Minggu, 24 Juli 2011

( Bagian 13 ) Penggerebekan

Sore baru saja berlalu dengan kesenduan yang masih menyelimuti Arya dan Anee istrinya. Sejak breaking news tadi siang, Arya lebih banyak terdiam dalam angannya. Entah sudah berapa lama dia terpaku seperti itu. Anee hanya bisa melihat Arya yang biasanya ceria dan humoris kini berubah jadi pendiam dan cenderung menyendiri.

Tak terhitung sudah berapa kali ini Anee perhatiin suami tercintanya tersebut terpekur. Seringkali Anee melihat tiba-tiba suaminya menarik dan menghela nafasnya panjang-panjang. Sesekali dia juga menggaruk-garuk kepala bermahkota rambut keriting tersebut. Entahlah kebingungan itu harus diakhiri dimana? Anee sendiri juga terlarut dalam kebingungan. Dan sejak matahari terbenam tadi Arya tafakkur diam dalam munajahnya terhadap sang pencipta.




Satu yang Anee coba mengerti dari suaminya saat ini adalah dia sedang diliputi kegalauan. Galau karena sudah memasuki minggu ke-empat sejak pemecatannya sampai hari ini dia belum memperoleh pekerjaan. Masalah makin pelik saat Arya mencoba mendapatkan pekerjaan baru, ternyata dia malah terjebak di tengah-tengah kerusuhan. Bahkan kini wajahnya berseliweran di berbagai media seolah-olah dialah penggerak kerusuhan tersebut. Dan opini yang berkembang dari berita yang beredar tadi adalah Arya telah menjadi terdakwa utama kerusuhan tersebut.

Anee yang bingung dan tak tahu harus berbuat apa, mencoba menghibur diri dengan menyalakan telivisi di depannya. Berkali-kali dia meindahkan chanel televisinya demi mencari acara yang dapat menghibur dirinya. Namun hingga beberapa kali pindah chanel, kegalauan hatinya tetap tak terusik untuk pergi dari hatinya.Saat  memindah-mindah chanel tersebut tak sengaja Anee melihat breaking news mengenai kerusuhan tempo hari.

Dalam narasi yang dibacakan sang presenter cantik tersebut diberitakan jika polisi telah berhasil mengidentifikasi orang yang diduga terlibat sebagai penggerak kerusuhan tersebut. Menurut kepala kepolisian sang pelaku berhasil diidentifikasi berdasarkan bukti-bukti yang didapat di lapangan ditambah dengan keterangan para saksi dan juga bukti rekaman video amatir dan juga foto-foto yang ada. Dalam breaking news tersebut tak lupa sang presenter mewawancara kepala kepolisian via telepon.

" Selamat malam pak kapolres! "

" Selamat malam mbak. "

" Apa benar pak berita yang beredar, Jika aparat saat ini telah berhasil mengidentifikasi otak penggerak kerusuhan tersebut pak? "

" Berdasarkan bukti-bukti yang kami peroleh di lokasi kerusuhan, keterangan para saksi dan pelaku penyerangan yang tertangkap serta ditambah bukti foto-foto dan rekaman beberapa video yang kami dapatkan dari warga sekitar, pihak kepolisian telah berhasil mengidentifikasi pelaku penggerak kerusuhan tersebut. Dan dalam waktu dekat ini kami akan segera menangkap terduga penggerak kerusuhan tersebut." ungkap kepala kepolisian.

" Menurut bapak apa motif pelaku pak? "

" Setelah kami pelajari pelaku kemungkinan mempunyai dendam pribadi terhadap salah satu pihak yang terlibat sengketa kepemilikan gedung tersebut. "

" Lengkapnya bagaimana pak kasus ini? "

" Pelaku merupakan salah seorang mantan karyawan bagian finance dari pemilik gedung yang baru. Beberapa waktu yang lalu pelaku dipecat dari tempat kerjanya karena diduga terlibat pemalsuan laporan keuangan perusahaan. Sedang pelaku tahu jika grup usaha sang bos berencana membuka kantor pemasaran baru di kota ini. Dengan memanfaatkan kasus jual beli bangunan yang beberapa waktu lalu masih bersengketa tersebut, pelaku ingin membalas dendam kepada mantan bosnya dengan membonceng isu SARA yang beredar dalam kasus sengketa bangunan tersebut. Padahal menurut pihak yang bersengketa, sebenarnya masalah jual beli bangunan tersebut telah selesai sekita seminggu yang lalu. Serta tidak adanya relevansi antara isu SARA yang berhembus di masyarakat dengan kerusuhan tersebut. Pelaku hanya memanfaatkan situasi saja untuk mempengaruhi opini masyarakat. " Kepala kepolisian mencoba menjelaskan.

" Apakah polisi saat ini sudah menangkap terduga otak kerusuhan tersebut pak? "

" Saat ini anggota kami sudah bergerak ke arah tempat  tinggal pelaku dan dalam waktu tak lama lagi akan membawa pelaku ke kantor polisi."

" Terima kasih pak untuk wawancarnya. Ditunggu perkembangan penanganan kasus ini pak. Selamat malam."

" Selamat malam mbak "

Anee terhenyak menyaksikan breaking news berisi wawancara dengan kepala kepolisian setempat. Dari kata-kata tersebut indikasi pelaku mengarah kepada suaminya. Anee bingung mau memberitahukan hal ini kepada suaminya atau tidak. Sementara suaminya masih terus menyendiri di mushola rumahnya. Kebingungan semakin menguasai hatinya.

" Tok.....tok.....tok......"

