Minggu, 06 Oktober 2013

Ujian Untuk Amara



“Kenapa mereka selalu bergunjing tentangku?”
Hitam bola matamu bertumpu pada sumbunya, menatapku yang berada di seberang meja dengan tajam. Seakan-akan aku ini ikut bersalah, bergunjing tentangmu. Bibir tipismu sedikit manyun, memamerkan warnanya yang merah delima, warna yang selama ini membuatku jatuh cinta. Bulu-bulu tipis antara hidung dan bibirmu semakin jelas terlihat, dalam sorotan lampu yang tepat di atasmu. Hidungmu yang mungil, kembang-kempis memompa dan menghisap udara secara bergantian.
“Amara, tenangkan dirimu. Jangan emosi begini.”
“Tenang katamu? Ar, Enam bulan aku dijadikan bahan gunjingan. Enam bulan aku jadi bahan olok-olokan, dan kamu hanya memintaku tenang?”
Engkau berdiri. Dua tanganmu menekan meja, menyangga tubuhmu yang kau condongkan ke arahku. Alis matamu yang tebal dan mempesona, hampir menyatu, mengikuti kerutan di dahimu. Engkau seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan.
http://angsajenius.tumblr.com/page/3

Aku tahu bagaimana rasanya menjadi bahan gunjingan. Aku tahu bagaimana sakitnya menjadi bahan olok-olokan. Aku pernah merasakannya. Enam bulan yang diajalani tak ubahnya seperti neraka kecil. Senyum manis yang mengambang dari bibirnya, menguar tiada berbekas. Panasnya gunjingan dan sindiran seperti kemarau panjang, gerimis sesaat tak mampu sejukkan udara yang kering tiada beruap.
Amara bukanlah wanita lemah. Amara bukanlah wanita manja. Dia terlalu kuat untuk mengeluh. Selama ini, andai dia mau, aku selalu menyediakan bahuku untuknya. Menyediakan jemariku untuk membelai rambutnya, membusai sela-sela rambutnya, agar tenang jiwanya. Tapi dia tidak pernah melakukannya, pun di saat emosi seperti ini. Dia malah menatapku dengan tajam, seakan-akan menantang sikapku yang selalu tenang. Tidak setetespun air mata menggenang di kelopak matanya.
“Amara, aku tahu yang kamu rasakan. Aku tahu bagaimana rasanya menjadi obyek pandangan mata nyinyir sepertimu. Jauh sebelum ini, aku mengalaminya.”
Aku diam. Hatiku seakan memintaku untuk tidak mengatakannya. Selama ini, rahasia ini tiada pernah ada yang tahu. Aku menutupnya rapat-rapat. Ibukupun tidak pernah tahu cibiran yang beberapa orang alamatkan padaku. Aku tidak ingin membaginya dengan siapapun. Hidup di rantau, membuatku mudah melakukannya. Tapi kini, aku merasa perlu untuk membaginya, untuk menceritakannya. Bukan untuk membuka luka itu lagi, tapi untuk membangkitkan semangat Amara yang mulai menukik curva-nya. 
Aku tak ingin dia kembali ke kehidupannya yang dulu. Apa saja bisa terjadi di saat-saat seperti ini. Seseorang yang sudah terlanjur luka, bisa kembali menekuni kehidupannya yang telah diatinggalkan, meskipun itu kelam. Dalam benaknya, "buat apa aku berubah, toh ratusan pasang mata masih suka nyinyir dengan usahanya itu."
“Mengalami apa?” bentakanmu mengangetkanku.
“Dicibir sebagai homo, sebagai gay.”
“What?......”
Matamu melotot. Tubuh yang sudah condong semakin miring ke depan, menggambarkan ketidakpercayaanmu akan apa yang baru saja kaudengar. Selama ini kamu hanya tahu aku, Arya pemuda pendiam dengan kacamata tebalnya. Di matamu, aku hanyalah pemain dan pemamah kata yang hanya tertarik pada tumpukan naskah dan fiksi. Di matamu aku hanya si pendiam lugu.
