Rabu, 27 Februari 2013

Aku Bukan Simpanan Sang jenderal


Kalimaya Artgalerry

            Aku mengenalnya lima tahun yang lalu, tepat di hari dimana aku terbebas dari lipatan buku-buku tebal. Buku-buku yang selama ini selalu menemani langkahku. Buku yang katanya orang-orang bijak adalah jendela dunia, tapi bagiku buku-buku itu adalah kutukan dunia. Kutukan yang membuatku terkungkung dari duniaku sebagai bunga yang baru mekar. Bunga yang masih perlu menebar wangi untuk menarik minat sang kumbang agar menghampiri kelopakku dan menyentuh putik sarinya.
            Dia, dia mengenalkan diri dengan nama yang simple, sesimple dandanannya. Sesimple sikapnya dalam memperlakukanku. Tak banyak rayuan muluk-muluk yang menetas dari bulir-bulir air liur di bibirnya. Dia Jack, nama yang singkat, sesingkat rayuannya yang tak pernah bertele-tele. Straight to the point. Singkat tapi membuatku terlena. Aku selalu memanggilnya Jack.
        
    Apakah dia lelaki idamanku? Wajahnya yang bulat, sesuai dengan harapanku. Kulitnya yang kuning langsat, kesat seperti kulitku yang seusia dengan anaknya. Matanya? Matanya yang bulat seperti sasadara manjer kawuryan, bersinar terang di mataku, hingga menembus ke rongga hatiku yang terdalam. Rongga di mana rasa haus akan belaian kasih sayang itu selalu menggoda anganku, hingga kadang aku terlena di kamarku yang besar dan mewah. Jadi, apakah dia lelaki idamanku? Tak usah kujawabpun kamu sudah tahu.
            Jack, kumisnya yang tipis itu selalu membuatku terkenang. Sejam tak melihatnya, aku terpasung rindu. Kumis tipisnya tidaklah setipis dompetnya yang begitu tebal. Maklum seorang petinggi di jajarannya. Dompet yang kata orang mampu membuatku hilang kewarasan, hingga rela melepas cinta cowok setampan Justin Bieber melayang pergi. Padahal usia Jack tak jauh beda dengan usia Papa dan Mamaku.
            “Peduli setan” hardikku dalam hati. Tahu apa mereka tentang aku? Tahu apa mereka tentang dia? Mereka hanya iri, melihatku jadi istri perwira gagah seperti dia. Itu kenapa mereka getol memaki, meneriakiku bodoh. Meneriakiku cewek matre. Tahu apa mereka tentang sebutan matre itu? Tahu apa mereka tentang cinta? Cukupkah aku menikah hanya modal cinta, tanpa sokongan materi?
            “Bulshitt” makiku saat kata-kata mereka semakin dalam menembak gendang telingaku. Apakah kalian akan diam saat ada kesempatan sepertiku? Membiarkan permata yang terjatuh dari langit lepas begitu saja? Aku tidak tebar pesona, dia yang datang membawa cinta. Aku tidak sedang mengemis harta, tapi dia yang datang membawakannya. Aku tidak sedang melempar jaring, dia yang datang dengan uangnya yang gemerincing. Yang aku tebar hanyalah jaring asmara, jaring yang membuat tua muda kepayang dibuanya.
            Buat apa aku menikah demi harta. Papaku kaya raya. Mamakupun cukup berharta. Aku terlahir dari keluarga berada, yang tak kekurangan suatu apa, selain cinta dan kasih sayang dari sejoli yang selalu kudamba. Aku tidak sedang terluka saat menerimanya, hingga butuh bidangnya dada untuk sandaran kepala. Yang aku butuh cuma cinta, tak peduli jadi istri muda ataupun dinikahi lelaki setengah tua. Bagiku dialah cinta pertamaku. Tak peduli adanya dia, aku tetap akan mencintainya.
            Dia koruptor? Aku tak tahu, hingga namanya jadi headline berita. Dia menggelapkan uang Negara? Aku tak peduli. Yang aku tahu dia telah mengkorupsi hatiku, hingga namaku membeku di sana. Yang aku tahu dia telah gelapkan mataku, hingga tak mampu lihat apapun selain dia.
            “Jangan hardik aku sebagai wanita simpanan atau perusak rumah tangga orang!” karena aku menikah secara sah. Apakah dia jujur pada istri tuanya, aku tak tahu. Naif jika kalian melihatku sebagai perusak rumah tangga orang, aku bukan seperti itu. Bukankah banyak lelaki yang beristri lebih dari satu? Bukankah banyak wanita yang berstatus selingkuhan tanpa ikatan? Sementara aku, aku resmi menjadi pasangannya. Meski mungkin aku orang ketiga dalam kehidupan rumah tangganya.
            Jangan hakimi aku. Siapa tahu anak lelakimu malah menjadi gigolo tante-tante girang yang selalu kesepian. Sementara aku, aku hanya menikah dengan seorang pria sedikit tua. Pria yang kini aku puja meski dia kerap kalian hina. Pria yang sebenarnya arjuna, menaklukkanku dengan sedikit kata.
            Aku, aku memang istri muda, tapi tidak naïf akan rasa cinta. Aku tidak naïf mengharap arjuna miskin datang menyapa. Yang aku butuh hanya rasa senang di dada, peduli setan dengan tingkah kalian.
            Aku, aku hanya ingin cinta. Aku hanya ingin ungkap rasa, pada dia yang selalu kupuja.

Denpasar. 26022013.0450

Masopu

Inspirasi: Kasus istri muda sang Irjen polisi.   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...