Anee terkejut saat mendengar pintu depan diketok pintu dari luar. Dengan suasana hati yang masih dikuasi kebingungan Anee berjalan melangkah menuju ke pintu depan rumahnya. Belum lagi dia membuka pintu tersebut, ekor matanya menangkap beberapa orang berseragam tengah berdiri di teras rumahnya dengan posisi siaga memegang senjata.

" Selamat malam pak, Ada yang bisa saya bantu? " Sapa Anee saat membuka pintu.

" Selamat malam Bu. Apa benar ini rumah bapak Dimas Arya?"

" Iya benar pak. Ada apa ya? "

" Kami dari kepolisian Bu. kami di sini diperintahkan untuk menjemput bapak Arya untuk dimintai keterangan di kantor polisi bu. " jawab polisi yang Anee duga sebagai pemimpin mereka.

" Atas tuduhan apa pak? "

" Atas tuduhan keterlibatan Pak Arya pada kerusuhan di Mojokerto 3 hari yang lalu bu. Ibu ini siapa ya dan bapak Arya-nya dimana? "

" Saya Aneeva  Desy Antari istrinya Dimas Arya pak. Beliau masih sholat pak. Bisa saya lihat surat penugasan bapak? "

" Bisa bu. Silahkan dilihat. " kata komandan pasukan tersebut sambil menyerakan surat penugasannya.

" Ok pak. Silahkan bapak tunggu dulu di sini biar saya panggilin suami saya "

" Ok Bu. Ijinkan salah seorang anak buah saya ikut mendampingi ibu memanggil suami ibu "

" Gak usah pak. Suami saya tak akan melarikan diri. "

Anee segera berlalu masuk ke ruangan yang dijadikan mushola di rumah tersebut. Saat masuk dia melihat suaminya sudah selesai sholat dan sedang melipat sarungnya. Setelah berbicara sebentar yang diiringi anggukan tanda mengerti dari suaminya, Anee mengajak suaminya untuk keluar menemui aparat yang ternyata telah mengepung rumah tersebut di beberapa titik.

" Selamat malam pak " Tegur komandan penjemputan itu.

" Selamat malam pak. Ada yang bisa saya bantu? "

Segera komandan pasukan tersebut menjelaskan maksud kedatangannya tersebut sambil menyerahkan surat penugasannya. Penjelasan yang sama seperti saat dia menjelaskannya pada Anee tadi. Dengan mimik muka terkejut Arya mendengarkan semua penjelasan yang disampaikan kepadanya. Sesekali dia menjawab dan bertanya tentang hal yang tidak dimengertinya.

" Bagaimana pak penjelasan kami tadi. Sudah jelas belum? Jika belum nanti kami jelaskan lagi di kantor. "

" Sebenarnya masih belum jelas pak. Tapi tidak apalah nanti saya tanyakan lagi di kantor bapak. "

" Jadi bapak bersedia kami bawa ke kantor sekarang? "

" Bersedia pak. Mungkin dengan ini saya bisa menjelaskan posisi saya yang sebenarnya pak sekaligus membersihkan nama saya dari berita yang simpang siur. "

" Terima kasih pak kerja samanya." Kata komandan polisi tersebut sambil memberi tanda ke anak buahnya untuk memborgol tangan Arya.

" Maaf ! Bapak gak perlu memborgol tangan saya pak. Saya akan kooperatif dengan pihak kepolisian. Saya tak akan melarikan diri. " Kata Arya menghentikan langkah sang polisi yang hendak memborgolnya.

" Bagaimana komandan? " Tanya sang polisi yang ditugaskan untuk memborgol Arya tadi.

" Ok kalau begitu bapak Arya tidak usah diborgol. "

" Mari pak silahkan ikut kami naik ke mobil. "

" Apakah istri saya juga akan dibawa ke kantor polisi pak? "

" Tidak pak. Kenapa? "

" Kalau begitu ijinkan saya untuk berbicara sebentar dengan istri saya pak! "

" Ok pak. Silahkan 5 menit saja waktu yang kami berikan. "

Segera Arya mengajak istrinya berbicara untuk menenangkan kegalauan istrinya. Dengan tutur kata yang halus Arya mencoba meyakinkan kembali Anee istrinya bahwa dia tidak terlibat masalah tersebut. Arya juga menceritakan jika seharian ini dia telah mencoba menghubungi Joni, tapi tidak terhubung. Nomor hp-nya tak pernah aktif.

" Mari pak kita ke kantor polisi " Kata Arya sesaat setelah selesai bericara dengan istrinya.

Aparat yang menjemputnya tidak menjawab. Mereka hanya segera bergerak berjajar mengapit jalannya Arya. Sementara di luar rumah di antara 4 mobil yang digunakan oleh aparat untuk menjemput Arya, tampak warga sekitar rumah Arya yang datang untuk melihatnya. Tampak tatap mata mereka penuh makna. Tapi lebih banyak tatap mata yang tidak percaya dengan kabar yang beredar.

Dengan tatap mata yang tertunduk, Arya terus berjalan melewati kerumunan warga dengan kawalan dua polisi bersenjata laras panjang. Sementara Anee tak kuasa menahan tangis melihat suaminya digelandang polisi seperti tersangka teroris. Hanya petuah sang suamilah yang membuatnya terus mencoba bertahan untuk tidak menitikkan air mata. Dengan tubuh yang disandarkannya di pilar teras rumah, Anee terus melihat sampai iring-iringan mobil yang membawa suaminya berbelok ke arah jalan raya.

Denpasar, 24072011.2230

Masopu

Note : Cerbung sebelumnya 
baca di sini : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12
Terima kasih D A T tuk tantangannya ya. Kucoba terus selesaiin ini
 Gambar Minjam di blog Citra Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...