Rabu, 06 Juli 2011

( Bagian 5 ) Perencanaan


Matahari baru berdiri setinggi separuh tiang bendera, saat ruang putih di lantai 3 perkantoran itu ramai oleh diskusi tertutup 3 orang berbadan tegap. Dari wajah dan model potongan rambut yang menempel di diri mereka terlihat sekali jika mereka bukanlah orang sembarangan. Ditambah atribut pakain mereka yang terlihat bermerk dan dari bahan yang bukan bahan murahan.

" Beni gimana nih keadaan kita saat ini? " Tanya lelaki yang terlihat berusia paling tua di antara mereka.

" Keadaan kita masih aman pak. Meski beberapa mata sudah mulai mengarahkan pandangan ke kita pak. Terlebih beberapa waktu yang lalu ada sebuah tabloid yang melakukan investigasi kasus yang berkaitan dengan kita. Tapi semua sudah tertangani pak " Jawab lelaki yang dipanggil Beni.

" Tapi kita tak bisa tinggal diam loh Ben. Semakin lambat kita bertindak, semakin banyak orang yang menoleh ke kasus tersebut! "

" Tenang pak. Aku dan Joni sedang menyiapkan satu kasus besar yang bisa mengalihkan perhatian masyarakat dari kasus kita pak "


" Oh ya? Rencana apa nih Jon? ' Tanya lelaki tersebut sambil melihat ke arah lelaki yang disebut Joni oleh Beni.

" Kami saat ini sedang menyiapkan sebuah konspirasi untuk membuat kasus yang kemungkinan besar mampu mengalihkan perhatian dari kasus yang sedang melilit usaha kita pak." Jawab Joni.

" Detail rencanamu seperti apa Jon? "

" Untuk saat ini saya belum bisa bercerita detailnya ke Bapak. Yang jelas tokoh untuk hal itu telah saya siapkan. Skenariopun telah kami siapkan dengan detail dan kemungkinan untuk tercium aparat sangat kecil pak" Jawab Joni meyakinkan.

" Ok aku percaya sama kemampuan kalian berdua. Selama ini usaha kalian selalu berhasil dengan gemilang. Sejujurnya aku suka dengan cara kerja kalian."

" Terima kasih pak" Jawab Joni dan Beni hampir bersamaan.

" Ok sekarang saya mau meeting sama pejabat yang lain. Kalian lanjutkan bahas masalah tersebut berdua. Ingat buat serapi mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan. "

" Ok pak Rudi. Trust us. Kami pasti tak ingin mengeecawakan pak Rudi selaku bos kami." Jawab Beni.

" Ok " Kata Pak Rudi sambil melangkah pergi.

Setelah kepergian Pak Rudi, Joni dan Beni terdiam beberapa saat. Joni yang kelihatan lebih muda beberapa tahun kelihatan asyik dengan laptop dan beberapa kertas yang berserak di sebelah Lenovo hitamnya. Sesekali jari tangannya memainkan ballpoin ditangannya. Entah sudah berapa kali ballpoin itu dimainkan dan ditaruh lagi di mejanya.

" Jon gimana kabar rencanamu itu? Sudah kamu siapkan siapa orang yang akan dijadikan kambing hitamnya?" tanya Beni memecah keheningan yang sempat hadir beberapa saat.

" Sudah Ben. Tinggal mematangkan perhitungan lagi sebelum proses ekskusi mulai kita jalankan."

" Siapa orangnya Jon? "

" Adalah dia seorang yang sangat polos. Dan kemungkinan besar dia paling bisa kita manfaatkan "

" Detail rencanamu saat ini gimana? "

" Aku lagi menelisik proses sengketa bangunan yang bisa kita jadikan sebagai kerusuhan besar dan menyerempet masalah SARA Ben"

"Gimana nih skenariomu? "

Joni tidak menjawab pertanyaan Beni dengan kata-kata. Sebuah isyarat tangan meminta Beni untuk pindah berdiri di dekat Joni. Tak lama kemudian tangannya sudah memberikan beberapa lembar kertas kepada Beni sambil sesekali menjelaskan detail rencananya yang juga tersimpan di laptopnya. Terlihat Beni mengangguk-anggukkan kepala dengan senyum yang terus mengembang.

"Hebat Jon skenariomu. Aku tak membayangkan jika kamu akan melakukan hal seperti itu. Apalagi ini melibatkan seorang teman dekatmu lagi. Kamu memang penuh ambisi dan sulit dimengerti jalan pikiranmu. " Beni berkata sambil melangkah kembali ke mejanya.

Setelah itu tak banyak lagi diskusi yang mereka lakukan. Keduanya sama-sama sibuk dengan laptop dan lembar-lembar kertas yang berada di samping mereka.

Note : Cerbung sebelumnya 
baca di sini : 1, 2, 3, 4

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...