Kamis, 14 Oktober 2010

JERIT TSUNAMI

kala gerimis tak mampu sejukkan hati 
derasnya airmata sesakkan nafas 
tercampur anyir yang menyiksa
dari kumpulan jasad tak bertuan

tangis bocah iringi gemuruhmu
bersahutan memecah hening pagi
yang ternoda ganasnya amukanmu
tuk sucikan negeri ini
dari jasad-jasad penuh ambisi


tapi seakan tak terjadi suatu apa
tiada kau petik hikmah dari semua itu
ragamu masih menyimpan seribu ambisi
yang tertanam dalam kebekuan hatimu

tumbal yang jatuh tiiada arti
kau anggap hanyalah musibah
tak kau pertanyakan apakah gerangan
peringatan..........
cobaan..............
ataukah adzab yang datang

sebegitu bekukah hatimu?
hingga mata hatimu tak mampu terbuka
tuk menelaah diri
dari kejahilian yang membelenggu

sirnanya embun pagi
tersapu airmata tak terbendung
iringi sendunya kicau burung
melihat bumiku tak ramah lagi

langkah kaki lemah terantuk
tersaruk jasad yang terserak
tercampur puing reruntuhan 
ukir kuasaMU ditiap alur cerita

nanar mata merentang jarak
menelaah yang masih tersisa
dari jasad-jasad tak nertuan
tuk bisa dikenali

tiap kejapan mata berubah haluan
yang tersirat hanyalah jasad dan puing
terserak tak tentu arah
bangkitkan iba perihkan mata

gerimis tak mampu lagi sejukkan hati
dari kegalauan yang terus hadir
mengiring airmata yang terus mengalir
dari sudut tiada terhenti


BOGOR. JANUARI 2005
BY Masopu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...