Selasa, 28 Juni 2011

( Bagian 4 ) Tipisnya Kesabaran Itu

Sejak pemecatan dirinya tempo hari, sampai hari ini Arya belum juga mendapatkan pekerjaan yang diidamkannya. Entah sudah berapa puluh perusahaan yang dia datangi untuk mengajukan lamaran pekerjaannya. Namun hingga hari ini hasilnya masih nihil. 
 
Entah sudah berapa jauh dia melangkah. Kesabarannya pun serasa semakin menipis, seperti uang di sakunya yang terus berkurang. Sementara dalam setiap langkahnya tak henti do'a selalu mengiringinya. Meskipun semakin lama semakin lirih doa tersebut.

Namun Arya tak pernah menyerah. Berbagai jalan telah dilakukannya. Selain mencari info lewat koran dan internet, tak lupa koneksi teman-teman dan saudara dia gunakan. Namun sampai hari ini semua itu belum juga mampu membawanya kepada pekerjaan baru.

Dengan langkah yang semakin berat dia ketuk satu pintu perusahaan ke perusahaan lainnya. Bahkan tak jarang dia berusaha mengajukan lamaran kerja di bidang yang sama sekali tak ada hubungannya dengan keahliannya. Tapi itu semua tak menyurutkan langkahnya untuk sesegera memperoleh pekerjaan, agar persedian uang tabungannya tak sampai habis.

Berbagai perusahaan dia hubungi. Mulai melamar jadi admin sampai hanya sekedar menjadi office boy ataupun kuli gudang dia coba masukin lamaran, tapi semua tak ada yang mau menerimanya dengan berbagai alasan. Padahal saat itu dia tahu bahwa perusahaan tersebut sedang butuh karyawan sesuai lamaran yang diajukannya.


Sudah tak terhitung berapa orang teman yang dia hubungi. Namun jawaban yang sama dia peroleh. Tak ada lowongan ataupun ketidaksanggupan mereka menggaji karyawan baru. Sementara saudara-saudara baik dari pihaknya maupun dari pihak Veentha istrinya juga belum banyak membantu.

Kesabaran yang Arya miliki semakin menipis. Nampak gurat-gurat depresi mulai mengukir wajahnya yang sekarang semakin tak terawat tersebut. Wajah putih itu kini mulai bersiluet rambut halus yang menghiasi pipi dan bagian atas bibirnya. Wajahnya terlihat sedikit lebih tua dari beberapa waktu yang lalu.

" Ahhh jika sampai minggu depan aku tak juga memperoleh pekerjaan, aku khawatir uang tabunganku habi. Ini sudah hampir memasuki minggu ke empat, tapi lamaran-lamaran yang aku kirim via pos-pun belum ada jawaban. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku pergi ke luar kota untuk mencari kerja? " Iringan pertanyaan terus berpawai dalam hati dan pikirannya.

Sementara di lain sisi Aneeva Dwianthi istrinya tak henti berdoa. Dalam tangis dan do'anya dia selalu mengharap yang terbaik untuk Arya. Ane tak tega melihat gurat-gurat depresi itu semakin nyata menyapa wajah suaminya.

" Ya Allah, jika memang ini ujian darimu maka berilah kekuatan kami untuk menghadapinya. Tapi jika ini merupakan hukuman atas kelalaian kami selama ini, maka ampunilah. Ya Allah, aku hanya mahluk yang lemah, Hambamu ini hanyalah mahluk sering alpha, maka maafkanlah semua salah yang pernah terjadi. Berikanlah kami kekuatan dan ketabahan menghadapinya. Segeralah beri jalan terbaik untuk suamiku menghadapi semua cobaan ini. Amien.....Amien Ya rabbal alamien." Ane menutup Do'anya.


Note : Cerbung sebelumnya 
baca di sini : 1, 2, 3

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...