Rabu, 20 Juli 2011

( Bagian 9 ) Kegalauan Seorang Istri

Matahari telah terpeleset dari ketinggiannya. Perlahan sinarnya semakin kuat menarik bayang-bayang ke arah timur dan makin memanjang. Anee tampak gelisah di rumahnya. Langkah kakinya tak beraturan lagi saat dia mondar-mandir dari satu ruangan ke ruangan lain di rumahnya yang asri.

Sudah sejak 3 jam terakhir ini tak henti-hentinya televisi dan radio terus-terusan mengupdate berita kerusuhan yang terjadi di Mojokerto, kota di mana suaminya tadi pagi berangkat untuk menemui seorang sahabat karibnya yang berjanji untuk membantunya masuk ke kantor cabang perusahaannya yang baru. Dan yang semakin mencemaskan Anee adalah fakta bahwa lokasi kerusuhan dengan alamat yang dituju oleh Arya berdekatan.


Dalam galau hatinya yang tiada tersiram kabar keberadaan suaminya, Anee terus berusaha mencari kabar. Dalam rentang waktu tertentu anee tak henti berusaha untuk mencoba dan terus mencoba menghubungi nomor Hp suaminya tersebut. Tak terhitung sudah berapa kali Anee melakukan itu, namun hingga kini tak sekalipun ada sahutan dari seberang sana.

Sementara update berita di televisi dan radio sudah cukup menggambarkan bagaimana kacaunya kota yang tengah dilanda kerusuhan selama beberapa jam tersebut. Kerusuhan yang menurut pemberitaan media tersebut berawal dari sengketa banguanan tersebut telah menewaskan belasan orang, mencederai puluhan orang lainnya serta mengakibatkan rusaknya sejumlah bangunan di sekitar lokasi dan juga kendaraan. Hingga kini dampak kerusuhan yang hanya berlangsung beberapa jam tersebut telah menyebabkan kerugian yang belum bisa ditaksir.

Sementara di jalanan tampak puing-puing berserakan. Tentara dan polisi yang diperbantukan untuk menangani peristiwa tersebut telah datang dan memenuhi penjuru-penjuru kota. Tingkah mereka diselingi oleh lalu lalang mobil pemadam kebakaran yang datang untuk mencoba memadamkan sisa-sisa api yang masih terlihat di puing-puing bangunan yang terbakar. Kawat-kawat berduri tampak juga menghiasi jalanan. Beberapa aparat kemanan dengan teliti memeriksa identitas tiap orang yang melintas di sekitar lokasi. Sementara sorot kamera tak henti-hentinya menslide dampak kerusuhan tersebut.

Anee terus mondar-mandir tanpa tahu harus berbuat apa. Mau menghubungi suaminya, tapi tak pernah bisa terhubung. Mau menghubungi Joni sahabat karib suaminya tersebut, tapi dia tak pernah tahu nomor Hpnya. Mau mencari informasi kepada saudara ataupun kenalannya yang di kota tersebut pun, tak ada yang mengangkat teleponnya.

Ingin rasanya Anee untuk segera berangkat ke kota tersebut, tapi dia tak tahu harus ke mana dia mencari suaminya di kota tersebut. Tak mungkin baginya untuk menuju ke alamat yang telah diceritakan oleh suaminya, karena di sana keadaannya masih kacau balau. Mau berdiam diri di rumahnya sambil menunggu berita tentang suaminya membuatnya tak bisa tenang dan terus tersaput kegalauan. Kegalauan yang semakin mebuatnya tersiksa.

Saat Anee masih diselimuti kegalauan hatinya tersebut, dia dikejutkan oleh deringan Hp yang berada dalam genggamannya. Keterkejutannya segera berganti dengan senyum bahagia yang mengembang saat nama suaminya terpampang di monitor Hpnya. Segera dia jawab panggilan telepon tersebut.

" Halo assalamualaikum mas Arya "

" Waalaikum salam Anee. " jawab suara suaminya di seberang sana.

" Gimana kabar mas di sana? Apakah mas dalam keadaan baik-baik saja? Kapan nih balik ke rumah? Kenapa mas tidak menjawab teleponku mas? " berondongan pertanyaan segera terlepas dari bibir Anee, seperi aliran air yang baru dibuka dari waduknya.

" Satu-satu dong Anee nanyanya! Mas kan bingung jawabnya. "

" Maaf mas, Anee masih galau karena mas gak ada kabar beritanya. Gimana keadaan mas sekarang? "

" Mas baik-baik saja Anee. Alhamdulillah mas tadi tidak mengalami suatu masalah, meski mas syok banget melihat kerusuhan yang ada di depan mata."

" Mas sampai syok? "

" Iya An. Saking syoknya mas sampai bingung harus berbuat apa. Mas hanya bisa melihat kerumunan orang yang berlarian ke sana ke mari sambil terus berkata kasar dan melemparkan apa saja yang ada di tangan dan terserak di jalanan. Bahkan mas sampai gak sadar jika warung tempat mas minum kopi telah tutup dan ditinggal pergi pemiliknya. "

" Hah....... Tapi mas gak terluka kan ?"

" Alhamdulillah gak Anee. Mas tersadar semua itu saat iring-iringan mobil bantuan dari kepolisian dan tentara melintas di depan mas berdiri. Saat itu juga mas segera berlari menjauh dari lokasi kerusuhan dan mencoba memperhatikannya dari jarak yang cukup aman An. "

" Terus kenapa mas gak angkat telepon Anee mas? "

" Maaf Anee, mas tadi gak mendengar adanya suara panggilan dari kamu. karena mas masih syok tadi. "

" Ehhmm gitu mas. terus mas sekarang ada di mana nih? "

" Aku sekarang sudah berada di atas bus An. Paling sebentar lagi aku nyampek di terminal. Sudah ya mas tutup dulu. Nanti mas ceritain lagi sesampainya mas di rumah. "

" Iya mas. hati-hati ya. "

" Ok Anee. Wassalamualaikum "

" Waalaikum salam warrahmatullah wabarrakatu. "

--------
Denpasar, 20072011.1417
Masopu

Note : Cerbung sebelumnya 
baca di sini : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8
Terima kasih D A T tuk tantangannya ya. Kucoba terus selesaiin ini
Gambar minjam dari blog Ariefmandra

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...