Jumat, 05 Juli 2013

Dehidrasi Otak, Sinting

www.komisikepolisianindonesia.com
Bersama pagi yang berdering
Butiran embun mengering
Mengiring setiap kata, berdenting
Menembakkan insting sinting logika miring
Dehidrasi otak mengering

Panas
Terbakar bara, logikamu meranggas
Fakta mati tertusuk praduga
Sumpah muksa dibakar mimpi yang tiada sempurna

Kamis, 04 Juli 2013

Dajjal Dan Internet, terkaitkah?

Dajjal. Nama itu bagi kita seorang muslim tentu sering atau setidaknya sayup-sayup pernah kita dengar dalam sebuah ulasan. Lalu kenapa tiba-tiba saya tergerak untuk menulis nama yang oleh orang barat diidentikkan dengan angka 666 atau mereka sebut juga sebagai the Omen. Apakah saya ingin memulai perdebatan ataukah sejenisnya? Tentu tidak.

Dajjal, banyak artikel yang mencoba menjelaskan tentang maksud dari kata itu.

Di salah satu buku yang pernah saya baca, kalau tidak salah judulnya "Dajjal Muncul dari segitiga Bermuda", dajjal digambarkan sebagai mahluk yang sudah ada sejak jaman dahulu, kalau tidak salah ingat dari zaman nabi Musa. Dajjal di sini digambarkan sebagai manusia bermata satu yang memiliki ilmu pengetahuan dan kepintaran di atas rata-rata. Kepintaran di sini bukan hanya kepintaran secara otak, tapi dia juga mempunyai keahlian semacam sihir. Hal ini bisa dibuktikan dengan dikisahkannya tentang patung emas seekor sapi yang disulap hingga mampu bersuara selayaknya dia  hidup.

Dari Blog ini dijelaskan jika gambaran Dajjal bermata satu sesungguhnya hanya kiasan saja. Jika Nabi Isa AS dikabarkan mata sebelah kirinya tidak sekemilau mata kanan, bahkan diartikan seperti laiknya orang buta sebelah, menurut penulis di blog tersebut sebagai gambaran bahwa Nabi Isa AS jauh dari sifat-sifat buruk yang terserak di dunia ini. Sifat-sifat buruk yang tidak terdapat pada diri Nabi Isa antara lain: Kejahilan, kerakusan, keserakahan, sombong dan sejenisnya.

Sabtu, 29 Juni 2013

Jalan Unik Untuk Lebih Baik

Jujur sampai hari ini aku tidak merasa dan belum merasa menjadi orang yang cukup baik. Sedari kecil aku hanya terbiasa mendengar dogma-dogma tentang baik dan buruk, tentang surga dan neraka tanpa aku pernah mempelajarinya dengan akal, menelaah dengan hati kemudian mengamalkannya sepenuh jiwa. Ya aku berbuat baik karena sesuatu, entah itu pujian ataupun embel-embel lain yang kadang lebih menonjol di hati.

Saat aku belum seperti saat ini (keadaanku sekitar 2 bulan ke belakang) aku hanya punya angan-angan untuk lebih baik, tapi tidak pernah aku implementasikan. Bahkan beberapa kali aku terperosok pada jalan yang sangat memalukan. Aib yang selama ini selalu aku simpan. Entahlah, setiap aku berusaha untuk keluar dari lingkaran aib tersebut, saat itu pula hisapan labirin "kemunafikanku" semakin kuat menjerat. Awalnya aku menganggap itu sebagai bagian dari godaan syetan, tapi semakin kesini semakin aku sadar bahwa itu bukan godaan syeatan. Itu semua semata karena aku telah jadi budak nafsu.

