Kamis, 28 Juli 2011

( Bagian 15 ) Konfrontir

Gambar Minjam dari M hariyanto
Hari terus berganti dengan cepat seperti detak jantung Aneeva Desy Antari yang terus ditelikung kekalutan. Sudah dua hari ini suaminya ditahan di kantor polisi. Bait-bait tanya yang telah bertahta sejak blow up kasus kerusuhan itu terjadi, kini semakin membesar. Seperti guliran bola salju yang semakin membesar seiring makin jauhnya dia bergulir menggilas hamparan salju yang dilaluinya.

Hari ini seperti yang telah direncanakannya tadi malam, Anee berencana mau menjenguk suaminya di tahanan kepolisian. Pagi-pagi sekali Anee sudah sibuk menghubungi salah seorang teman baiknya yang bekerja di sebuah kantor pengacara terkenal di kotanya tersebut. Seperti pembicaraan yang telah dilakukannya sejak penahanan Arya, sang sahabat bersedia menjadi pengacara untuk suaminya. Bukan hanya itu demi jalinan persahabatan mereka, dia bersedia mendapat bayaran yang jauh dari standarnya selama ini.


Ketika jarum jam di tangannya telah tepat menunjuk angka 9.00, muncullah orang yang dinantikannya. sepasang pengacara muda yang telah berjanji untuk membantunya. Mereka adalah Septian dan Anita, sahabat baiknya dulu sewaktu aktif di kegiatan OSIS semasa SMA dulu. Mereka adalah kakak kelasnya dulu.

" Hii Anee! Apa kabarnya? " Sapa Anita sambil menyodorkan tangan halusnya.

" Baik Nit. Kamu sendiri ma mas Septian bagaimana kabarnya? " Jawab Anee sambil menyambut uluran tangan Anita dan Septian bergantian.

" Kami semua baik An. Bagaimana berkas-berkas yang kami butuhkan semua sudah kamu siapkan An? " Tanya Seeptian dengan nada mengingatkan.

" Sudah mas. Bahkan copy berkas-berkas yang kemarin aku kirim ke mas dan Anita juga saya sertakan lagi mas." Jawab Anee.

" Baguslah kalau begitu. Jangan lupa juga nomor HP teman Arya yang menawarinya pekerjaan. Hp suamimu serta surat PHK suamimu itu ya. "

" Ok mas, semua sudah saya siapkan di tas ini mas. Seperti yang mas Septian minta kemarin. Bagaimana mas perkembangan mas Arya selama penahanannya mas?"

Dengan singkat Septian menceritakan bagaimana dia selama dua hari ini selalu mendampingi Arya. Bagaimana kerasnya interogasi yang harus dijalani Arya. Bagimana polisi membentak-bentak Arya setiap kali menyidik Arya. Bagaiman pula para saksi dan juga terdakwa memojokkan posisi Arya. Keterangan-keterangan saksi yang menurut septian agak janggal, tapi diyakini kebenarannya oleh polisi.


" Ok kalau begitu kita harus cepat berangkat ke kantor polisi sekarang saja ya. Biar bisa lebih leluasa kita berbicara sama suamimu " Kata Septian sesaat setelah menyelesaikan cerita singkatnya tersebut.

" Mari mas. " Jawab Anee sambil menenteng tasnya dan juga tas berisi berkas yang diminta oleh Septian.

Bergegas mereka meninggalkan halaman rumah Arya. Bertiga mereka meyusuri jalan kecil tersebut untuk menuju mobil Avanza hitam yang Septian parkri di mulut jalan kecil tersebut. Tak sampai 5 menit mereka akhirnya sampai di tempat parkir. Segera mereka masuk mobil dan tak lama kemudian mobil bergerak berbalik arah.

Guncangan halus dari gelombang-gelombang halus jalanan tersebut bersinggungan dengan degup hati yang bertalu-talu di rongga dada Anee. Baju putih yang membungkus kulit putihnya, tak mampu menutupi ketegangan di wajahnya. Makin jauh roda mobil itu meninggalkan rumahnya, makin kencang degup itu bertalu-talu di hatinya. Setelah hampir setengah jam berlalu, akhirnya Septian membelokkan mobil tersebut ke arah Mapolda tempat Arya ditahan.

Setelah berbicara sebentar dengan petugas polisi yang berjaga di Mapolda, Septian memberi tanda kepada Anita dan Anee untuk mengikutinya masuk ke sel tempat Arya ditahan. Anee semakin tertekan dengan degupan jantungnya yang semakin tak terkendali. Degupan yang tiada pernah dia rasakan selama ini, bahkan saat jatuh cintapun, Anee tidak merasakan degupan yang sekeras saat ini. Tak berapa lama, mereka telah sampai di sel tempat Arya ditahan.

" Assalamualaikum mas Arya! " Sapa Anee dengan mata yang berkaca-kaca.

" Waalaikum salam Anee. Apa kabarmu? " Jawab Arya.

" Alhamdulillah baik mas. Mas sendiri bagaimana kabarnya? "

|" Alhamdulillah sehat An. meski mas kurang tidur karena harus menjalani pemeriksaan bahkan terkadang sampai larut malam juga. "

" Kasihan banget mas kamunya. "

" Tak apalah An. Ehhm gimana permintaan berkas-berkas yang mas minta disiapin untuk septian An, dah ada semua termasuk HPku. "

" Tenang Ar. Istrimu sudah memberikannya tadi sebelum ke sini. " Jawab Septian.

