Minggu, 23 Juni 2013

Orkestra Luka



“Vit, maukah kau menerima cintaku?”
“Her, aku tidak mungkin menerima cintamu. Sadarlah, aku sudah berpunya.” Suaraku sedikit kukeraskan, berharap agar lelaki yang ada di depanku sadar ini. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali aku menolak cintanya, tapi dia terus mengejarku dengan kata-kata suci itu.
“Vit, kamu akan menyesal dengan penolakanmu ini.”
            Heru berdiri. Raut sinis menghambur dari wajahnya. Tatap mata yang biasanya memandangku dengan penuh kasih, seperti menyimpan bara yang siap melahap tubuhku. Aku jerih, apalagi saat melihat bibir tipis yang kehitaman itu bergetar.
“Pulanglah! Dan jangan pernah menemuiku untuk menyatakan hal itu.” Kataku dengan suara yang sedikit aku pelankan.
“Kamu akan menyesal.”
            Heru berlalu. Dia terus berjalan dan tak sekalipun menolehkan wajah, seperti biasanya dia meninggalkanku. Langkahnya yang bergegas hanya menggemakan suara langkah yang terasa lebih keras dari biasanya.
_ _ _
“Cerai”
            Aku terhenyak. Kata yang baru saja terucap seperti sebuah tamparan di kedua pipiku, meronakan siluet hatiku yang tidak lagi berwarna. Aku benar-benar terkejut, sejenak seakan hati  berhenti berdenyut. Aku tidak pernah menyangka kata itu yang akan terlahir dari bibirmu, bibir merah yang selalu bermandi kata-kata lembut dan penuh motivasi.
“Cerai?”
            Aku mengulang kata yang baru saja kudengar. Rasa tidak percaya dan keterkejutanku seperti bersatu, berupaya menolak apa yang baru saja kausemburkan. Detak jantung yang serasa sempat terhenti kembali menghentak, bahkan kini terasa lebih kencang dan tidak menentu.
“Apa salahku?”
“Aku muak dengan perselingkuhanmu. Aku malu setiap kali mendengar namamu jadi gunjingan orang-orang di sana.”
“Selingkuh? Dengan siapa?”
‘Demy, kamu selingkuh dengan Demy.”
“Demy? Aku hanya berteman dengannya.”
“Berteman? Kenapa harus selalu berbagi bangku dengannya? Jangan-jangan kamu pun telah berbagi bantal dengannya?” cecarmu dengan nada suara yang meninggi.
            Kembali aku terhenyak. Jadi kamu mencurigai kedekatanku dengan Demy. Demy memang tampan. Jujur dia lebih tampan darimu. Demy memang humble, jauh lebih humble darimu. Dia bisa memberi perhatian padaku, sesuatu yang telah kau sapih dariku, hingga aku sering merindukan saat-saat kamu memperhatikanku dulu. Dia selalu menyediakan telinganya untuk curahanku tentang sesuatu. Tapi aku tidak pernah tertarik padanya. Tidak sekalipun terlintas dibenakku untuk berbagi hati dengannya, seperti semasa kuliah dulu.
“Aku memang sering berbagi bangku dengannya, tapi bukan berarti aku akan mau berbagi bantal dengannya apalagi sampai menjadi bantal tidurnya. Aku hanya berbagi beban kerja karena dia mau menyediakan telinga untuk curahanku.”
“Bullshitt! Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku? Aku suamimu!” bentakmu dengan raut muka membara.
“Kamu suamiku, tapi tidak pernah ada untukku. Aku istrimu, tapi hatiku kerap kau penjara dalam sepi. Saat aku butuh teman berbagi teh, kamu sibuk dengan rupa-rupa kata yang terserak dan ingin kaubendel dalam satu cerita. Saat aku ingin sandarkan kepala, kau terlena dalam reka cerita yang tiada pernah nyata.”
“Heh! Kau yang selingkuh, kenapa menghakimiku?” Hardikmu sambil membanting tumpukan kertas yang sedari tadi menggunung di depan printermu.
“Aku muak. Tiap kali bertengkar, selalu kau ungkit kisah itu. Demy memang punya kisah lalu denganku. Demy memang pernah menaruh hati padaku, tapi itu dulu. Kini dia telah berkeluarga, dia telah punya anak dan dia telah berjanji padaku dan juga Lala istrinya bahwa kami akan menutup kisah itu. Aku percaya itu, karena setiap aku berbagi bangku dengannya, semua atas sepengetahuan istrinya. Tidak ada yang aku sembunyikan. Stop menjadikan dirinya sebagai pembenar atas rasa cemburumu.”
            Aku menarik nafas dalam-dalam. Kembali bayang-bayang pertengkaran sebelumnya bermain di hati. Umpatan dan kata-kata kasar selalu mengiringi hari-hariku selama 3 bulan terakhir. Pernikahan yang tidak lagi seumur jagung, tak jua menumbuhkan benih-benih rasa saling percaya dan menghargai. 2 tahun pernikahan tanpa anak, ditambah deadline buku yang terus memburu Dimas membuatnya benar-benar telah berubah. Suamiku itu tidak lagi sehangat dulu, tidak lagi seramah dulu. Sungguhpun aku ingin bertahan dan mencoba mengerti, tapi kata cerai yang aku dengar untuk ketiga kalinya dalam minggu ini benar-benar menghancurkan semua inginku.
“Kukira dengan semua kesetianku, kamu kembali sebagai Dimasku yang dulu, tapi ternyata tidak. Kamu tidak pernah melihat air dalam bejana hatimu, masih layakkah air itu untuk kamu jadikan cerminan. Kata cerai-mu yang ketiga merupakan akhir semuanya. Aku tidak akan memaafkanmu selama kamu belum menyadari apa salahmu dan meminta maaf pada Papa-Mamaku. Selamat tinggal.”
_ _ _
            Sekali lagi aku memandang sudut-sudut kamar. Foto-fotoku yang tergantung telah kupungut dan kusimpan dalam tas. Semua baju dan barangku pun telah aku kemasi. Tas dan koperku pun telah tersimpan di bagasi taksi yang sedari tadi menunggu di halaman rumah. Aku menarik nafas dalam-dalam, memandangi meja rias yang selama ini selalu jujur padaku tentang apa yang tergambar di wajahku. Aku berdiri dari kursi dan melangkah.
            Di depan pintu aku berhenti. Getar halus dari dalam tas hentikan langkahku. Suara serak vokalis Air Suply menyanyikan lagu “goodbye” memaksaku untuk segera mengambil handphone dan membuka pesan yang baru saja masuk.
“Jika aku tak memilikimu, tidak juga Dimas.Aku merana, Dimaspun merana. Aku terluka, kaupun harus merasakannya.”
            Aku tertergun. Air mataku kembali menitik. Rasa sakit yang aku rasa lebih dalam. Perih yang terpatri lebih dalam dari saat aku meninggalkan Dimas dalam kesendiriannya. Aku terhuyung ke kursi yang ada di samping pintu. Air mata semakin deras mengalir, menyadari semua yang telah terjadi. Seorang adik yang tega memakan jantung kakaknya sendiri.
            Aku mencoba berdiri. Kutinggalkan handphone di atas kursi. Tersaruk langkah kuayun ke arah taxi yang sedari tadi setia menanti.
_ _ _
Denpasar. 24062013.14.55

Masopu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...