Kamis, 27 Juni 2013

Tiga Lelaki, Satu kata, Demonstrasi

http://setitimulya.blogspot.com/2012/03/demo-apa-katamu-tentang-demo.html



11 Maret 1966
            Barikade mahasiswa semakin merapat. Iringan mobil menteri yang akan ikut rapat kabinet tidak lagi bisa bergerak. Maju ataupun mundur, jalan telah terkunci. Mahasiswa dengan penuh semangat mengepung, meneriakkan tiga tuntutan yang semakin akrab di telinga rakyat. Kibaran bendera di tangan beberapa mahasiswa, seperti tongkat kecil di tangan dirigen orchestra, menyemangati koor menuntut adanya perubahan. Spanduk kain dan kertas ikut menari, semarakkan demonstrasi yang telah berlangsung berhari-hari.
            Di dalam mobil, menteri dan ajudannya kebingungan. Wajah pucat mereka semakin memutih, seperti mayat yang tidak lagi teraliri darah. Tarian dan paduan suara yang terdengar dari luar, ciutkan nyali. Tas kerja dan buku catatan tercengkeram erat di tangan, merapat di depan dada. Mereka semakin ketakutan, satu persatu ban mobil dikempesi demonstran. Belum lagi rasa terkejut berlalu, beberapa mahasiswa yang ada di kiri-kanan mulai menggoyang mobil. Seperti sebuah biduk di tengah badai, bergoyang menanti saat tenggelam.
            “Hentikan!” bentak sang menteri yang tidak tahan dengan aksi demonstran. Dia berteriak sambil

Minggu, 23 Juni 2013

Orkestra Luka



“Vit, maukah kau menerima cintaku?”
“Her, aku tidak mungkin menerima cintamu. Sadarlah, aku sudah berpunya.” Suaraku sedikit kukeraskan, berharap agar lelaki yang ada di depanku sadar ini. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali aku menolak cintanya, tapi dia terus mengejarku dengan kata-kata suci itu.
“Vit, kamu akan menyesal dengan penolakanmu ini.”
            Heru berdiri. Raut sinis menghambur dari wajahnya. Tatap mata yang biasanya memandangku dengan penuh kasih, seperti menyimpan bara yang siap melahap tubuhku. Aku jerih, apalagi saat melihat bibir tipis yang kehitaman itu bergetar.
“Pulanglah! Dan jangan pernah menemuiku untuk menyatakan hal itu.” Kataku dengan suara yang sedikit aku pelankan.
“Kamu akan menyesal.”
            Heru berlalu. Dia terus berjalan dan tak sekalipun menolehkan wajah, seperti biasanya dia meninggalkanku. Langkahnya yang bergegas hanya menggemakan suara langkah yang terasa lebih keras dari biasanya.
_ _ _
“Cerai”

Sabtu, 11 Mei 2013

Panggil Aku Koma

         
http://www.acehtraffic.com/2011/10/highway-harus-transparan-dana-aspirasi.html
  
“Panggil aku Koma! Tak perlu bertanya kenapa aku memintamu melakukan itu.”
            Nama panggilanku Koma. Apakah itu berasal dari Komarudin? Komariah? Ataukah nama-nama yang bersuku kata koma. Apakah aku tanda baca? Apakah aku adalah sebutan kondisi diri dimana kesadaran diri menghilang, tak perlu kau pikirkan. Cukup sebut namaku Koma, tanpa embel-embel ataupun sticker yang mengakhiri atau mendahului namaku.

Jumat, 22 Maret 2013

Budak

Foto dari Shutterstock.com
Serunai kata tanpa titik kau tempakan
Serumpun sanggahan terabaikan
Bagimu insting adalah tuhan
Wajib untuk kau pertuankan
Walau hanya sebatas dugaan tanpa alasan

Jumat, 08 Maret 2013

(Video) Benthet Cingkire

Lagu Benthet Cingkire
Vocal Chy Chy Viana
Ciptaan : Nanang YZ - Atang Arthuro
Produksi :Bintang Terang Abadi Record 2009

Rabu, 27 Februari 2013

Aku Bukan Simpanan Sang jenderal


Kalimaya Artgalerry

            Aku mengenalnya lima tahun yang lalu, tepat di hari dimana aku terbebas dari lipatan buku-buku tebal. Buku-buku yang selama ini selalu menemani langkahku. Buku yang katanya orang-orang bijak adalah jendela dunia, tapi bagiku buku-buku itu adalah kutukan dunia. Kutukan yang membuatku terkungkung dari duniaku sebagai bunga yang baru mekar. Bunga yang masih perlu menebar wangi untuk menarik minat sang kumbang agar menghampiri kelopakku dan menyentuh putik sarinya.
            Dia, dia mengenalkan diri dengan nama yang simple, sesimple dandanannya. Sesimple sikapnya dalam memperlakukanku. Tak banyak rayuan muluk-muluk yang menetas dari bulir-bulir air liur di bibirnya. Dia Jack, nama yang singkat, sesingkat rayuannya yang tak pernah bertele-tele. Straight to the point. Singkat tapi membuatku terlena. Aku selalu memanggilnya Jack.
        

Sabtu, 16 Februari 2013

Aku Durjana?

