Sabtu, 12 Oktober 2013

Lentera Untuk Bahtera Rapuh


https://www.facebook.com/Kalimaya.Art.Gallery

Kamu datang lagi. Masih seperti resep obat dari dokter, kamu datang sehari tiga kali. Aneka bunga setia berada dalam genggaman tanganmu di pagi dan soremu berkunjung. Sesaat setelah memutar knop pintu, bunga-bunga itu kausodorkan padaku. Aroma mewangi yang khas selalu menyapa hidungku, menarik angan untuk melukis aku dan kamu di awang-awang, menari bersama diaroma awan tipis melayang. Hatiku benar-benar dibuainya. Aku seperti Ainun, cinta sejati Habibie, sang tekhnokrat dari Makasar.
            Masih seperti yang tercatat dalam memoriku ini, ceria wajahmu bangkitkan semangat ini. Entah kenapa, saat binar matamu menatap, saat senyummu hadirkan kilau gigimu yang putih mengkilat, sakit ini seperti sadar diri, dia pergi. Dia pergi dan enggan kembali sampai waktunya kakimu berlalu pergi, kembali memasungku dalam sendiri.
Tersanjungkah aku, jika ternyata aku menyukai sikapmu? Berlebihkah aku, jika anggap hadirmu adalah anugrah terindah di detik-detik hidupku yang menyempit? Tidak tahu diriku aku, mencintai sosokmu yang mendekati sempurna. Aku takut rasaku ini akan berakhir duka. Duka untukmu. Duka untukku.
          Aku sadar, mungkin hadirku di matamu hanya sekelebat saja. Ketukan pena Dokter saat membaca vonisku masih terus terngiang, semakin menggema bersama tarik nafasku yang semakin dekat ke tenggorokan. Aku ingin jujur. Aku ingin terbuka padamu, tapi rasa takut kehilanganmu begitu nyata menghantui. Seperti sepasang taring yang siap berdenting, mencabik Satu-satunya rasa yang tersisa. Aku takut jujurku akhiri semuanya. Aku takut rasa itu pergi, saat kau tahu nafasku tinggal sesesapan saja.
Cinta seperti itukah yang kudamba? Ataukah cinta lain yang ingin kupujakan untukmu? Cinta yang aku mantramkan bersama barisan do’aku. Sesuci cinta Ainun dan Habibie, aku mencintamu dan tak ingin memberimu luka. Aku menyayangimu. Tak rela rasanya membiarkan kuncup-kuncup bungamu kan luruh saat kau sadar langkahku tinggalah sejengkal. Aku ingin jujur, meski nantinya kau tinggal kabur. Tapi aku tak mampu. Hatiku lemah, selemah tubuh yang mudah lelah ini.
“Sayang……..”
Kamu memandangku. Tatap matamu seperti sembilu, memutus benang kejujuran yang coba kutegakkan. Nyaliku perlahan jatuh meluruh, seperti benang basah tiada berdaya. Aku terdiam. Mendadak aku tercekat. Lidah ini seperti sebatang logam, kaku dan enggan bergerak, walau hanya mengucap satu huruf saja.
“Iya sayang…” Sahutmu setengah berbisik. Bibir yang begitu dekat, tebar wangi nafasmu. Aroma mint kesukaanmu begitu menggoda rasaku, tapi tidak untuk nyaliku. Kejujuranku seperti mati, terpanggang sejuk aroma bibirmu yang tulus menjagaku.
Aku terdiam. Niatku telah lumpuh, bersimpuh di antara sinaran matamu yang tulus. Tatapmu itu masih seperti dulu, seperti saat pertama bersua. Tebing karang Dream Land saat itu menjadi pelarianku, agar wajah yang tersipu tidak terjaring matamu. Kini, aku tak bisa lari dari tatapmu. Hanya langit-langit putih yang mampu mataku sasar. Aku tak bisa sembunyikan rona wajah yang memerah kaku.
“Sayang….” Lembut katamu kembali menyapa. Jemari tanganmu perlahan merapikan kerudung kuning kesayangannku. “Seorang nelayan yang berpengalaman tidak akan panik saat terjebak badai. Dia tahu harus berbuat apa. Dia tahu bagaimana cara bertahan dari gempuran angin ribut yang mengerubut, meski badai yang dihadapinya semakin hebat. Dia tidak akan menyerah, tetap berusaha menemukan dermaga ataukah tenggelam karenanya.”
Dia diam. Hela nafasnya tertata rapi. Aku tahu hatinya bergejolak, menahan sedih dan haru yang menyatu, melihat keadaanku yang masih seperti kemarin. Hampir 99 jam telah berlalu sejak aku kembali masuk ke ruang ini. Genggam tangannya kurasa semakin erat, menghangati jemari yang kurasa agak dingin. Sorot matanya tetap menyala, seperti ingin berbagi semangatnya yang berapi-api. Aku terdiam, mataku mengerjap sesaat, berusaha lepas dari tatapnya yang semakin kuat menangkap gelisahku.
“Aku hanya bahtera rapuh yang akan pergi jauh. Kenapa sauhku tak pernah kaulepaskan, agar aku menghilang dari hidupmu.”
“Aku tak akan pernah melepaskan sauhmu, bukan karena takut kehilanganmu. Karena aku ingin berjuang bersamamu. Bersama kita perbaiki bahtera yang rapuh itu. Aku ingin mengarungi samudera cinta bersama bahteramu itu. Laut yang tenang, hembusan anginnya yang sejuk ataupun hujan badai yang datang, aku ingin kita hadapi bersama. Andaipun harus larut dalam gemuruh samudera, aku ingin kita tetap bersama, saling peluk hingga ajal menjemput.”
“Aku hanyalah mawar yang tiada bermadu lagi…”

