yang tadi sempat masuk ke dalam tasnya. Selendang kuning kusam kini berada di genggamannya, terbang ditiup angin. Kibasannya menyapu wajah tuaku.
            Aku mengenali selendang itu. Selendang yang tepiannya dihiasi monte keemasan itu adalah punyaku. Huruf O dan A yang direnda di salah satu ujungnya adalah inisial namaku. Mataku berkaca-kaca mengingat selendang itulah yang menjadi saksi kejayaanku dulu. Air mataku makin tidak terbendung, saat dua orang berusia lima puluhan tahun berjalan mendekat.
            “Sarmila…”
            Aku masih ingat nama itu. Aku masih ingat wajah itu. Dia satu-satunya anakku yang tersisa. Sarman, kakaknya meninggal saat berusia 17 tahun. Setelah menikah, dia ikut suaminya ke Jogjakarta.
            Emak, isun nggoleti riko nang endi baen. Sedulur ring Rogojampi, Kabat lan Kemirih16 sing ono hang ngerteni riko ono ring ngendi. Isun wes kelangan akal nggoleti riko. Untunge isun kemutan nawi riko seneng ambi ambune kembang kopi rikolo ngembang. Isun kemutan nawi riko kepingin urip ono ring kene.  (Emak, aku mencarimu kemana saja. Saudara du Rogojampi, Kabat dan Kemirih tidak ada yang tahu dimana dirmu. Aku sudah kehilangan akal mencarimu. Untungnya aku ingat kalau kamu suka dengan aroma kopi saat berbunga. Aku ingat kamu pernah berkata ingin hidup di sini.)”
            Air mataku semakin deras mengalir. Bunga-bunga mungil berwarna putih membayang di mataku. Bunga kopi yang selalu berembun di pagi hari mempunyai kenangan tersendiri untukku. Tiba-tiba saja wajah almarhum suamiku itu kembali muncul. Seandainya dia tahu aku kembali berkumpul dengan anak dan cucunya.
- - -

Denpasar, 11012014.2038

Masopu
            _ _ _
  Note:
11.      Sasadara manjer kawuryan = purnama yang terang benderang.
22.      Ngandan-ngandan = sebutan bahasa jawa  untuk rambut yang bergelombang
33.      Gumuk = Bukit
44.      Kluncing = alat musik yang terbuat dari besi, ditekuk berbentuk segitiga sama sisi dan cara memukulnya secara titir.
55.      Titir = cara menabuh suatu alat musik dengan irama yang sama dan konstan.
66.      Sumping = hiasan di telinga biasanya berwarna keemasan dan sedikit lukisan merah, berbentuk setengah lonjong dengan lubang besar seukuran ddaun telinga.
77.      Gajah Oling = Jenis batik khas Banyuwangi
88.      Sampur = Selendang panjang yang biasanya dikenakan para penari. Di Banyuwangi biasanya berwarna merah, hijau atau kuning.
99.      Selincam = Sekejap
110.  Ceriping Sawi = Lagu yang biasa dinyanyikan untuk mengiringi pementasan gandrung Blambangan/Banyuwangi
111.  Keok-Keok = Lagu yang biasa dinyanyikan untuk mengiringi pementasan gandrung Blambangan/Banyuwangi
112.  Ublik = lampu minyak tanah yang terbuat dari kaleng atau botol beling dan dikasih sumbu kain di tengah tutupnya.
113.  Pachul Guwang = Nama grup kesenian gandrung yang pernah ada di daerah Banyuwangi.
114.  Lincak = Tempat tidur yang terbuat dari bilah-bilah bambu
115.  Emperan = Teras rumah.
116.  Suku Using = Suku asli yang meninggali 8 kecamatan di Banyuwangi (Singojuruh, Rogojampi, Srono, Kabat, Banyuwangi kota, Jajag, Benculuk, Temuguruh dan sebagian Genteng)
117.  Mataraman = Sebutan untuk orang-orang pendatang yang berasal dari daerah Jogja dan Jawa Tengah bagian selatan. Mereka biasanya tinggal di sekitar Alas Purwo dan Taman nasional Meru Betiri.
118.  Lontar = Daun yang di masa lalu digunakan untuk menulis surat, karya sastra ataupun kitab suci.
119.  Kemirih = Nama desa yang oleh pemerintah daerah banyuwangi ditetapkan sebagai desa adat suku Using. Di desa ini hampir semua adat istiadat suku using masih terjaga dengan baik.
220.  Lintang Lonthar = Bintang yang terbuang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...