13609119741166488652
http://wienmonik.wordpress.com/2010/12/02/durjana-bertopeng-batari-durga/
Agung Hariyadi (59)
Aku, aku hanya tersenyum melihat tingkah kalian.
Kalian, ya..ya..ya kalian yang ada di sana. Kalian yang duduk di seberang mejaku. Kalian menghinaku, kalian menghakimiku selayaknya kalian mahluk suci. Mahluk yang tak pernah berbuat salah, meski kesempatan ada di depan mata kalian. Eitss, tunggu dulu. Aku tak percaya kalian seperti itu. Pasti jika ada kesempatan kalian tertarik memanfaatkannya. Bahkan mungkin lebih gila dari yang aku lakukan. Aku berani bertaruh itu.
Aku, aku memang pantas untuk menerima semua hinaan ini. Benar aku adalah durjana. Bukan durjana yang diciptakan Tuhan. Aku durjana yang diciptakan oleh keadaan yang sudah ada. Keadaan yang sudah sedemikian rusak, hingga mungkin akan terlihat aneh jika aku tidak terlarut dalam kerusakan ini. Keadaan yang awalnya ingin kuperbaiki. Tapi saat aku memasuki, ternyata ada nikmat yang kurasa. Dan aku terlena dibuatnya.

Selasa, 05 Februari 2013

Halusinasi Diri


http://ayuzone-ayuzone.blogspot.com/2012/03/skizofrenia.html

            Kerumunan orang yang hadir terkesiap. Untaian kalimat yang mengalun dari bibirku terus berdendang di telinga mereka. Entah merdu ataukah memang untaian itu mengandung unsur magis, aku tak tahu. Yang aku tahu hanya aku menikmati suasana itu, menikmati saat di mana mereka menepuk gumpalan angin yang ada di antara telapak tangan mereka hingga muncul suara ledakan-ledakan kecil dari sela-sela tangan mereka yang beradu. Aku minkmati saat sebagian besar bibir bersuara memujaku dengan kalimat-kalimat yang membuat bunga-bunga hatiku bermekaran, hingga pendar-pendar bahagianya memancar dari wajahku.
            _ @ _ @ _
            Aku duduk tertegun di ruangan berdinding putih ini dengan raut muka kebingungan. Baru lima menit yang lalu aku meminta orang-orang yang menemaniku untuk pergi, kini telah hadir dan berdiri sosok-sosok lain datang mengelilingiku. Aku heran, wajah mereka sekilas pandang bentuknya  serupa, hanya tampilan baju dan sedikit hiasan di wajah mereka yang berbeda. Mereka datang tepat ketika orang terakhir meninggalkanku dan menutup pintu. Seakan-akan mereka orang sakti, ada yang muncul menembus tembok, ada yang menerobos pintu yang telah tertutup dan ada pula yang meloncat dari kaca besar di depanku. Tapi yang paling membuatku tertegun tentulah yang keluar dari dalam monitor laptopku.

Selasa, 22 Januari 2013

Nyanyian Dasamuka


Nyanyian Pesandiwara

Kelam ini bukanlah suram
Atau ukiran hasrat yang terpendam
Dalam bingkai senyum keterpaksaan

Kelam identik dengan hitam
Pekat dan selalu mencekam
Tapi tidak untuk menyimpan bara dalam sekam

Senin, 21 Januari 2013

Lagu Sedih di Musim Penghujan


http://cahayareformasi.com/berita/2013/banjir-jakarta-bukan-karena-hujan-deras/

Tiba kita di simpang Jalan
Kala kerontang berhenti berdentang
Terlipat oleh air cucuran
Temani sajak sedih yang kembali berdentang

Sampah menggenang sumbat alur cerita
Tangis menggenang memaki ketidak berdayaan
Terlupa salah walau hanya seucap kata
Semena-mena bunuh sesalan

Jumat, 04 Januari 2013

Derita Sang Wayang


Lintang pukang tumbang berkalang
Terjang rintang binatang jalang
Lintang pukang belang nada semakin sumbang
Terus terkokang semerdu suara dalang

Lantang wayang di tangan dalang
meliuk menari sehidup sang dalang
Indah siluet terus berbayang
Cerita usang terulang tak pernah lekang