“Apakah mawar akan berhenti berbunga, saat kuncup pertamanya tiada lagi bermadu? Tidak. Dia akan tetap berbunga, meski berkali kumbang jamah putik sarinya. Begitupun rasaku ini, tiada kan mati walau ragamu terpasung di kursi roda ini.” Mantab suaranya menggetuk pintu hatiku. Tangan kanannya menepuk pelan sandaran kursi roda yang setia menanti kududuki. Belai jemari tangan kirinya membuatku kembali mengangkasa. Asaku sedikit demi sedikit bangkit.
Aku beruntung mengenalnya. Dia bisa berperan selayaknya Mario Teguh yang pandai memotivasi diri ini. Di lain waktu bisa menjadi Akbar stand up comedian asal Surabaya dengan banyolannya yang membuatku terpingkal. Saat dia datang, semangatku yang sempat surut, seperti surutnya permukaan laut yang terseret purnama sakitku, kembali pasang.  
“Sayang…andai Tuhan menetapkan aku seperti ini, adakah rasamu akan tetap sama untukku?”
“Engkau terlalu larut dalam pengandaian. Apakah kau syok mendengar vonis dokter itu, hingga sibuk bernyanyi di satu nada saja? Sayang,..ingatlah bahwa Tuhan, melalui tangan manusia mencipta 7 tangga nada yang bisa kita nyanyikan dalam berbagai oktaf sesuai kemampuan kita. Jika kita hanya sanggup bernyanyi di nada rendah, kenapa kita harus memaksa untuk bernyanyi di nada tinggi. Pun begitu sebaliknya. Bernyanyilah sesuai nada yang bisa kita bawakan, sambil terus belajar memperbaiki kekurangan kita. Sakitpun seperti itu, saat vonis dokter menyatakan hidup kita tinggal sekian waktu saja, adakah kita akan pasrah menerimanya? Tidakkah kita ingin berobat, bukan hanya untuk mengejar kesembuhan, tapi menunjukkan pada dunia bahwa kita belum mati, bahwa asa kita masih bersinar. Kita masih bisa berusaha, meski vonis itu sempat meredupkan lentera hati. Aku yakin kamu pasti bukan hanya seorang yang suka bernyanyi di satu nada. Aku yakin kamu ingin menyanyikan nada lain dengan sama baiknya.”
“Tapi…”
“Berandai-andai tiada bersalah. Tapi cukupkah kita berandai-andai? Angan kita cukup panjang untuk melakukannya. Tuhan mencipta kita bukan untuk berandai-andai, tapi mencipta kita untuk berusaha, berdo’a dan berserah. Seorang yang terlalu sering berandai-andai, akan lalai berusaha. Mari berusaha. Di sini, dokter sudah memvonis nafasmu sudah berbatas waktu, di tempat lain pasti Allah sediakan obat untuk itu. Aku akan selalu mendampingimu, mencari secercah asa yang ada.”
http://www.flexmedia.co.id/alasan-tidak-berdoa-unruk-diri-sendiri/lentera-hati/
Perlahan api di hatiku kembali merekah. Kalimat demi kalimatnya terus meniupkan oxygen untuk nyalanya, hingga api harapan yang hampir padam kembali menghangat. Tanganku terasa hangat, seperti halnya butiran air mata haru yang mulai mengalir dari kelopak mataku. Aku bersyukur, Tuhan mengirim sosok malaikat dalam dirinya. Senyum dan tawanya membuatku tenang, tiada lagi keraguan untuk menerima keikhlasannya.
Dia bangkit, melangkah menuju pintu. Perlahan dia membuka daun pintu yang terbuat dari jati itu. Dua sosok lelaki dan wanita menyembulkan wajahnya. “Aku mengajak mereka ke sini, untuk memastikan kebulatan tekadku.” Katanya sambil mempersilahkan bapak dan ibunya duduk.
Aku tersanjung. Dalam kelemahanku, ada malaikat yang mau menerimaku apa adanya. Keterbatasanku tidak membatasi niatnya untuk melamarku.

Denpasar, 17-08-2013

Agung Masopu

Note: Tulisan ini hanya coretan yang gagal dalam proyek GPU 
http://www.leutikaprio.com/produk/10041/novel/1212722/xixi_diary_sang_rising_star/12074304/agung_masopu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...