" Syukurlah kalau begitu Sep. Semoga barang-barang itu bisa membantu kamu untuk mengungkap rahasia yang bisa membebaskanku dari tuduhan ini Sep. "

" Semoga Ar. Ehh ngomong-ngomong kamu jadi diperiksa lagi jam 11 nanti Ar? "

" iya jadi Sep. Dan hari ini agendanya masih seprti hari kemarin, aku mau dikonfrontir lagi sama setidaknya tiga orang saksi lagi. Dan yang satu kalau gak salah sang pemilik warung tempat aku ngopi, sementara yang satunya lagi seorang pengunjung warung yang kebetulan ada di dekatku waktu itu. " Jawab Arya.

" Semoga para saksi tersebut bisa menunjukkan bahwa kamu tidak bersalah Ar. "

" Semoga Sep. Amien. " Jawab Arya seraya membasuhkan kedua telapak tangannya ke mukanya yang terlihat kuyu tersebut.

Setelah cukup berbasa-basi, mereka berempat tampak terlibat dalam pembicaraan yang serius. Anee beberapa kali mengeluarkan beberapa berkas yang dibawanya dari rumahnya tadi. Sementara Septian dan Anita sambil berbicara, mereka menarikan pena di tangan mereka di buku catatan yang mereka bawa.

Dari percakapan itu mereka berempat seperti berusaha untuk menelisik kasus tersebut dengan jalan mencoba mengaitkan satu kejadian ke kejadian lainya. Tampak Septian dan Arya terlihat berpikir keras untuk menelaah kasus tersebut. Bagaimanapun mereka tahu tak mudah untuk membongkar kasus ini sekaligus mencari siapa yang salah, siapa yang benar.

Keasyikan mereka berdiskusi membahas masalah tersebut terganggu saat seorang petugas datang kepada mereka dan memberitahukan bahwa penyidikan akan segera di mulai. Mereka tersentak saat menyadari hal terseebut. Petugas yang memberitahu mereka sekalian meminta Arya dengan didampingi Septian segera memasuki ruang pemeriksaan.

Saat memasuki ruangan pemeriksaan, mereka melihat ada tiga orang lain selain petugas penyidik. Arya ingat yang satu orang tersebut adalah pemilik warung tempatnya minum kopi waktu itu. Arya merasa senang karena yakin pasti pemilik warung tersebut akan berkata yang mementahkan tuduhan terhadapnya.

Segera pimpinan penyidikan kasus tersebut memulai penyelidikannya hari itu. Tapi sebelumnya, dia menanyakan apakah masing-masing saling mengenal. Arya kaget saat mendengar mereka bertiga mengaku mengenal Arya dengan baik. Padahal setahu Arya, dia hanya mengenal sang pemilik warung yang ketika itu diajaknya ngobrol. Sementara yang lainnya dia tidak kenal sama sekali.

Keterkrjutan Arya tak hanya terhenti di situ. Saat dimintai keterangan mereka bertiga seperti telah seiya-sekata untuk memojokkan Arya dengan statement yang hampir sama. Yang membedakan hanyalah pemilik warung bercerita jika warungnya sempat dijadikan tempat Arya dan kedua orang tersebut mematangkan rencana penyerbuan tersebut. Sementara dua orang yang lain mengaku menerima sejumlah uang untuk merekrut dan mengumpulkan orang-orang.

" Itu semua tidak benar pak. Saya tidak kenal mereka berdua pak. Sementara yang seorang lagi saya hanya mengenal sebagai pemilik warung. Saya tidak pernah ke sana sebelumnya pak. Sumpah. " sanggah Arya dengan suaranya yang semakin serak menahan api amarah yang telah mencapai titik didihnya.

" Silahkan bapak bicara apa saja. Tetapi keterangan para saksi semakin membuat kami percaya jika andalah di balik semua kerusuhan ini pak. " Sergah komandan penyidikan dengan nada meninggi.

" Tapi itu semua fitnah pak "

" Fitnah ? Bukannya semua bukti dan saksi jelas mendudukkan anda di kursi pesakitan? "

" Tapi saya tidak pernah melakukannya pak. "

" saya tidak peduli. Yang saya pedulikan hanyalah saksi dan bukti, bukan ocehan anda dan juga pengacara anda. "

" Maaf pak polisi, bisa saya menyela dikit pak? " Septian berkata tiba-tiba sambil membuka catatannya.

" Silahkan pak. "

" bolehkan saya meminta agar pemeriksaan klien saya ditunda sampai besok pak. Sekarang sudah sore dan kondisi emosi tersangka sedang tidak bagus pak. "

" Ok kalau begitu. Karena kita sudah memeriksa tersangka hampir 7 jam, sebaiknya kita istirahat dan besok di mulai lagi. Pengawal antar mereka ke ruang penahannya ya. "

" Siap Ndan. " jawab prajurit yang mengawal mereka.

Segera Arya dan 3 orang tersebut digelandang petugas ke ruangannya masing-masing. Arya masih galau. Tak dipedulikannya Anee istrinya dan juga Anita. Tapi sebelum masuk ke selnya, Arya masih sempat berbicara empat mata dengan Septian. Septian hanya menjawabnya dengan beberapa anggukan kecil tanda setuju.

" Anee, Anita mari kita pulang. Besok kita lanjut lagi ke mari untuk mendampingi Arya. " kata Septian sambil melangkah pergi dengan diikuti oleh Anee dan Anita. Hari mulai gelap saat mereka bertiga bergerak meninggalkan kantor Mapolda tersebut.

-------------
Denpasar, 28072011.0454

Masopu

Note : Cerbung sebelumnya 
baca di sini : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12,13,  14
Terima kasih D A T tuk tantangannya ya. Kucoba terus selesaiin ini
 Gambar Minjam di blog m.hariyanto

2 komentar:

  1. wiiih serasa jadi detektiv nih hehheh

    conan edogawa

    BalasHapus
  2. Hahahaha
    Mas Roni bisa saja nih
    hehehehe

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...