Rabu, 02 Januari 2013

Basanan-Wangsalan, Pantun Banyuwangi dan Dinamikanya



Basanan – Wangsalan, Berpantun Ala Banyuwangi dan Dinamikanya

Basanan adalah seni berpantun yang ada dan berkembang dengan baik di Banyuwangi. Basanan bisa diidentikkan dengan parikan Jawa, tapi pada prakteknya menggunakan bahasa Using. Sama seperti pantun dalam bahasa Indonesia, Basanan menggunakan pola Sampiran dan Isi. Sampiran adalah perangkat kata dan kalimat pembuka dalam basanan yang biasa digunakan sebagai penyelaras dengan isi basanan. Sementara Isi merupakan kalimat yang menjadi pokok dalam Basanan. Isi dari Basanan bisa berupa nasehat, sindiran ataupun pedoman hidup yang berguna untuk masyarakat. Dalam salah satu kisah yang pernah saya dengar, Basanan dulu juga biasa digunakan oleh seorang lelaki untuk melamar calon istrinya. Dalam pelaksanaannya, si Lelaki duduk di samping rumah dan membacakan basanan yang dia buat untuk merayu calon mempelai wanitanya.
Contoh Basanan :
Cemeng, cemenge manuk sikatan   (Hitam, hitamnya burung sikatan)
Kadung Putih kethune pak Kaji      (Jika putih kopyahnya pak Haji)
Meneng-meneng njaluk Pegatan      (Diam-diam minta pegatan/cerai)
Goleko maning hang pinter ngaji     (Carilah lagi yang pinter mengaji)
(Asmuni, Mangir-Rogojampi)

Wangsalan pada prinsipnya sama dengan basanan. Jika Basanan adalah pantun yang berisi nasehat, sindiran atau pegangan hidup, wangsalan adalah sebaliknya. Wangsalan adalah seni berpantun yang biasa digunakan untuk bermain tebak-tebakan. Sama seperti Basanan, Wangsalan juga menggunakan kalimat sampiran dan isi. Perbedaan lain dari Wangsalan adalah adanya jawaban yang muncul dari pantun ini.
Contoh Wangsalan :
Nang Padang Ulan kelompenan    (Ke Padang Ulan pakai terompah)
Pirang ulan riko demenan              (Berala bulan/lama pacaran)
Sama seperti pantun dalam bahasa Indonesia, Basanan-Wangsalan juga menggunakan rima. Rima adalah padanan/persamaan bunyi di akhir kalimat dalam pantun atau puisi. Dalam Basanan-Wangsalan, rima yang sering digunakan adalah: a-a-b-b, a-b-b-a dan a-b-a-b. Sangat jarang, bahkan sangat sulit kita temukan basanan yang menggunakan rima lainnya.

Selasa, 01 Januari 2013

Pintalan Tahun Kusut

http://bejobanget.wordpress.com/2011/06/29/benang-kusut-part2/
Hikmah apa yang kita dapat?
Saat helai kain terlolosi benang pengikatnya
Sedikit demi sedikit, tanpa kita tahu cara memintalnya lagi.
Tanpa kita tahu cara hentikannya.

Sang Pengrajin ciptakannya bukan tuk pajangan
Bukan pula tanpa maksud dan tujuan
Yang tak mampu kita bayangkan
Ataupun tak mampu kita jabarkan

Dia adalah Mahaguru dari Leonardo Da Vinci
Sang pelukis biang misteri
Simpan rahasia di balik mata Monalisa
Syahdu menipu pemuja seni yang tak mawas mata

Minggu, 30 Desember 2012

Langkah Terpasung

Engkau berlari, pada ketukan ketujuh
Bersama samar bayang menjauh
Bawa setangkup tangis yang masih meluap
Iringi luka yang enggan menguap

Bayang luka masih merajam
Tepis nalar terbayang suram
Takut menapak langkah tertahan
Seribu prasyarat untuk takdir yang tak ingin dinyatakan

Selasa, 25 Desember 2012

Resensi " Xixi, Diary Sang Rising Star"

Tanggal 18 Desember kemarin, untuk pertama kalinya kabar yang aku tunggu selama 1 bulan setengah datang menyapa. Naskah " Xixi Diary Sang Rising Star " yang aku kirimkan ke Leutika prio untuk diterbitkan secara Indie tanggal 30 Oktober kemarin akhirnya telah siap terbit. Buku ini merupakan versi lengkap dari cerita bersambung dengan judul sama yang aku tayangkan di blog ini mulai bulan Oktober 2011-Sekitar Mei 2012. Setelah melalui beberapa proses editing, akhirnya aku coba mengirimkannya ke penerbit major, tapi belum ada jawaban hingga akhirnya aku putuskan untuk publish secara indie.
 