“Itulah cibiran beberapa orang padaku. Sakitkah aku mendengarnya? Tentu saja aku sakit saat memikirkannya. Di awal-awal aku ingin menggampar si penggunjing. Tapi aku tidak pernah melakukannya. Kamu tahu kenapa?”
“Kenapa?” suaramu melemah. Emosi yang sedari tadi meninggi sedikit mengendor.
“Aku melakukan apa yang aku lakukan bukan untuk mereka, tapi untukku, untuk orang tuaku dan yang terpenting untuk Sang Maha Kekal. Aku merasa kekerasan yang terlintas dibenakku itu tidak akan menyelesaikan masalah." Aku berhenti sejenak, melepas kacamata yang sedari tadi melindungi mataku.
"Pernahkah kamu memperhatikan bibit-bibit bunga yang ditanam bersamaan. Seperti itulah kita sebenarnya. Saat ada satu bibit yang tumbuh baik, sementara yang lainnya agak terhambat pertumbuhannya, maka bibit itu akan mendapat perhatian lebih. Ditelisik cacat yang ada di bibit itu. Adakah kayunya sedikit bengkok? Adakah kulitnya terkelupas? Adakah daunnya yang keriting dan lain sebagainya. Saat. Itulah kita saat digunjing dan dicibir orang lain. Sebenarnya mereka iri, kenapa kita lebih baik dari mereka? Untuk itulah segala tingkah laku kita diikuti, untuk mencari sisi-sisi kekurangan kita. Sekarang tergantung bagaimana kita menyikapinya? Sabar ataukah reaktif? kalau kamu mau istiqomah di jalanmu saat ini, bersabarlah. Insya Allah jalan terbaik akan kita dapati.”
Engkau diam. Perlahan tubuhmu tegak kembali. Tanganmu yang tadi menjadi tumpuan di atas meja, kini telah bebas menggantung di tempatnya. Perlahan engkau kembali duduk, menyadarkan tubuhmu ke kursi. Nafasmu perlahan kembali normal. Matamu tidak lagi menatapku. Kini kau menatap deretan lampu hias di atasmu. Tubuhmu terlihat lebih rileks dibanding sebelumnya.
http://theonlynelly.wordpress.com/tag/bergunjing/
“Amara, biarkan mereka mencibirmu. Tegapkan langkahmu, luruskan langkah yang sedikit melebar dari tujuannya. Anggap saja cibiran dan gunjingan itu sebagai kasih sayang mereka untukmu. Sejujurnya mereka tidak rela jika kamu menjadi seperti mereka, tukang gunjing dan tukang cibir. Mereka tidak rela hijab yang kau pakai hanya hiasan kepala, tanpa bisa menaungi hati dan jiwamu. Mereka ingin hijabmu kali ini bisa menjaga hatimu, menjaga lidahmu dan menjaga pikiranmu dari kesia-siaan seperti yang lainnya. Ikhlaslah, inilah jalan terjal dari kebulatan tekadmu. Jika kau tergelincir saat menanggapi ulah mereka, maka jalanmu akan semakin menjauh dari tujuan.”
Engkau terus terdiam. Wajahmu kian merunduk. Tarikan nafasmu sedikit tersengal. Isakan pelan terdengar dari bibirmu. Sejak menikahimu dua tahun yang lalu, baru kali ini aku melihatmu terisak. Engkau tidak pernah menangis di depanku, pun saat ijab-kabul usai kuikrarkan. Haru yang kau rasa saat itu, tidak mampu memaksa air matamu mengalir.
Aku berdiri, perlahan aku menghampirimu. Kuraih kepalamu, kebenamkan dalam dekapanku. Disana aku biarkan engkau tumpahkan tangismu. Kubiarkan air matamu membasahi bajuku, menembus hingga menyentuh bulu-bulu halus yang tumbuh di dadaku.
_ _ _

Denpasar. 05102013.0354

Masopu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...