"Xixi, Diary sang Rising Star" terinspirasi dari kisah seorang pramuria kelas kakap asal Surabaya. Beberapa waktu yang lalu saya mendengar kisah tentang dirinya yang berjuang ke sana ke mari untuk meraih kesembuhan. ( bukan untuk mencari alamat palsunya Ayu Thing-thing ya.)Virus HIV yang diakibatkan kesalahannya dalam bergaul sempat membuatnya terpukul, tapi saat kesadaraan berhasil diraihnya, dia berubah 180 derajat. Dia bernadzar, andai Allah masih memberinya kesembuhan, dia akan mengabdikan sisa hidupnya untuk agama. Allah mengabulkan nadzarnya. Melalui perantara seseorang, dia diperkenalkan dengan seorang tabib yang tinggal di lereng sebelah barat gunung Raung. Melalui perantaraan Tabib itu pulalah Allah mengirimkan kesembuhan padanya.
 
Dari kisah itu, ditambah dengan kisah salah seorang yang aku kenal sewaktu tinggal di Bogor, kisah ini mulai aku tuliskan. Seorang teman yang kenali di Bogor itu adalah seorang aktifis dan penyuluh di LSM penanggulangan HIV/AIDS yang Omku urus bersama salah seorang temannya yang juga merupakan HRD di PT Intrasari Raya Bogor. Temanku itu bernama Irfan dan berasal dari tegal. Dia terjangkit HIV karena keisengannya mengikuti kemauan temannya. Dia tak pernah terlibat seks bebas ataupun sejenisnya. Dia terserang HIV karena penyalahgunaan narkoba dengan menggunakan jarum suntik.

 

Jumat, 21 Desember 2012

Review " Gajah Mada, Sumpah Di Manguntur "


http://www.bookoopedia.com/id/book/id-32-65536/novel-fiksi-cerpen/gajah-mada-sumpah-di-manguntur.html

Gajah Mada, Sumpah Di Manguntur
            Seminggu yang lalu saat berada di Gramedia aku ingin membeli novel karya seorang teman di kompasiana, tapi setelah berputar-putar beberapa kali dan membongkar rak novel aku tak menemukannya. Karena butuh bacaan dan buku yang ada di tanganku hanya kumpulan puisi Chairil Anwar, akhirnya aku keliling lagi. Novel karya Sydney Sheldon, Sherlock Holmes, Agatha Cristie dan sejenisnya aku lewati. Hampir saja aku ambil The Vacancy karya JK Rowling. Begitu lihat label harga, aku urungkan niat untuk membelinya. Tak jauh dari The Vacancy aku melihat 5 novel Gajah Mada. Aku tertarik dan membelinya.
            “ Gajah Mada, Sumpah Di Manguntur “ adalah novel sejarah tentang kebesaran Majapahit. Novel yang berlatar pemerintahan dua putri Diah Sanggramawijaya ini sungguh menarik. Begitu membuka lembar demi lembarnya keinginan untuk terus membaca buku setebal 690 halaman itu begitu kuat. Untuk pertama kalinya sejak novel Stieg Larson yang setebal 900 halaman, aku estafet membaca buku non stop.
            Cerita dibuka dengan kisah seorang anak yang begitu berbakti kepada ayahnya. Ki Branjang Ratus, dengan senang hati mengikuti permintaan sang ayahanda yang bernama ki Buyut Padmaguna. Ki Buyut yang sidik paningal meminta anaknya untuk menemui sahabatnya di waktu muda dulu. Sahabatnya itu adalah Nyi Yendra, seorang wanita tua yang sudah sakit-sakitan. Dari pertemuan itulah kisah bergulir. Nyi Yendra meminta Ki Branjang Ratus untuk mencuri dua pusaka kerajaan Majapahit. Kedua pusaka itu adalah Cihna nagara (lambang Negara) gringsing lobheng lewih laka ( pola geringsing merah ) dan Songsong ( Payung ) udan riwis.

Rabu, 19 Desember 2012

Prasasti Kumal, Sejarah Terpintal


http://warisanindonesia.com/2011/05/sejuta-kisah-hunian-terakhir/

Hai Pak Tua yang setia di taman kota
menunggu sasadara menyapa mayapada
Terangi wadag-wadag serakah
Yang lupa sejarah

Hai pak tua, terduduk di bangku tua
Tanpa seorang teman jua
Yang dulu setia kala jaya
Kini melupa saat dirimu dilibas masa

Hai pak tua kesepian
Setia menanti sasadara manjer kawuryan
Sempurna terangi wujud dan bayangan
Berbagi terang hingga lipatan

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...